Mudah-mudahan diskusi PPI Belgia kita  menjadi pembuka kegiata untuk menjadi
tumbuh menjadi aktivitas yang lebih besar.

 

Bayu.

 

Den Haag - Para pelajar dan intelektual Indonesia di luar negeri akan
berkumpul untuk membahas dan mempersiapkan misi dan strategi bangsa
Indonesia menghadapi tantangan dunia 2020. 

Kegiatan yang akan digelar di Gedung Museon, Denhaag (3-5/7/2009) berformat
simposium internasional itu merupakan kolaborasi bersama Perhimpunan Pelajar
Indonesia (PPI) Belanda dan Aliansi PPI Luar Negeri atau Overseas Indonesian
Students Association Alliance (OISAA).

Simposium bertema Visi dan Misi Intelektual Indonesia di Luar Negeri:
Strategi Pembangunan Indonesia Menuju 2020, itu menurut rencana akan dibuka
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui teleconference.

Siaran pers panitia yang diterima detikcom hari ini (27/6/2009) melalui
Sekjen PPI Belanda menyebutkan bahwa hasil yang diharapkan dari simposium
ini antara lain memberikan rekomendasi bagi permasalahan yang dihadapi
bangsa Indonesia di berbagai sektor.

Selain itu juga diharapkan akan terbentuk organisasi yang menghubungkan
seluruh intelektual muda Indonesia di luar negeri untuk aktif bersama-sama
memberikan kontribusi untuk bangsa Indonesia, serta terbentuknya database
intelektual muda Indonesia di seluruh dunia untuk kemudian dapat bekerja
sama dengan pemerintah.

Disebutkan bahwa Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, J.E Habibie menyambut baik
kegiatan ini. Sebagaimana telah dilakukan dalam dua tahun terakhir, KBRI Den
Haag selalu berusaha maksimal untuk menumbuhkembangkan antusiasme dan
semangat pelajar Indonesia di luar negeri untuk terus berkarya demi bangsa
dan negara. 

"Semangat itulah yang mendorong mereka untuk bersama-sama berjuang dengan
para pemuda dan pelajar Indonesia di dalam negeri, saling berkolaborasi,
bersatu untuk sebuah masa depan Indonesia yang lebih baik," demikian Dubes. 

Modal Nul Koma Nul

Ketua Panitia Achmad Adhitya mengatakan bahwa ketika ide ini digagas tak ada
uang untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Tak ada jaringan untuk
menghubungi para ilmuwan, pemerintah dan jaringan kepemudaan. Yang ada
hanyalah semangat bahwa hal yang dikerjakan ini diharapkan dapat memberikan
sebuah sumbangsih untuk masa depan bangsa. 

"Perlahan ide ini disosialisasikan ke beberapa pemuda Indonesia di belahan
dunia yang lain. Seperti api kecil yang terus menerus ditumpahi minyak,
semangat itu kian berkobar keseluruh penjuru dunia," papar Adhitya. 
 
Sementara itu Sekjen PPI Belanda Yohanes Widodo, akrab disapa Masboi,
menuturkan bahwa sebanyak 30-an PPI di seluruh dunia terlibat dalam proses
perencanaan hingga pelaksanaan. Namun ada beberapa perwakilan PPI yang tidak
bisa datang ke Den Haag karena kendala visa dan keuangan.

"Untuk pertama kali dalam dua puluh tahun terakhir pelajar Indonesia di luar
negeri berkumpul dan menggelar acara simposium internasional bersama," ujar
Masboi.

Menurut Masboi, ini sesuatu yang luar biasa. "Rasa banggalah yang kemudian
menyadarkan kita semua bahwa di mana pun kita berada, kita bisa dan harus
selalu berkarya untuk bangsa," tandasnya.
 
Agenda

Pada hari pertama akan ada bincang-bincang dengan Sekretaris Menpora Anis
Baswedan PhD, Cut Maghfira, dan Dr. Nasir Tamara. Disusul ceramah umum
Reposisi Indonesia di Percaturan Internasional oleh Jubir Kepresidenan Dr.
Dino Pati Djalal.

Setelah itu diskusi panel Pemanfaatan Sumber Daya Alam Indonesia dalam
Konteks Kerjasama dengan Pihak Asing dengan pembicara HM Rusli Zainal,
Agusman Effendi, Henricus Herwin. Disusul panel kedua dengan tema Regenerasi
Ilmuwan Muda dan Brain Gain Pemuda Indonesia. 

Pada hari kedua akan menampilkan presentasi dan diskusi ilmiah di enam
komisi yang dikoordinir oleh PPI UK, PPI Jerman, PPI Singapura, PPI Yaman,
PPI Belanda, dan PPI Australia. Agenda hari ketiga adalah Pembentukan Ikatan
Ilmuwan Indonesia Internasional (I4).

 

Bayu.

 

Kirim email ke