** Milis Nasional Indonesia ppi-india ** FYI. (jutaan arwah penasaran melayang diatas kehidupan ketidakadilan di indonesia...).
--- In [EMAIL PROTECTED], Mira Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: heru atmodjo <[EMAIL PROTECTED]> Subject: BBC Interview Korban Massacre '65 Date: Sat, 27 Mar 2004 08:13:16 -0800 (PST) BBC Interview Korban Massacre '65 Linda Pressly, journalist, Word Current Affairs dari BBC, hari ini bersama Christoffer, rekannya, dan seorang interpreter, Nabiha, BBC local, minta bantuan PEC untuk pergi menemui korban '65 korban pembunuhan massal 65, suami misteri di Tangerang. Semula seorang yang relatif mapan, bapaknya hilang dalam peristiwa 65, ketika diminta untuk interview menolak, tak bersedia menjadi obyek studi, katanya. Telah diusahakan untuk interview isteri dan anak Bung Nyoto. Tapi mencari alamatnya, sulit didapat. Kedatangan rombongan ini ke Tangerang tepat waktu, jam 08:30 sudah siap. Baik obyek interview maupun team penginterview sudah lengkap. Yang diinterview ditanya apakah namanya boleh dibuka atau dengan anonim? Sang suami tidak keberatan namanya disebut lengkap, tapi isteryna keberatan. Keluarga ini suami isteri, adalah pasangan korban '65. Sang suami tahun 1965 tinggal di Pemalang, baru berumur 17 tahun. Memang ia waktu itu adalah anggota Ikatan Persatuan Pelajar Indonesia (IPPI) ketika itu. Ayahnya diambil, diculik dari rumahnya, tepatnya tanggal 5 Oktober 1965, tidak tahu dibawa kemana. Pamannya yang pemuka masyarakat di desa itu, hilang tak kembali hingga sekarang. Ayahnya, akhirnya kembali dari pembuangan Pulau Buru. Tentu ini meruipakan suatu hal yang luar biasa. Orang hilang sekian tahun dapat pulang kembali. Sebagai pelajar, sebenarnya ia tak ingin meninggalkan kampung halamannya. Tapi ibunya mendesak agar meninggalkan daerah itu. Suasana di desanya sangat mencekam, banyak orang diculik, dibawa tidak kembali. Akhirnya keluarga sipa melawan dengan menyiapkan segala sesuatu alat perlawanan. Serbuan penculikan tidak terjadi. Hanya banyak rumah dibakari. Karena itu ia lari dengan menyamar, menuju Jakarta. Di Jakarta, sempat bekerja sebagai jurutulis di toko serba ada Sarinah. Tapi kemudian, tokh ada orang yang menunjukkan, bahwa ia adalah anggota keluarga PKI. Ia ditangkap Satgas Intel "Kalong" yang terkenal kejamnya. Disiksa, disetrum Kedua jarinya dimasukkan ke dalam cincin listrik. Batterai diputar. Strum mengalir, bukan main sakitnya, katanya. Luar biasa, mengenai otak, kejutan luar biasa sakitnya. Ia digebuki, dihajar oleh orang yang badannya kekar, yang dipanggil BOB, dan Kapten Suroso komandan "Kalong". Mereka ini adalah algojonya. Terhadap dia, nampaknya karena dianggap anak kecil, muda, diperlakukan tidak terlalu ditekan, kecuali seperti disebut tadi. Dan pada akhirnya ia dipindahkan ke Salemba dari Satgas Kalong itu. Disini tidak terlalu banyak penyiksaan di depan mata. Kemudian dipindahkan ke Tangerang. Di Tangerang mengalami pembebasan paling akhir. Masalahnya, Kodam masih menginginkan agar lahannya yang terdiri dari persawahan, agar tetap dapat dipertahankan, tidak dikembalikan ke Penjara (Lembaga Pemasyarakatan). Isterinya, baru umur delapan tahun pada 1965. Ketika ia pulang dari sekolah, ayahnya diambil oleh tentara yang bersenjata. Memang sudah banyak yang ditangkap dan diculik. Ayahnya termasuk mendapat giliran. Sebagai seorang sekretaris Kabupaten, termasuk yang disegani dan dihormati. Bersama orang lain dikumpulkan di sebuah tempat tahanan. Kemudian ada pemberitahuan bahwa orang-orang PKI akan dibunuh semua. Benar, akhirnya suatu ketika, bapaknya terakhir masih sempat bertemu dengan anak dan keluarganya. Ia dielus-elus oleh ayah tercinta, dan diminta agar tidak menangis. Bapak tidak apa-apa, katanya. Beberapa hari kemudian ada berita bahwa Bapaknya telah dibunuh. Dikubur dalam satu lubang bersama dua orang lain. Lobang itu sempat diberi tanda oleh orang yang diperintah menggali lubang. Lubang itu berisi si Bapak, Bupati Boyolali dan seorang lagi. Baru dua tahun lalu, 2002 keluarga ini boleh nyekar ke tempat kuburan ayahnya. Tak dapat diceriterakan kesedihan, tangis dan jerit ketika berita itu diterima. Linda, BBC, menanyakan bagaimana persaannya. Yang diinterview terus menangis, ketika ditanya mengenai hal-ikhwal Bapaknya. Malah kakak perempuannya menganjurkan, agar sudahlah tidak usah dibicarakan lagi, katanya. Trauma masih mengahantui keluarga itu sampai hari ini. Ketika Linda, BBC, menanyakan tentang pembunuhan, dijelaskan bahwa di desanya, Boyolali, 90% penduduknya adalah simpatisan dan anggota PKI sebelum1965. Jumlah penduduk di desa itu kira-kira 300.000 orang. Yang dibunuh dan hilang 250 000 orang. Pembunuhan dilakukan , dengan terlebih dahulu korbannya diculik, dipaksa ikut. Esok harinya kepalanya sudah dipenggal, ditusuk dengan bambu, dan dipancang di jalan-jalan. Katanya supaya rakyat tahu PKI itu harus dibegitukan. Ketika sang suami, pernah berkunjung, ke temapat tahanan, pernah melihat ratusan orang di sebuah ladang duduk dengan tangan di belakang kepalanya. Suasana sepi, nyenyak. Di antara mereka ada yang tangannya luka-luka, ada yang kepala dan mukanya berlumuran darah.. Mereka menunggu eksekusi yang biasanya dilaksanakan pada malam hari. Linda, BBC, tanya pada yang hadir dalam interview itu, apakah ada yang anggota PKI. di antara yang hadir. Tidak ada yang bersedia mengaku. Dalam interv iew, menurut Linda, pengalamannya tidak menemukan yang mengaku PKI. Padalah PKI itu katanya dalam 1965 itu anggotanya 3 juta orang. Untuk itu ada yang menjawab, memang, tapi itu kan angka-angka statistik. Dan praktek keanggotaannya hanyalah dengan menandatangani surat pendaftaran saja, katanya, dan itu dianggap anggota. Suasana interview memang mencekam ketika korban menceritakan pengalamannya. Air mata Korban tak dapat dibendung, ingatannya melayang ke kejadian sekian puluh tahun yang telah silam, masih terbayang. Suasana hening, menunggu reda isak tangis yang diinterview. Sang suami mengatakan, bahwa hal ini tak banyak orang, tetangga yang tahu, karena memang tetap disembunyikan, tidak diceriterakan kepada siapa-siapa. Kali ini BBC berhasil, tentu karena suasana secara umum memungkinkan. Christoffer, rekan Linda, bertanya, mengapa pemerintah Indonesia tidak berusaha menghilangkan trauma rakyatnya. Tentu hal ini mendapat jawaban dari yang hadir, justeru inilah yang kita harapkan, perjuangan kita dengan mengirim delegasi ke Geneva segala dapat tercapai. Tapi hasilnya masih sangat kecil sekali. Linda berusaha menutup interv iew itu dengan mengajak menyanyi lagu apa yang dulu paling disukai. Korban usul menyanyikan "Genjer-Genjer" (HeA) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada. http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511 http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

