** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:

PUISI EKPERIMENTAL DAN TEMA SOSIAL


Membuka komputer pagi ini, aku mendapatkan sanjak Mega Vristian berjudul "Amien 
Fahlan" disiarkan oleh  milis [EMAIL PROTECTED]  dan [EMAIL PROTECTED] . Amien Fahlan 
adalah salah seorang dari sepuluh warga miskin asal Brebes yang ingin menjadi TKI di 
Arab Saudi melalui sebuah agen, tapi ternyata kemudian mereka menjadi mangsa dari grup 
mafia yang berusaha mendapatkan uang dengan jalan pintas dengan memeras orang yang 
lemah dan polos, sebelum mereka bisa mewujudkan keinginan. Amien Fahlan adalah lambang 
dari keterpurukan bangsa dan negeri. Dan tema inilah yang sekarang diangkat oleh Mega 
Vristian di dalam sanjaknya yang memikat.

Untuk jelasnya kukutip utuh sanjak Mega tersebut:


AMIEN FAHLAN
karya : Mega Vristian

[Bima, anakku,
Pagi ini, ibu membuka membuka website "suara pembaruan" membaca bahwa sepuluh orang 
miskin dari Brebes yang ingin hidup layak sebagai manusia mencoba mencari pekerjaan di 
mancanegara. Sebelum keinginan mereka terwujud, mereka sudah jatuh ke tangan 
sekelompok pemeras. Di antara 10 orang itu terdapat seorang lelaki kampung bernama 
Amien Fahlan. Tiba-tiba ibumu merasakan pengalaman getir mereka seperti kaca di mana 
ibumu berdiri dengan rambut kusut-masai duka. Tanahair membuat ibu seperti makin asing 
dan begitu merasa seorang diri di tengah aum raung serigala lapar apalagi ketika 
mengenangmu yang jauh].


bima, anakku,
tol dan deru
jutaan kendaraan
menabur debu
mengendap di jiwa kita
menebal debu di kalbu
aku rasakan benar
diri kian kotor
jiwa kian berdaki
aku cemas
kau pun akan kotor
dan berdaki


tapi orang katakan
zaman ini
zaman modern
tanahair ini
penuh pembangunan
karenanya penduduk
kian saling tak perduli
tetangga pun
tak lagi saling bertutur
orang-orang pun ogah bersapa
bahasa menjadi perangkap
lelaki dan perempuan
sering jadi barang kelontong


memandang rumah kaca
menjulang menjangkau matahari
kilap kilau papan iklan
menyilau mata
di antara ribuan motel
lembaga nilai mutakhir
paling canggih
aku merasa diri makin kecil
dan kian tersisih
dan di deru kendaraan
kudengar aum
raung maut
harimau bencana
teringat kau, nak
aku amat cemas
akan kecemasanku


indonesia
padang hilang rimba
padang macan lapar
srigala silang-siur
memburumu
memburuku
menyergap orang-orang
mengintai manusia
di saban tikungan


membaca koran
membuka web suara pembaruan
melintang halaman dua:
"sepuluh calon tki ditipu
diperas mafia"
bandara jadi pusat bandit
tol menjadi lini jebakan
memancing memusnahkan mangsa
tak terhitung bilangan murid sekolah dasar
berapa sudah lelaki-perempuan di sini terjebak


tiba-tiba diriku menggigil
merasa sudah demikian jauh tersesat
ya, sepertiya, bukan lagi di tanahair
bukan di indonesia yang kukenal
bukan di kampung penduduk
udara apak dan menyesak paru
mataharipun nampak beringas
angin anyir keganasan


kudapatkan tiba-tiba
diri berada
di padang hilang rimba
padang macan lapar
tengkorak berhamburan


di deru kendaraan
kudengar aum
dan raung maut
macan bencana
amien fahlan
lelaki miskin
putera brebes
demikianpun
kampunghalaman
tergantung di taringnya
berdarah


mengenangmu, nak
aku cemas
oleh kecemasanku
cinta
terasa tersingkir

(Hongkong,25 maret'2004)
[ [EMAIL PROTECTED] 
Thursday, March 25, 2004 9:11 AM]


Bagiku sanjak Mega ini sangat memikat, jika dilihat baik dari segi bentuk atau cara 
pengungkapan, isi maupun dari keluasan tema yang dibahas. Apalagi jika dibandingkan 
dengan tema-tema yang diangkat oleh Mega sebelumnya baik sebagai penyair maupun 
sebagai pelukis.

Sebelum ini, tema utama yang digarap oleh Mega baik dalam lukisan ataupun puisi adalah 
tema cinta, kesepian dan kesendirian ataupun kejenuhan yang lebih bersifat individual 
berdasarkan pengalaman hidup pribadinya. Tapi sejak ia menulis sanjak "Dari Taman 
Victoria" yang menggambarkan perjuangan TKI [Tenaga Kerja Indonesia] di Hong Kong 
dalam membela hak-hak, terutama hak kerja dan hak hidup sebagai anak manusia, 
menentang keputusan Menteri Urusan Tenaga Kerja Indonesia, nampak bahwa Mega mulai 
menggarap tema-tema sosial dan politik serta permasalahan masyarakat yang lebih luas 
dibandingkan dengan permasalahan emosional individual yang sangat pribadi. Sikapnya 
jelas dan memperlihatkan ada semacam radikalisasi primer atau instingtif alias 
nuraniah.

Mengikuti sanjak-sanjak yang ia siarkan belakangan ini, memang nampak bahwa Mega sudah 
bisa keluar dari beban lamanya yang pahit dan menjerat keleluasaannya. Ia nampak 
menjadikan masa silam yang getir itu sebagai kapital berharga menyongsong esok dan 
menjadikan dukanya sebagai sangu tambahan enerji serta semangat guna menyongsong 
hari-hari bercahaya di ufuk yang ia jelang, lebih-lebih setelah ia menunggu kedatangan 
janin harapan yang tengah di kandungnya. Janin yang ia sedang kandung nampak  membuka 
hari baru bagi kehidupannya. Dengan adanya janin yang sedang ia kandung, Mega nampak 
seperti tengah menarungi kehidupan dengan pandangan dan semangat baru  penuh 
kemantapan langkah. Kalau benar pemahamanku, maka Mega tidak lain dari seorang yang 
sanggup jatuh tapi sekaligus sanggup dan berani bangkit kembali mencapai segala 
sesuatu yang sudah ia tetapkan di peta rencana. Jika tafsiranku benar, maka melalui 
kehidupan pribadinya, Mega melukiskan tokoh idolanya yang kemudian ia lukis
 kan dalam karya-karyanya. Dengan semangat ini, ia tidak lagi menjadi perempuan yang 
"duduk di jendela memegang jambangan bunga di tangan memandang senja tumbang" [judul 
sebuah lukisannya]. Kalau Tuhan tidak memberikannya matahari, maka ia ingin dengan 
tangannya sendiri melukiskan matahari di langit kanvas pinjamannya  [tema sebuah 
sanjaknya! Lihat; Diskusi Suraiya Kamaruzzaman, Yaqinsaja dan JJ.Kusni di milis [EMAIL 
PROTECTED] Suatu sikap mental yang penuh prakarsa, berbeda dengan sikap mental 
sebelumnya yang pasrah dan buram oleh genangan airmata, bersimbah darah luka masa 
silam. Pengalaman sehari-hari mengasuh Mega menjadi paham bahwa hidup memang berwatak 
garang dan tidak berbelaskasihan, dan memaksanya hanya punya satu pilihan bersandar 
pada kaki dan tangan sendiri untuk memenangi kehidupan, menolak kekalahan dan 
fatalisme. Sanjak-sanjak terbaru Mega memperlihatkan bahwa Mega bukan seorang eskaspis 
yang pengecut. 


