** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
REPUBLIAK
Sabtu, 20 Maret 2004
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Oleh :
Trisno Yulianto
Guru Freelance pada Sekolah Rakyat di Jagalan, Solo
Cita-cita dan upaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar-menengah di Indonesia telah
dicoba dikonsepsikan oleh berbagai praktisi/pegiat pendidikan. Perubahan haluan
politik Orba ke Orde Reformasi telah mendorong lahirnya adopsi metode pendidikan yang
partisipatif dan menekankan semangat humanisme sosial. Sehingga usul/wacana pembaruan
pendidikan tersebut, oleh jajaran birokrasi pendidikan dijadikan skema program
strategis. Pertama, dalam perbaikan kurikulum pendidikan 1994 menjadi kurikulum
pendidikan yang berbasis kompetensi. Kedua, reorganisasi administrasi dan manajemen
pendidikan dengan pemberian mandat otonomi pada sekolah. Perubahan ini dikenal dengan
terminologi MBS (manajemen berbasis sekolah).
Penyelenggaraan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) secara serentak akan dilaksanakan
mulai tahun ajaran 2004/2005, dengan terlebih dahulu diawali dengan pelaksanaan pilot
project pada beberapa sekolah unggulan di berbagai daerah. Namun inisiasi kolektif
untuk melaksanakan KBK di berbagai sekolah di negeri ini, saat ini banyak mendapatkan
kendala yang sifatnya struktural dan sosio-psiko-kultural. Komponen strategis
pembelajaran, yakni para guru di banyak daerah, belum banyak memahami apa, bagaimana,
dan metode pembelajaran sekolah dengan sistem KBK.
KBK berbeda dengan kurikulum pendidikan tahun 1994. Jika kurikulum 1994 menggunakan
pendekatan penguasaan ilmu pengetahuan dengan berorientasi pada content education dan
pola pengembangan kurikulum bersifat sentralisasi, maka KBK menggunakan pendekatan
kompetensi yang menekankan pada pengembangan daya kognisi, afeksi, dan psikomotorik
siswa (anak didik) dan pola pengembangan kurikulum bersifat desentralisasi.
KBK sendiri dilahirkan sebagai respons atas berbagai persoalan di seputar pendidikan,
di antaranya: Pertama, pergeseran paradigma komunitas benefeciaries pendidikan dari
berorientasi kolektif kepada pribadi (individual). Ada pemahaman bahwa anak didik
memiliki potensi yang berbeda dan bervariasi, sehingga perlu diperhatikan secara
berbeda. Kesadaran bahwa anak didik/siswa memiliki bakat (talent scout) yang berbeda
amat diperhatikan. Kedua, kesadaran bahwa perkembangan kedewasaan anak didik dalam
proses pembelajaran juga ditentukan oleh lingkungan dan relasi sosial. Sehingga
pengalaman hidup anak didik juga menjadi materi/bahan ajar yang penting. Ketiga,
problem internal sekolah di banyak tempat adalah memiliki sedikit guru profesional dan
tidak mampu melakukan proses pembelajaran secara optimal.
KBK -- menurut Drs Sugiaryo, MPd, seorang pakar pendidikan -- pada hakikatnya
menekankan segi profesionalisme guru dalam menggali sumber bahan ajar yang
multisumber. Dalam hal itu termasuk pengalaman di lapangan untuk semakin mengakrabkan
hubungan antara siswa dan guru. Sehingga guru dapat menjalankan "trifungsi"
edukatifnya. Sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator bagi perkembangan
intelektual dan sosial anak didik.
Konsepsi KBK sendiri menekankan pada pola belajar tuntas. Pola ini merupakan strategi
pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam
kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh
hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang diajarkan. KBK dalam
implementasi alur pembelajaran menitikberatkan pada beberapa hal, di antaranya: (1)
Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal
(kelompok). (2) Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan keberagaman.
(3) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
(4) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi.
Kompetensi yang diidealkan harus dikuasai oleh anak didik setelah dalam proses
pembelajaran KBK sendiri terdiri dari tiga hal: 1) Kompetensi umum, yakni kompetensi
yang harus dikuasai dan dimiliki oleh siswa setelah menyelesaikan proses pendidikan
pada jenjang pendidikan tertentu. 2) Kompetensi bidang studi (silabus), yakni
kompetensi yang harus dikuasai dan dimiliki siswa setelah menyelesaikan bidang studi
tertentu. 3) Kompetensi satuan bahasan, yakni kompetensi yang harus dikuasai dan
dimiliki oleh siswa setelah menyelesaikan bahasan tertentu pada bidang studi tertentu
(Depdiknas, 2001).
Hambatan struktural dan sosio-kultural Konsep yang "cemerlang" tersebut dalam berbagai
pilot project di banyak daerah sulit sekali diimplementasikan, karena menghadapi
banyak hambatan yang bersifat struktural maupun kultural. Beberapa hambatan struktural
di antaranya adalah belum adanya goodwill dari pemerintah (pemerintah daerah), untuk
mendukung faktor infrastruktur penyelenggaraan KBK -- baik dalam alokasi dana
pendidikan atau bantuan teknis, untuk pengembangan kualitas guru dan sekolah. Demikian
masih berlangsungnya pola birokrasi pendidikan yang sentralistik dan "korup", membuat
mutu pendidikan di negeri ini berjalan di tempat.
Praktik KKN dalam birokrasi pendidikan -- semisal dalam rekrutmen calon guru
--melahirkan komunitas pendidik (guru) yang kurang kapabel secara intelektual dan
sosial. Yang dihasilkan dari seleksi yang penuh dengan KKN adalah "bibit-bibit" guru
yang kurang berkualitas.
Sedangkan faktor sosio-kultural berkaitan dengan masih kuatnya budaya feodalisme dalam
pola pendidikan di sekolah, yang membelenggu "kreativitas" dan imajinasi intelektual
guru. Guru sebagai komponen strategis dalam KBK berpotensi menjadi "titik lemah" atau
penghambat pokok dalam ketercapaian proses pembelajaran KBK ketika tidak mampu
mencapai kematangan profesional.
Dari guru, dalam pelaksanan KBK dituntut dua hal, pertama, kesiapan mentalitas sebagai
tenaga edukatif. Kedua, kesiapan profesional. Kesiapan profesional berkaitan dengan
kemampuan "multiaspek", yakni: kemampuan dalam memahami proses, metodologi, tujuan KBK
sendiri sebagai sistem kurikulum yang partisipatif, kemampuan dalam bidang ilmu yang
diajarkan, kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi, kemampuan dalam memilih
metode dan menggunakan metode pembelajaran, kemampuan dalam evaluasi hasil belajar,
kemampuan membangkitkan minat anak didik, serta kemampuan dalam memberikan bimbingan
kepada siswa (Sugiaryo, 2002). Ketiga, kesiapan sosial. Kesiapan guru untuk melakukan
interaksi timbal balik dengan komponen penting pendidikan yang lain -- baik dengan
siswa, sesama guru, kepala sekolah, dan stakeholders sekolah yang lain.
Menepis kecemasan
Sebagai fondasi penting dalam penyuksesan pelaksanaan KBK, diperlukan upaya kreatif
dan dinamis. Depdiknas sendiri sebenarnya telah menyiapkan beberapa program penting
yang sejalan/selaras yang menunjang keberhasilan KBK dari sisi teknis-fungsional.
Yakni adanya reaktualisasi konsep MBS, manajemen berbasis sekolah, yang mencoba
menjadikan sekolah sebagai institusi pendidikan yang mandiri dan didukung oleh
partisipasi aktif multi-stakeholders. Dengan MBS maka sekolah akan menjadi institusi
yang demokratis, terbuka, akuntabel dalam anggaran. Ketika kualitas manajerial dan
mutu pendidikan meningkat maka akan memudahkan bagi implementasi KBK.
Program BBE-LS (Broad-Based Education-Lifeskill) -- yang merupakan pola pendidikan
berbasis masyarakat yang berorientasi kecakapan hidup -- adalah untuk melayani
kebutuhan sebagian besar masyarakat, adanya lulusan sekolah yang memiliki kecakapan
hidup. Konsepsi BBE-LS sendiri sejalan dengan kurikulum KBK dengan disertai upaya
mengembangkan budaya sekolah yang demokratis, penciptaan hubungan yang sinergis antara
sekolah dan msyarakat, kreativitas pada perencanaan program, pemenuhan kebutuhan
internal dan eksternal sekolah.
Untuk mendukung sukses-tidaknya KBK sebenarnya harus diperlukan langkah agenda aksi
yang riil, di antaranya:
Pertama, adanya alokasi anggaran pendidikan yang ditujukan kepada bantuan program
kepada sekolah-sekolah yang mengimplementasikan KBK. Bantuan tidak hanya berwujud
block grant, untuk keperluan pembangunan prasarana fisik gedung sekolah dan
sebagainya. Juga harus ada bantuan bimbingan dari multi-stakeholders yang
diorganisasikan dan kompeten dalam pelaksanaan KBK. Berbagai kegiatan pelatihan
keahlian profesi bagi guru perlu dilakukan secara kontinyu dan terencana.
Kedua, perlu pengembangan komunitas belajar (learning by community) di kalangan guru
sebagai langkah meningkatkan profesionalisme mereka. Para guru atas inisiatif sendiri
per bidang studi atau per wilayah sekolah mengembangkan FGD (Focus Group Discussion)
untuk memperbincangkan problematika seputar pelaksanaan KBK dan problem solving dari
permasalahan yang muncul.
Ketiga, ada proses belajar tindak bagi sekolah-sekolah yang telah dan akan
melaksanakan KBK. Proses belajar bersama ini diperlukan sebagai media pembelajaran
antara satu sekolah dengan yang lain, untuk mengevaluasi dan mencari manfaat baik
dalam fase persiapan, proses, dan evaluasi pelaksanaan KBK. Tindak belajar bersama
tersebut, mencakup pula upaya adopsi kurikulum dengan mendasarkan pada paradigma lokal
(multikultural), pembenahan manajemen sekolah, demokratisasi budaya sekolah, dan
sebagainya.
Yang paling penting yang setidaknya "ideal" untuk mendukung kesuksesan KBK adalah
adanya peran serta masyarakat melalui Komite Sekolah atau Dewan Pendidikan, untuk
mendukung secara moral dan material dalam pelaksanaan KBK. Juga ada goodwill dari
pemerintah daerah dan DPRD dalam memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan penunjang dalam
pelaksanaan KBK.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/