** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Media Indonesia
      Sabtu, 27 Maret 2004

      PENDIDIKAN

      Berlaku untuk Sekolah Umum dan Madrasah

      Kurikulum Pendidikan Agama Diubah
     
      JAKARTA (Media): Departemen Agama (Depag) sedang melakukan perubahan radikal 
pada kurikulum pendidikan agama di sekolah umum dan madrasah.

      Demikian diungkapkan Dirjen Bimbingan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama 
(Bagais Depag) A Qodri A Azizy kepada Media di ruang kerjanya, kemarin.

      Menurut Qodri, terdapat empat perubahan krikulum, berkaitan dengan pemeliharaan 
akidah Islam, metodologi, agama sebagai inspirasi mata pelajaran lain, dan pendidikan 
agama sebagai etika sosial.

      "Untuk poin pertama, memang sudah menjadi keniscayaan bahwa tujuan utama 
pelajaran agama Islam di sekolah dan madrasah adalah menjaga akidah Islam peserta 
didik," kata Qodri.

      Justru yang relatif susah mengubahnya, sambungnya, adalah pada aspek metodologi 
penyampaian pendidikan agama. Sebab, masalah ini tidak hanya terjadi di sekolah dan 
madrasah, tetapi sudah terbiasa dalam perilaku keseharian umat Islam Indonesia. Jadi, 
pemahaman umat Islam terhadap ajarannya sangat berpengaruh pada model dan metodologi 
pemahaman agama di sekolah.

      Misalnya, sambung mantan rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo 
Semarang ini, pelajaran Islam tentang kebersihan yang berlandaskan pada hadis anna 
dhofatu minal iman (kebersihan itu sebagian dari iman).

      "Seorang anak yang biasa berpakaian rapi dan bersih, tetapi tidak hafal hadis 
tentang kebersihan, pasti akan mendapat nilai jelek. Sebaliknya, siswa yang tidak 
berperilaku rapi dan bersih, namun hafal hadisnya, ia mendapat nilai baik. Penilaian 
seperti itu salah kaprah, sebab dalam Islam bersikap dan berperilaku rapi dan bersih 
adalah yang utama daripada hafal dalil tentang kebersihan," ujar Qodri.

      Perubahan metodologi juga, lanjut Qodri, berkaitan dengan bahasa, istilah, dan 
materi yang disampaikan kepada peserta didik oleh guru. Untuk siswa SD, ajaran Islam 
tentang jihad dan hubungan suami istri, misalnya, tidak cocok diberikan. Selain itu, 
perlu ada pelurusan berbagai istilah yang salah kaprah, seperti insya Allah, sabar, 
tawakal, dan sebagainya.

      "Selama ini istilah insya Allah dipakai untuk mengungkapkan kesanggupan untuk 
memenuhi janji seenaknya. Padahal istilah ini berkaitan dengan janji yang harus 
ditepati, karena janji adalah utang. Begitulah ajaran Islam yang mesti diberikan 
kepada siswa," jelas alumnus University of Chicago ini.

      Sosialisasi

      Qodri melanjutkan, untuk poin ketiga adalah bagaimana pendidikan agama menjadi 
inspirasi siswa untuk berprestasi dalam mata pelajaran lain, baik ilmu pengetahuan 
alam maupun sosial.

      "Siswa yang unggul dalam mata pelajaran agama idealnya berprestasi juga dalam 
mata pelajaran lain seperti matematika, sejarah, dan biologi dari siswa nilai 
pelajaran agama kurang baik," tambah Qodri.

      "Keempat, pendidikan agama harus menjadi sarana mengembangkan etika sosial 
Islam. Maksudnya, dengan memperoleh pelajaran agama, para siswa dilatih untuk bersikap 
jujur, ikhlas, respek terhadap orang lain, dan saling menolong. Sehingga ketika suatu 
saat peserta didik sudah ahli dalam bidang tertentu, ilmunya tidak dipergunakan untuk 
destruktif (mufsidin), tetapi akan diarahkan kepada sesuatu yang positif (muslihun) 
atau diorientasikan bagi pengembangan kemanusiaan," urai Qodri.

      Lebih jauh ia memaparkan, untuk mendukung perubahan kurikulum yang radikal 
tersebut, Bagias sudah menyosialisasikan sejak awal 2003, baik melalui penataran guru 
agama di sekolah dan madrasah maupun para akademisi, termasuk melalui buku panduannya.

      "Yang kerap menjadi persoalan adalah pada kontrol. Sebab, jika kontrol terhadap 
implementasi perubahan kurikulum ini lemah, maka perubahan kurikulum tidak ada 
artinya. Oleh sebab itu, Bagais terus berusaha mengawal secara ketat pelaksanaan 
perubahan ini," tegas Qodri.

      Khusus untuk pembinaan guru agama, selanya, Bagais sudah melakukan berbagai 
langkah. Antara lain, melakukan orientasi berjenjang, menyekolahkan baik degree maupun 
non-degree, memberikan kursus-kursus secara kontinu, dan mengadakan training yang 
berkelanjutan," pungkas Qodri. (Dud/B-1)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke