Laporan berikut ini adalah kabar buruk bagi teman-teman PPI yang suka 
memelihara cacing di dalam perutnya, dan sekaligus peringatan awal 
tanda bahaya. Bahaya apa? Salah satunya, karena menular.  

hiiiiiiii seram .....

===



http://www.kompas.com/kesehatan/news/0507/21/115954.htm


Mengintip Ulah Cacing Perut, Oh Seraam ...



Ukurannya renik. Namun, di balik itu mereka telah merugikan negara 
miliaran rupiah. Pekerjaannya mencuri makanan di usus kita. 
Akibatnya, banyak murid SD yang seharusnya pandai seperti Dora 
menjadi kurang gizi dan ngantukan karena cacingan.

Begitulah cacing yang hidup di perut kita. Siklus hidupnya melewati 
tempat-tempat kotor. Namun, nama-nama mereka lumayan elok. Ada 
Trichuris trichuria (cacing cambuk), Ascaris lumbricoides (cacing 
gelang), Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (tambang), 
serta Enterobius vermicularis (cacing keremi).

Di antara keluarga besar cacing itu, yang paling banyak bikin masalah 
memang cacing cambuk dan cacing gelang. Sejak zaman kumpeni, keluarga 
cacing ini sudah bikin repot para mantri kesehatan.

Konon, di Indonesia, "Sekitar 60 - 80% anak usia sekolah menderita 
cacingan," kata dr. Adi Sasongko, MA, Direktur Pelayanan Kesehatan 
Yayasan Kusuma I Buana, Jakarta, sebuah lembaga swadaya masyarakat 
yang giat melakukan program pemberantasan cacingan.

Satu Juta Sehari 

Di dunia cacing berlaku peribahasa mati esa, berbilang selaksa. Tak 
heran kalau kemudian komunitasnya di perut gampang meluas. 
Sebagai gambaran, seekor cacing gelang betina dewasa bisa 
menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Jika di dalam perut terdapat 
lima ekor saja, mereka sanggup memproduksi satu juta telur dalam 
sehari!

Ukuran telurnya hanya dalam satuan mikron (1 mikron sama dengan 
seperseribu milimeter). Saking kecilnya, telur-telur itu hanya bisa 
dilihat dengan mikroskop.

Telur cacing keluar dari perut manusia bersama feses. Jika limbah 
manusia itu dialirkan ke sungai atau got, maka setiap tetes air akan 
terkontaminasi telur cacing. Meskipun Usrok buang hajat di WC, ia 
tetap saja bisa menyebarkan telur ini bila kakusnya meluber saat 
musim banjir.

Jika air yang telah tercemar dipakai Pak Ogah untuk menyirami tanaman 
atau aspal jalan, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air 
mengering, mereka menempel pada butiran debu. Saking reniknya telur-
telur itu tak akan pecah, meskipun dilindas ban mobil atau sepeda 
motor. Sambil menumpang debu, telur itu tertiup angin, lalu mencemari 
gorengan atau es doger yang dijual terbuka di pinggir-pinggir jalan.

Telur lainnya terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang tangan 
manusia. Lewat interaksi sehari-hari, mereka bisa berpindah dari satu 
tangan ke tangan lain. Mereka akan masuk ke dalam perut jika si 
empunya tangan biasa makan tanpa cuci tangan.

Karena menular lewat makanan, korban cacingan umumnya anak-anak yang 
biasa jajan di pinggir jalan. Mereka juga bisa menelan telur cacing 
dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih. Misalnya, hanya 
dicelup-celup di baskom tanpa dibilas dengan air mengalir.

Mencuri makanan di Usus

Ketika masuk ke perut seseorang, segera setelah menetas, cacing 
yunior akan "sungkem" kepada emaknya yang tinggal di usus halus. 
Setelah mendapat restu, ia akan membantu emaknya menggerogoti isi 
perut Usrok. 
Begitu mencapai umur 2 - 3 bulan, cacing itu akan menjelma menjadi 
seekor cacing betina dewasa yang siap bertelur. Sejak itu, ia akan 
membuat siklus baru buat cacing-cacing generasi berikutnya. Saat 
sudah dewasa, panjang badan mereka bisa mencapai 30 cm, lebih panjang 
dari pensil baru. Oh seraaam!

Namun, tak semua cacing segede itu. Cacing cambuk, misalnya, hanya 
sepanjang 5 cm. Produksi telurnya pun kalah jauh dari cacing 
gelang. "Hanya" 5 - 10 ribu telur per hari. Biasanya jumlah komplotan 
mereka jauh lebih banyak dari cacing gelang. Lebih kurang ajar lagi, 
mereka tidak hanya mencuri makanan di usus.

Setelah kenyang menyantap nasi dan telur, mereka beramai-ramai 
menyesap darah dari dinding usus. Dalam sehari, seekor cacing cambuk 
dewasa bisa minum darah 0,005 ml. Jika di dalam perut Usrok terdapat 
100 ekor, maka dalam sebulan Usrok harus kehilangan darah sebanyak 15 
ml. Tak mengherankan, penderita cacingan biasanya juga menderita 
kurang gizi dan anemia.

Kebiasaan minum darah juga dimiliki oleh cacing tambang. Meski 
bertubuh kecil (hanya sekitar 1 cm), mereka punya sepasang cakil yang 
bisa digunakan untuk mengigit permukaan usus. Jika mereka sedang 
ganas, gigitan mereka bisa sampai menyebabkan luka pada dinding usus.

Cara penularan cacing tambang pun lebih canggih. Tak cuma lewat 
makanan. Dua hari setelah keluar dari perut induknya, telur cacing 
tambang menetas menjadi larva. Ukuran larva ini juga superkecil, 
hanya dalam satuan mikron. Begitu kecilnya, larva bisa masuk ke dalam 
tubuh Usrok lewat pori-pori kulit.

Dengan menumpang arus peredaran darah, mereka bisa mencapai jantung 
dan paru-paru. Di dalam paru-paru mereka menembus alveolus (kantung 
paru-paru), lalu merangkak naik ke atas sampai di tenggorokan. 
Setelah melewati perjalanan berliku-liku, mereka ikut tertelan 
bersama makanan, dan akhirnya mencapai usus.

Karena daerah jajahannya yang sedemikian luas, cacing ini tak hanya 
menimbulkan masalah di usus, tapi juga di jaringan otot, paru-paru, 
dan lambung. Selain bisa menyebabkan anemia, cacing ini juga bisa 
menyebabkan radang paru-paru dan radang tenggorokan.

Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus halus yang hanyak 
berisi makanan. Meski ada juga yang tinggal di usus besar, dekat 
dengan "pintu keluar", misalnya cacing keremi.
Di malam hari, cacing betina dewasa mengendap-endap pergi ke "katup 
belakang" untuk meletakkan telur. Ulahnya yang kurang ajar ini bisa 
menimbulkan rasa gatal hebat di sekitar anus Usrok.

Jika Usrok selalu menggaruk-garuk anusnya saat lagi tidur, bisa jadi 
itu pertanda cacing keremi sedang beraksi. Saat digaruk, telur-telur 
ini bersembunyi di jari dan kuku Usrok. Sebagian lagi menempel di 
seprei, bantal, guling, dan pakaiannya. Lewat kontak langsung, telur 
menular ke orang-orang yang tinggal serumah dengan Usrok. Lalu, 
siklus cacingan pun dimulai lagi.

Kuncinya Hidup Bersih

Menurut Adi Sasongko, kunci pemberantasan cacingan adalah memperbaiki 
higiene dan sanitasi lingkungan.
Misanya, tidak menyiram jalanan dengan air got. Sebaiknya, bilas 
sayur mentah dengan air mengalir atau mencelupkannya beberapa detik 
ke dalam air mendidih. Juga tidak jajan di sembarang tempat, apalagi 
jajanan yang terbuka. Biasakan pula mencuci tangan sebelum makan, 
bukan hanya sesudah makan. Dengan begitu, rantai penularan cacingan 
bisa diputus.

Pada saat bersamaan, anak-anak yang menderita cacingan harus segera 
diobati. Namun, meski semua anak sudah minum obat cacing, tak berarti 
masalah cacingan akan selesai saat itu juga. 

Pemberantasan cacingan adalah kerja gotong royong yang butuh waktu 
bertahun-tahun. Negara maju sepenti Jepang pun pernah dibuat sibuk 
oleh ulah para cacing perut ini. Setelah kalah oleh Sekutu saat 
Perang Dunia II, Jepang jatuh menjadi negara miskin. Karena miskin, 
mereka menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk pertanian. 
Akibatnya, penularan cacing menjadi tak terkendali, sampai menyerang 
80% penduduk. Butuh waktu 10 tahun untuk menurunkan angka kecacingan 
hingga di bawah 10%.

Pada kasus cacingan ringan sampai sedang, gejalanya sulit dikenali. 
Untuk memastikan, anak-anak harus diperiksa tinjanya dengan 
mikroskop. Jika terbukti mengandung telur cacing, ia harus segera 
diobati. Dengan obat cacing tentunya. Namun, bila lewat pemeriksaan 
ternyata anak-anak terbukti sehat, simpan saja obat itu di kotak obat 
untuk digunakan bila di dalam perut si Usrok berkeliaran cacing 
perut. (Intisari)







_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://dear.to/ppi dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org 
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke