** Milis Nasional Indonesia ppi-india **

http://www.suaramerdeka.com/harian/0403/23/kha1.htm
Selasa, 23 Maret 2004 Karangan Khas

Tanpa Mesin Birokrasi dan Dukungan Militer
Oleh: Novel Ali

SALAH satu ancaman Pemilu 2004, adalah pendayagunaan mesin birokrasi dan
institusi militer dalam kampanye pemilu yang sedang berlangsung sekarang.
Pengalaman pemanfaatan mesin birokrasi dan dukungan ABRI di masa lalu kepada
kekuatan politik tertentu, sama sekali tidak boleh terulang, saat ini dan
masa-masa mendatang. Membiarkan berputarnya mesin birokrasi negara dan
keberpihakan Polri serta TNI kepada parpol dan perorangan peserta Pemilu
2004, berarti membiarkan kerusakan sistamik dan struktural reformasi
pemerintahan negara. Itu berarti, pemerintahan berbasis profesionalisme
birokrasi sipil, Polri dan TNI, tidak berhasil ditegakkan.
Peringatan demikian perlu diajukan, karena sejarah mencatat jatuhnya rezim
Orde Baru terutama disebabkan oleh berlangsungnya loyalitas birokrasi sipil
dan militer kepada kekuatan politik dominan saat itu. Penggunaan fasilitas
dinas, dan sikap tidak profesional aparat pemerintah sipil ABRI, membentuk
sikap "menghamba" partai pengasa.
Realita ini, menyebabkan rakyat kehilangan kepercayaan kepada pelaku
pemerintahan nasional kita, kendati lebih dari tiga dekade sebelumnya,
relatif berhasil dipendam di dasar bumi.
Penggalangan dukungan masyarakat untuk Golkar pada Pemilu 1997 dan
sebelum-sebelumnya, menyebabkan terus- menerus berlakunya penggunaan jalur
terlarang (dalam lalu lintas demokrasi). Jalur terlarang itu, adalah
birokrasi dan militer.
"Api dalam sekam" pun meledak juga, terutama disebabkan berfungsinya gerakan
mahasiswa Indonesia, sebagai kekuatan pemaksa. Berikutnya, terjadilah
reformasi politik pemerintahan negara, dengan penyelenggaraan Pemilu 1999,
tanpa keberpihakan mesin birokrasi (sipil), dan dukungan Polri serta TNI,
kepada parpol peserta pemilu.
Sterilisasi Birokrasi
Ritus demokrasi itu harus dipertahankan pada Pemilu 2004, sampai kapan pun.
Itu sebabnya, mengapa pada kampanye pemilu hari-hari ini, diharamkan
penggunaan kendaraan dinas (plat merah, polisi atau TNI).
Kalau dibiarkan, warga masyarakat bukan peserta kampanye yang menonton di
pinggir jalan, mendengar di dalam ruangan, atau berada di pinggir lapangan
(tempat berlalu lalangnya atau berkumpulnya massa peserta kampanye), bukan
mustahil akan menggerutu, dan mencaci pemerintahan sipil serta instalasi
militer di negeri ini, yang mengizinkan keberpihakannya kepada kontestan.
Gerutu publik itu, dilontarkan dengan suara nyaris tidak terdengar, hingga
berteriak.
Gerutu publik ini, bukan mustahil akan mendapat perlawanan massa peserta
kampanye pemilu. Bagi mereka, keberhasilan memanfaatkan simbol negara (sipil
dan militer) dalam kampanye pemilu, merupakan salah satu "kemenangan". Massa
politik ini justru merasa bangga atas kebesaran politik parpol yang
didukungnya, lantaran dapat menggiring birokrasi sipil dan militer, untuk
memberikan fasilitas negara kepada bagi kepentingan subjektif (parpol).
Karenanya, sekecil apa pun gangguan atas kepentingan simbol parpol dimaksud,
cenderung akan ditafsirkan oleh massa peserta kampanye sebagai gangguan dan
ancaman terhadap keseluruhan kepentingan, kebesaran dan kebanggaan partai
itu sendiri. Maka, tidak mengherankan bila massa peserta kampanye
menghalalkan segala cara, termasuk pendayagunaan fasilitas dinas (sipil,
Polri dan TNI).
Penghalalan cara ini, disebabkan situasi kejiwaan massa peserta kampanye
yang umumnya panas . Akibatnya, rasionalitas pribadi dan kelompok terpendam
ke dalam mulut bumi, sementara emosi massa membara di atas tanah, siap
menghanguskan sekecil apa pun kepentingan yang berlawanan.
Dengan perkataan lain, kendati berputarnya mesin birokrasi dan dukungan
Polri serta TNI dalam kampanye pemilu tahun ini dapat sangat menguntungkan
parpol dan perorangan tertentu, namun (bisa dipastikan) rakyat akan menolak.
Penolakan rakyat yang dihadapi secara bertatapan (vis a vis), memacu clash
kepentingan sistamik dan struktural, baik horisontal maupun vertikal.
Kegagalan Pemilu 2004
Clash ini bukan mustahil berdampak kegagalan Pemilu 2004, yang ditandai oleh
berulangnya sistem pemerintahan negara berbasis dukungan parol peraih suara
terbanyak pada pesta demokrasi (terdekat) sebelumnya, plus dukungan
birokrasi sipil dan militer, tetapi langka kepercayaan masyarakat. Sebab,
walau parpol peserta pemilu telah berhasil mendayagunakan mesin birokrasi,
Polri dan TNI, dalam kampanyenya, sehingga mampu menggait suara pemilih
(vote getters), namun akuntabilitas pemerintahannya pasca Pemilu 2004,
diperdiksi akan rendah sekali.
Itu sebabnya, mengapa sterilisasi birokrasi sipil dan militer dalam kampanye
Pemilu 2004, mutlak diperlukan. Konsisten dengannya, maka seluruh parpol dan
perorangan peserta pemilu tahun ini, perlu sebisa mungkin memanfaatkan
reformasi birokrasi, lewat pendekatan strategi struktural dan kultural,
dalam upaya memenangkan Pemilu 2004.
Strategi struktural perlu diaktualisasikan setiap parpol dan perorangan
peserta Pemilu 2004, dengan menaati seketat mungkin seluruh aturan
perundangan dan kehendak baik (political will) menciptakan pemerintahan yang
bersih dan berwibawa, pasca Pemilu 2004. Realisasinya lewat peniadaan
keterlibatan birokrasi sipil dan militer, selama dua pekan kampanye Pemilu
2004.
Konsisten dengannya, mulai dari presiden, menteri, kepala daerah dan
berbagai pejabat publik lain yang masih rangkap jabatan (negara dan parpol),
harus benar-benar mampu mewujudkan netralitas birokrasi yang dipimpinnya.
Mereka tidak boleh bersikap mendua, berteriak anti keberpihakan, tetapi
lewat cara lain membiarkan parpol atau perorangan peserta pemilu yang
didukungnya memanfaatkan fasilitas negara.
Sedang strategi kultural dapat diimplementasikan dengan cara mengatur sikap
dan perilaku seluruh pelaku pemerintahan, sipil dan militer, sebagaimana
tuntutan rakyat yang ideal.
Tuntutan ideal ini sulit diwujudkan, karena terdapatnya peraturan tentang
perlunya netralitas pegawai negeri sipil (PNS), sebagaimana tercantum dalam
UU 43 Tahun 1999 Tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Sayangnya, belum ada
peraturan hukum yang mengatur perlunya pimpinan eksekutif yang diangkat
lewat jalur politik untuk melepaskan diri dari keanggotaan parpolnya.
Padahal, berbarengan kontradiksi legal ini, UU Nomor 22 Tahun 1999 Tentang
Pemerintahan Daerah mengakses lebar-lebar intervensi politik ke dalam
birokrasi.
Akibatnya, harapan kampanye Pemilu 2004 tanpa mesin birokrasi dan dukungan
Polri serta TNI, masih saja lebih bersifat janji, ketimbang benar-benar
dapat terhindar atau tercegah sepenuhnya. Itu berarti, kita semua mesti siap
melihat kenyataan jika pesta demokrasi sekarang tidak sebaik Pemilu 1999,
apalagi Pemilu 1955. (18)
- Novel Ali, Dosen FISIP Universitas Diponegoro, Semarang.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke