** Milis Nasional Indonesia ppi-india **

http://www.suaramerdeka.com/harian/0403/23/nas3.htm
Selasa, 23 Maret 2004 Berita Utama

Analisis
Inilah Pemilu Kapitalis
Prof Dr Riswandha Imawan

INI situasi terakhir proses pemilu di Indonesia. Kampanye sudah melewati
putaran pertama, tapi terasa sekali suasananya jauh dari kesan pesta rakyat,
apalagi pesta demokrasi. Tampak jelas proses politik di Indonesia bukan saja
sudah diambil alih oleh para elite. Lebih parah lagi, proses politik (yang
tergambar dari suasana kampanye) telah diambil oleh kekuatan kapital.
Tegasnya, Pemilu 2004 benar-benar menjadi pemilu kapitalis.
Lihat saja. Politik uang yang sebelum kampanye demikian menakutkan sehingga
harus diberantas, justru dilakukan secara terang-terangan di arena kampanye.
Tukang becak di Bandung dan Medan dilaporkan lari dari arena kampanye karena
janji "uang partisipasi" Rp 25.000/orang tidak mereka terima. Di Yogyakarta
"uang partisipasi" mencapai kisaran Rp 50.000/orang. Ada door price segala.
Ini belum terhitung bentuk lain dari politik uang, seperti membagi sembako,
nasi bungkus, yang semuanya bertujuan untuk memengaruhi pemilih saat
memberikan suara.
Di pihak lain, KPU sebagai penyelenggara Pemilu 2004 tampak kedodoran dengan
jadwal kerja yang mereka tetapkan sendiri. Ancaman serius tentang penundaan
hari pencoblosan di berbagai daerah makin nyata. Penyediaan dan distribusi
logistik pemilu benar-benar kacau-balau. Di televisi, Ketua KPUD Jakarta
Selatan membawa bukti konkret beberapa kardus kertas suara DPD yang
terpotong dua. Selain itu, foto anggota yang tidak tercetak, nama yang tidak
cocok dengan fotonya, dan berbagai kertas suara yang sudah berlubang-lubang.
Jalan pintas diambil. Keppres No 20/2004 dikeluarkan. Isinya, pemda diberi
keleluasaan untuk menggunakan tambahan dana APBD atau alokasi dana dari
program/kegiatan dalam SPBD yang sudah ditetapkan, untuk digunakan dalam
Pemilu 2004. Tampaknya langkah ini akan menuai masalah.
Penggunaan dana tak terbatas tanpa persetujuan DPRD, dan sistem
pertanggungjawaban yang tidak jelas dalam Keppres 20/2004, justru berpotensi
membuat praktik politik uang meledak tak terkendali. Ini kesempatan emas
bagi para kepala daerah yang berasal dari parpol untuk memanfaatkannya demi
kemenangan parpol.
Itu baru bahaya jangka pendek. Bahaya jangka panjang, selain uang negara
tidak jelas pertanggungjawabannya, juga membuka kemungkinan bagi para elite
yang terpilih dalam Pemilu 2004 untuk korupsi. Mengikuti sistem dagang,
mereka sudah berkorban, maka sewajarnya mereka menuai keuntungan. Dan itu
akan mereka lakukan saat menduduki jabatan politik.
*****
SATU gejala muncul: korupsi atas nama demokrasi sedang berlangsung di arena
kampanye Pemilu 2004. Kalaupun tidak korupsi, proses pembodohan terhadap
rakyatlah yang sedang berlangsung. Kampanye dengan metode sinterklas sangat
bertolak belakang dengan keinginan kita untuk menumbuhkan civil society
sebagai pilar demokrasi, sebab dengan metode ini rakyat sama sekali tidak
diajari mengenal masalah dan memecahkannya dengan "modal" yang ada pada diri
mereka. Tetap saja rakyat dibuat tergantung pada para elite dengan buaian
materi sesaat.
Ini patut disesalkan. Sebab, Pemilu 2004 dirancang untuk mengubah supporter
menjadi voter. Mengubah orang yang menentukan pilihan dengan perasaan
menjadi menentukannya dengan pertimbangan pikiran yang rasional. Beberapa
catatan berikut menjadi dasar penyesalan kita.
Pembentukan daerah pemilihan (DP) serta sistem proporsional terbuka yang
digunakan dalam Pemilu 2004 sebenarnya menghendaki para elite tampil secara
mandiri di depan rakyat yang hendak diwakilinya. Mereka harus terlibat dalam
dialog mengenai masalah yang riil ada di seputar mereka, di DP-nya. Tapi
yang berkembang tetap sama dengan pemilu-pemilu sebelumnya.
Jurkam nasional (atau jurkam lain dari luar DP) datang, ngoceh semaunya
tentang masalah-masalah nasional yang belum tentu ada di seputar konstituen.
Itu pun dilakukan dengan sangat singkat, tanpa dialog, karena kemudian para
peserta kampanye dihibur musik dangdut. Bagaimana kita berharap ada masukan
dari rakyat untuk memperbaiki negeri ini?
Para jurkam itu seolah-olah memutar tape recorder, kembali meneriakkan
janji-janji lama seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya. Padahal, masyarakat
nyaris tidak merasakan perubahan apa-apa pada keseharian hidup mereka,
sekalipun pemilu telah dilakukan delapan kali. Inilah faktor utama yang
menyebabkan mereka enggan untuk mendengar orasi jurkam. Mereka lebih suka
melihat goyang pinggul penyanyi dangdut yang erotis. Hebatnya, acara goyang
erotis ini dipakai juga dalam kampanye parpol yang menyatakan diri
berasaskan Islam.
Apa yang mau diperhatikan? Jualan para jurkam tidak cocok dengan harapan
masyarakat. Isu kampanye pemilu benar-benar tidak terfokus. Masyarakat
menghendaki penyelesaian kasus-kasus mikro, seperti pemberantasan demam
berdarah, penanggulangan bencana alam. Sementara para jurkam datang dengan
tawaran pemecahan pada tingkat makro, seperti menarik investor asing ataupun
membangkitkan kejayaan Indonesia di tingkat dunia.
Selain itu, para elite tampaknya tetap menempatkan masyarakat pada posisi
tidak punya informasi, karena itu tidak memiliki persepsi apa pun tentang
para tokoh. Tokoh yang berlumuran lumpur KKN dan terang-terangan tidak
tunduk pada hukum, berteriak lantang bahwa dia (dan partainya) siap
memberantas KKN demi penegakan hukum di Indonesia. Siapa yang percaya?
Demikian pula ada tokoh yang menciptakan gambaran (kesan) membela rakyat
yang lemah, tetapi berkampanye dengan pesawat terbang atau helikopter yang
jelas mahal biayanya. Ada pula tokoh yang membuat aturan tentang larangan
penggunaan fasilitas dinas dalam berkampanye, justru menjadi tokoh utama
yang melanggar larangan itu. Padahal, di atas mimbar sang tokoh lantang
berteriak: "Tanpa disiplin yang kuat, jangan harap kita berubah." Lho?
*****
MAYORITAS rakyat akhirnya disuguhi berbagai rombongan sirkus dengan
rangkaian pertunjukan konyol. Konyol? Berdasarkan pengamatan di berbagai
negara, Roberto Alisena (2000) menyuguhkan siklus politik yang menakjubkan.
Manurutnya, di akhir jabatannya para elite akan menunjukkan sikap-sikap yang
populis agar dia terpilih kembali. Mereka sedikit lupa, boros, dan bersikap
elitis di awal masa jabatan, namun menghindari sikap atau perbuatan yang
menyakiti rakyatnya di akhir jabatannya. Logis untuk menarik simpati rakyat
kepadanya.
Kasus Indonesia sungguh di luar logika. Di ujung masa jabatannya, para
anggota DPR (DPRD) justru ramai-ramai menagih "uang jasa pengabdian". Mereka
menetapkan "harga pengabdian" sesuai dengan kehendaknya. Jumlahnya
bervariasi, namun jelas di atas Rp 100 juta/orang. Anehnya, mereka inilah
yang berharap akan kembali lagi dipercaya oleh rakyat. Apakah ini tidak
konyol?
''I had a hungry party behind me, ''kata Grover Cleveland seperti dikutip
Nelson Polsby (1983). Ada partai yang lapar di belakang saya, yang selama
ini mendukung saya, yang menuntut saya untuk menghidupinya. Itulah alasan
Cleveland yang menyeretnya ke meja hijau karena tuduhan korupsi. Sungguh
konyol kalau kita sampai terjebak ke dalam lubang yang sama.
Tampaknya, melihat perkembangan yang terjadi, kehendak kita untuk
memberantas KKN masih sebatas cita-cita. Para elite masih belum bergeser
dari konsep kekuasaan politik yang menggabungkan "ketaatan dan hadiah"
(Anderson, 1972). Kekuasaan di Indonesia merupakan penyatuan kekuatan
politik dan ekonomi.
Bila kampanye model sinterklas dikaitkan dengan terbelenggunya para elite
dengan konsep kekuasaan ini, serta dikaitkan dengan paham universal bahwa
dalam demokrasi, mandat kekuasaan dibatasi oleh fungsi dan waktu, maka bisa
dipahami bahwa hal-hal yang dikembangkan dalam kampanye putaran pertama
sangat membahayakan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Padahal,
kita canangkan Pemilu 2004 sebagai titik awal penggeloraan kembali reformasi
yang sempat mandek.
Mulai putaran kedua, para elite parpol harus berani mengedepankan
tokoh-tokoh lokal untuk berbicara di hadapan konstituennya. Parpol harus
mulai beralih ke isu-isu lokal, agar proses politik yang demokratis, yang
mulai dari grass roots politics (rakyat) tentang masalah dan pemecahan
masalah yang bisa diambil, benar-benar lahir dari sanubari rakyat dan
menjadi pegangan utama para elite mengelola negara ini lima tahun ke depan.
Bila tetap dengan gaya kampanye sinterklas dengan metode top-down seperti
selama kampanye putaran pertama, maka pemilu dengan dana tak terbatas ini
akan menjadi sia-sia.
Para elite harus banting stir, menyadarkan rakyat bahwa kita masih dalam
taraf kampanye pemilu legislatif. Bukan pemilu presiden/wapres. Ini penting,
sebab isu kampanye putaran pertama langsung menghunjam ke soal presiden dan
wakil presiden. Selain tidak sesuai dengan prosedur, cara seperti ini
benar-benar akan membuat pusing logika rakyat. Urusannya saja tidak
ketahuan, kok sudah milih orangnya? Lalu, mau dibawa ke mana negara dan
bangsa Indonesia?(33t)



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke