** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0403/29/opini/933979.htm
Senin, 29 Maret 2004
Politik Alibaba
Oleh Indra J Piliang
PANGGUNG kampanye Pemilihan Umum 2004 terasa kurang bergairah. Seolah, seluruh kerja
politik lima tahun ini tak digunakan maksimal oleh peserta pemilu, baik partai
politik, calon anggota legislatif, maupun calon anggota Dewan Perwakilan Daerah.
Meski halaman media cetak bertambah dengan berita kampanye, terasa betapa keringnya
wacana pembaruan yang disampaikan peserta pemilu. Iklan di layar kaca, radio, dan
medium Internet pun menjadi benar-benar sekadar iklan komersial sehingga kehilangan
substansi berupa program kerja yang dijanjikan.
Padahal, peserta Pemilu 2004 adalah pihak paling dimanja selama lima tahun, terutama
enam partai politik yang lolos electoral threshold Pemilu 1999. Manakala seluruh
bangsa terjebak krisis, bencana alam, sampai kehancuran ekologis, seluruh proses
politik dan kenegaraan diarahkan untuk menyiapkan Pemilu 2004. Dimulai lewat perubahan
UUD 1945, penyusunan paket UU politik, sampai penyediaan hari-hari yang mestinya untuk
bekerja, menjadi arena kampanye.
Masyarakat sudah terlalu banyak mengorbankan diri bagi kepentingan peserta pemilu.
Partai-partai politik bahkan leluasa saat bisa mengambil uang dan aset negara secara
legal konstitusional, baik lewat penyiasatan peraturan maupun struktur Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara. Pundi-pundi partai-partai politik langsung kinclong
menghadapi musim kampanye.
Apa balasannya? Peserta Pemilu 2004 tidak menyiapkan diri dengan baik. Lihat materi,
cara, dan metode kampanye yang dilakukan. Terlalu miskin inovasi. Penuh basa-basi.
Kampanye hanya menjadi ajang arak-arakan memacetkan jalan. Kata dan kalimat tak diukir
dan dipikir tajam, sekadar lontaran tak bertanggung jawab. Kampanye menjadi ajang
keluarnya pikiran-pikiran busuk politisi busuk dalam bentuk saling serang dan silang
pendapat menggunakan bahasa-bahasa rendahan.
Bagaimana bangsa ini bisa muncul dengan ketinggian bahasa, budaya, dan peradaban bila
partai politik dan politisi tak menyiapkan diri dengan baik? Bila yang dipikirkan
hanya kursi lalu Anda duduk di sana, bekerja di sana, mempertontonkan berbagai bentuk
penyalahgunaan tanggung jawab politik, untuk apa kampanye digelar? Juga, untuk apa
politik, partai politik, parlemen, dan negara?
MALASNYA peserta pemilu menunjukkan masyarakat politik baru dalam tahap pembelajaran.
Berbagai nilai bertabrakan, mulai dari yang berbau mitologis seperti "antek Soeharto",
sloganistis seperti "kesejahteraan", sampai mistifikasi atas nomor urut peserta
pemilu. Proses politik belum menjadi ajang unjuk keluhuran budi, ketinggian rasio, dan
kekuatan imajinasi. Politik uang dijadikan alat ukur kesetiaan dan dukungan padahal
amat berbahaya mengubah masyarakat yang berakal budi menjadi sekadar pengejar materi.
Kampanye pemilu dengan amat telanjang telah mengkhianati cita-cita dari demokrasi.
Nilai-nilai palsu yang menyingkirkan kecintaan atas manusia dan kemanusiaan telah
diinjeksi peserta pemilu dengan cairan materialisme dan hedonisme.
Berbagai dimensi keluhuran dan kebaikan bangsa ini ditenggelamkan peserta pemilu yang
berkiblat kepada kursi. Nepotisme merajalela. Masyarakat dibelah-belah menjadi
perebutan diskursus keordean, Orde Lama, Orde Baru, atau Orde Reformasi. Pembelahan
masyarakat atas dasar orde menunjukkan betapa partai politik dan politisi mempunyai
pikiran amat terbatas. Begitu banyak nilai keindahan, ilmu pengetahuan, kekayaan alam,
dan kearifan tradisional negeri ini, tetapi tak sebaris kalimat pun muncul dalam
bahasa yang diucapkan politisi.
Bukan hanya itu, sejumlah nama diusung sebagai "dewa" penyelamat. Berderet-deret nama
itu secara mayoritas adalah bagian dari rezim politik yang gagal membawa kemaslahatan
bangsa Indonesia, tetapi tetap dimajukan ulang. Inilah pemilu yang dikuasai para
veteran politik atau politik daur ulang. Tak banyak pembaruan. Regenerasi politik
mengalami kemacetan, terkanalisasi dalam apa yang dikenal sebagai bottle neck politik.
Peremajaan politik tinggal impian, saat berbagai orang lama dengan pikiran lama
menjajakan diri di tengah masyarakat yang berubah. Akibatnya, sikap "emang gue
pikirin" melanda anak muda, terutama pemilih pemula yang berjumlah sekitar 20 juta
orang.
Generasi yang dihidupi krisis mengalami krisis identitas serta berbagai perkembangan
teknologi modern sekaligus bentuk mutakhir kejahatan, seperti terorisme, dan penyakit
menular tidak diberdayakan dan kurang perhatian secara politik.
UNTUK itu harus ada yang mengambil jarak dari prosesi kampanye pemilu yang terasa
menumpulkan akal sehat ini. Berbagai komponen masyarakat sipil sebenarnya ada di
luarnya, baik dalam bentuk keterlibatan dalam gerakan masyarakat sipil maupun pengawas
dan pemantau bahkan penyelenggara pemilu. Terasa begitu berbedanya sikap mereka
dibandingkan dengan Pemilu 1999.
Saya menyebutnya sebagai politik Alibaba. Ketika 40 penyamun mendatangi rumahnya dan
memberi tanda silang, Alibaba bersama istrinya memberi pelajaran dengan teramat
cerdik, yakni dengan memberi tanda silang pada seluruh rumah. Penyamun kebingungan
menghadapi keluguan sekaligus kecerdikan Alibaba dan tetangganya. 40 penyamun itu mati
terperangkap dalam bejana yang dimasukinya sendiri.
Kini saatnya memberi tanda silang kepada seluruh politisi yang memperagakan metode
penyamunan uang rakyat, lantas merasa berbaik hati dengan membagikannya. Juga, saatnya
memberi balasan setimpal kepada politisi yang telah berbuat teror bagi kepentingan
semata. Keheranan mestinya ditujukan kepada politisi dan partai politik yang
mengeluarkan begitu banyak uang, ditambah timbunan janji lama dan baru, justru di saat
negara sedang menghadapi kebangkrutan.
Peserta pemilu mestinya belajar dari kesalahan yang dibuatnya. Juga politisi yang
menyusun paket UU politik yang akhirnya menyebabkan kehidupan politik begitu
menyebalkan, membosankan, penuh retorika dan janji basi. Tidak pada tempatnya
bermalas-malasan dalam berpolitik ketika jutaan rakyat bekerja keras hanya sekadar
untuk bertahan hidup.
Indra J Piliang Peneliti CSIS, Jakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/