** Milis Nasional Indonesia ppi-india ** Surat dari Beijing :Nasibmu TKI II
Sebelumnya aku sudah pernah membuat tulisan Nasibmu TKI yang terilhami dari= berita di salah satu media cetak di Indonesia. Kini aku membuat tulisan te= ntang TKI yang kuberi judul yang sama tapi merupakan bagian ke dua. Tulisan= kali ini aku buat berdasarkan membaca puisi dari Mbak Mega Vristianti di H= ongkong kemaren yang berjudul =81gAmien Fahlan=81h. tapi orang katakan zaman ini zaman modern tanahair ini penuh pembangunan karenanya penduduk kian saling tak perduli tetangga pun tak lagi saling bertutur orang-orang pun ogah bersapa bahasa menjadi perangkap lelaki dan perempuan sering jadi barang kelontong Puisi : =81gAmien Fahlan =81g oleh : Mega Vristianti=20 Petikan beberapa bait dari salah satu puisi Mbak Mega Vristianti di Hongkon= g yang berjudul =81gAmien Fahlan=81h, di atas berkisah tentang seorang ten= aga kerja Indonesia yang hendak mencoba mengubah nasib di negeri orang tapi= malang, niat baik ternyata masih harus mendapat cobaan dan berjalan tidak = mulus. Ada-ada saja orang-orang yang tidak bermoral dan berhati nurani mema= nfa=81fatkan segala keadaan dan situasi orang lain dengan jalan yang tidak = benar alias menipu. Sengaja aku memetik bait-bait puisi tersebut, karena ak= u merasa pilu sendiri membaca butiran-butiran tulisan di sana, betapa tidak= aku pun telah merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Mbak Meg= a. Dikatakan zaman moderen, mengikuti segala arus kehidupan sejalan dengan = perkembangan dan perubahan zaman yang sudah semakin tua ini. Teknologi-tekn= ologi mutakhir telah menguasai segala ruang kehidupan manusia dengan iming-= iming gaya hidup masa kini, mutakhir, canggih, effisien, mutakhir, dan seba= gainya, aku juga salah satu termasuk korban zaman ini. Tidak ada lagi aku saksikan tetangga-tetangga ya= ng saling akrab, perduli dan bertergur sapa dengan tetangga yang lainnya. A= ku masih ingat betul saat usiaku sekitar enam atau tujuh tahun, tatkala kel= uargaku pindah rumah ke daerah lain. Para tetangga di sekitar lingkungan te= mpat tinggalku pun datang berkunjung ke rumah, ada yang sekedar mengucapkan= rasa sedih dan kehilangan, lalu berharap mudah-mudahan tali silaturrahmi y= ang sudah terjalin ini tidak terputus, ada yang membantu mengepak-ngepak ba= rang, ada yang memberikan makanan, kenang-kenangan, dan lain sebagainya, ba= hkan ada yang sampai ikut mengantar kepindahan kami menuju rumah yang baru.= . Acara perpisahanpun dirasakan sangat haru biru, dimana para tetangga yang= mengiring kepergian kami dengan tangisan. Dari situ aku bisa merasakan bah= wa begitu dekat jalinan keakraban dan silaturrahmi yang telah kami bina sel= ama ini. Sangat berbeda dengan keadaan yang aku temui saat sekarang ini. Ti= dak ada kesan kekeluargaan dan silaturrahmi yang baik di lingkungan tetangga di zaman ini= . Masing-masing orang sibuk dengan urusan-urusan lainnya. Gaya hidup cuek, = bak masyarakat metropolitan pun sepertinya telah sangat melekat di masing-m= aisng tubuh bangsa Indonesia yang katanya bangsa bermartabat, ramah-tamah, = sopan santun, dan sebagainya. Seperti kata Mbak Mega, lewat puisinya Indone= sia kini sudah semakin asing, ya aku pun merasa demikian, terasa sudah tak = mengenal lagi Indonesia yang dulu begitu harmonis, hidup rukun dan damai, s= aling hormat-menghormati, tolong menolong, dan gotong royong. Hingga pemeri= ntah menciptakan hal-hal tadi ke dalam asas-asas yang menjadi acuan atau to= lak ukur kehidupan berbangsa. Sepertinya asas-asas tersebut sudah terlupaka= n dan dianggap tidak memiliki peranan penting lagi dalam tatanan hidup berb= angsa dan bernegara. Masing-masing orang berpikir apa dan bagaimana hidup h= arus dijalankan. Diperjuangkan untuk dapat meraih segala apa yang diinginka= n. Tidak sedikit yang mencoba dengan jalan miring atau menghalalkan segala cara, tanpa memperduli= kan nasib orang lain, kedukaan hati orang lain, ntah kemana hati nurani itu= pergi. Hingga tak salah jika banyak korban yang jatuh akibat kesemena-mena= an tadi. Orang menipu dan membunuh sudah menjadi hal biasa di negeri ini se= jak beberapa bulan yang lalu. TKI atau TKW yang ingin mencoba mendapatkan k= ehidupan layakpun harus membayar mahal untuk itu, tidak saja dengan uang at= au harta, bahkan darah, nyawa dan ribuan tangisan. Beginikah tanah air terc= inta ini dalam memperlakukan nasib anak bangsa? Harus kemanakah diri jika t= anah air tak mampu lagi membela, membantu, dan memperhatikan nasib anak ban= gsa ?=20 Berikut bait-bait puisi Mbak Mega lagi yang menggambarkan bagaimana tanah a= ir yang telah banyak melahirkan beribu serigala pemangsa manusia, menghisap= , memeras, dan memakan manusia tanpa ada rasa bersalah, malu, dan belas kas= ihan.=20 indonesia padang hilang rimba padang macan lapar srigala silang-siur memburumu memburuku menyergap orang-orang mengintai manusia di saban tikungan Hak manusia di sini tergambar sangat tidak dihargai. Biar bagaimanapun mart= abat manusia patut dijunjung. Fenomena ini bukan hal yang asing lagi, bahka= n manusia berpendidikan tinggipun di Indonesia sanggup bertingkah laku demi= kian, yang katanya mereka adalah kaum intelektual, berpendidikan, berpikira= n luas, pintar, dan sebagainya, tapi kelakukan bagaikan orang yang tidak me= ngenyam pendidikan dan sederetan gelar yang disandang. Manusia gelap mata, = hati, dan pikiran sejak mengejar harta, pangkat, kedudukan, dan popularitas= .. Betapa mengerikan jika semua manusia-manusia Indonesia menjelma menjadi = demikian. Terbayang akupun takut untuk kembali, terbayang akupun akan jadi = manusia yang terjebak dalam kehidupan yang kian hari kian keras dan tidak r= amah ini. Ntah kemana baiknya diri ini pergi dan tinggal, takut rasa cinta = dan jiwa nasionalis ini akan terkikis karena Indonesia dirasa sangat asing = dan semakin menjauh.=20 membaca koran membuka web suara pembaruan melintang halaman dua: "sepuluh calon tki ditipu diperas mafia" bandara jadi pusat bandit tol menjadi lini jebakan memancing memusnahkan mangsa tak terhitung bilangan murid sekolah dasar berapa sudah lelaki-perempuan di sini terjebak Puisi Mbak Mega di atas lagi-lagi menggambarkan keadaan-keadaan yang memang= sangat sering dialami oleh TKI atau TKW Indonesia saat pulang kembali ke t= anah air setelah dari perjuangan panjang di negeri orang. Pulang ke negeri = sendiri seperti pulang ke negeri asing. Tidak ada rasa bersahabat dan peras= aan haru biru dari manusia-manusia di Indonesia, yang ada hanya tahu bagaim= ana hidup harus dimainkan walaupun mereka tahu bahwa itu tidak wajar atau p= antas, atau mungkin mereka sama sekali tidak tahu bahwa itu suatu perbuatan= keji yang tidak bermoral dan berhati nurani. Bukan tidak akupun pernah mel= ihat fenomena demikian saat aku kembali dari Malaysia. Di Bandara Polonia, = Medan aku melihat ada beberapa TKI atau TKW yang kembali, mungkin itu adala= h kepulangan mereka yang pertama sekali sejak mereka bekerja di Malaysia. B= egitu pesawat mendarat di Polonia, para pengangkut barangpun memulai aksi m= ereka, menawarkan jasa untuk mengangkut barang-barang penumpang yang dirasa= sangat berat, walau pintu keluar dari ruang pengambilan barang tidaklah jauh, jika para pengang= kut barang tidak menguasai keret dorong yang memang disediakan oleh bandara= sebagai salah satu fasilitas yang semestinya gratis untuk dipakai oleh par= a penumpang, tapi kelihatannya tidak demikian di Medan. Aku kadang jengkel = sendiri mendapatkan hal demikian. Kita harus bisa berebutan dengan para pen= gangkut barang untuk mendapatkan kereta dorong tersebut, dimana aku gak per= nah melihat atau menjumpai keadaan demikian di bandara-bandara udara lainny= a baik di dalam dan luar negeri. Kadang aku heran sendiri kenapa pemerintah= an kota ini bisa menyetujui hal-hal demikian? Bukankah itu mengurangi kenya= manan penumpang yang datang dari berbagai kota dan negara lain? Tindakan pe= nipuan juga terasa sangat kental di bandara ini, para pengangkut barangpun = dengan senang hati memanfa=81fatkan situasi demikian, apalagi mereka meliha= t penumpang tersebut orang yang tidak biasa bepergian, kesan orang udik ata= u kampung yang dapat ditipu dan dibodoh-bodohi adalah hal yang paling manfa=81fatkan untuk ajang= penipuan mereka. Dari sini tergambar betul sifat manusia yang tidak berhat= i dan bermoral. Kadang aku sampai bicara dalam hati sendiri, apa mereka ini= tidak takut akan dosa dan hukuman yang nanti akan mereka terima? Mungkin k= arena desakan hidup dan hawa nafsu tadi telah mengalahkan segalanya. Yang m= ereka pikir hanya bagaimana mendapatkan uang, walau tidak semua para pengan= gkut barang itu seperti demikian, yang jelas saat itu aku melihat bahwa ada= dua orang TKW yang kebetulan berdiri tidak jauh dariku telah terkena gomba= lan pengangkut barang tersebut. Dia menyarakan agar kedua TKW tersebut memb= erikan barannya yang sedikit dan tidak berat itu untuk diangkut olehnya men= uju tempat pemeriksaan imigrasi. Kedua TKW tersebut ingin menolak, tapi si = pengangkut barang dengan gaya yang pasti menjelaskan kalau nanti barang-bar= ang ini dibawa oleh mereka sendiri maka mereka nanti tidak dapat menghindar= i urusan dari imigrasi dalam memproses barang-barang mereka. Yang aku herankan kenapa para TKW itu= takut untuk membawa barang mereka sendiri? Kalau memang tidak bermasalah, = tentu imigrasi tidak akan mempersulit keadaan mereka. Mungkin karena itulah= kali pertama mereka pulang atau pergi dengan pesawat, karena setahuku TKI = atau TKW yang hendak bekerja di Malaysia biasanya diberangkatkan dengan fer= ry dari pelabuhan Belawan, Medan, dimana jarak yang ditempuh tidak begitu j= auh melalui Penang, hanya kira-kira 4 jam perjalanan melalui laut. Aku saat= itu hanya bisa melihat geram, tanpa mau buka suara, karena jika aku turut = campur, bakal akulah nanti yang akan mendapat masalah, bertengkar dan akan = menjadi sasaran makian aku kelak di bandara tersebut, sebetulnya aku bisa s= aja tidak memperdulikan apa yang akan menimpaku, cuma saat itu aku juga dal= am keadaan lelah dan sibuk mengurus barang-barangku. Dari pengalaman itu, a= ku bisa melihat dan mengetahui dengan jelas beginilah ternyata mereka mempe= rlakukan TKI atau TKW yang kembali ke tanah air, diperas dan ditipu. Dijadikan sasaran empuk deng= an memanfaatkan keluguan dan kebodohan mereka tadi.=20 Erine Endri ----------------------- Beijing, March 26, 2004=20 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada. http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=3D5511 http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg= Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] =20 Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ =20

