Salam,
Untung aja kisah ini berakhir sempurna, kalo mereka akhirya bercerai, Fachim akan ku keluarkan dari keanggotaan milis ini. hahahaha...
Wassalam,
IzaM -
fachim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
fachim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hehehe...serem banget, ane dapet dari bulletin temen di Friendster, buat yg sdh.. akan.. atopun blom ada plan untuk nikah...
===========================================================================
saat aku dilamar suamiku, aku merasa bahwa akulah
wanita yang paling
beruntung di muka bumi ini. Bayangkan dari sekian juta
wanita di dunia
ini, aku yang dia pilih untuk jadi isterinya. Kalau
aku persempit,
dari sekian banyak wanita di negara ini, di propinsi
ini, di kota
ini, di rumah ibuku yang anak perempuannya 3, aku yang
paling bungsu
yang dipilih untuk jadi isterinya! Aku tidak ingin
menyia-nyiakan
kesempatan itu.
Aku berusaha keras menjadi isteri yang baik, patuh
pada suami, menjaga
kehormatanku sebagai isterinya, menjadi ibu yang baik,
membesarkan
anak-anakku menjadi sholih dan sholihah. Aku
memanfaatkan pernikahanku
sebagai ladang amalku, sebagai tiket ke surga.
Walaupun begitu... hidup seperti halnya makanan penuh
dengan bumbu.
Ada bumbu yang manis, yang pahit, yang pedas, dan
lain-lain. Aku juga
menghadapi yang namanya ketidakcocokan atau selisih
paham dengan
suamiku, baik itu tidak sepaham, kurang sepaham, agak
sepaham, hampir
sepaham, atau apapunlah itu. Tapi aku tahu apa yang
harus aku
lakukan. Aku mencoba berpikiran terbuka, mengakui
kebenaran bila
suamiku memang benar dan mengakui kesalahan bila aku
memang salah.
Aku mencoba bertuturkata lembut menegur kesalahan
suamiku dan
membantunya memperbaikinya agar ia merubah sikapnya.
It's all about
compromising.
Namun apalah daya... pada akhirnya, terucap pula kata
itu dari bibir
suamiku "kita cerai saja!". hanya karena sebuah
masalah kecil yang
tanpa sengaja menjadi besar.
Saat itu seperti kudengar suara petir menggelegar di
kepalaku. Arsy
pun berguncang untuk ke sekian kalinya. Dan hatiku
hancur berkeping-
keping. Aku menjadi wanita paling pilu sedunia.
Tak ada yang kupikirkan selain... yah kita memang
harus berpisah!
Kuingat kembali pertengkaran-pertengkaran kami
sebelumnya... Kita
memang sudah nggak cocok!
Kupikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah aku
lakukan namun lebih
sering mengingat kesalahan-kesalahan suamiku.
Aku menangis sejadi-jadinya hingga dadaku sesak dan
airmataku kering.
Hari itu menjadi hari paling menyedihkan dalam
hidupku.
Tak kulihat suamiku di sampingku keesokan paginya.
Entah kemana ia.
Tanpa sadar aku, layaknya aktris berakting di
sinetron-sinetron,
memandangi foto-foto kami dulu dengan berlinang
airmata. Ngiris hati
ini. Andai saja ada lagu Goodbye dari Air Supply yang
mengiringiku,
tentu semuanya menjadi scene yang sempurna.
Sekilas kenangan lama bermunculan di benakku. Aku
teringat pertama
kali aku bertemu suamiku, teringat apa yang aku
rasakan saat ia
melamarku. Aku tersenyum kecil hingga akhirnya tertawa
saat mengingat
malam pertamaku. Ha ha ha.
Anak-anakku datang saat melihat ibu mereka ini
tertawa, memelukku
tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Mereka masih
kecil-kecil.
Kupandangi mereka satu per satu.... Mereka mirip
ayahnya. Aku jadi
teringat saat pertama kali kukatakan padanya bahwa ia
akan menjadi
ayah. Hhmmm...
Ku lalui hari-hari penuh kekhawatiran bersamanya,
menunggu kelahiran
buah cinta kami. Dengan penuh kasih sayang, suamiku
memegang tanganku,
mencoba menenangkanku saat sang khalifah baru lahir,
walaupun kutahu
ia hampir saja pingsan. Keningku diciumnya saat
semuanya berakhir
walaupun wajahku penuh keringat saat itu. Saat kubuka
mataku, di
sampingku ia duduk menggendong bayi mungil itu.
Bersamanya, kubeli
tiket ke surga...
"Mi, abi mana?" suara anakku mengejutkan lamunanku.
Tak sanggup
kumenjawabnya. Hampir saja aku menangis lagi.
Tiba-tiba kulihat sesosok bayangan dari balik dinding.
Suamiku datang.
Rupanya tadi malam ia tidur di masjid. Ia melihatku
bersama anak-
anakku. Mereka berhamburan menyambut ayahnya, memeluk
lututnya karena
mereka belum cukup tinggi menggapai bahu ayahnya itu.
Ia membawakan
makanan untuk mereka.
Saat anak-anak sibuk dengan makanan itu, ia
menghampiriku. Aku mencoba
untuk biasa dan kuajak ia melihat foto-foto lama kami.
Bernostalgia.
Aku tertawa bersamanya. Mengingat yang telah lewat.
Sesekali ia memandangku lembut. Aku tahu ia sedang
berfikir. Namun aku
khawatir ia sedang meyakinkan hatinya untuk
benar-benar menceraikan
aku dan mengatur kata-kata agar aku dapat menerima
keputusannya.
Saat ia diam dan memandangku dalam-dalam, kukatakan
padanya bahwa aku
merindukannya sejak tadi malam. Ia tersenyum dan
mengatakan bahwa ia
pun merasakan hal yang sama.
Hatiku lega. Kututup album foto itu dan kukatakan
padanya bahwa selain
dari semua kekuranganku tentu ada kelebihanku, selain
dari semua yang
tidak disukainya tentu ada yang disukainya, selain
dari semua
ketidakcocokan kita tentu ada bagian yang cocok. "Bila
tidak, apa
alasan Abang mau menikahi Dinda dulu? Dan .. bagaimana
mungkin kita
bisa bertahan selama ini?"
Ia mencium keningku. Kurasakan air mata mengalir
hangat di pipiku.
Tapi bukan air mataku...
"Allah memang hanya menciptakan Dinda buat Abang...
Maafin Abang
ya..."
Kuusap air mata dari pipinya dan ia membaringkan
kepalanya di
pangkuanku...
"Maafin Dinda juga ya, Bang..."
Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Aku tak
ingin
menanyakannya.
Hanya dengan berada di sisiku pagi itu, aku rasa aku
tahu
jawabannya...
Pernikahan itu bisa berumur panjang bila ada usaha
untuk
memanjangkannya dan bisa berumur pendek bila tidak ada
yang mau
berfikir panjang.
(Untuk pangeranku, aku ingin beranjak tua bersamamu...
atas izin
Allah)
* * * * *
Zamhasari Jamil
Pelajar Islamic Studies
Jamia Millia Islamia - A Central University
New Delhi - India 110 025
Website Kampus : http://www.jmi.ac.in
Website Pribadi : http://www.e-tafakkur.blogspot.com
Website PPI India : http://www.ppi-india.org
Email: izamsh@ yahoo.com
Do You Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new Resources site!
_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
