Makasih buat Mas MG atas refleksinya, saya 'tergoda'
untuk nimbrung nih.

Cerita cricket, saya jadi teringat dulu ketika pada
suatu hari nonton cricket di common room hostel saya
di DU. Saat itu semua temen2 sehostel nonton, saya pun
pengen tau seperti apa permainan cricket, apakah
semenarik sepakbola yang saya puja atau tidak. Hari
itu yang bertanding Pakistan-India. Menurut mereka
cricket is religion (gila!) So, saya pun mengikuti
jalannya pertandingan dengan dipandu oleh seorang
temen yang menerangkan rules pertandingan. Namun yang
mengejutkan saya, ketika pertandingan sedang seru2nya,
dimana cewek2 temen saya pada histeris kayak kesurupan
melebihi hooligan bola, salah seorang berkomentar
"mala, since u're moslem, so u're favour for pakistan?
See-u're in india so u have to support india,
otherwise we'll throw u out from the hostel". Wow!
Tentu ucapan itu bergurau tapi saya sempat kesal
banget. Saat itu saya cuma comment "im not concerned
who will win the game but i love Shohaib Akhtar-he's a
pakistani, any problem?" (Intermezzo-timed out)

Nah, kalo cerita tentang india, lain lagi nih.
Bagaimanapun saya bersyukur pernah mendapat didikan
India, negara yang kebanyakan orang anggap miskin,
kotor, kasar yang semua yang jelek2. Kalo tidak kuliah
di India, mungkin saya gak akan pinter masak kayak
sekarang (maklum dulu suka bosan sama menu veggie di
hostel, jadi belajar masak), saya lebih kuat secara
mental ketimbang dulu yang sedikit kolokan, lebih
berani, tegas, dan yang pasti berani bilang "tidak",
satu kata yang susah diucapkan oleh orang kita, tapi
mudah2an nggak jadi pembual kayak orang india. Kuat
bukan harus kasar kayak sebagian besar orang india
lho. Kuat dalam arti kukuh, istiqamah. Tanggapan saya
bukan untuk membela india, walau orang bilang saya
"more indian than indonesia", komentar yang saya benci
karena saya indonesia, terutama kalo yang ngomong anak
PPI yang hobi ngeledek tampang india saya. Saya juga
sukur sewaktu di india tinggal di asrama alias hostel,
nggak kaya kawan2 indo lain yang hobi kumpul2 sesama
bangsa (tapi saya juga suka kangen ma tradisi "kumpul
kebo" sehingga kadang2 suka main ke PPI/KBRI di hari
jumat nikmati sate), sehingga terkesan mengekslusifkan
diri dari orang lokal. Jumlah mahasiswa yang tinggal
dihostel bisa dihitung jari, makanya saya salut berat
ama Ferdi dan Irfan yang sharing kamar sempit di JNU
walau ada rumah dinas ortu yang nyaman, Nyoman yang
sharing kamar sempit bin panas dengan temen
Bangla-nya, gak kayak sebagian besar kawan2 yang gak
mau tinggal di hostel, dengan alasan nggak cocok
makanannya, nggak kenal siapa2, sering kehilangan atau
nggak bisa bahasa mereka, wallahualam. JPadahal justru
dengan tinggal di asrama dengan orang2 orang india
kita bisa tau seperti apa orang India-bukan hanya
tampak luarnya, paling nggak kita bisa bahasa mereka.
Saya sukur bisa Bahasa Hindi yang saya anggap indah
dan civilived, makanya jadi nggak enak denger dubbing
film hindi karena sisi "indah bahasanya" hilang, walau
gak bisa tulisannya yang sulit, ya paling nggak bisa
bahasanya. 

Mas MG benar dengan analisanya bahwa mental kita
lemah. Kita sih mau serba enak, mendapatkan sesuatu
dengan cara gampang dan cepat tanpa mau usaha
keras/gigih. Saya salut dengan orang india yang gigih,
nggak hanya gigih belajar, bekerja tapi juga 'gigih
nipu', orang kita kurang fight kali yah! Lihat aja
siapa kawan2 mhs yang biasa naik bis, semua pada naik
autoricksaw (termasuk MG kayaknya!) atau kalo ada duit
taxi (jarang kayaknya!) Makanya saya sempat heran
ketika seorang anak diplomat kita tau rute bus dari
kampus saya ke KBRI (yang saya tempuh dengan auto),
ternyata doi naik bus en punya bus concession pula,
alamak!