Perkembangan pola pikir dan mentalitas inilah kemudian yang membawanya menaruh 
perhatian ke permasalahan sosial-politik dan menjadikan soal-soal tersebut sebagai 
tema-tema karya. Mega mulai memasuki dunia kehidupan yang utuh dan penuh kecamuk serta 
tidak lari dari galau kecamuk. Ia ada dan berada di tengah galau kecamuk tersebut. 
Bukan menonton dan memandangnya dari kejauhan menara gading sambil membayang-bayangkan 
kegetiran dan keganasan.  Tapi sungguh-sungguh menghidupinya langsung sebagai seorang 
TKI. Barangkali di sinilah terletak perbedaan Mega dengan para penulis seangkatannya 
yang pada umumnya bisa dikatakan berada pada status kelas menengah dalam masyarakat, 
jauh dari kepahitan. Kepahitan yang dirasakan oleh orang lain seangkatannya, sebatas, 
terutama pada kepahitan emosional individual sehingga sering terasa sangat cengeng dan 
naif serta "mbocah",jauh dari bantingan dan begitu bangga dengan tingkat pendidikan 
yang dicapai , seakan gelar kesarjanaan awal memang patut 
 dibanggakan sebagai sangu tangguh menghadapi terpaan ganas kehidupan tak berbatas dan 
sulit diduga sehingga gampang melecehkan kesulitan orang lain dan suka bergunjing.

Ketika menggarap tema-tema luas di luar urusan emosi individual, Mega memasuki 
kehidupan sesungguhnya. Lebih-lebih ketika ia menjadi penanggungjawab milis [EMAIL 
PROTECTED] , ia makin terlibat dalam berbagai masalah, mempunyai kontak yang lebih 
luas, apalagi ia sendiri memang adalah seorang TKI sehingga dari tangannya bisa 
diharapkan jenis karya baru yang bertutur tentang kehidupan TKI, lapisan masyarakat 
khusus negeri dewasa ini. Jika memperhatikan keadaan sekarang, adanya figur-figur 
seperti Mega dan atau Erine Endri [dengan "Forum Pena"-nya yang beranggotakan ratusan 
orang warga TKI] bukan tidak mungkin pada suatu hari, sastra Indonesia akan diperkaya 
oleh  genre sastra dengan tema-tema TKI.Sanjak Mega "Amien Fahlan" atau "Dari Taman 
Victoria", demikian juga esai-esai Erine Endri [sekarang berada  di Beijing],  kukira 
bisa dikategorikan sebagai embrio dari adanya genre sastra demikian. Belum lagi 
karya-karya yang bisa diharapkan lahir dari Suraiya Kamaruzzaman, "A
 ceh's Flower", akademisi, aktivis buruh migran,  yang sekarang  bermukim di Hong Kong 
atau Jelitheng yang tidak kalah produktif dan sekarang  tinggal di Paris, Perancis, di 
samping Liong Chuan, penulis cerpen dan novel produktif yang berpangkalan di Singapura 
[untuk menyebut beberapa nama saja]. Aku tidak tahu, apakah pengamat sastra Indonesia 
kekinian, sempat memperhatikan gejala ini, yang bagiku jika berpegang pada 
obyektivitas ilmiah, gejala begini selayaknya dimasukkan ke dalam perhitungan.

Dengan mengangkat tema sosial-politik, melalui kedua sanjak tersebut di atas, aku 
kira, Mega telah menapaki jalan kematangan dan keluasan cakrawala pandang baru. 
"Sastrawan-seniman adalah jurubicara zaman, masyarakat dan lingkungannya", demikian 
Mega berucap menjawab pertanyaanku yang ingin tahu mengapa ia memasuki masalah 
sosial-politik dan segala segi kehidupan. "Sastrawan-seniman adalah bagian tunggal 
dari kehidupan", tambahnya. "Tidak ada tabu bagiku dan selayaknya sastrawan-seniman 
mengungkapkan kehidupan yang utuh", ujarnya. "Setelah menerjunkan diri ke 
bidang-bidang ini, aku rasakan bahwa soal cinta dan perasaan individual hanyalah 
bagian kecil dari kehidupan sosial. Dengan mamasuki masalah-masalah inji, aku merasa 
diriku dibebaskan dan turut membebaskan diriku dari kecupetetan wilayah garapan", 
tegasnya. "Permasalahanku sekarang, terletak pada bagaimana soal-soal tersebut  bisa 
kuterjemahkan dalam bentuk artistik. Karena sastra-seni tetap sastra-seni dengan 
patokan sa
 stra-seninya yang mutlak. Apakah ini hal baru? Tidak! Coba Anda perhatikan sejarah 
sastra-seni dunia! Sastra-seni besar dunia adakah yang lepas dari masalah masyarakat 
secara totalitas?", jelas Mega kepadaku dalam sepucuk suratnya. "Dari segi ini aku 
tetap merasa diri tidak lebih dari seorang pemula belaka", ujarnya lagi. 

Dalam usaha menyelesaikan masalah menuangkan tema-tema luas raksasa di atas ke dalam 
bentuk artistik, Mega melalui sanjak "Amien Fahlan" di atas, mulai dengan melakukan 
sanjak atau puisi eksperimental yaitu memadukan bentuk berita jurnalistik dengan 
puisi. Mega menjadikan berita-berita tentang berbagai persoalan sebagai sumber karya 
dan mencari bentuk pengungkapan yang artistik dengan tetap menghormati patokan-patokan 
artistik yang dituntut oleh karya sastra. Dalam usaha ini, Mega juga mencoba 
mencairkan dan meleburkan soal-soal individual dengan masalah sosial. Menyatukan emosi 
individual dengan aspirasi sosial. Dari percobaan-percoaan yang dilakukannya melalui 
"Amien Fahlan" dan "Dari Taman Victoria", nampak benar bahwa ia sedang mencari 
terobosan-terobosan baru untuk menjadi diri sendiri. Dalam sejarah sastra Indonesia 
[terutama puisi], sejauh pengetahuanku, tidak atau belum pernah kutemui usaha pemaduan 
model yang dilakukan oleh Mega. Di dalam usahanya ini, Mega selain bi
 cara soal politik, ia juga bicara soal sosial, alam lingkungan yang rusak, masalah 
jender, keadaan pola pikir dan mentalitas dominan masyarakat di negeri ini sehingga 
nampak benar ia berusaha mengungkapkan keadaan masyrakat di mana ia hidup secara 
menyeluruh.

Dengan memasuki masalah-masalah besar begini, kukira Mega membuka peluang dan harapan 
bagi dirinya untuk mampu menangkap hakekat atau inti permasalahan sehingga isi 
karyanya menjadi lebih menukik dan sekaligus dengan cara ini ia mungkin menunaikan 
tanggungjawab kesenimanannya yang selalu ditagih oleh masyarakat. Apalagi Mega selalu 
merasa dirinya tak bisa terlepaskan dari masyrakat. Dirinya sebagai individu hanyalah 
bagian dari masyarakat. Melalui metode inilah maka ia melukiskan tokoh Amien Fahlan 
yang tidak lain dari wajah bangsa, tanahair dan dirinya sendiri.

Apa yang kulihat dari sanjak di atas, terutama bahwa Mega sedang memasuki jenjang 
kematangan baru, baik sebagai penyair maupun sebagai anak manusia. Tapi yang lebih 
penting adalah kematangan sebagai anak manusia karena karya diciptakan dan ditentukan 
oleh penciptanya yaitu anak manusia. Sang penyair! Bagaimana penyairnya akan demikian 
pula bagaimana syair-syair dan karyanya.

Dari sanjak eksperimental Mega ini, aku banyak belajar, juga belajar dari Mega sebagai 
seorang anak manusia yang sanggup kalah dan jatuh, tapi juga berani dan pandai bangkit 
serta menang! Benarkah pengamatanku bahwa Mega ingin jadi mansuia yang pandai dan 
berani menang?! Yang ingin dan bertekad memberi makna maksimal bagi hidupnya, 
memberikan isi yang padat bagi ruang dan waktunya sebelum senja jadi malam?

Bagiku, siapapun bisa menjadi guru dan memang siapapun adalah guruku, termasuk mereka 
yang pernah melontarkan caci-maki dan melecehkan diriku. Karena aku selamanya adalah 
murid kecil yang nakal yang tidak punya keengganan  mengacungkan kepalan kecilku 
kepada dewa dan langit. Anakkupun kuasuh jadi pemberontak tapi kularang menjadi 
angkuh! Kuajar ia jadi penulis karena penulis adalah penanya dan pencari yang tak 
kenal lelah. Dari sanjak di atas, Mega pun kulihat tidak lain dari seorang penanya dan 
pencari juga adanya. Barangkali aku keliru dan hanya Mega sendirilah yang tahu siapa 
dirinya yang sesunguh-sungguhnya, tahu apa yang ia pilih dan ia maui di hidup ini. Aku 
hanya bisa dan berusaha membaca karyanya serta percaya bahwa yang mencari akan 
mendapat, yang mengetok akan dibuka. 


Paris, Maret 2004.
-----------------
JJ.KUSNI






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke