** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Ibu Suraiya yg baik, komentar saya saya selipkan di setiap poin dari 
komentar Anda yg akan saya respons di bawah :) 


--- In [EMAIL PROTECTED], "raiyabilly" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bapak Mario yang baik.
> Sungguh, informasi Anda ini  mengejutkan saya. Saya sudah membaca 
> banyak laporan perjalanan haji (rata-rata pengalaman pribadi) ada 
> yang di milist lainnya, ada yang di koran. Juga cerita langsung 
>dari ratusan orang yang pulang haji. Tapi, belum pernah sekalipun 
>saya mendengar cerita dari sudut pandang ini (entah mungkin mereka 
>sungkan untuk bercerita).

Mario: Saya memaklumi hal ini. Antara saya (petugas haji) dan mereka 
(jamaah haji) tentu memiliki perbedaan cukup tebal walaupun para 
petugas haji juga melaksanakan ibadah haji. Yg terpenting adalah 
umumnya prioritas jamaah haji adalah bersifat personal yakni 
bagaimana agar supaya ibadah mereka masing2 dapat maksimum dan 
menjadi haji mabrur, sehingga tentu saja yg menarik perhatian mereka 
umumnya adalah hal2 yg berkaitan dg ibadah tsb. Sementara bagi para 
petugas haji seperti saya, konsen utama adalah bagaimana supaya  
prosesi ibadah dan pernik2 perjalanan jamaah haji tsb. dapat berjalan 
dg aman, tertib dan lancar. Karena itu, semua hal yg tampak "kecil" 
seperti contoh baju tipis itu menjadi perhatian kami. 

Selain itu, para jamaah haji hanya melihat dan bertemu dg para jamaah 
haji yg kebetulan satu kloter, sementara para petugas haji bertemu dg 
seluruh jamaah haji dari kloter pertama sampai terakhir; dari Aceh 
(kloter BTJ) sampai Irian Jaya (kloter SUB). Ini juga yg membuat Bu 
Raiya tidak melihat apa yg saya ceritakan. Krn. memang jamaah haji 
Aceh/jakarta umumnya berbaju sangat sopan. Apa yg saya lihat soal 
baju seksi itu memang umumnya dari kloter daerah lain yg tentu saja 
kurang etis kalau saya sebut nama daerahnya di sini. :)
 
>Satu-satu ada yang mamakai lipstik, tapi rata-rata memakai 
> lipglos (?) karena suhu yang panas atau dingin  bisa membuat bibir 
> pecah kalau terlalu kering. 

Mario: kalau soal lipstik... well saya masih melihat mayoritas jamaah 
kita memakainya. Tentu saja yg saya maksud lipstik adalah pemerah 
bibir, bukan lipgloss. :)
 
> Begitu mereka pulang, saya melihat foto-foto, hampir semua foto 
> tidak kelihatan muka dengan baik, karena ditutup dengan masker 
(dari 
> kain), katanya untuk menghindari ketularan flu/batuk, karena  atau 
> karena  debunya .. Saya jadi bingung dengan penjelasan Anda 
> soal 'penampilan perempuan Indonesia" yang sangat kontradiktif 
> dengan apa yang selama ini saya tahu...Tapi, tentu saja pengetahuan 
> saya terbatas , menginjakkan kaki ketanah Arab saja belum 
pernah :)).

Mario: foto yg Anda lihat mungkin ketika mereka sedang di Mina dan 
padang Arafah. Di sana umumnya jamaah haji memang memakai masker. Spt 
yg saya bilang, jamaah haji berlipstik umumnya ketika lagi menuju ke 
masjid atau sedang shopping di sekitar masjid. 

Saya sendiri malah pernah melihat seorang ibu jamaah haji yg lagi 
tawar menawar barang, krn penjual bersikeras bertahan dg harga awal, 
ibu itu berusaha merayu: "Kasihlah tuan, buat Siti Rahmah!" katanya 
sambil senyum2 dan megang2 tangan si Arab. Di sini, si Ibu melakukan 
dua kesalahan: pertama, megang2 tangan lelaki arab (mungkin di 
Indonesia masih "wajar" tp di arab itu akan dianggap sinyal "mau". 
Kedua, menganggap dirinya "siti rahmah". Perlu diketahui, bahwa siti 
rahmah adalah panggilan negatif orang Arab (Saudi) terhadap para TKW 
yg "mau". Memang ibu tadi mungkin gak tau dan gak menyadari 
kesalahan. Dalam tulisan saya, saya memang tidak pernah menyalahkan 
para ibu itu, yg salahkan adalah para pembimbing ibadah haji kloter 
masing2.


> 
> Yang menjadi konsen saya berikutnya adalah informasi tentang kasus 
> pelecehan yang Anda tuliskan "Keramahan wanita Indonesia di Saudi 
> telah membawa imej dan dampak yg kurang baik bagi mrk sendiri. Dari 
> sejumlah kasus "pelecehan seks" yg terjadi baik di jeddah, madinah 
> atau mekkah hampir semua korbannya adalah calhaj wanita indonesia".
> Yang saya pahami dari paragraf di atas, Anda menganggap pelecehan 
> itu terjadi karena kesalahan korban, karena "keramahannya".

Mario: iya betul. Memang itu yg saya maksud. Dan itu terbukti dg 
adanya fakta bahwa tidak ada satupun jamaah wanita dari negara lain 
yg pernah mengalami kejadian "pelecehan seks" di Saudi. Tetapi memang 
kalau kesalahan itu ditimpakan semata2 pada pundak jamaah haji saja 
rasanya kurang fair. Kalau mau dirinci lagi, sebenarnya imej bahwa 
wanita indonesia itu "ramah" dan karenanya "murah" itu juga 
diakibatkan oleh imej buruk terhadap para TKW kita di saudi (pada 
kesempatan lain akan saya ceritakan soal TKW ini pada bab khusus). Dg 
imej wanita tkw kita yg buruk itu, ditambah dg sikap jamaah wanita yg 
ternyata tidak beda dg TKW-nya (maaf, mebbe Im abit too harsh using 
the words), maka tentu tidak susah bagi orang2 arab dan tenaga kerja 
dari Bangladesh, Pakistan, India,dll yg "haus darah" itu untuk 
berkesimpulan yg sama. :)

> Padahal di tulisan kedua Anda sempat bagaimana prilaku laki-laki > 
> Arab. 

Mario: Lelaki Arab spt yg saya bilang memang "haus darah". Ini umum 
terjadi di mana2 yg menganut tata cara konservatif. Umumnya orang2 
arab yg kaya tp blom bisa kawin (krn.tingginya mahar) akan 
mencari "solusi"nya di negara2 luar (bangkok, eropa, amerika, 
jakarta, dll). Akan tetapi, lelaki arab itu tetap manusia juga, bukan 
hewan. Dalam artian, mereka tidak akan berani bersikap macam2 pada 
wanita kecuali kalau mereka menganggap bahwa si wanita telah memberi 
sinyal2 "khusus" padanya. :) Terbukti, saya lihat, sikap mrk. sama 
sekali tidak menunjukkan mau "nerkam" pada wanita2 dari negara lain. 
Ini krn. memang si Arab "ganas" ini tidak melihat ada "lampu 
kuning/hijau" yg ditunjukkan mrk. 

> Tetapi sebenarnya, menurut saya, kalau melihat kasus pelecehan, 
> tidak bisa hanya dilihat dari soal "hajjah" saja. Bukan sedikit 
> berita yang kita dengar soal perkosaan yang dialami oleh buruh 
> migrant dari Indonesia ke Arab. Karena ada konsep pemahaman TKW 
> adalah sama dengan budak... Ini bisa saja berimbas, setiap 
perempuan 
> Indonesia yang ke Arab adalah TKW = budak dan boleh diapa-apain.

Mario: Soal tkw, budak, dan pernik2nya insyaallah akan saya bahas 
nanti. 

> Setelah itu, saya baru tahu dari salah satu organisasi Buruh 
migrant 
> bahwa selama ini hampir secara umum buruh migrant hanya mau 
> membangun relasi spesial dengan orang yang sama -sama Muslim 
> (terserah kagak sholat atu mabuk-mabukan). Orang Pakistan rata-rata 
> Muslim dan tahu betul soal itu. 

>Banyak diantara BMI yang ditipu, di 
> rayu, dihamili  dan diporotin uangnya. Istilah yang beredar adalah 
> hanya modal "assalamualaikum" saja. Pakistan itu agresifnya luar 
> biasa. Kalau mereka lihat perempuan Indonesia berjalan sendirian 
> (terutama di hari minggu dan seputar Cosway Bay tempat berkumpulnya 
> buruh moigrant ), maka cepat-cepat menghampiri dan mengatakan I 
love 
> you dalam bahasa Indonesia dengan logat aneh, dan mulai merayu...

 Mario: kasus serupa juga terjadi pada TKW saudi. Siapa yg salah? 
Lelaki itu atau tkw kita atau dua2nya?

> Jadi, ketika Dia melihat saya memegang paspor Indonesia, walaupun 
> saya tidak senyum, tidak bicara, dan tidak pakai baju transparan.. 
> di otaknya sudah muncul sebuah imej, bahwa saya adalah buruh migrat 
> yang jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang tersayang, kesepian 
> dan "bisa" untuk dimangsa. Bukan tak mungkin, pandangan seperti itu 
> juga muncul di Arab, malah dapat kualitas yang lebih berat 
>mengingat  konsep budak tadi..

Mario: soal ini sudah saya komentari di atas. soal baju transparan, 
memang bisa jadi bukan satu2nya sebab. Sebab utama jelas ya krn. imej 
buruk ttg wanita indonesia itu. Tetapi baju transparan, lipstik tebal 
dan "keramahan" jelas akan menambah buruk imej itu dan 
semakin "memotivasi" lelaki2 "buas" itu. Kalau Bu Suraiya dg baju dan 
sikap yg formal/sopan masih diganggu di HK menurut dugaan saya (maaf 
kalau salah) krn. sudah ada preseden sebelumnya di mana mungkin ada 
sebagian tkw yg walau "dg paksa" ternyata akhirnya "menyerah" juga. 
(ini perkiraan saya, maaf ini di luar "jurisdiksi" saya; bu suraiya 
tentu lebih tahu situasi di HK).
> 
> Demikian komentar dari saya, mohon maaf karena terlalu panjang.

Mario: Terima kasih banyak. Saya tunggu komentar ibu lebih lanjut. 

cheer n peace,
Mario Gagho
Agra University





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke