** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0326/kes1.html

Kunci Kekuatan Pelayanan Kesehatan di Indonesia yang Dilupakan

Sering kita mendengar kritik dan kecaman dari perbagai lapisan masyarakat,
terhadap sistem pelayanan kesehatan yang kurang bermutu dan tidak
profesional, atau kurang empati dalam melakukan program pelayanan kesehatan
terutama di rumah sakit. Terakhir adalah keluhan presiden Megawati baru-baru
ini menyatakan kekecewaannya atas pelayanan kesehatan yang pernah dialaminya
sendiri, acara itu juga dihadiri oleh Menteri Kesehatan dan insan kesehatan
lainnya. Hal ini sebenarnya harus dicari jalan keluarnya.

Oleh Anwar Kurniadi, Skp

Tenaga kesehatan terus-menerus diperbaharui, seiring dengan perkembangan
zaman. Pembagian tenaga kesehatan kita masih dipengaruhi oleh sistem
Belanda, yang menganggap dokter sebagai salah satu tenaga kesehatan yang
utama atau penentu semua kegiatan yang ada, baik di tingkat suprastruktural
maupun infrastruktur. Di tingkat suprastruktural, semua jabatan setingkat
direktorat ke atas (kecuali POM) dipegang oleh dokter, seakan-akan tidak ada
lulusan kesehatan lainnya yang bisa menjalankan roda kebijakan. Sehingga
sering ada kata plesetan dari fakultas nonkedokteran bahwa Depkes itu
singkatan dari departemen kedokteran.
Contohnya seorang dokter sebagai direktur rumah sakit akan memberdayakan
tenaga perawat. Jika dokternya tidak mengetahui perkembangan ilmu
keperawatan yang sekarang menuju era Anglosaxon, di mana perawat sudah mampu
berdiri sendiri dan profesional, maka tentunya masih menganggap tenaga
perawat hanya sebagai tenaga tambahan atau sebagai pembantu dokter. Sehingga
jangan heran, kinerja perawat yang lulusan D3 tidak pernah menerapkan
standar profesionalisme dengan benar, karena hak-haknya diambil oleh dokter.
Dan lebih aneh lagi situasi ini hampir diturunkan oleh para senior dokter
kepada yuniornya. Hanya di Universitas Indonesia (Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo) saja, sosialisasi fungsi dan peran perawat profesional
berjalan baik. Karena para supervisor dan profesor di UI banyak yang tahu
dan mantan lulusan USA, Australia atau Eropa, yang tahu dan mempunyai
pengalaman dalam penerapan sistem profesionalisme, perawat dengan
mengedepankan kemitraan dokter dan perawat dalam merawat pasien.
Peran dan fungsi perawat dan dokter di rumah sakit, sehingga menguntungkan
pasien. Kalau kondisi ini tidak diperbaiki, maka dosa pertama bagi Menkes
khususnya dan dokter pada umumnya. Karena yang sangat dirugikan adalah
pasien. Seharusnya bisa sembuh cepat, akhirnya harus mundur, sehingga beban
biaya bertambah banyak.
Kalau tidak percaya, bisa dicoba, yaitu dokter dipersilahkan cuti satu hari
atau perawat semuanya cuti satu hari dengan kasus yang sama, terutama yang
perlu perawatan. Pasti bila ditinggal perawat satu hari saja, akan gawat
atau meninggal pasiennya daripada yang ditinggal dokter tapi ada perawatnya.

Kurikulum
Kurikulum untuk tenaga inti di institusi pelayanan kesehatan untuk dokter,
perawat dan farmasi sebenarnya memuat ilmu penyakit (fisiologi dan
patofisiologi, sehingga seorang dokter, perawat dan apoteker seharusnya
memiliki pengetahuan dan kemampuan yang sama dalam mengikuti perkembangan
penyakit. Perbedaannya hanya pada perannya di depan pasien. Di negara-negara
Barat apoteker mempunyai kemampuan sesuai bidang penyakit, misalnya apoteker
penyakit dalam, apoteker penyakit anak dan seterusnya. Demikian juga untuk
perawat, misalnya perawat spesialis anak, perawat spesialis gawat darurat,
superspesialis diabetes mellitus dan seterusnya. Pada akhirnya yang untung
adalah pasien karena ketiga tenaga tersebut saling koordinasi dan
berkolaborasi dengan prinsip kemitraan bukan antara bapak buah - anak buah,
sehingga saling mengontrol bila ada kelebihan dan saling menutupi bila ada
kekurangan.
Sebagai contoh konkret: bila ada seorang pasien dengan penyakit DHF derajat
1. Pekerjaan dokter mengkaji dan menentukan pemeriksaan dan jenis obat.
Pekerjaan perawat mengkaji dan menemukan masalah keperawatan, membuat
program perawatan termasuk pendidikan kesehatan (tentang penyakit, prognosa,
pengobatan/perawatan, pemeriksaan diagnostik, makanan/minuman, tindakan
medis lainnya, membuat program pemulangan, menyiapkan pemeriksaan
diagnostik, memberi masukan data akurat ke dokter, dan koordinasi pemberian
obat dan pemeriksaan dengan dokter serta perkembangan pasien setiap hari dan
yang paling penting program perawatan itu sendiri.
Proses pemulangan sebenarnya hak perawat dan bukan hak dokter, tetapi di
Indonesia masih dipegang dokter. Karena yang tahu perkembangan adalah
perawat, sehingga yang punya hak adalah perawat seperti di Barat. Dokter
diperlukan atau tidak di ruang perawatan, sebenarnya juga atas saran kepala
ruangan.
Pekerjaan apoteker adalah menjamin bahwa obat yang telah diresepkan dokter
sesuai dengan perjalanan penyakit hukan karena ingin mendapat fee tambahan
uang dari apotek. Bila ternyata obatnya kelebihan atau tidak sesuai dengan
derajat penyakitnya, maka seorang apoteker tanpa persetujuan dokter, bisa
mengganti dengan yang sesuai.

Kebijakan
Undang-undang kesehatan nomor 23 tahun 1996 sebenarnya masih belum mampu
menampung kinerja masing-masing tenaga kesehatan, karena sifatnya terlalu
global. Profesi kesehatan telah mengadakan pendekatan kepada pemerintah dan
DPR agar dikeluarkan perundang-undangan untuk masing-masing tenaga
kesehatan. Bila disetujui, maka akan memuat segala aturan main yang optimal
bagi tiap-tiap profesi kesehatan, yang tujuan utamanya adalah demi
masyarakat, bukan lagi demi pribadi atau oknum yang mencari kekayaan dan
pasien tanpa melanggar etika profesi.

Era globalisasi
Globalisasi tidak bisa ditolak, tenaga kesehatan asing akan menguasai
institusi pelayanan kesehatan di mana-mana. Penulis kurang optimis kita akan
siap karena undang-undang kita belum siap, ditambah lagi dengan masih
terkungkungnya profesi tenaga perawat dan apoteker masih belum diberi
kesempatan untuk melaksanakan kewenangannya, dan dokter masih bersikukuh
dengan perasaan hegemoninya.***

Penulis adalah praktisi kesehatan di RS AL Muntoharjo Jakarta.



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke