--- On Thu, 8/28/08, Ferdiansyah, Ferdiansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Ferdiansyah, Ferdiansyah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [32bdp_ipb] Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
To:
Date: Thursday, August 28, 2008, 5:03 AM
*Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?*
****
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering
ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul
Azim Premji, "Bill Gates" dari India(terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro,
dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan
dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon
kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21
orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner
yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak
betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tingkat turn-over
(kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih
tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian
karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang
meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih
menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar
alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan
desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah
perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya
di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu.
Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria
karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap
visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah
karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir,
bahkan sebuah kantin yang m enyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar
negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling
baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan
yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan
bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak
punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa
bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti
baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan.
Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia
bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat
ini pergi walaupun gajinya besar? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang
sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak
pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup
Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan
delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku
berjudul */First Break/**/ /**/All the Rules/*.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah
atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan
apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam
organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa
pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke
pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan,
tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All
the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab
tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih
besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya,
penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya
masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur
Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari
satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait
dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia */diperlakukan dan
dihargai/*.
Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang
yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan
bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan
yang sulit (terhitung berprestasi) .
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk
kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan
emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari
semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum
adalah hal yang paling tidak bisa diterima.
Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi,
tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua,
pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari
pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara
terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan
membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang
diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak
menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan
yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat
masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para
manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda:
dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu,
juga terlalu mengecam.
Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah
agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan
akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan
pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99
pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan
pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau
alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan,
kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti
yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan
orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk
sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat.
Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya
karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara
waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang
tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya.
Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan
oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja,
kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah
korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai
bawahan maupun atasan)?