Kalau mental kita tetap seperti ini aja, yah ntar kita
di indo juga jadinya gini2 aja, sama dan nggak ada
perubahan yang baik. Sementara belajar di negara orang
kan harusnya membuat mental kita menjadi mental
global, nggak lagi mental aji mumpung, yes man-yes man
atau pemalas. Ibarat reformasi, nggak hanya negara
tapi yang utama pribadi sendiri. Kalau masalah orang
baik atau buruk, semua sama koq, nggak hanya di india,
di Indonesia juga banyak PENIPU! So, be flexible and
mingle out.

Trus masalah bahasa, mungkin ada mhs kita bisa bahasa
sana, hindi, terutama, tapi sebatas nawar auto doang,
atau buat nawar di Sarojini atau Sunday market (dah
sukur kali yah?!) Kayaknya diantara banyak temen2
indo, saya salut sama Mas Giri, yang pawai bahasa
Hindi, Urdu dan Sanskrit, juga Ayu & Dewi. Hal ini
mungkin karena mereka lama tinggal disana (Mas Giri 10
thn). Saya benar2 kagum banget ma doi terutama pas doi
dengan sabarnya menjadi interpreter Urdu (maklum saya
gak bisa)pas kita 2 nonton konser Qawwali, dan saya
yakin keindahan syairnya nggak luntur pas
diterjemahkan ke bahasa indo, big salut for u mas. Dan
doi satu2nya anak indo yang nggak lupa ma bahasa satu
ini, asik rasanya pas nelpon atau sms berbahasa hindi,
serasa di india. Mengapa bisa? Mungkin karena bergaul
dengan orang india yang nggak bisa berbahasa
Indonesia.

Waduh gue jadi kangen ma India nih. Qisai, kalo gue ke
Delhi, ntar ajak gue ke resto lebanon di Okhla yang
dibilang MG ya, pengen nyobain juga nih, dah kangen ma
makanan Timur Tengah (walau belum pernah ke Jeddah),
pastinya kali ini gue traktir deh, ok?

Buat kawan2 disana, met ujian yah, study hard-u won't
regret, best of luck deh pokoknya.

Terakhir, sedikit pesan sponsor, untuk Pengurus HAI SU
(Sumut), Bp. DR. Jumino & kawan2 pengurus lainnya,
terus berjuang dan Insya Allah bersama2 kita bangun
HAI Indo, amin. Viva HAI. 

Cheers,
Mala

 
--- Mario Gagho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Refleksi: Mengapa Tak Suka India?
> Oleh Mario Gagho
> 
> Akhirnya Pakistan berhasil menumpas tim kriket India
> dg skor meyakinkan 4-2 pada Minggu (17/4/05). Saat
> wicket (batsman) terakhir India keluar Minggu sore
> itu
> oleh bowling akurat Shahid Afridi, saya dapat
> membayangkan senyum lebar penuh 'kepuasan'
> tersungging
> dari mulut Asnadi, mahasiswa Ilmu Politik Agra dan
> pakar kriket kita. Mengapa Asnadi senang? Apakah
> karena Pakistan adalah tim favoritnya? Jawabnya,
> iya.
> Tapi lebih dari itu, Asnadi bahagia setiap melihat
> India "menderita" kekalahan! Seperti juga Izam
> merasa
> senang ketika melihat Sania Mirza, pemain tenis
> putri
> unggulan India, kalah tanding. Waktu saya tanya
> kenapa
> senang? Jawabnya, "Supaya tak tambah besar kepala
> orang India ini!"
> 
> Asnadi dan Izam tidak sendirian. Hampir kebanyakan
> kita yg di India, terutama mahasiswa, tidak suka
> semua
> yg berbau India: bau badannya, sikap menipu
> landlord,
> sikap arogannya pada kita yg selalu menyebut kita dg
> "Nepali hain?"--suatu istilah pelecehan rasis yg
> hanya
> bisa ditemui di India, penipuan tukang rikshaw,
> auto-rikshaw; you name it. 
> 
> Karena kekesalan yg kecil-kecil itu terjadi secara
> konsisten, maka ia terakumulasi dalam bentuk
> kebencian
> mendalam yg merasuk ke otak bawah sadar kita. Dan
> kebencian itu kemudian terwujud dalam bentuknya yg
> lain: merasa bahagia kalau orang atau bangsa yg kita
> benci mengalami "musibah", kegagalan atau kesedihan;
> walaupun kita sebagai manusia terkadang pandai
> menyembunyikannya.
> 
> Mengapa orang India umumnya punya sikap inheren yang
> tidak menyenangkan, bukanlah maksud utama saya
> menulis
> kolom refleksi ini. Biarlah itu urusan mereka. Yang
> lebih mendesak kita kaji adalah mengapa kita mudah
> membenci pada orang atau komunitas tertentu?
> 
> Hal pertama yg tampaknya menonjol dalam karakter
> kita,
> bangsa Indonesia, adalah kita sebagai bangsa tidak
> atau kurang fleksibel. Infleksibilitas kita pada
> gilirannya membuat kita selalu mengharap orang atau
> komunitas lain untuk "memberi" lebih dahulu sebelum
> kita melakukan hal yg sama. Apabila itu tidak
> terjadi,
> maka kita akan menjauh.
> 
> Kedua, mental yg lemah. Pada umumnya kita memiliki
> sikap mental yg lemah. Mental lemah selalu
> mengharapkan "keramahtamahan" dari orang lain dan
> sangat sensitif pada sikap yg berkesan "keras, kasar
> dan tidak menyenangkan". Ini membuat kita tidak
> mampu
> "menaklukkan" dunia yg wataknya rata-rata "lebih
> kuat"
> dari yg kita punya. Sudah menjadi konvensi umum
> bahwa
> pribadi yg kuat akan "menguasai" yg lemah. Dalam
> konteks domestik (baca, Indonesia) itu juga menjadi
> jawaban mengapa Medan lebih didominasi orang Batak.
> Dan mengapa Jakarta didominasi oleh Bugis, Batak dan
> Madura. Dalam konteks global, itu yg menjadi jawaban
> mengapa Barat, India dan Cina mendominasi dunia:
> karena bangsa-bangsa ini lebih kuat kepribadiannya,
> dan karena itu dapat "menundukkan" pribadi-pribadi
> lemah di sekitarnya.
> 
> Dampak Negatif
> 
> Salah satu dampak negatif dari individu dan bangsa
> yg
> lemah pribadinya adalah ketidakmampuan menyerap
> kultur
> positif dari bangsa lain. Dalam konteks kita di
> India,
> keengganan kita bergaul dg orang India plus kesukaan
> kita "kumpul kebo" dg sesama bangsa (kata orang jawa
> "mangan gak mangan asal ngumpul") membuat kita tidak
> bisa menguasai bahasa India (Hindi, Urdu, Punjabi,
> dll). Bahasa-bahasa India semestinya dapat kita
> kuasai
> tanpa harus ikut kursus; namun itu tidak terjadi.
> Dan
> ini menjadi fenomena khas mahasiswa India. Terus
> terang, saya malu ketika bertemu dg teman-teman
> Jepang, Arab, Bule yg tinggal di India di atas tiga
> tahun rata-rata menguasai lebih dari satu bahasa
> India; sedang saya tak satupun bahasa lokal yg saya
> kuasai. 
> 
> Now, let's bygone be bygone. Yg lalu biarlah
> berlalu.
> Buat rekan-rekan yg baru datang, be flexible.
> Bergaullah dg orang India. At the same time, be
> alert!
> Bagaimanpun ditipu itu memang gak enak!
> 
> salam,
> p.s. tulisan saya di atas berdasar pengalaman saya
> dg
> rekan-rekan Aligarh, Delhi, Agra; kalau rekan-rekan
> Roorkee punya pengalaman berbeda, silahkan dibagi dg
> kami.
> 
> Mario Gagho
> Agra University
> www.ppi-india.org
> ---------
> A WINNER works harder than a loser and has more
> time. 
> A LOSER is always "too busy" to do what is
> necessary.
> 
> 
>               
> __________________________________ 
> Do you Yahoo!? 
> Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced
> search. 
> http://info.mail.yahoo.com/mail_250
> 



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses. 
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/KZzaMD/.WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org 
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke