** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Republika
Sabtu, 27 Maret 2004

JIMM: Sebuah 'Teks' Multitafsir
Oleh : Pradana Boy ZTF

Kelahiran Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang baru beberapa
bulan telah melahirkan keresahan dalam diri Muhammadiyah. Di samping
keresahan, beberapa kalangan memang menaruh harapan yang optimis terhadap
kelahiran jaringan ini. Letak optimisme itu, misalnya, terwujud dalam
ungkapan bahwa dalam Muhammadiyah, dinamika pemikiran Islam mengalami
stagnasi.
Dengan bahasa yang agak bombastis, bisa disebut, bahwa selama perjalanannya
yang cukup panjang itu, Muhammadiyah telah mengalami, meminjam istilah
Zakiyuddin Baidhawy, moratorium tajdid. Sehingga kelahiran JIMM dianggap
sebagai upaya menghidupkan kembali ruh pemikiran dalam Muhammadiyah. Namun
demikian, tidak sedikit kalangan yang justru merespon kehadiran JIMM dengan
nada sinis dan bahkan menganggap JIMM sebagai ancaman bagi keberlangsungan
akidah Muhammadiyah.
Hal itu, misalnya, terungkap seperti apa yang dinyatakan oleh Yunahar Ilyas,
ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah, bahwa JIMM
sebenarnya telah menyalahi aturan organisasi Muhammadiyah. Karena menurut
Yunahar, apa yang dilakukan dan dipromosikan oleh JIMM lebih banyak
dipengaruhi oleh isu-isu yang dihembuskan oleh kalangan Barat, sehingga
dengan demikian, JIMM tidak lain, ibarat agen-agen Barat yang hendak
menancapkan kukunya dalam upayanya menghegemoni umat Islam.
Ada banyak kalangan dalam Muhammadiyah yang memiliki sikap serupa dengan
Yunahar, meskipun dengan nada dan bahasa yang agak berbeda. Tidak bisa
dipungkiri memang, bahwa kelahiran JIMM, telah membangkitkan sebuah dikotomi
dalam Muhammadiyah. Berbagai dikotomi menyangkut Muhammadiyah dari aspek
apapun memang sering dan mulai banyak disinyalir. Tetapi, menyangkut JIMM,
dikotomi yang paling mengemuka adalah bahwa JIMM adalah "virus liberal"
dalam Muhammadiyah. Sehingga dikotomi Muhammadiyah literal dan Muhammadiyah
liberal belakangan mulai mengemuka. Kategori ini adalah menyangkut wacana
pemikiran Islam.
Sementara menyangkut kategori lain, muncullah meskipun ini juga bukan barang
baru kategori Muhammadiyah kultural, Muhammadiyah struktural, dan
Muhammadiyah politik. Muhammadiyah struktural merujuk kepada mereka yang
secara organisatoris menduduki jabatan-jabatan dalam Muhammadiyah,
Muhammadiyah politik merujuk kepada sekelompok warga Muhammadiyah yang
bergerak dalam bidang kekuasaan, dan kiprah mereka dalam kaukus kekuasaan
ini juga kemudian berimplikasi pada Muhammadiyah, karena bagaimanapun,
kekuatan Muhammadiyah yang sangat besar merupakan aset politik yang
menggiurkan siapapun.
Tak terkecuali orang Muhammadiyah sendiri. Sementara Muhammadiyah kultural
merujuk kepada sekelompok orang Muhammadiyah yang menjaga jarak dengan dan
bahkan terkesan menghindari persoalan-persoalan struktural, baik pada
tingkatan kenegaraan maupun tingkatan internal Muhammadiyah sendiri. Fokus
kelompok terakhir ini adalah pada kerja-kerja intelektual dan mendinamisasi
Muhammadiyah sebagai ruh dan state of mind. Meskipun sulit disepakati secara
bulat, kita memang tidak bisa menampik kenyataan ini. Atas kenyataan ini,
maka JIMM seringkali dilabel sebagai sayap Muhammadiyah liberal dan
kultural. Jelas, sebutan itu memang bukan lahir dalam ruang kosong, tetapi
ia berdasar pada fakta-fakta empiris yang berkembang selama ini.
Bahwa JIMM sebagai gerakan kultural itu memang sesuatu yang nyata dan tidak
bisa dihindari oleh siapapun, jika yang dimaksudkan dengan kultural adalah
sikap apolitis dan keberpihakan pada domain intelektual. Tetapi dalam hal
Muhammadiyah liberal, tampaknya ada kecenderungan distortif dalam memaknai
kata ini. Istilah liberal memang seolah menjadi momok dalam Muhammadiyah,
atau tepatnya sebagian kalangan dalam Muhammadiyah. Umumnya istilah ini
senantiasa dilekatkan kepada gagasan pemikiran ala Barat. Islam liberal
sendiri, seperti lazim diketahui bersama, diperkenalkan oleh Leonard Binder
dan Charles Kurzman.
Sekadar menyebut definisi, Islam liberal oleh Kurzman dinyatakan sebagai
sekelompok pemikir Islam yang mencoba keluar dari kungkungan tradisi dan
menyejajarkan Islam dengan isu-isu global yang berkembang dalam dunia modern
sekarang ini (Kurzman, 2001). Di samping itu, Islam liberal, dalam banyak
hal sebenarnya lahir sebagai respons terhadap anggapan Barat yang cenderung
menganggap Islam sebagai agama yang identik dengan keterbelakangan dan
keprimitifan. Hanya saja, dalam konteks Indonesia, istilah ini kemudian
secara agregat selalu dilekatkan kepada sekelompok pemikir yang
mengorganisasikan diri dalam Jaringan Islam Liberal (JIL).
Harus diakui, bahwa Islam liberal menjadi begitu populer di negara ini
melalui JIL. Tetapi harus juga dinyatakan di sini bahwa di luar JIL,
sebenarnya banyak kelompok-kelompok liberal yang mungkin saja tidak sama
persis dengan apa yang dilakukan oleh JIL. Dalam hal inilah, maka letak
kesalahan mendasar dalam menilai JIMM adalah manakala liberalisme JIMM
dianalogikan begitu saja kepada JIL. Sangat mungkin, baik JIMM maupun JIL,
mengusung pendekatan-pendekatan baru dalam pemahaman Islam. Tetapi, itu
tidak bermakna bahwa keduanya saling mempengaruhi dan atau yang satu
merupakan perpanjangan dari yang lain.
Karena itu, jika sebagian orang mempersepsi JIMM sebagai kumpulan anak-anak
muda liberal, dalam banyak hal mungkin itu bisa dibenarkan. Tetapi jika yang
dimaksudkan dengan liberal itu adalah JIL, maka perlu dilakukan pelurusan
lebih lanjut terhadap persoalan ini. Lebih jauh, kelompok liberal seringkali
dipersepsi sebagai sekelompok pemikir yang ingin melepaskan diri dari
hegemoni tradisi dan adat. Anehnya, persepsi itu kemudian diikuti dengan
simplifikasi bahwa kelompok liberal juga meninggalkan teks al-Quran dan
Sunnah dalam menggapai gagasan-gagasannya.
Sebenarnya, kelompok dan aliran apapun dalam Islam, baik yang liberal atau
literal, sama-sama mendasarkan diri pada al-Quran dan Sunnah. Letak
perbedaannya adalah pada bagaimana kedua kelompok ini memperlakukannya.
Dalam hal ini, Musthofa Kamal Pasha, menyebut penggunaan hermeneutika dalam
penafsiran al-Quran yang diusung oleh JIMM, sama sekali tidak berdasarkan
Islam. Hermeneutika adalah barang asing dan barang impor dari agama Kristen
(Barat) (Suara Muhammadiyah No 04/Th ke-89, halaman 7). Padahal dalam buku
pertamanya, JIMM nyata-nyata mengusung judul Kembali ke al-Quran, Menafsir
Makna Zaman (UMM Press, 2004). Pengambilan judul ini, tentu bukan sekadar
slogan tanpa makna, tetapi benar-benar sebagai sebuah upaya untuk
menyegarkan adagium "Kembali ke al-Quran" yang selama ini
didengung-dengungkan Muhammadiyah.
"Kembali ke al-Quran," menurut Moeslim Abdurrahman, adalah kerja intelektual
dan bukan mencari sumber otoritatif yang tertutup, juga bukan merekonstruksi
sejarah masa lalu. Tetapi sebaliknya, melakukan dekonstruksi teks untuk
melakukan dialog peradaban yang kini menantang Islam dan umat Islam di
mana-mana. Apalagi, dalam konteks dialog peradaban global seperti yang
sekarang berlangsung, Islam memerlukan ketegasan sikap terhadap orang lain
dan dengan jujur mengakui bahwa Islam telah menjadi kenyataan sejarah
(Moeslim, 2004).
Sebagai kenyataan sejarah, maka Islam dan pemikiran Islam, mau tidak mau
harus menyapa aspek-aspek lain dalam kehidupan ini, seperti diskursus
politik, ekonomi, dan kebudayaan. Karena jika itu tidak dilakukan, maka
seperti ditulis oleh Ebrahim Moosa, Islam akan merana. Dengan demikian,
"Kembali ke al-Quran" yang diusung oleh JIMM adalah menempatkan al-Quran
sebagai spirit utama dalam dinamika zaman yang semakin kompleks.
Baik kompleksitas sains, politik, ekonomi, maupun perkembangan ilmu-ilmu
maupun isu-isu kemanusiaan yang belakangan semakin menggurita. Teori spider
web Amin Abdullah yang memberikan deskripsi yang sangat berarti bagaimana
menempatkan al-Quran di tengah kompleksitas yang sedemikian rupa itu,
mungkin bisa dijadikan model oleh JIMM. Apapun kenyataannya, JIMM memang
telah menjadi "teks" yang dikonsumsi oleh publik. Sebagai teks, maka ketika
ia terpisah dari diri pengarangnya, ia telah menjadi sesuatu yang otonom.
Sehingga, sangat wajar jika "teks" yang bernama JIMM itu telah melahirkan
banyak interpretasi. Sayangnya, seringkali interpretasi terhadap JIMM
sebagai sebuah teks tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar teks
itu. Meskipun ia adalah teks yang otonom, tetapi konteks lahirnya teks itu,
dan para "pengarang" yang terlibat di dalamnya, seharusnya tetap
dipertimbangkan. Itulah yang selama ini tidak berlangsung, sehingga
interpretasi terhadap "teks" itu lebih bermakna sebagai "pengadilan" in
absentia terhadap JIMM dan bukan interpretasi yang dialogis dan produktif.
Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah, Dosen FAI UMM







 . Politik Uang di PKS Sebuah Teror Politik


 . KPU Pusat Tuntaskan Logistik Pemilu di Wilayah Sumut


 . Empat Jenazah Ditemukan, 40 Hilang pada Bencana Banjir Lumpur di Gowa


 . Sby: Pemilu Ditunda Bisa Munculkan Spekulasi Baru


 . Paus Mengeluh Agama Semakin Terlupakan


 . Panwaslu Larang Kehadiran Jurkam Tamu


 . Yusril: Parpol Bisa Gugat KPU Karena Keterlambatan Logistik


 . 100 Cedera Dalam Gempa di Mongolia


 . FTA dengan AS tidak Mungkin Diratifikasi Sebelum Lawatan Howard ke AS


 . Wapres: Pembakar Bendera Parpol Harus Ditindak Tegas



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke