** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
ELANJAYA
Di senja hidupnya setelah keluar penjara Orde Baru menyusul Tragedi Nasional September
1965, semua orang mengenal dan memanggilnya dengan nama Elanjaya. Termasuk teman-teman
lamanya di Taman Siswa yang tadi mengenalnya dengan nama Prawira Soehardjo.
Nama Prawira Soehardjo diberikan oleh orangtua Elanjaya karena sang ayah yang bernama
KudoDjojotomo merupakan salah seorang anggota pasukan berkuda Keraton Solo. Sang ayah
memberikan nama Prawira untuk melanggengkan profesi yang ia banggakan, sekaligus
mencatat harapan orangtua kepada anak lelaki mereka agar selalu mempunyai watak
perwira dalam kehidupan. Kudo Djojotomo termasuk salah seorang anggota pasukan berkuda
Keraton Solo yang cukup terkemuka sehingga ia dikenal oleh berbagai kalangan termasuk
lapisan atas Keraton, juga oleh Raden Mas Said alias Pangeran Samber Nyawa yang
terkenal sebagai Pangeran Solo yang sangat anti kolonialisme Belanda.
Sebagaimana halnya dengan banyak bangsawan, Pangeran Samber Nyawa pun mempunyai
beberapa istri. Dia menghabiskan sisa hidupnya bersama istri yang paling muda.
Malangnya, dengan istri muda cantik ini, sang Pangeran tidak dikaruniai anak satupun.
Maka sang Pangeran memungut Prawira, Sukamtinah, Mulya Harjana sesaudara sebagai anak
angkat. Sebagai orang yang sangat anti kolonialisme Belanda, Pangeran Samber Nyawa
kemudian meninggalkan Keraton Solo secara sukarela dan pergi ke Surabaya, hidup
sebagai warga biasa, melepaskan segala tradisi dan tatacara hidup kebangsawanan.
Semangat anti kolonialisme Belanda inilah yang kemudian ketika dewasa membawa Prawira
ke lingkungan Taman Siswa dan menjadi orang dekat Ki Hajar Dewantara yang juga tidak
lain adalah seorang bangsawan. Melalui Taman Siswa dan kedekatannya dengan Ki Hajar
serta pimpinan Taman Siswa lainnya, pikiran anti kolonialis dan patriotik makin
berkembang di diri Prawira Soehardjo. Makin berkembang dan radikal oleh pencar
iannya yang tak berkeputusan. Darah birunya hanya tertinggal pada ciri tubuhnya yang
tinggi besar, berkulit bersih kuning, dan wajah yang nampak anggun. Ia menjadi sangat
anti feodalisme. Sampai ketika seorang teman dari lapisan bawah masyarakat Bali
melangsungkan perkawinan dengan seorang perempuan Jawa Tengah, dengan menggunakan cara
Jawa feodal, Prawira lalu menegurnya sambil bercanda teman dekat tersebut:
"Ktut, Ktut, ngapain kau kawin khoq dengab menggunakan cara-cara feodal begini!
Mengapa tidak kawin cara yang merakyat? Cara apapun yang kau gunakan tidak akan
mengobah statusmu menjadi bangsawan. Apa sih hebatnya dan yang membanggakan menjadi
bangsawan?". Tapi Ktut bersikeras melangsungkan cara umum perkawinan di zaman Orde
Baru yang menimbulkan rasa geli di kalangan anak-anak Prawira dan Prawira sendiri, dan
setelah menghamburkan uang dalam jumlah yang tidak kecil, Ktut masih saja sebagai
Ktut. Status sosialnya pun tidak terangkat oleh cara perkawinan bangsawan Jawa Tengah
itu.
Dari Surabaya, Prawira Soehardjo pindah ke Malang di mana beberapa anaknya lahir.
Kemudian pindah lagi ke Yogyakarta sebagai salah seorang penanggungjawab dan guru di
Taman Siswa bersama-sama Ki Hajar Dewantara. Menjelang Tragedi Nasional September
1965, Prawira dan istrinya pindah ke Jakarta. Tinggal di Rawasari. Anak-anaknya yang
masih di Yogyakarta, kemudian menyusul ke Jakarta pada panas-panasnya keadaan di bulan
September 1965. Sebagian lagi menyingkir ke berbagai kota di Jawa untuk menghindari
buruan tentara yang menangkap orang tanpa pandang bulu, baik yang anggota PKI, atau
pun tidak ada sangkut-pautnya dengan PKI.
Ketika tentara mengintensifkan operasi pembersihannya, pada suatu subuh buta, Prawira
Soehardjo akhirnya ditangkap di rumahnya di Rawasari. Ia ditendang di depan anak-anak
dan istrinya. Kemudian diangkut dengan truk. Tendangan pada belikat Prawira ini
meninggalkan kesan mendalam pada anak-anaknya yang waktu itu masih bocah. Siksaan
dilanjutkan di rumah tanahan dan saat-saat interogasi sampai beberapa tulang rusuk
Prawira patah dan terasa sakit saban udara Jakarta mendingin. Lebih-lebih di saat
hujan deras mengucur dari langit . Hanya saja ia tidak pernah mengeluh sehingga tidak
semua anak-anaknya tahu, kecuali anak yang paling dekat kepadanya yaitu Atiek.
Mengeluh tidak menjadi kebiasaan Prawira karena sejak ia diambil anak angkat oleh
Pangeran Sambar Nyawa yang siap menanggung segala risiko akibat sikap anti Belandanya
dan menentang sikap Keraton Solo, Prawira dididik untuk memahami arti konsekwensi
suatu pilihan. Lebih-lebih ketika ia mengenal kehidupan masyarakat lapisan
bawah yang selalu digumulinya dalam usaha melakukan proses penyadaran melalui
pendidikan. Untuk orang yang diasuh dan dikenalnya, Prawira tidak segan memberikan
apa-apa yang dimilikinya. Supartinah, istrinya, juga seorang guru, sering
"muring-muring" di rumah kalau Prawira menawarkan tamunya makan, padahal di dapur
hanya tersedia telur ayam sebagai stok makanan. Tapi Prawira berkomentar tenang:
+"Ada telur ayam, ya kita makan telur ayam".
-"Ya, kau bisa berkata begitu. Saya sebagai ibu rumahtangga apa tidak malu?"
+ "Malu apa, wong hanya itu yang kita punya. Nilai ajakan kan tidak diukur dari nilai
telur ayam", jawab Prawira meyakinkan atau lebih tepat memaksa istrinya yang dengan
rasa jengkel memutar otak untuk bisa menyuguhi tamu selayak mungkin.
Setelah ternyata, Prawira tidak terbukti kesalahannya, ia dilepaskan oleh tentara dari
penjara. Prawira tinggal di sebuah gubuk di daerah Cilandak Jakarta Selatan bersama
anak-istrinya. Terbiasa dekat dengan kehidupan lapisan bawah, di Jakarta Selatan,
Prawira langsung aktif dalam kehidupan kampung antara lain turut dalam kegiatan
memperbaiki jalan-jalan kampung. Tapi justru di dalam kegiatan inilah kemudian pihak
tentara yang juga turut dalam panitya perbaikan jalan di kampung mengetahui Prawira
pernah dijebloskan ke dalam penjara karena tuduhan sebagai anggota PKI. Gubuk Prawira
kembali digrebek dan ia kembali ditangkap. Siksaan demi siksaan kembali dideritanya.
Tapi lagi-lagi, Prawira tidak bisa dibuktikan kesalahannya. Ia kembali dilepaskan dan
kembali ditangkap serta dibuang ke Nusakambangan oleh tuduhan sebagai anggota PKI atau
dekat dengan PKI serta anggota ormas PKI. Prawira keluar dari Nusakambangan ketika
Carter, dengan politik kemanusiaannya menjadi Presiden Ameri
ka Serikat dan menekan Orde Baru melepaskan tahanan politik atas tekanan dunia
internasional.
Sejak ia dilepaskan dari pulau pembuangan Nusa Kambangan,Prawira mengobah namanya
menjadi Elanjaya. Dengan nama ini ia melakukan kegiatan pendidikan di kalangan tukang
becak dan anak jalanan serta berbagai lapisan terpuruk di ibukota . Ia juga turut
aktif melakukan penerbitan sederhana yang diketik dengan mesin ketik biasa bernama
"Suara Patriot" di mana diuraikan tentang keadaan tanahair dan negara di samping
permasalahan di kalangan masyarakat marjinal yang paling marjinal yang digelutinya.
Hal ini dilakukan oleh Elanjaya sampai ia menghembuskan nafas penghabisan dengan
tersenyum.
Elanjaya meninggal dengan tersenyum? Ya, ia meninggal dengan lega dan tersenyum karena
keinginannya terkabul. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri turun panggungnya
Soeharto dari panggung kekuasaan.
Beberapa kali ketika menemuinya di Jakarta, saya masih ingat tekadnya:
"Saya tidak akan mati dan tidak rela mati sebelum melihat Soeharto turun panggung! Ia
akan jatuh! Saya mau menyaksikan kejatuhannya". Keinginan Elanjaya akhirnya terkabul
dan beliaupun meninggal dengan lega. Tenang dan tersenyum walaupun memang bukan senyum
seorang pemenang tapi sebatas senyum seorang yang penuh elan. Elan yang jaya. Anak
manusia yang penuh vitalitas, yang menolak kalah, yang sanggup bangkit dari kekalahan.
Semangat inilah yang menghayatinya ketika ia mengganti nama dengan Elanjaya. Elan
atau vitalitas yang menyertainya sampai detik penghabisan. Dari segi ini bisa
dikatakan Elanjaya bukan manusia yang kalah tapi manusia yang berani menang dan
berusaha menang serta pandai menang. Ia hanya belum sampai ke tujuan mimpinya.Dengan
menggunakan nama baru Elanjaya, Prawira secara tidak langsung ingin memperlihatkan
bahwa ia tidak menyerah, bahwa ia ingin hidup dan mencintai hidup, setia pada mimpi
dan pilihannya! Ia ingin mengatakan bahwa penindasan Orde Baru tidak
bisa membasmi elan kemanusiaannya untuk menjadi anak manusia yang manusiawi.
Coba hitung berapa banyak gerangan manusia pemimpi dengan elan konstan yang sanggup
memberikan elan dan nyawa pada mimpinya di negeri ini ketika uang menjadi raja?
Elanjaya bisakah dipandang sebagai manusia dan kemanusiaan yang tidak terkalahkan dan
ingin merebut bumi sebagai hak tak tergugat anak manusia untuk memanusiawikan diri?
Elan dan mimpi, adakah di negeri ini?
Paris, Maret 2004.
-----------------
JJ.KUSNI
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/