Wa alaikumsalam...

Saya sependapat dengan apa yg telah Bung Qisai sampaikan di bawah, intinya penyampaian yg bagaimanakah yg tepat utk org bisa menerima kritikan kita?. Kadang kritikan itu dimotori dgn ejekan, kadang menjatuhkan dan, menceritakan org lain dibelakangnya juga dianggap sebuah kritikan. Saya anggap semua metodologi kritik itu salah jika ditafsirkan demikian. Saya ambil contoh bagaimanakah kritikan yg dimotori cacian. Suatu hari si A, membaca koran Times of India dan disebelahnya si B yg sedang minum kopi. Ketika si A membaca kata2 'idol' yg sebenarnya harus di baca 'aidol' dalam bhs inggris di kritik oleh si B dengan nada tinggi dan malah mencacinya. Saya ambil contoh cara kritikan si B begini.' eh A kamu geblek banget sih!! sudah s2 baca 'aidol' aja 'idol', aku aja yg masih s1 gak begitu bodohnya, copot aja title s2 mu ? bikin malu aja, percuma jauh2 ke negeri India kalo itu aja gak bisa. Pulang aja lagi ke Indonesia kursus bhs Inggris. Kok kamu bisa lulus s2 gemana caranya ya? Hahahahahahaha...

Atau terkadang si B mengatakan begini: " eh salah tuh, yg bener 'Aidol', tapi si B menerimanya karna baik. Namun pembicaraan itu didengar si C secara tdk langsung di ruangan lain dan si C langsung mengklaim; dasar geblek, bikin malu aja. Nah, si C juga menyampaikan peristiwa itu kepada si D,F,G,H dll nya dan menjelek2an si A hanya karna masalah sepele saja. Sehingga org lain lantas menilai jelek juga terhadap si A.

Astaghfirullah...mungkin semua binatang kalo bisa memahami bahasa manusia ini akan mengatakan, 'Terlalu sombong cara menegur itu seolah manusia terlahir tanpa adat istiadat. Fenomena di lingkungan kita ini seringkali terjadi yg demikian. Kadang2 tidak memahami kondisi dan keadaan rekan2nya, tentu ada penyampaian yg perlu disantuni. Saya yakin rekan2 ppi India akan menerima penyampaian yg baik itu dgn baik juga. Kita juga org berpendidikan yg tahu bahasa yg baik dlm menyampaikan. Kita semua punya nurani dan perasaan.

Dan aneh sekali mengkritik sambil mencaci. Cukuplah sampaikan kalo 'aidol' adalah bacaan yg benar, tidak perlu bicara ini dan itu, terlalu egois jika kita sampai mentertawakannya, bahkan sampai menceritakan keburukan yg pernah dilakukannya. Kita tidak tau apakah si B bercanda atau si B tersilap atau karna memang gak tau. Jika bercanda atau silap itu hal yg wajar saja, jika tersalah memang perlu utk di kritik namun ada sopan santun dan tata krama yg harus di jaga. So pasti jika menegur kesalahan dgn menjatuhkannya sambil ditertawakan akan ditolak jauh2 oleh si B.

Kadang sering juga menilai-nilai org lain sampai membanding-bandingkannya, mengklasifikasikannya dan anehnya itu terus dilakukan ke setiap org, diceritakan dan disebarluaskan, bukan pada satu org tapi pada semua org yg di jumpainya. Kadang juga permasalahan pribadi disangkutpautkan dgn memotori kritikan yg tujuannya utk menjatuhkan. Kadang juga masalah kecil (sepele) di ungkit-ungkit kembali dgn mengambil istilah "ini adalah kritikan".

Bagaimanapun bentuk kritikan itu jika cara menyampaikannya terkesan sombong dan egois, org tdk akan menerimanya. Sebab perbedaan adat, disiplin ilmu, jenjang umur dan lainnya membatasi kita. Bukan utk membedakan status tapi membedakan cara menyampaikan. Tentu ada perbedaan antara seorang guru TK dgn Guru SD, SMP dan SMU apalagi seorang Dosen. Tentu cara seorang Guru TK tdk sama cara mengajarnya dgn guru SMU, dan itu kita ketahui perbedaannya.

Akhir kata, saya sependapat dgn apa yg disampaikan oleh Bang Fathi, Izam, Qisai dllnya. Tidak harus menunggu pujian dan tidak melihat senioritas atau junioritas. ATau: "Apabila kita tidak melakukan sesuatu, jangan harap akan ada pujian ataupun kritikan dan apabila kita terlambat menyadari hal ini, maka hanya penyesalan yang akan kita dapatkan". dan banyak pendapat2 lainnya. Namun yg saya singgung dlm hal ini adalah cara penyampaian itu yg harus di kritik kembali. Dan ada dari kita itu yg saya perhatikan kadang "menyalahkan cara penyampaiannya" atau "terlalu egois dalam menyampaikan", dan dengan memotori cacian dan menceritakan di belakangnya.

Sebenarnya niat dan tujuan antum-antum itu sangat bagus utk kemajuan saya khususnya dan rekan2 di India yg terbilang pasif, kurang intelek dan lainnya (seperti yg dipostingkan). Saya juga kagum dengan org2 seperti Antum2 sekalian. Memang dakwah (ajakan) itu bermacam2, dan kontribusi seseorang itu utk 'masyarakat' (baca: Masyarakat PPI) juga berbeda-beda. Berbeda tapi satu tujuan kan...??? berbeda-beda jalan tp ikhlas kan..?

Jujur saja, saya juga semua rekan2 Aligarh senang dgn kritikan yg sifatnya mengajak utk lebih kreatif, tp karna kadang ada yg memotorinya jadi cacian dan gunjingan terkadang org jd malas utk mendengarkannya. Sampai2 ada yg bilang begini: Buat apa aku sibuk2 kali mengurus ini dan itu, sementara mata kuliahku saja belum aku kuasai, buat apa aku urus2 ini dan itu justru membuat konsentrasiku jadi hilang utk belajar dan membidangi disiplin ilmu yg aku pelajari. Padahal kalo baik dan tdk dimotori kata2 itu tdk akan terucap dr mulutnya. Itu masih sebagian dr nya yg berkata, masih buaaaaaaaaaaaaaaaanyyyak lagi sebenarnya.

Wassalam
Ulis Can
>Mohon maaf jika kata2 saya menyinggung perasaan<

'Alkibru bathorul haqqi wa ghomthun naasi'
Sombong ialah "Menolak Kebenaran dan Merendahkan Orang Lain".

jangan lupa berkunjung ke website PPI-India. Situs Persatuan Pelajar Indonesia di India.
http://www.ppi-india.org



_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke