** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.republika.co.id/ASP/kolom.asp?kat_id=16
Rabu, 24 Maret 2004

Misi Kristen untuk Yasser Arafat 

Oleh : Adian Husaini 


Misi Kristen di dunia Islam tampaknya tidak pandang bulu. Bukan hanya kalangan miskin, 
sengsara, dan korban perang yang menjadi sasaran, tetapi orang sekaliber Yasser Arafat 
pun menjadi sasaran. Majalah Rohani Populer (Kristen), Bahana, edisi Februari 2004, 
menulis satu cerita tentang usaha pengkristenan Yasser Arafat oleh seorang misionaris 
Kristen bernama RT Kendall. Saat bertemu Arafat kedua kalinya, Kendall sempat 
mengatakan:

"Saya minta Anda mau mengakui bahwa Yesus benar-benar mati bagi dosa Anda. Dia bukan 
diselamatkan dari salib itu, melainkan Dia benar-benar mati." Kendall menjelaskan pada 
Arafat apa saja keuntungan menjadi orang Kristen, dan menyatakan, bahwa tidak ada lagi 
yang bisa dilakukan. Perdamaian [di Timur Tengah] tidak bisa tercipta melalui jalur 
militer atau politik, menurut Kendall. Ditulis oleh majalah itu: Setelah itu, Kendall 
minta Arafat supaya bersedia merenungkan hal ini. Arafat setuju. 

Di akhir pertemuan, Kendall berdoa bagi Arafat dan memberikan buku "Total 
Forgiveness," yang dia tulis. "Saya tidak tahu apakah dua kunjungan saya ini berdampak 
baik atau tidak," kata Kendall kepada Charisma News Service, "Tapi yang penting saya 
telah berusaha keras untuk membawa seseorang kepada Yesus Kristus." Cerita itu tentu 
saja belum tentu benar. Tidak ada konfirmasi dari pihak Arafat.

Masyarakat Indonesia sudah beberapa kali dikecoh dengan cerita-cerita seputar 
ke-Kristen-an sejumlah tokoh, seperti Zainuddin MZ dan Ja'far Umar Thalib. Kini sebuah 
majalah Kristen menyebarkan isu tentang pengkristenan Yaser Arafat. Almarhum Dr Moh 
Natsir, semasa dalam kondisi kritisnya, tahun 1993, juga beberapa kali dicoba untuk 
dibaptiskan. Entah mengapa kaum mionaris Kristen bangga dengan usaha mengkristenkan 
Arafat. 

Apalagi, ironisnya, berita itu muncul dalam situasi di mana kaum Muslim Palestina 
terus-menerus menjadi korban teror dan pembantaian rezim Zionis Israel. Mengapa misi 
Kristen tidak diarahkan untuk mengkristenkan Ariel Sharon dan kawan-kawannya agar 
mereka menjadi murid Yesus dan tidak brutal. 

Saksi sejarah 
Memang, bagi kaum misionaris Kristen, kesuksesan mengkristenkan tokoh Islam adalah 
prestasi besar. Sebab, mereka mengakui, dalam sejarahnya, misi Kristen di dunia Islam 
tidaklah sesukses pada bagian dunia lain. Seorang misionaris, J.Christy Wilson, 
menyatakan, bahwa evangelism for Mohammedans is probably the most difficult of all 
missionary tasks. (Lihat Jurnal [Misi Kristen] The Moslem World, Oktober 1946). 

Para misionaris Kristen biasanya mengajukan berbagai pijakan untuk melakukan misi 
mereka. Salah satunya, ayat Matius 28:19: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua 
bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus". Banyak 
cara telah dilakukan kaum misionaris untuk menjadikan seluruh bangsa sebagai murid 
Yesus. Di zaman kekristenan awal dan pertengahan, Eropa mencatat berbagai kisah tragis 
kaum non-Kristen yang dipaksa menjadi murid Yesus. 

Para pemuka agama dan penguasa Kristen melakukan tindakan pembaptisan paksa terhadap 
semua manusia. Siapa yang menolak dibaptis, maka akan disiksa atau dibunuh. Bahkan, 
untuk menangani kaum heresy (non-Kristen) di Spanyol, Mahkamah Inquisisi secara resmi 
dibentuk oleh Paus Sixtus IV pada November 1478, dan baru berakhir pada 1820. 
Pembentukan ini dipicu oleh laporan bahwa para Yahudi dan Muslim yang dipaksa memeluk 
Kristen (dikenal sebagai conversos dan marranos) masih tetap mempraktikkan ritualitas 
agama lama mereka. 

Pada tahun 1480, dimulai satu penyelidikan dan pengadilan terhadap mereka di sebuah 
jalan utama di Kota Barcelona, yang dikenal sebagai Ramblas. Di sini, semua korban 
disiksa. Kaum Kristen yang berasal dari Yahudi, misalnya, dicap sebagai heretics 
karena masih mempraktikkan tradisi Yahudi, seperti mengenakan baju linen setiap Hari 
Sabtu, atau tidak mau memakan babi. Dalam setahun saja, sebanyak 300 orang telah 
dibakar hidup-hidup. 

Kondisi kaum Yahudi dan Muslim menjadi lebih buruk setelah Tomas de Torquemada 
diangkat sebagai inquisitor general untuk Castil dan Aragon, tahun 1483. Jumlah yang 
dibakar hidup-hidup semakin banyak. Kasus Kendall yang mencoba mengkristenkan Yasser 
Arafat sebenarnya hal yang mengherankan jika kaum misionaris Kristen sendiri mau 
mengkaji dengan cermat problema keagamaan mereka sendiri.

Jika para misionaris mengajak Yasser Arafat dan seluruh manusia untuk mempercayai dan 
mengakui bahwa kematian Yesus di Tiang Salib adalah untuk menebus dosa manusia 
sehingga manusia selamat maka hingga kini, para teolog Kristen sendiri masih terus 
berdebat tentang hal itu. Heboh film The Passion of the Christ karya Mel Gibson 
menunjukkan bagaimana kontroversialnya cerita tentang penyaliban Yesus itu sendiri. 
Paus Yohanes Paulus II menyetujui film itu dan menyatakan bahwa film itu adalah apa 
adanya, sesuai dengan cerita Bible.

Namun, kalangan Kristen lain membuktikan, banyak gambaran dalam film itu yang tidak 
sesuai dengan Bible. Misalnya digambarkan, bahwa Iblis menemui Yesus di Getsemane, 
padahal Bible (Lukas, 22:43) menyebutkan: Maka seorang malaikat dari langit 
menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Film ini juga 
memunculkan trauma anti-Yahudi di kalangan masyarakat Yahudi. 

Sebab, ia memunculkan gambaran khas model Perjanjian Baru yang menempatkan Yahudi 
sebagai yang bertanggung jawab atas kematian Yesus itu. Akhirnya, selama ratusan 
tahun, Yahudi menjadi korban pembantaian kaum Kristen. Meskipun menempatkan penyaliban 
Yesus sebagai rahmat bagi umat manusia, sejumlah pemuka Kristen tetap menganggap darah 
Kristus harus ditebus dengan darah Yahudi.

Pada tanggal 17 Juli 1555, hanya dua bulan setelah pengangkatannya, Paus Paulus IV, 
mengeluarkan dokumen (Papal Bull) yang dikenal dengan nama Cum nimis absurdum. Di sini 
Paus menekankan, bahwa para pembunuh Kristus, yaitu kaum Yahudi, pada hakikatnya 
adalah budak dan seharusnya diperlakukan sebagai budak. Di tiap kota hanya boleh ada 
satu sinagog. Di Roma, tujuh dari delapan sinagog dihancurkan. Di Campagna, 17 dari 18 
sinagog dihancurkan. 

Yahudi juga tidak boleh memiliki Kitab Suci. Saat menjadi kardinal, Paus Paulus IV 
membakar semua Kitab Yahudi, termasuk Talmud. Paus Paulus IV meninggal tahun 1559. 
Tetapi cum nimis absurdum tetap bertahan sampai tiga abad. Tetapi, gambaran tentang 
penyaliban Yesus itu dibongkar oleh John Dominic Crossan, profesor dalam Biblical 
Studies di DePaul University Chicago, yang menulis sebuah buku berjudul Who Killed 
Jesus?

Isinya membuktikan bahwa pemahaman tradisional terhadap terbunuhnya Yesus, yang 
digambarkan sebagai perbuatan kaum Yahudi, sebagaimana dipaparkan dalam Perjanjian 
Baru, bukan hanya salah, tetapi juga berbahaya. Ia juga mempertanyakan berbagai 
persoalan teologis yang mendasar, seperti benarkah Yesus mati untuk menebus dosa-dosa 
manusia? Juga apakah keimanan kita sia-sia jika tidak ada kebangkitan tubuh Yesus? 
(Lihat, John Dominic Crossan, Who Killed Jesus?, New York: HarperCollins Publishers, 
1995). 

Perdebatan seputar Yesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni 
mempertanyakan, apakah sosok Yesus itu benar-benar ada atau sekadar tokoh fiktif dan 
simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan 
seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). (Lihat, Howard Clark Kee, 
Jesus in History, New York: Harcourt, Brace&World Inc, 1970). Konsep ketuhanan Yesus 
itu sendiri menjadi perdebatan seru pada Konsili Nicea tahun 325 M. Sebuah buku 
berjudul The Messianic Legacy mencatat:

At Nicea Jesuss divinity, and the precise nature of his divinity, were established by 
means of a vote. It is fair to state that Christianity as We know It today derives 
ultimately not from Jesuss time, but from the Council of Nicea. Maka, sejak awal mula 
perkembangan Kristen, banyak aliran yang tidak mengakui ketuhanan Yesus. Contohnya, 
kelompok Cathary yang hidup di selatan Prancis, yang percaya bahwa karena daging 
adalah jahat, maka Kristus tidak mungkin menjelma dalam tubuh manusia. 

Karena itu, Kristus tidaklah disalib dan dibangkitkan. Dalam ajaran Cathary, Yesus 
bukanlah Tuhan, tapi Malaikat. Ketika kaum ini tidak dapat disadarkan dengan 
persuasif, Paus Innocent III menyerukan kepada raja-raja untuk memusnahkan mereka 
dengan senjata, sehingga ribuan orang dibantai. Lebih pelik lagi jika kaum misionaris 
Kristen mau menelaah dengan serius problema yang dihadapi kitab agama mereka sendiri. 

Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, hingga kini 
siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih misterius. (It is a strange fact that we 
have never known with certainty who produced the book that has played a central role 
in our civilization). Ia mencontohkan, The Book of Torah, atau The Five Book of Moses, 
diduga ditulis oleh Moses. Book of Lamentation ditulis Nabi Jeremiah.

Separuh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun 
tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, 
merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the 
world). Hasil penelaahan serius oleh Prof Bruce M Metzger, guru besar The New 
Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bahwa sekarang mungkin saja 
untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament. (the way is open for the 
possible edition of another book or epistle to the New Testament canon).

(Lihat, Bruce M Metzger, The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and 
Significance, Oxford:Clarendon Press, 1987, hlm 273). Apa pun aktivitas kaum 
misionaris Kristen, kaum Muslim perlu mengambil hikmah dari kegigihan seorang RT 
Kendall, yang di usia senjanya, begitu gigih hendak mengkristenkan Arafat. Lebih hebat 
lagi, ia melakukan itu semua dengan menutup mata terhadap problema teologis, kitab, 
dan sejarah keagamaan dan peradabannya sendiri.

Memang ajaib, misionaris begitu gigih mengkristenkan dunia Timur, sementara di Barat 
sendiri mereka mengangkat seorang homoseksual (Gene Robinson) menjadi Uskup New 
Hampshire, 3 November 2003 lalu. Padahal, Kitab Imamat 20:13 menyebutkan: Bila seorang 
laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi 
keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka 
tertimpa kepada mereka sendiri. nAnggota Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI 




[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke