in [email protected], M.Tasar([EMAIL PROTECTED]) wrote: Salam, Iyah kok saa ceritanya dengan my love story, hakaaaa,,,. ayo siapa yang mau kawen nih, Jangan sampai nyesal nanti. B,fachim menghebohkan cerita ini pasti mancing suasana tuh, Yang jelas barang siapa yg mau kawen harus siap dalam segala bentuk ujian. hhaaakkakka....
In [email protected], Zamhasari Jamil <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Salam, > > Untung aja kisah ini berakhir sempurna, kalo mereka akhirya bercerai, Fachim akan ku keluarkan dari keanggotaan milis ini. hahahaha... > > Wassalam, > IzaM - > > fachim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Hehehe...serem banget, ane dapet dari bulletin temen di Friendster, buat yg sdh.. akan.. atopun blom ada plan untuk nikah... > > ====================================================================== ===== > > saat aku dilamar suamiku, aku merasa bahwa akulah > wanita yang paling > beruntung di muka bumi ini. Bayangkan dari sekian juta > wanita di dunia > ini, aku yang dia pilih untuk jadi isterinya. Kalau > aku persempit, > dari sekian banyak wanita di negara ini, di propinsi > ini, di kota > ini, di rumah ibuku yang anak perempuannya 3, aku yang > paling bungsu > yang dipilih untuk jadi isterinya! Aku tidak ingin > menyia-nyiakan > kesempatan itu. > > Aku berusaha keras menjadi isteri yang baik, patuh > pada suami, menjaga > kehormatanku sebagai isterinya, menjadi ibu yang baik, > membesarkan > anak-anakku menjadi sholih dan sholihah. Aku > memanfaatkan pernikahanku > sebagai ladang amalku, sebagai tiket ke surga. > > Walaupun begitu... hidup seperti halnya makanan penuh > dengan bumbu. > Ada bumbu yang manis, yang pahit, yang pedas, dan > lain-lain. Aku juga > menghadapi yang namanya ketidakcocokan atau selisih > paham dengan > suamiku, baik itu tidak sepaham, kurang sepaham, agak > sepaham, hampir > sepaham, atau apapunlah itu. Tapi aku tahu apa yang > harus aku > lakukan. Aku mencoba berpikiran terbuka, mengakui > kebenaran bila > suamiku memang benar dan mengakui kesalahan bila aku > memang salah. > Aku mencoba bertuturkata lembut menegur kesalahan > suamiku dan > membantunya memperbaikinya agar ia merubah sikapnya. > It's all about > compromising. > > Namun apalah daya... pada akhirnya, terucap pula kata > itu dari bibir > suamiku "kita cerai saja!". hanya karena sebuah > masalah kecil yang > tanpa sengaja menjadi besar. > > Saat itu seperti kudengar suara petir menggelegar di > kepalaku. Arsy > pun berguncang untuk ke sekian kalinya. Dan hatiku > hancur berkeping- > keping. Aku menjadi wanita paling pilu sedunia. > > Tak ada yang kupikirkan selain... yah kita memang > harus berpisah! > > Kuingat kembali pertengkaran-pertengkaran kami > sebelumnya... Kita > memang sudah nggak cocok! > > Kupikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah aku > lakukan namun lebih > sering mengingat kesalahan-kesalahan suamiku. > > Aku menangis sejadi-jadinya hingga dadaku sesak dan > airmataku kering. > Hari itu menjadi hari paling menyedihkan dalam > hidupku. > > Tak kulihat suamiku di sampingku keesokan paginya. > Entah kemana ia. > Tanpa sadar aku, layaknya aktris berakting di > sinetron-sinetron, > memandangi foto-foto kami dulu dengan berlinang > airmata. Ngiris hati > ini. Andai saja ada lagu Goodbye dari Air Supply yang > mengiringiku, > tentu semuanya menjadi scene yang sempurna. > > Sekilas kenangan lama bermunculan di benakku. Aku > teringat pertama > kali aku bertemu suamiku, teringat apa yang aku > rasakan saat ia > melamarku. Aku tersenyum kecil hingga akhirnya tertawa > saat mengingat > malam pertamaku. Ha ha ha. > > Anak-anakku datang saat melihat ibu mereka ini > tertawa, memelukku > tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Mereka masih > kecil-kecil. > Kupandangi mereka satu per satu.... Mereka mirip > ayahnya. Aku jadi > teringat saat pertama kali kukatakan padanya bahwa ia > akan menjadi > ayah. Hhmmm... > > Ku lalui hari-hari penuh kekhawatiran bersamanya, > menunggu kelahiran > buah cinta kami. Dengan penuh kasih sayang, suamiku > memegang tanganku, > mencoba menenangkanku saat sang khalifah baru lahir, > walaupun kutahu > ia hampir saja pingsan. Keningku diciumnya saat > semuanya berakhir > walaupun wajahku penuh keringat saat itu. Saat kubuka > mataku, di > sampingku ia duduk menggendong bayi mungil itu. > Bersamanya, kubeli > tiket ke surga... > > "Mi, abi mana?" suara anakku mengejutkan lamunanku. > Tak sanggup > kumenjawabnya. Hampir saja aku menangis lagi. > > Tiba-tiba kulihat sesosok bayangan dari balik dinding. > Suamiku datang. > Rupanya tadi malam ia tidur di masjid. Ia melihatku > bersama anak- > anakku. Mereka berhamburan menyambut ayahnya, memeluk > lututnya karena > mereka belum cukup tinggi menggapai bahu ayahnya itu. > Ia membawakan > makanan untuk mereka. > > Saat anak-anak sibuk dengan makanan itu, ia > menghampiriku. Aku mencoba > untuk biasa dan kuajak ia melihat foto-foto lama kami. > Bernostalgia. > Aku tertawa bersamanya. Mengingat yang telah lewat. > > Sesekali ia memandangku lembut. Aku tahu ia sedang > berfikir. Namun aku > khawatir ia sedang meyakinkan hatinya untuk > benar-benar menceraikan > aku dan mengatur kata-kata agar aku dapat menerima > keputusannya. > > Saat ia diam dan memandangku dalam-dalam, kukatakan > padanya bahwa aku > merindukannya sejak tadi malam. Ia tersenyum dan > mengatakan bahwa ia > pun merasakan hal yang sama. > > Hatiku lega. Kututup album foto itu dan kukatakan > padanya bahwa selain > dari semua kekuranganku tentu ada kelebihanku, selain > dari semua yang > tidak disukainya tentu ada yang disukainya, selain > dari semua > ketidakcocokan kita tentu ada bagian yang cocok. "Bila > tidak, apa > alasan Abang mau menikahi Dinda dulu? Dan .. bagaimana > mungkin kita > bisa bertahan selama ini?" > > Ia mencium keningku. Kurasakan air mata mengalir > hangat di pipiku. > Tapi bukan air mataku... > > "Allah memang hanya menciptakan Dinda buat Abang... > Maafin Abang > ya..." > > Kuusap air mata dari pipinya dan ia membaringkan > kepalanya di > pangkuanku... > > "Maafin Dinda juga ya, Bang..." > > Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Aku tak > ingin > menanyakannya. > > Hanya dengan berada di sisiku pagi itu, aku rasa aku > tahu > jawabannya... > > Pernikahan itu bisa berumur panjang bila ada usaha > untuk > memanjangkannya dan bisa berumur pendek bila tidak ada > yang mau > berfikir panjang. > > (Untuk pangeranku, aku ingin beranjak tua bersamamu... > atas izin > Allah) > > > > > Web! > > > > > * * * * * > Zamhasari Jamil > Pelajar Islamic Studies > Jamia Millia Islamia - A Central University > New Delhi - India 110 025 > Website Kampus : http://www.jmi.ac.in > Website Pribadi : http://www.e-tafakkur.blogspot.com > Website PPI India : http://www.ppi-india.org > Email: izamsh@ yahoo.com > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > Do You Yahoo!? > Yahoo! Small Business - Try our new Resources site! ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project. http://us.click.yahoo.com/LZzaMD/_WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> _________________________________________________________________________ Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ========================================================================== Catatan penting: 1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India 2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326 4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647 5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255 Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
