** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Sumber: HKSIS=20
Sent: Tuesday, March 23, 2004 4:42 AM
Subject: SIAUW GIOK TJHAN - Anak Rakyat Yang Tak-Terlupakan


SIAUW GIOK TJHAN

Anak Rakyat Yang Tak-Terlupakan
( Memperingati 90 Tahun - Siauw Giok Tjhan )

Oleh: Chan Chung Tak

=20

90 tahun yang lalu, tepatnya 23 Maret 1914 di Kapasan-Surabaya, lahir seora=
ng anak bangsa yang kemudian kita kenal bernama SIAUW GIOK TJHAN. Putra per=
tama dari Siauw Gwan Swie yang baba dan Kwan Tjian Nio yang totok. Satu per=
kawinan yang cukup unik dimasa itu, karena harus dilangsungkan dengan ber-s=
yarat! Begitulah, sekalipun sebenarnya diantara 2 keluarga itu masih termas=
uk etnis Tionghoa, tapi ayah Kwan Tjian Nio yang totok itu mempunyai pikira=
n chauvinist, yang tidak menghendaki putri-nya menikah dengan seorang pemud=
a baba yang tidak mengerti bahasa-Tionghoa. Namun demikian, percintaan dika=
langan muda-mudi dalam kenyataan sulit dicegah. Keuletan Bapak Siauw Gwan S=
wie untuk mendapatkan gadis Kwan Tjian Nio tidak terpatahkan, akhirnya pern=
ikahan terjadi dengan syarat, yaitu anak pertama harus menerima pendidikan =
Tionghoa. Dengan demikian, anak pertama yang lahir - Siauw Giok Tjhan harus=
 masuk kesekolah Tionghoa, mendapat pendidikan Tionghoa.=20

=20

Tapi beberapa tahun kemudian, sesaat setelah Kakek-nya - Kwan Sin Liep - pu=
lang kembali kekampung halamannya - Swatao, kesempatan ini digunakan oleh A=
yah-nya, untuk menarik Siauw Giok Tjhan ke-sekolah berpendidikan Belanda. D=
engan demikian, Siauw besar sebagai seorang baba yang pada pokoknya tidak m=
engerti bahasa Tionghoa. Justru karena Siauw dibesarkan dalam lingkungan ke=
luarga baba dipihak ayah dan totok dipihak ibu inilah, memudahkan beliau be=
rkiprah dikedua golongan komunitas Tionghoa ini, sebagai langkah awal gerak=
an yang dilakukan semasa hidupnya untuk perjuangan mencapai kemerdekaan Rep=
ublik Indonesia. Tugas dan kewajiban yang dipikulnya sebagai anak bangsa.

=20

Siauw sejak kecil sudah mempunyai watak perlawanan atas penghinaan dan keti=
dak adilan yang menimpa dirinya, begitulah kemahiran silat yang dipelajari =
dari kakeknya itu memungkinkan baginya untuk berkelahi melawan anak-anak Be=
landa, indo-Belanda dan Ambon yang men-=93Cina loleng=94-kan dirinya. Satu =
peng-hinaan yang biasa dilontarkan pada etnis Tionghoa. Keteguhan dan keker=
asan jiwa dalam memperjuangkan ke-adilan tumbuh dalam lingkungan hidup yang=
 harus dihadapi. Terutama setelah kedua orang-tuanya meninggal dalam usia m=
uda,  beliau terpaksa melepaskan sekolah begitu selesai HBS, untuk mencari =
nafkah meneruskan hidupnya bersama adik-tunggalnya, Siauw Giok Bie yang mas=
ih harus meneruskan sekolah itu.

=20

=20

I. Seorang yang sangat sederhana, keras pada diri-sendiri dan sabar pada or=
ang lain.

=20

Dari kehidupan sehari-hari yang diperhatikan, ada beberapa peristiwa yang b=
isa diangkat untuk menunjukkan kebenaran orang menyatakan bahwa Siauw Giok =
Tjhan adalah seorang yang sangat sederhana, keras pada diri-sendiri, tapi s=
abar pada orang lain.

=D8          Begitu keras dan disiplinnya tidak menggunakan milik-umum untu=
k kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Tan Gien Hwa, istrinya ketika d=
i Malang, September 1947 akan melahirkan anak ke-4, beliau melarang Siauw G=
iok Bie, adiknya yang mau menggunakan mobil Palang-Biru (tool-car) untuk me=
ngantar ke Rumah Sakit. Palang-Biru adalah organisasi Angkatan Muda Tiongho=
a untuk memberikan pertolongan-pertama prajurit-prajurit luka di garis-depa=
n melawan agresi-militer Belanda. Beruntung, sekalipun harus diantar dengan=
 naik Becak, istrinya bisa melahirkan dengan selamat, juga anak =96 Siauw T=
iong Hian dalam keadaan selamat.=20

=D8          Pada saat beliau dinobatkan menjadi Menteri Negara =96 urusan =
minoritas, Kabinet Amir Syarifudin, Siauw yang belum mendapatkan mobil-ment=
eri, hanya bisa naik andong (kereta kuda, di Yogya) ke-Istana. Tapi malang,=
 ternyata andong dilarang memasuki halaman Istana, terpaksa beliau turun da=
ri andong dan dengan jalan kaki masuk Istana-Yogya. Juga, pada saat itu ter=
bentur dengan masalah rumah tinggal. Ternyata tidak ada Perumahan pemerinta=
h yang bisa diberikan pada beliau sebagai menteri-negara. Sekalipun pada sa=
at itu, bagi menteri yang datang dari luar Yogya, boleh tinggal di Hotel Me=
rdeka. Tapi untuk menghemat pengeluaran uang-Negara, Siauw memilih tinggal =
digedung Kementerian-Negara, dijalan Djetis-Yogya, dan =85.. harus tidur di=
atas meja-tulis.=20

=D8          Begitu juga, pada saat Ibu-kota pindah dari Yogya ke Jakarta t=
ahun 1950, sekali lagi Siauw sekeluarga, berserta 5 anak-anaknya dengan ana=
k ke-5 yang paling kecil hanya beberapa bulan itu, harus lebih dahulu tingg=
al dikantor Percetakan Persatuan untuk beberapa bulan, =85. bersama-sama ti=
dur diatas meja tulis.=20

=D8          Kesederhanaan hidup sehari-hari, sebagaimana biasa kemana-mana=
 hanya mengenakan baju kemeja-tangan pendek, yang lebih sering terlihat han=
ya berwarna putih, celana-drill pantalon dan bersepatu sandalet saja itu, b=
eliau harus berkali-kali dianggap sebagai orang kere, yang tidak perlu dila=
yani oleh noni-noni dibagian =93Reception=94 pada saat beliau harus menemui=
 Menteri-Menteri atau Presiden-Direktur Bank. Tapi, itulah pembawaan Siauw =
yang sangat bersahaja, yang dikagumi oleh kawan-kawan maupun lawan-lawan po=
litiknya.=20

=D8          Pada saat Siauw Giok Tjhan berkesempatan ikut menghadiri upaca=
ra Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Rakyat Tiongkok, 1 Oktober 1964 di Be=
iJing, ada tawaran dari pihak tuan rumah untuk mengoperasi matanya. Tapi be=
liau menolak dengan alasan kesibukan yang tidak bisa ditinggal. Begitu pula=
, pada awal Oktober 1981 Siauw berkesempatan berada di BeiJing, tuan rumah =
mengajukan tawaran untuk melakukan operasi jantung yang memang seharusnya d=
ilakukan itu, sekali lagi ditolaknya. Sungguh sayang, ternyata keadaan kese=
hatannya sudah tidak lagi mampu menunjang kekerasan tuntutan pada diri send=
iri untuk berjuang terus. Kesehatannya sudah sangat rusak akibat hidup dida=
lam penjara selama 10 tahun dimasa Orba. Akhirnya tidak lama setelah kembal=
i dari BeiJing itu, tgl. 20 Nopember 1981, selesai makan siang, pada saat j=
alan menuju aula Univ. Leiden siap untuk memberikan Ceramah =93Masalah Demo=
krasi di Indonesia=94, beliau jatuh pingsan karena serangan jantung dan tid=
ak siuman lagi, meninggalkan kita untuk selama-lamanya.=20

=20

II. Lahir di Indonesia, Besar di Indonesia menjadi Putrta-Putri Indonesia.

=20

        =93Lahir di Indonesia, Besar di Indonesia menjadi Putra-Putri Indon=
esia=93. Begitulah semboyan yang untuk pertama-kalinya,  dikumandangkan Kwe=
e Hing Tjiat melalui Harian MATAHARI, di Semarang sejak tahun 1933-1934. Da=
n semboyan ini benar-benar menjadi keyakinan-hidup Siauw sejak masa muda, b=
erjuang menjadi putra ter-baik Indonesia yang tidak ada bedanya dengan putr=
a-putra Indonesia lainnya dalam usaha dan memperjuangkan kemerdekaan dan ke=
bahagiaan hidup bersama.=20

=20=20=20=20=20=20=20=20

Pada saat itu, dimana kolonial Belanda menjalankan politik pecah-belah, mem=
perlakukan warga-pribumi sebagai warga yang paling rendah, tentu banyak kes=
ulitan yang dihadapi untuk mewujudkan semboyan tersebut di-tengah masyaraka=
t etnis Tionghoa. Karena kalau menjadi Indonesia, itu berarti harus menurun=
kan derajat etnis Tionghoa, berarti sama dengan warga-pribumi yang  ketika =
itu merupakan warga klas-3. Oleh karena itu, begitu semboyan dikumandangkan=
, bermunculan-lah sindiran-sindiran yang mengejek, seperti =93baba-cao=94 (=
baba-tahu), lalu mendapat kiriman ikat kepala-batik, pici , blankon =85 dan=
 lain-lain lagi.=20

=20

Tidak bisa disangkal, pada saat itu arus pokok dikalangan masyarakat etnis =
Tionghoa, terutama dilapisan atas, para pengusaha-tuantanah adalah condong =
kepihak Belanda, mem-Belanda-kan diri tidak hanya ber-pendidikan Belanda, m=
enyandang juga nama Belanda, tata-cara hidup yang ke-Belanda-Belanda-an. Po=
koknya bisa-lah dikatakan =93Nederlander=94 yang secara politis berpihak pa=
da kolonial Belanda, dan tentunya menentang gerakan Kemerdekaan. Sedangkan =
bagian lain, mereka merasa sekali Tionghoa tetap Tionghoa! Jadi, memang tid=
ak ada yang berani mengajukan semboyan =93menurunkan derajat=94 untuk jadi =
Indonesia. Sinting, orang bilang ketika itu.

=20=20=20=20=20=20=20=20

Begitulah PTI (Partai Tionghoa Indonesia) dimana Siauw tergabung, sudah bis=
a mendukung berdirinya GERINDO (Gerakan Rakyat Indonesia) 18 Mei 1937, yang=
 berdasarkan keputusan Kongres di Palembang, menerima Oei Gee Hwat (Sekreta=
ris Pengurus Besar PTI) menjadi salah seorang pengurus GERINDO. Ketika itu,=
 GERINDO dibawah pimpinan A.K. Gani, Amir Syarifudin, Moh. Yamin dll. melan=
jutkan usaha perjuangan tokoh-tokoh PNI, Partindo, yang di-Digul-kan dan ma=
sih dalam pembuangan. Jadi, GERINDO menjalankan garis demokrasi yang mengut=
amakan perlawanan terhadap fasisme dan tidak mempersoalkan warna-kulit yang=
 berbeda, bisa membuka pintu untuk menerima etnis Tionghoa.

=20=20=20=20=20=20=20=20

Dari pekerjaan Siauw di Harian Matahari inilah, beliau bisa mendekatkan dir=
inya dengan pejuang-pejuang Kemerdekaan seperti Ir. Soekarno yang ketika it=
u masih dalam masa pembuangan di Endeh, Flores; Dr. Tjipto Mangunkusumo dan=
 Mr. Iwa Kusumasumantri, yang dibuang di Bandaneire; dan juga Drs. Moh. Hat=
ta yang masih dalam pengasingan di Banda. Dengan adanya koresponden dengan =
pejuang-pejuang Kemerdekaan inilah, Siauw meningkatkan kesadaran dan lebih =
mantap melangkahkan kaki        dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indon=
esia.=20

=20=20=20=20=20=20=20=20

Ikut sertenya etnis Tionghoa dalam gerakan kemerdekaan Indonesia adalah ken=
yataan yang tidak dapat disangkal, sekalipun kekuasaan lalim mantan Preside=
n Soeharto selama 32 tahun telah menggelapkan dan menghapus-nya dari catata=
n sejarah. Seolah-olah benar seperti yang dilihat anak-anak muda diera Orba=
, bahwa etnis Tionghoa hanya tenggelam dibidang ekonomi, tiada etnis Tiongh=
oa yang terjun dibidang politik, tiada etnis Tionghoa yang mungkin ikut ter=
libat dalam gerakan kemerdekaan. Tapi setiap orang yang jujur, tentu tidak =
akan melupakan adanya nama-nama seperti Gam Hian Tjong, Auwyang Tjoe Tek ya=
ng tergabung di BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia, dibawah pimpina=
n Bung Tomo), The Djoe Eng (Pemain Sepakbola terkenal masa itu) tergabung d=
i Laskas Merah, juga tidak sedikit pemuda etnis Tionghoa yang terlibat dala=
m KRIS (Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi). Juga peranan yang tidak bis=
a diabaikan dari Angkatan Muda Tionghoa dalam membantu memelihara keamanan =
ketika masa peralihan kekuasaan militer Jepang ke-kekuasaan Republik Indone=
sia, kemudian usaha membantu dan bekerjasama dengan BPRI dalam distribusi d=
an kesehatan digaris-depan melawan agresi-Belanda, serangan umum 10 Nopembe=
r 1945 di Surabaya dan selanjutnya.

=20

Perjuangan meng-Indonesia-kan masyarakat etnis Tionghoa pada awal Kemerdeka=
an menjadi lebih berat dan sulit lagi, setelah menghadapi kenyataan masa =
=93revolusi=94 banyak etnis Tionghoa justru sangat dirugikan, yang menjadi =
korban. Tak terhindar adanya kesalahan pemahaman atau pandangan ekstrim yan=
g menganggap Revolusi boleh main babat, merampok harta-milik orang lain yan=
g dibilang kapitalis, tuan-tanah dsbnya itu. Sehingga perampokan terjadi di=
mana-mana pada saat orang berbondong-bondong mengungsi, juga dengan dalih =
=93bumi-hangus=94 merampok habis semua harta milik etnis Tionghoa, bahkan t=
idak sedikit sampai jatuh korban jiwa. Harta habis, jiwa-pun melayang. Dan,=
 =85.. semua ini yang mereka lihat dan rasakan pahitnya justru dilakukan ol=
eh orang-orang yang dinamakan =93pribumi=94, bagaiaman mereka mau menyatuka=
n diri dengan orang-orang yang merampok dirinya?

=20

Dipihak lain, menghadapi perang urat-syaraf yang dilancarkan pihak Belanda =
untuk menjelekkan dan menjatuhkan nama Republik Indonesia yang masih bayi i=
tu, dan yang dijadikan tumbal lagi-lagi adalah golongan etnis Tionghoa, gol=
ongan lemah yang minoritas ini. Pihak Belanda menggunakan kelemahan-kelemah=
an pemuda Indonesia menimbulkan kepanikan luarbiasa di Tanggerang, misalnya=
. Gerakan meng-Islam-kan masyarakat Tionghoa di Tangerang. Padahal, pembaur=
an di Tanggerang telah berlangsung sangat baik. Orang tidak lagi bisa membe=
dakan mana yang etnis Tionghoa lagi hanya dengan melihat dari warna-kulit d=
an pekerjaan yang dilakukan. Karena memang ciri-ciri etnis Tionghoa di Tang=
gerang boleh dikatakan sudah melenyap, satu-satunya yang masih bisa membeda=
kan mereka adalah agama dan kepercayaan yang dianut, =85. masih tetap Budha=
, Konghucu atau Taoisme. Dirumah-rumah mereka masih menempelkan kertas-kuni=
ng (kertas =93Hoe=94 hasil sembahyang di Klenteng) untuk mendapatkan rejeki=
 dan pengusir setan. Peristiwa Tanggerang yang berbau rasialis dan religius=
 ini berhasil membuat panik masyarakat Tionghoa, menanamkan kebencian merek=
a pada Republik yang baru meredeka itu. Tentunya, juga menimbulkan kesan sa=
lah pada dunia internasional, bahwa Revolusi Indonesia rasialis dan pelangg=
aran hak asasi manusia yang mendasar, ke-bebas-an bagi setiap orang menganu=
t Agama dan kepercayaan.

=20

Perang urat-syaraf dilanjutkan lebih intensif lagi oleh Belanda untuk menga=
du-domba dan memecah-belah persatuan bangsa Indonesia, antara etnis Tiongho=
a dan penduduk yang dinamakan =93pribumi=94 itu. Di Demak, diberitakan ada =
seorang =93pribumi=94 meninggal-dunia karena keracunan makan tempe yang dib=
ikin dengan air-sumur penduduk Tionghoa. Tanpa penyelidikan dan fakta-fakta=
 yang ada, Komando-militer memerintahkan menahan semua pemuda etnis Tiongho=
a diatas 16 tahun. Lagi, di Jawa-Timur front Sidoarjo, beberapa pemuda yang=
 mencoba menyerbu melewati garis pertahanan Belanda, tertangkap. Di-interog=
asi dengan disiksa secara kejam oleh pemuda etnis Tionghoa yang berpakaian =
seragam Belanda, dan sengaja menyatakan bahwa orang-tua mereka adalah korba=
n-teror di Tanggerang. Setelah babak-belur, 2 pemuda ini dilepas kembali ke=
daerah Republik dan =85. Jelas mempropagandakan apa yang dikehendaki Beland=
a itu, bukan hanya menyatakan digebukin oleh si-anu, tapi digebuki oleh si-=
Cina berseragam Belanda! Di-generalisasi, bahwa Cina-Cina itulah yang berpi=
hak pada Belanda dan menganiaya mereka.

=20

Dengan melancarkan peristiwa-peristiwa yang menghasut demikian, Belanda ber=
hasil meningkatkan rasa curiga-mencurigai, membakar rasa kebencian dan dend=
am diantara etnis Tionghoa dan =93pribumi=94. Keadaan demikian ini jelas sa=
ngat tidak menguntungkan usaha meng-Indonesia-kan masyarakat etnis Tionghoa=
. Padahal usaha mempersatukan segenap kekuatan yang ada, termasuk etnis Tio=
nghoa termasuk tugas pokok Revolusi Indonesia, yang ketika itu sedang mengh=
adapi agresi militer Belanda I dan II.=20

=20

Setelah perang Korea dan Amerika melancarkan aksi untuk membendung pengaruh=
 komunis, tuntutan pada pemerintah Indonesia untuk penangkapan orang-orang =
komunis dan gerakan revolusioner di lakukan juga. Gerakan revolusioner di I=
ndonesia mengalami ujian baru. Kabinet Su-Su (Sukiman, Perdana Menteri dan =
Suwirjo, Wakil Perdana Menteri) melancarkan penangkapan massal yang dikenal=
 dengan =93razzia Sukiman=94 atau =93Red Drive II=94 (Red Drive-I, Peristiw=
a Madiun), belasan ribu orang dijebloskan dalam penjara tanpa proses pengad=
ilan. Menangkap tokoh-tokoh PKI, atau tokoh-tokoh yang dianggap simpatisan =
PKI, termasuk tokoh-tokoh etnis Tionghoa yang dianggap pro-RRT dari black-l=
ist yang diajukan Kuomintang di Indonesia.=20

=20

Satu pukulan yang sangat berat bagi perjuangan Siauw, ternyata pemerintah h=
asil perjuangannya sendiri itu-lah yang menangkap dirinya! Kenyataan pahit =
dan sangat menyedihkan ini, tidak meruntuhkan tekad Siauw menjadi putra bai=
k Indonesia. Tapi beliau menjadi lebih sangat sedih, karena tidak berhasil =
meyakinkan seorang kawan seperjuangan yang lebih senior dari dirinya. Seora=
ng kawan yang juga kena =93razzia Sukiman=94 dan dipenjarakan itu, mengalam=
i kekecewaan dan kejengkelan yang sangat berat, bagaimanpun juga tidak bisa=
 menerima pemerintah yang diperjuangkan justru yang menangkap dirinya, akhi=
rnya menggunakan hak repudiasinya melepaskan Kewarganegaraan Indonesia dan =
menjadi asing.

=20

Lebih lanjut Siauw meneruskan perjuangannya dengan memimpin BAPERKI (Badan =
Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) yang didirikan 13 Maret 1954. Di=
bawah pimpinan Siauw, BAPERKI tumbuh besar didalam kancah perjuangan melawa=
n menteri-menteri yang berpandangan rasialis, melawan segala keputusan UU, =
ketentuan yang berbau rasialis, membela kepentingan moyoritas etnis Tiongho=
a dan terus berusaha meng-Indonesia-kan masyarakat etnis Tionghoa.=20

=20

=D8         Masalah Kewarganegaraan

Dengan adanya issue-issue RRT akan mengembangkan pengaruh komunis melalui H=
uakiao atau etnis Tionghoa yang ada di Asia, menjadikan mereka kolone-5 yan=
g sangat membahayakan =93keamanan-nasional=94, maka masalah penyelesaian Dw=
i Kewarganegaraan selalu dipersulit dan menjadi berlarut-larut. Seperti yan=
g dilakukan Mr. Sunarjo, menteri-luarnegeri ditahun 1955, kembali menentuka=
n UU Kewarganegaraan dengan menggunakan =93sistim aktif=94, dimana setiap e=
tnis Tionghoa harus secara aktif memilih Kewarganegaraan Indonesia, kalau t=
idak, dia menjadi asing. Dengan menggunakan =93sistim aktif=94, akan makin =
banyak etnis Tionghoa yang jadi asing. Karena banyak etnis Tionghoa yang ja=
uh dari kota dan yang tidak mampu untuk membayar surat-surat yang diperluka=
n untuk jadi Warganegara Indonesia. Penghasilan yang didapat dari keharusan=
 membuat Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia ternyata cukup memadai, seda=
ng penghasilan dari penarikan pajak-orang asing juga tidak sedikit. Tapi ap=
akah ini yang harus dijadikan bahan pertimbangan, dan oleh karena itu SBKRI=
 sekalipun sudah dicabut, tapi dibawah tetap saja berlaku sampai sekarang? =
Padahal kalau kita ingat kembali, berdasarkan UU No.3/1946 sudah diputuskan=
 UU Kewarganegaraan menggunakan =93sistim pasif=94. Jadi, bagi etnis Tiongh=
oa yang lahir di Indonesia otomatis menjadi dan diperlakukan sebagai wargan=
egara Indonesia.

=20

Dengan terbentuknya Republik Indonesia, terwujud pula secara resmi bangsa a=
tau nasion Indonesia. Usaha membangun bangsa =96 Nation Building, harus dik=
aitkan dengan kewarganegaraan Indonesia.  Kewarganegaraan Indonesia-lah yan=
g memberi makna hukum keberadaan Nasion Indonesia.  Bilamana pengertian ini=
 dihayati, diskriminasi rasial tidak akan bisa dilegitimasikan, karena seti=
ap Warga Negara Indonesia tentunya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Ke=
warganegaraan Indonesia tidak mengenal perbedaan asal usul keturunan, agama=
 dan status sosial-nya.

=20

Bilamana dasar setiap UU dan peraturan serta kebijakan/pelaksanaan UU yang =
berlaku adalah konsep kewarganegaraan ini, setiap usaha yang mengandung dis=
kriminasi rasial dengan sendirinya melanggar hukum dan harus ditindak atas =
dasar hukum yang ada.  Dengan demikian, ratusan UU dan peraturan yang berba=
u diskriminasi rasial dan masih berlaku sampai sekarang, tentunya tidak mem=
iliki legitimasi hukum dan harus segera dihapus.  Mereka harus diganti deng=
an berbagai UU dan peraturan yang memungkinkan semua komponen bangsa =96 se=
mua Warga negara Indonesia -- untuk bisa menyumbangkan tenaga, pikiran, fun=
ds dan resources untuk kemajuan Indonesia secara keseluruhan, tanpa perbeda=
an apapun.=20

=20

=D8         Masalah Ekonomi

Sejak awal kemerdekaan RI, di tahun 1950 Kabinet Natsir dengan Menteri Pere=
konomian Prof.Dr.Sumitro ketika itu, sudah mengeluarkan instruksi pada bank=
-bank negara untuk memberi kelonggaran syarat-syarat kredit pada pengusaha-=
pengusaha yang dinamakan "pribumi", dengan demikian mengurangi bahkan menye=
top pemberian kredit pada pengusaha "non-pribumi"(etnis Tionghoa). Maret 19=
56, dimulailah gerakan Assaat untuk =93pribumisasi=94 distribusi. Menteri A=
saat mengeluarkan ketentuan yang lebih kejam lagi, yang menuntut "pribumisa=
si" perdagangan dan distribusi, adanya importir =93benteng=94 yang memperol=
eh fasilitas import macam-macam barang. Importir =93benteng=94 yang dimaksu=
d adalah, perusahaan yang 70% saham milik =93pribumi=94.=20

=20

Pengalaman demikian membuktikan, sangat merugikan perkembangan ekonomi seca=
ra sehat. Pengusaha etnis Tionghoa terpaksa harus =93meminjam=94 nama pejab=
at-tinggi atau jenderal yang dinamakan =93pribumi=94 untuk duduk sebagai di=
rektur yang =93memiliki=94 70% saham perusahaan. Dengan demikian tumbuh par=
asit-parasit yang menambah besar pengeluaran perusahaan dan akhirnya beban =
dijatuhkan pada rakyat banyak sebagai konsumen. Satu pemborosan yang tidak =
seharusnya terjadi!=20

=20

Kemudian 14 Mei 1956, penguasa perang Jawa Barat lebih lanjut mengeluarkan =
peraturan melarang orang Tionghoa asing berdagang di desa-desa dan akhirnya=
 berkembang menjadi yang kita kenal dengan PP-10/1959 yang merupakan =93min=
i exodus=94 Huakiao yang sangat memalukan Indonesia. Etnis Tionghoa asing h=
arus keluar meninggalkan desa-desa, dikumpulkan di kota-kota kabupaten tanp=
a ada pengurusan yang baik dari Pemerintah. Sebagian besar dari mereka deng=
an bantuan sanak-keluarga dan sahabat-sahabat bisa memulai dengan usaha bar=
u di kota-kabupaten, tapi sebagian lainnya, yang tidak sedikit jumlahnya ha=
rus diangkut dengan kapal yang dikirim pemerintah RRT, kembali ke Tiongkok.=
=20

=20

Ketentuan-ketentuuan dan tindakan-tindakan pihak penguasa yang berbau rasia=
lis itu, jelas sangat merugikan perkembangan ekonomi Indonesia, dan sangat =
merugikan proses peralihan ekonomi Indonesia yang masih bersifat kolonial k=
e ekonomi nasional. Karena dengan perpindahan secara paksa dari desa-desa k=
e kota-kota, dan tidak adanya pengaturan yang baik dari pemerintah maka mer=
eka (etnis Tionghoa) jadi kehilangan mata-pencaharian, menjadi penganggur. =
Dipihak lain, rakyat banyak secara langsung juga sangat dirugikan, karena h=
arus membeli barang-barang dengan harga lebih mahal sedang hasil-bumi rakya=
t yang biasa dikumpulkan oleh orang-orang Tionghoa jadi macet, tidak mendap=
atkan saluran yang semestinya, barang-barang rusak-busuk tertumpuk. Peredar=
an barang-barang dari kota ke desa dan sebaliknya, jadi kacau-balau.

=20

Untuk apa harus begitu? Mengapa tidak memusatkan segenap kekuatan yang ada =
untuk membangun ekonomi lebih cepat, meningkatkan kehidupan masyarakat lebi=
h makmur dengan cepat sebagai tujuan utama. Gunakanlah sebaik-baiknya setia=
p orang yang benar-benar berkemampuan dan jujur dalam berusaha, tidak pedul=
i dia =93asli=94 atau peranakan Arab, peranakan Tionghoa, =93pribumi=94 ata=
u non-=93pribumi=94. Yang pasti, tidak semua orang, termasuk etnis Tionghoa=
 bisa menjadi pengusaha yang baik dan sukses. Karena memang menjadi pengusa=
ha diperlukan satu keahlian dan ketajaman mata melihat pasaran, pandai mere=
but kesempatan baik.=20

=20

=D8         Masalah Pendidikan

Dibidang pendidikan, BAPERKI telah memainkan peranan yang seharusnya dilaku=
kan pemerintah, dan sangat banyak membantu masyarakat etnis Tionghoa. Keten=
tuan pemerintah tahun 1958 yang melarang bagi anak-anak yang orang tuanya W=
arganegara Indonesia masuk sekolah Tionghoa. Dan sungguh celaka, pemerintah=
 dalam mengeluarkan larangan tersebut, tidak lebih dahulu mempersiapkan pen=
ampungan anak-anak yang tidak lagi boleh sekolah Tionghoa itu, harus sekola=
h dimana. Akhirnya tugas ini dipikul oleh BAPERKI, Siauw berhasil mendapatk=
an dukungan kuat dari etnis Tionghoa totok.. Tanpa ragu-ragu sekolah-sekola=
h Tionghoa bersedia membagi sebagian ruang-klas untuk menampung anak-anak y=
ang WNI. Jadi, dalam sekejap berdirilah sekolah-sekolah SD sampai SMA disel=
uruh negeri untuk menampung anak-anak WNI yang tidak lagi boleh sekolah Tio=
nghoa.

=20

Juga dibidang perguruan tinggi. Menghadapi kenyataan adanya jatah penerimaa=
n mahasiswa terhadap etnis Tionghoa yang tidak boleh lebih dari 5% di Unive=
rsitas negeri. Satu ketentuan yang berbau rasialis yang seharusnya tidak te=
rjadi di negeri berasaskan Pancasila. Ternyata, di Indonesia yang menjadi u=
kuran peneerimaan masuk Universsitas, bukan hasil angka ujian, bukan kemamp=
uan belajar anak tersebut, tapi lebih mengutamakan warna-kulit orang, mengu=
tamakan =93pribumi=94 lebih dahulu. Akibatnya, banyak anak-anak etnis Tiong=
hoa terlempar diluar sekolah.  Bagi mereka yang mampu, masih ada kemungkina=
n meneruskan sekolah di luar-negeri, tapi kenyataan tidak sedikit anak-anak=
 etnis Tionghoa yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Kasihan, tapi itula=
h kenyataan yang harus dihadapi dengan sangat sedih!

=20

Dengan =93modal-dengkul=94 BAPERKI menggerakkan para sarjana untuk mendirik=
an fakultas yang pertama kedokteran gigi. Dengan kesigapan dr. gigi Be Wie =
Tjoen yang sangat aktif dan kesediaan Prof. Dr. gigi Mustopo, jenderal purn=
awirawan, terbentuklah Fakultas Kedokteran Gigi BAPERKI di tahun 1959. Kemu=
dian menyusul Fakultas Teknik yang dipelopori oleh Ir. Pudjono dan Ir. Tan =
Heng Gwan, dan Fakultas Ekonomi yang dibantu oleh Prof. drs. E. Utrech, Mr.=
 Lie Oen Hok. Dan resmilah pembentukan Universitas Baperki yang dinamakan U=
niversitas Res Publica, dengan rektor pertama-nya Dr. F.L. Tobing. Setelah =
Dr. F. L. Tobing tutup-usia di tahun 1963, BAPERKI memutuskan pengangkatan =
Nyonya Utami Suryadarma sebagai gantinya. Dengan demikian Universitas Res P=
ublica menjadi universitas pertama di Indonesia yang dipimpin oleh seorang =
wanita.

=20

III. Integrasi wajar sebagai jalan pemecahan yang paling baik.

=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20

Kalau kita perhatikan, Siauw sejak muda sudah berpendirian untuk memecahkan=
 masalah etnis Tionghoa, jalan terbaik adalah menyatukan diri dengan rakyat=
 Indonesia, dan menjadikan aspirasi rakyat Indonesia sebagai aspirasi dirin=
ya sendiri. Menunggal dengan rakyat. Dan itulah yang dikonsekwenkan dalam k=
ehidupan dan perjuangannya untuk bersama-sama tokoh-tokoh gerakan-rakyat me=
mperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, dan kemudian dalam usaha memba=
ngun masyarakat adil dan makmur setelah mencapai kemerdekaan.

=20=20=20=20=20=20=20=20

Menjadi satu dengan rakyat Indonesia, berjuang bersama-sama untuk mewujudka=
n masyarakat adil dan makmur dalam kenyataan! Golongan etnis Tionghoa menja=
di satu dengan rakyat, menunggal dengan rakyat. Menjadikan inspirasi rakyat=
 banyak juga menjadi inspirasi golongannya, tanpa mempersoalkan perbedaan e=
tnis-keturunan yang ada, tanpa mempersoalkan perbedaan agama yang dianut da=
n tanpa mempersoalkan perbedaan adat-istiadat setiap suku yang ada. Inilah =
yang dimaksud oleh BAPERKI "Integrasi Wajar" sesuai dengan makna yang diaju=
kan oleh Liem Koen Hian dan Kwik Hing Tjiat di tahun-tahun 30-an.

=20

Begitulah tokoh-tokoh Nasional seperti Dr. Wahidin, Dr. Sutomo pendiri Budi=
 Utomo; Dr. Douwers Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantoro =
yang kita kenal sebagai tiga serangkai pendiri Indische Partij, begitu juga=
 dengan mantan Presiden pertama Republik Indonesia - Soekarno, tidak pernah=
 mempersoalkan setiap warganya beradasarkan suku dan keturunan. Yang menjad=
i persoalan hanyalah mempersatukan semua kekuatan rakyat yang ada dalam per=
juangan melawan penjajah Belanda, perjuangan untuk mencapai Kemerdekaan dan=
 kemudian pembangunan ekonomi nasional setelah Kemerdekaan! Sesuai dengan l=
ambang Negera yang harus dijunjung tinggi, Bhineka Tunggal Ika, menerima se=
gala perbedaan antara suku yang ada, dengan tidak mempersoalkan orang denga=
n nama yang 3 suku, tidak mempersoalankan perbedaan agama yang ada dan tida=
k mempersoalkan perbedaan adat-istiadat yang ada. Semua bersatu teguh dalam=
 kesatuan Nasion Indonesia, bangsa Indonesia yang majemuk itu.

=20

Gagasan lain adalah =93Asimilasi total=94 yang diajukan oleh LPKB (Lembaga =
Pembina Kesatuan Bangsa), dan yang kemudian dilaksanakan secara intensif ol=
eh Jenderal Soeharto setelah berhasil merebut kekuasaan Oktober 1965. Jadi =
semboyan "asimilasi total", yang menganjurkan golongan Tionghoa menghilangk=
an ciri-ciri etnis Tionghoa, dimulai dengan ganti-nama, kawin campur bahkan=
 menjadi Islam, inilah yang telah berlangsung selama lebih 30 tahun. Sedang=
 pendapat yang diwakili oleh Baperki, "Integrasi Wajar", dicampakan dengan =
tuduhan "komunis", di=94komunis=94kan.

=20

Memang, sejak berdirinya BAPERKI sudah mendapatkan stigma =93merah=94 yang =
lebih dekat dengan PKI dan Presiden Soekarno. BAPERKI telah dicurigai henda=
k membawa golongan peranakan Tionghoa menjadi pendukung Partai Komunis Indo=
nesia dan oleh mereka yang keranjingan komunisto-phobia BAPERKI dituduh men=
ghendaki terbentuknya masyarakat komunis sebagai cara penyelesaian masalah =
Tionghoa. Benar-kah dan bisa-kah dikatakan Siauw dengan BAPERKI-nya menggan=
dolkan pemecahan masalah etnis Tionghoa pada Soekarno, dan bersandar pada P=
KI untuk mencapai masyarakat sosialis sebagai jalan pemecahan masalah Tiong=
hoa? Tuduhan demikian itu tentunya tidak berdasarkan kenyataan.

Siauw sendiri yang sejak mudanya sudah bertekad menyatukan diri dengan raky=
at. Membantah tuduhan menggandolkan penyelesaian masalah Tionghoa pada Soek=
arno seorang, secara tegas menyatakan: "Selanjutnya juga telah cukup jelas,=
 bahwa menggantungkan nasib golongan peranakan Tionghoa sebagai keseluruhan=
 pada tetap berkuasanya orang atau orang-orang tertentu, tidak bisa tidak b=
ersifat sementara saja. Orang bisa mati, atau segolongan orang bisa diganti=
 karena prubahan perkembangan. Tetapi berhasil menyatukan diri dengan rakya=
t dalam rangka pelaksanaan proses integrasi wajar dengan rakyat sebagai pew=
ujudan BHINEKA TUNGGAL IKA, merupakan jalan selamat lebih kekal." (Lihat Si=
auw Giok Tjhan: "Lima Jaman", edisi bahasa Indonesia, halaman 429)

    Lebih lanjut Siauw menjelaskan keharusan menyatukan diri dengan rakyat:=
 "Ada yang bahkan mengatakan : Politik bersatu dengan rakyat yang diajukan =
oleh BAPERKI adalah politik PKI. =85=85=85Kalau ada orang mengatakan bahwa =
Soekarno juga telah melaksanakan politik PKI,  itu berarti terlalu membesar=
kan peranan PKI. Dulu, penjajah  Belanda juga terlalu melebih-lebihkan kegi=
atan PKI, mereka menganggap bahwa perjuangan kemerdekaan nasional juga seba=
gai kegiatan PKI, sedangkan kenyataannya gerakan kemerdekaan nasional bukan=
lah monopoli orang-orang komunis."=20

     "Ada juga orang yang mengatakan BAPERKI sejalan dengan PKI, karena Bap=
erki menyetujui terlaksananya persatuan nasional "NASAKOM". Yang patut diaj=
ukan adalah : "Konsep kerjasama NASAKOM bukanlah diajukan oleh PKI, melaink=
an dikemukakan oleh presiden Soekarno dalam suatu sidang DPA. =85=85. Jika =
kita mengambil sikap menentang atau tidak acuh terhadap konsep NASAKOM, jus=
tru akan menempatkan diri kita sendiri berada dalam kedudukan terpencil dan=
 patut dikutuk sebagai golongan yang bersikap "sektaris."=85. Menghadapi si=
tuasi semacam ini, sebagai suatu organisasi massa yang tidak terlalu besar,=
 bila BAPERKI berusaha merintangi pelaksanaan konsep NASAKOM, pasti akan di=
gilas babak belur oleh partai-partai politik besar, sehingga tak punya temp=
at berdiri lagi. BAPERKI menganjurkan integrasi berarti harus mendukung "NA=
SAKOM", harus ada kesesuaian kata-kata dengan tindakan, tidak boleh plintat=
-plintut  " (Lihat : "Bhineka Tunggal Ika", edisi bahasa Tionghoa hal. 173 =
dan hal.159-161)

Baperki merupakan satu-satunya organisasi massa Tionghoa yang berhasil mend=
idik massanya untuk tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan politik I=
ndonesia. Mereka disadarkan untuk menerima Indonesia sebagai tanah airnya s=
ehingga mudah untuk didorong  berpartisipasi dalam menciptakan perubahan-pe=
rubahan yang dianggap positif untuk Indonesia secara keseluruhan. Mereka-pu=
n disadarkan akan hak dan kewajibannya sebagai Warga Negara Indonesia.  Ani=
mo untuk berpolitik para siswa dan mahasiswa sekolah-sekolah dan universita=
s-universitas Baperki tercatat tinggi dalam sejarah.

=20

Lalu apa yang terjadi setelah =93Asimilasi total=94 dilaksanakan selama 32 =
tahun lebih itu? Keadaan masalah Tionghoa jadi lebih baik-kah? Tentu saja t=
idak! Setelah mayoritas mutlak golongan etnis Tionghoa secara terpaksa meng=
ganti nama, lebih banyak yang melangsungkan kawin campur dan bahkan juga ti=
dak sedikit yang ganti agama, jadi Islam, tapi keadaan bertambah jelek, mas=
alah Tionghoa tetap saja tidak selesai! Ketentuan-ketentuan yang berbau ras=
ialis muncul satu persatu, lebih banyak lagi. Dari pelarangan menggunakan h=
uruf-Tionghoa, mengganti istilah Tionghoa-Tiongkok menjadi Cina yang berkon=
otasi penghinaan, sampai pada pelarangan merayakan Imlek dan beribadah dide=
pan umum. Kerusuhan SARA anti-Tionghoa terjadi lebih kerap kali, lebih luas=
 skalanya dengan korban lebih berat lagi, dengan puncaknya tragedi Mei-1998=
. Gerak-gerik mereka selalu diawasi oleh Badan Koordinasi Masalah Cina (BKM=
C). Sedang Siauw sudah dijebloskan dalam penjara, BAPERKI sudah dibubarkan,=
 tidak ada lagi kekuatan yang bisa tampil membela kepentingan etnis Tiongho=
a.=20

=20

Ketentuan yang berbau rasialis, misalnya, 31 Desember 1966, Mayor Jenderal =
Soemitro sebagai Panglima Jawa Timur mengeluarkan peraturan penguasa perang=
 daerah, yang isinya antara lain:

=B7        Melarang orang Tionghoa asing untuk melakukan perdagangan grossi=
er di luar ibukota propinsi, Surabaya;

=B7        Melarang orang Tionghoa untuk pindah domisili dari satu bagian w=
ilayah ke lain bagian wilayah Jawa Timur;

=B7        Melarang digunakannya huruf dan bahasa Tionghoa dilapangan ekono=
mi, keuangan, pembukuan dagang dan telekomunikasi.

=20

Jendral Purnawirawan Soemitro melalui memoarnya yang berjudul "Dari Pangdam=
 Mulawarman Sampai Pangkopkamtib" bahkan secara bangga menyatakan apa yang =
diajukannya sebagai ketentuan-ketentuan penguasa perang daerah yang berbau =
rasialis itu,  sebagai hasil pemikirannya yang "luar biasa", ia antara lain=
 mengatakan :"... Yang berbau Cina saya hilangkan. Saya larang pemakaian ba=
hasa Cina di muka umum, saya larang mereka melakukan pembukuan dalam bahasa=
 Cina, jualan dengan memakai bahasa Cina juga saya larang. Tentang agama sa=
ya sarankan mereka memilih agama yang ada di daerahnya, yaitu antara Islam,=
 Kristen, Buddha dan Hindu. Suku mereka adalah suku di mana mereka lahir. S=
aya himbau bagi WNI agar nama diganti dengan nama Indonesia, atau suku di m=
ana mereka lahir. Semua ini saya keluarkan pada tanggal 1 Januari 1967."

=20

Jendral yang satu ini lupa, bahwa pemikirannya itu adalah pelanggaran hak-h=
ak asasi manusia yang bertentangan dengan jiwa Pancasila dan lambang negara=
 Bhineka Tunggal Eka. Sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia, golong=
an peranakan Tionghoa berhak mempertahankan dan mengembangkan adat-istiadat=
 ke-Tionghoa-annya yang sudah berlangsung turun-temurun. Sebagaimana juga s=
uku-suku yang lain di Indonesia, berhak mempertahankan dan mengembangkan ad=
at-istiadat suku masing-masing. Suku Jawa berhak mempertahankan adat-istiad=
at Jawa-nya; suku Minang juga berhak mempertahankan adat-istiadatnya; suku =
Bugis juga berhak mempertahankan adat-istiadatnya. Biarlah setiap suku yang=
 ada mengembangkan ciri-ciri suku yang baik, dan belajar dari keunggulan su=
ku lain untuk memperbaiki kekurangan sendiri. Bagaikan seratus bunga mekar =
bersama memperindah taman sari dimana kita hidup bersama.=20

=20

Dan Siauw sebagai anak rakyat, dimasa mantan Presiden Soeharto masih jaya, =
diakhir tahun 79, didalam karyanya =93The Brighter Future=94 tetap optimis =
dengan menyatakan: "Apabila rakyat telah sadar, mereka pasti bertekad untuk=
 mengubah situasi politik yang penuh dengan pertentangan ini menjadi situas=
i politik yang mendorong terjadinya kedamaian bangsa, yang positif,  konstr=
uktif dan harmonis. Prinsip demokratis yang sejati akan unggul, segala disk=
riminasi rasial akan lenyap oleh hukum, dan segala kebobrokan korupsi  akan=
 berakhir, setiap warganegera akan memperoleh perlakuan yang sama. Dengan d=
emikian dapat ditegakkan  semangat patriot sejati dan tanggung jawab atas k=
esejahteraan sosial,  sehingga  menjamin seluruh rakyat dapat mengecap  keh=
idupan yang bebas dari rasa takut dan kemiskinan. Hari depan pasti cemerlan=
g."

        Sekarang dimana reformasi sedang begulir dan demokrasi benar-benar =
telah menjadi tuntutan rakyat yang tidak bisa ditawar, maka harapan untuk m=
encapai kehidupan masyarakat yang harmonis, damai-tentram, tidak ada lagi d=
iskriminasi rasial, adil dan makmur bisa diwujudkan. Benar-benar hari depan=
 Indonesia pasti cemerlang!


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20


Kirim email ke