** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Sungguh satu cerita yang menyedhkan dan mengharukan. Kita tidak habis
pikir mengapa itu harus terjadi. Tapi itulah kenyataan hidup waktu
itu. waktu yang penuh gejolak. Ini juga memprihatinkan, tapi masih
ringan dibanding kejadian yang menimpa para kiyai dan santri di
daerah Mojokerto Jawa Timur yang pagi-pagi Subuh sedang melaksanakan
sholat subuh dibantai habis oleh orang-orang lain, orang-orang yang
diduga adalah antek-antek PKI - mereka sedang melakukan pembabatan
atas orang yang beragama, terutama Islam.... Ini juga satu
kesedihan, satu kejadian pada zaman edan itu... Kalau hanya dipukuli,
masih ringan. Lha kalau dibunuh? Wah repot juga ya ...
Tapi sudahlah, itu sudah berlalu. Dan syukurlah bahwa sekarang anak-
anak para tokoh yang dulu berseberangan dan malah beradu kekuatan
sudah pada damai - menunggu Indonesia baru -- anak-anak Kahar Muzakir
dari Sulsel, anak anak Karto suwiryo yang mereka menderita oleh ulah
PKI dan teman-temannya, anak-anak Aidit DKLK sert anak-anak Ahmad
Yani - yang terakhir menjdi korban kebrutalan orang2 yang berhaluan
kiri - semuanya semoga pada damai sekarang....
Ayohlah pada damai dan hidup sejahtera....
--- In [EMAIL PROTECTED], "Budhisatwati KUSNI" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Pengantar:
>
> "Aku Dipukuli Di Sekolahku" tulisan Arjo Pilang adalah pengalaman
nyata dialaminya ketika ia masih di SMA Teladan Yogyakarta. Demikian
pula cerita tentang May Hwa, Elanjaya dan Jelitheng.
>
>
>
> Keterangan ini saya sampaikan untuk pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan melalui japri kepada saya sekaligus menyampaikan terimakasih
atas perhatian.
>
>
>
> JJ.Kusni
>
> --------
>
> Paris, Maret 2004.
>
>
>
>
>
> Aku Dipukuli di Sekolahku
>
>
>
> Hingga pertengahan Oktober 1965 setelah tragedi besar di tanah air
itu terjadi 2 minggu sebelumnya, suasana kota Jogjakarta masih
seperti biasa. Tak ada sesuatu yang sangat istimewa. Tetap tenang,
kuno dan kalem tanpa gejolak. Suasana yang lekat dengan kehidupan
kraton yang mewarnai masyarakatnya yang berperi laku halus, hati-
hati serba penuh aturan hormat yang santun, masih tetap tak berubah.
Waktu terasa berjalan lambat dan alon-alon. Aku mengenalnya dengan
baik karena di kota aku dibesarkan dan telah tinggal di sana sejak
kelas 3 SD dan kini aku telah menjadi terbiasa mengikuti denyut irama
hidupnya, bahkan mungkin telah menjadi bagian hidupku pula. Paling
tidak begitu lah yang aku rasakan waktu itu, masyarakat sekeliling
masih belum nampak terpengaruh atau bereaksi oleh berita yang datang
mengejutkan beberapa hari sebelumnya bahwa di Jakarta telah terjadi
percobaan perebutan kekuasaan Presiden Soekarno oleh Dewan Jendral,
yang disusul kemudian dengan pembunuhan terhadap beberapa Jendral
Angkatan Darat. Menurut berita yang disiarkan RRI, gerakan tersebut
telah berhasil ditumpas. Aku senang juga mendengar Presiden Soekarno
selamat. Namun aku merasa berita tersebut masih belum jelas benar,
masih simpang siur. Apalagi kemudian disebutkan oleh beberapa mass
media bahwa gerakan G30S (Gerakan 30 September - yang lalu ditambah
embel-embel PKI -, tapi Presiden Soekarno menyebutkan Gestok -
Gerakan 1 Oktober, karena memang peristiwa pembunuhan para jendral
itu terjadi pada dini hari 1 Oktober. Lawan politik lebih suka
memanfaatkan permainan kata dengan istilah "Gestapu" karena
menganalogikan pada kekejaman "Gestapo Nazi") itu didalangi oleh PKI.
Mendengar kabar itu aku tak terlampau heboh menerimanya. Keningku
hanya berkerenyit, apa iya PKI terlibat? Logikaku merasakan beberapa
kejanggalan sehingga aku tak cepat percaya dan perlu pembuktian lebih
jauh lagi. Barangkali karena aku sudah terhanyut oleh situasi politik
tanah air belakangan yang terasa makin memanas, sehingga aku lebih
berat menduga inilah puncak dari ketegangan tersebut sehingga lawan-
lawan politik PKI memanfatkan untuk menyudutkan dan memukul PKI
sebagai biang kerok. Setiap hari suasana politik gegap gempita dan
riuh rendah meriah oleh pernyataan-pernyataan organisasi dan partai
politik yang saling bersebrangan. Antara yang pro Soekarno dan anti
Soekarno makin mengemuka. Antara yang dikatakan sebagai anti
Pancasila berhadapan dengan yang pro Pancasila. Perimbangan kekuatan
nampak seimbang sama kuat, baik gerakan nasionalis yang diwakili oleh
PNI, lalu kaum progressive revolusioner yang diwakili PKI, dan di
lain pihak adalah partai-partai agama Islam seperti NU, PSII dlsb.
Setiap hari ada saja pergesekan-pergesekan yang tak jarang mengarah
pada kekerasan dari masing-masing golongan itu satu sama lain. Setiap
momentum yang menguntungkan sesuatu golongan, selalu ditampilkan
dengan penuh gegap gempita, heboh dan besar-besaran yang dinyatakan
a.l. dengan rapat umum, apel siaga, pawai drumband, konvoi dengan
segala atributnya yang mungkin sekaligus dimaksudkan untuk unjuk
kekuatan kepada pihak lain.
>
> Jogja kurasakan masih penuh santun dan kalem, tetapi entah ya yang
terjadi sesungguhnya dalam hati orang-orangnya? Bisa jadi merupakan
api dalam sekam. Ketika itu orang juga belum memperhitungkan militer
akan menentukan kehidupan bangsa ini selanjutnya.
>
>
>
> Tentu saja, sesuai jalur yang aku pilih pada organisasi kepemudaan
itu, aku pun terlibat dengan keriuhan itu. Di mata remajaku, aku
senang-senang saja dan tak keberatan sama sekali. Malah aku menikmati
dinamika yang rasanya cocok saja dengan suasana waktu itu. Mungkin
juga bagian dari aktualisasi diriku sebagai remaja yang sedang
tumbuh. Aku pun sudah menjatuhkan pilihan pada satu kelompok
organisasi yaitu IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia). Bahkan aku
dipercaya menjadi salah seorang yang ketua IPPI unit sekolahku SMA
Teladan. Sadar bahwa SMA Teladan bukan basis yang kuat untuk IPPI,
karena di sana telah dominan PII (Pemuda Islam Indonesia) dan GSNI
(Gerakan Siswa Nasional Indonesia), maka belum banyak program gerakan
dan kegiatan di sekolah yang berjalan atas nama IPPI. Kami hanya
mencoba mengimbangi eksistensi kedua organisasi pelajar yang
bersebrangan bahkan berlawanan pilihan politiknya itu yang telah
lebih dulu ada. Dibanding mereka, anggota IPPI SMA Teladan tak
terlalu banyak. Tak lebih dari 20 orang saja dari seluruh kelas yang
ada.
>
>
>
> SMA Teladan, yang dikenal juga sebagai SMA Negeri I, terletak di
bagian barat kota Jogjakarta, kira-kira 4 km dari rumahku yang
terletak di bagian timur, melewati daerah muslim yang kental yaitu
daerah Kauman. Karena lokasinya yang berdekatan itu maka banyak
temanku yang bertempat tinggal di situ bersekolah di SMA Teladan.
Kalau PII kuat di sekolahku itu maka tak lah heran. Mereka lah anak-
anak santri Kauman itu yang umumnya pengusaha batik dan perak. SMA
Teladan memang termasuk salah satu sekolah elit di Jogja. Hanya
golongan masyarakat kelas menengah saja yang mampu sekolah di situ,
meski itu sekolah negeri. Mungkin hal itu yang membuat tidak populer
bagi anak-anak dari golongan yang orangtuaku pilih jalur politik
perjuangannya, yaitu rakyat jelata. SMA Teladan jelas bukan tempat
bagi mereka.
>
>
>
> Pagi itu seperti biasa aku ke luar rumah berangkat ke sekolah
dengan perasaan yang ringan-ringan saja. Seharusnya aku punya feeling
yang lebih tajam. Tapi sungguh mati, aku tak melihat suatu perubahan
pada kenalan atau tetangga-tetangga yang kukenal sangat baik.
Sapaannya masih terasa hangat ketika bersua di jalan. Nenekku
seperti biasa pula mengantar ke pintu pagar rumah setelah dengan
penuh perhatian menemaniku sarapan. Tak sedikit pun aku punya firasat
atau merasakan ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang besar
menimpa saya. Seperti kebiasaan yang aku lakukan setiap hari pada
waktu yang sama, di ujung jalan Gledegan sebelum ke luar ke jalan
Taman Siswa, aku berhenti sesaat dengan masih duduk di atas sadel
sepeda dengan menahan satu kaki di tanah. Aku menunggu pacarku lewat
untuk berangkat bersama. Rumahnya tak terlalu jauh dari jalan
Gledegan di mana aku berhenti sejenak untuk menunggunya. Dari situ
aku biasanya bisa melihat pacarku sudah mulai siap juga ke luar rumah
dengan sepedanya dengan saudara-saudaranya. Aku tinggal menunggu
menyertai bersama-sama bersepeda saat ia mulai melewati diriku, yang
biasanya diawali dengan sapaan saling tersenyum. Kami bersepeda
berbareng hingga di persimpangan jalan yang memisahkan kami menuju
tujuan sekolah masing-masing. Ia sekolah di SMAN III yang terletak
di bagian tengah kota. Aku melanjutkan ke arah barat sambil
melambaikan tanganku kepadanya, melirik saling melempar senyum.
>
>
>
> Aku masuk klas seperti biasa. Pada saat-saat itu kami murid kelas
III langsung sibuk belajar dengan banyak latihan mengulang pelajaran-
pelajaran, menyiapkan diri untuk ujian akhir SMA yang tak lama lagi
berlangsung. Aku sangat akrab dengan semua teman di kelas meski jelas
kami telah dibedakan oleh beberapa aliran organisasi pelajar. Dalam
kelas kami tak pernah mempersoalkannya benar bahwa kami berbeda
aliran. Kami tak membeda-bedakan atau mengelompok sendiri. Kami
bergurau dan bercengkerama seperti biasa, bahkan terkadang terselip
olok-olok tentang "warna"ku itu yang kutanggapi dengan gembira saja.
>
>
>
> Ketika jam istirahat ke II tengah hari, sebagaimana biasanya aku ke
luar untuk mengisi perut di mBok Bon di belakang sekolah. Selesai
jajan saya berjalan pelan untuk kembali ke kelas. Masih di halaman
itu, tiba-tiba tanpa kuketahui datangnya aku dicegat oleh beberapa
teman yang aku kenal baik yang aku tahu pula mereka adalah anggota
PII. Mungkin ada sekitar 10 orangan. Mereka berteriak-teriak ganas
sambil menunjuk-nunjuk, "Gestapu..gestapu..PKI..PKI." Aku terpana
sejenak. Lalu mereka mengeroyokku dengan tonjokan. Aku terjatuh dan
dipukul ramai-ramai hingga kacamataku lepas. Pada awalnya aku kaget
juga atas serangan tak terduga itu. Aku tak tinggal diam menerima
begitu saja perlakuan tersebut. Herannya aku tak merasa gentar. Aku
pun mencoba melawan tapi tak ada gunanya. Terjadilah pertarungan
yang tak seimbang. Mereka terlalu banyak. Aku terjatuh. Namun
beruntung penganiayaan itu tak berlangsung lama dan aku tak mengalami
luka sedikit pun. Hanya memar sedikit di wajah. Bagai layaknya
pesakitan yang baru ketahuan nyolong sepeda, aku ditarik berdiri,
kedua tanganku lantas ditelikung ke belakang dan digiring ke dalam
sekolah. Entah siapa, ada yang menyodorkan kacamataku yang segera
kupakai kembali. Aku dibawa ke ruang guru di lantai II diiringi sorak
sorai cemohan dari teman-temanku. Tapi aku tetap berjalan dengan
tegak dan tetap melemparkan senyum pada teman-teman yang memandangku
dengan pandang kasihan, barangkali. Sedikit pun aku tak merasa takut.
Aku tak merasakan suatu kepahitan atau aku merasa bersalah maka aku
tak ingin menunjukkan sebagai orang pesakitan karena aku telah
melakukan tindakan hina bagai tindak kriminal seorang maling
misalnya. Dan tak pula aku menunjukkan kebencianku kepada mereka yang
menganiayaku tadi. Sekolah nampak gaduh. Namun aku tak melihat teman-
teman anggota IPPI lainnya. Ke mana mereka? Apakah mereka juga
mendapat perlakuan seperti aku, tetapi aku tak melihatnya seorang
pun. Berita peristiwa pemukulan itu cepat menyebar, kulihat aku
menjadi pusat perhatian semua murid sekolahku itu, yang nampak
melongok dari seluruh jendela bangunan sekolah yang bertingkat tiga
itu. Ketika aku berjalan digiring ke dalam sekolah kudongakkan
kepalaku ke atas dan kusebar pandangan kepada mereka. Aku tetap tegar
dan selalu senyum, tak sedikit pun kutunjukkan kegetiranku. Aku pasti
jadi sangat terkenal di sekolahku.
>
>
>
> Dalam ruang itu aku duduk di kursi dilindungi para guru. Tak
seorang pun murid boleh masuk. Di luar ruangan masih terdengar ramai
teriakan, "Gestapu..Gestapu.. PKI..PKI..," suara teman-teman bernada
garang dan marah yang ingin menghabisi aku. Disertai dengan teriakan
cemohan seperti itu, tak lama kemudian menyusul masuk satu persatu
teman-teman anggota IPPI lain dari seluruh kelas yang juga mendapat
penganiayaan sama seperti aku. Di antaranya ada yang didorong kuat
ke dalam ruangan hingga terjerembab. Rupanya aku yang pertama kali
mereka keroyok lalu menyusul teman-teman anggota IPPI lainnya itu.
Kami saling memandang sejenak, kecut. Tak banyak yang bisa kami
lakukan. Semua duduk diam dengan pikiran masing-masing. Aku lihat
beberapa wajah temanku pucat ketakutan, terutama yang perempuan,
menangis pelan sesenggukan. Sebagian menundukkan kepalanya dalam-
dalam, sebagian berangkulan sesamanya. Aku mencoba menghibur diri,
kutegakkan kepalaku dan mencoba melempar senyum kepada mereka,
memberi isyarat tak apa-apa. Tenang saja. Tak tahu bagaimana, saat
itu aku punya kekuatan apa sehingga aku masih bisa bersikap begitu
tenang. Tak pula terlintas di pikiranku rasa was-was atau jeri,
sesudah itu kami mau diapakan? Bapak dan ibu guru yang berada di
ruang itu pun tak melakukan apa-apa. Tak juga bicara sekali pun. Kami
tetap duduk dengan diam satu sama lain. Kami tenggelam dalam pikiran
masing-masing, sambil sesekali masih terdengar sesenggukan pelan dari
temanku perempuan yang rupanya belum mampu berhenti menangis.
>
>
>
> Tak lama kemudian kami semua diminta oleh seorang guru untuk
mengikutinya ke luar. Kami beriringan berjalan. Tak tahu kami mau
dibawa ke mana. Beberapa teman tak bisa menyembunyikan ketegangan
wajahnya, nampak kecut, bertanya-tanya dan takut. Matanya masih basah
oleh air mata yang mengalir di pipinya. Gang dalam sekolah telah
sepi. Teman-temanku yang tadi riuh di luar ruangan telah kembali
belajar dalam ruangan kelasnya masing-masing. Rupanya kami dibawa ke
luar sekolah dan di halaman sekolah ternyata telah menunggu sebuah
truk terbuka. Kami diminta naik ke atasnya. Tak ada yang kami bawa
kecuali pakaian yang kami sandang. Truk berangkat, kami dibawa pergi
diiringi ratusan mata teman-temanku murid SMA Teladan yang akhirnya
berebut melongok ke luar di setiap jendela ruangan kelas gedung tiga
tingkat itu. Ada pula yang melambai-lambai tangannya. Kami hanya bisa
memandang kelu hingga gedung sekolahku hilang dari pandangan ketika
truk membelok ke luar ke jalan besar. Baru tahu lama kemudian itulah
hari terakhir kami bersekolah di SMA Teladan.
>
>
>
> Tak lama berjalan truk masuk ke halaman bangunan tua dan berhenti.
Ternyata kami diminta turun di situ, di Kantor Polisi Ngupasan, di
samping Istana Presiden. Kami dikumpulkan dalam suatu ruangan, satu
persatu kami dipanggil dan duduk di depan seorang berpakaian seragam
polisi. Kami ditanya nama, alamat, nama orangtua dan pertanyaan-
pertanyaan umum lain, termasuk di organisasi IPPI sebagai apa,
kegiatannya selama ini dlsb. Anehnya tidak ditanya terjadinya
peristiwa kami dipukuli itu. Sesudah itu kami diminta ke ruangan
agak luas seperti aula di sebelah tempat kami ditanya tadi. Kami
bergerombol di sana mencari tempat masing-masing. Aula itu kosong tak
ada kursi satu pun. Entah biasanya ruangan untuk apa. Kami duduk di
lantai ubin yang dingin, menunggu dan masih dengan diam. Belum juga
cair dari rasa ketegangan kami. Masing-masing masih lebih suka
berdiam diri dan tak berbicara satu sama lain. Kami tak melakukan apa-
apa dan tak diminta apa-apa pula oleh Polisi. Kami didiamkan saja.
Tak juga dijaga. Kami bebas ke luar masuk ruangan kalau mau. Hingga
sore hari, ternyata kami tak diperbolehkan pulang. Malam itu kami
menginap di atas lantai yang dingin itu. Tapi aku tahu semalaman di
antara kami tak ada yang bisa tidur. Entah apa yang terpikirkan malam
itu.
>
>
>
> Esok harinya, masih ada teman yang menangis, matanya sembab karena
air mata. Beberapa mencoba menghiburnya. Suasana telah mulai sedikit
mencair. Kami sudah sempat bercanda satu sama lain dan saling
menghibur. Apalagi aku cerita, tadi pagi ketika hari mulai terang aku
ingin cuci muka di kamar mandi belakang, aku kaget air yang aku pakai
tadi malam untuk cuci muka itu ternyata air kotor bekas ngepel
lantai. Ya ampun, padahal buat kumur-kumur juga. Tadi malam karena
gelap, tak kelihatan sih. Kami semua ketawa berderai. Mereka umumnya
merisaukan keluarganya. Apakah masing-masing keluarga telah tahu
keberadaan kami? Hari itu berlalu begitu saja. Kami tak diapa-apakan.
Hanya luntang-lantung duduk, berdiri duduk lagi atau berbaring
ngelamun. Aku tak berpikir apa-apa. Sesekali ingat keluarga tapi tak
lama. Kadang aku malah merasa beruntung, keluargaku telah pindah dari
Jogjakarta belum lama ini, sehingga aku tak terlalu risau
memikirkannya. Jadinya aku malah lebih sering memikirkan pacarku.
Kecuali itu tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Sesekali ada salah
seorang yang dipanggil. Ketika teman itu kembali ke ruangan, kami
berebut ingin tahu apa yang terjadi. Tapi umumnya cuma bilang hanya
ditanya-tanya saja, yang kemarin datanya belum lengkap. Siang hari
itu beberapa orang tua atau keluarga telah datang untuk menjenguk
kami. Menyenangkan sekali. Mereka bertangisan. Kami gembira, paling
tidak pertanyaan yang menggantung tadi malam terjawab sudah bahwa
pasti keluarga masing-masing telah diberitahu tentang keberadaan
kami. Mungkin sekolah yang memberitahu, atau pihak polisi? Atau
temanku sekolah yang bertetangga? Tak terlalu penting siapa pun yang
melakukan. Mereka juga membawa makanan dan pakaian. Sejak kemarin
kami tidak berganti pakaian. Satu persatu keluarga teman-teman
bergiliran datang. Tapi aku, siapa yang akan menjenguk? Di rumah
hanya ada seorang nenekku yang telah tua renta yang sendirian. Tak
mungkin beliau akan datang. Keluargaku telah berada di Jakarta semua.
Mungkin aku satu-satunya yang tak punya keluarga atau saudara di
Jogja yang akan datang menjengukku. Tapi agak sore hari, tak kusangka
Ibu pacarku yang datang. Ternyata beliau pula lah yang mengurusku
penuh perhatian, termasuk barang-barangku di sekolah yang
kutinggalkan dengan terpaksa kemarin.
>
>
>
> Hari-hari berikutnya kami jalani tanpa juga melakukan apa-apa.
Membosankan juga. Menunggu sesuatu yang tak kami tahu apa yang kami
tunggu. Pada hari kedua secara mengejutkan, ada polisi yang masuk ke
ruangan kami. Dia memanggilku lalu menyerahkan bungkusan. Isinya
makanan macam-macam disertai segepok surat. Aku heran, darimana?
Ternyata datang dari teman-teman sekelasku dan beberapa kelas lain.
Sesaat aku tercenung, aku tak pernah menyangka. Tak terasa air
mataku menggenang di pelupuk mata, perasaan haru menyelimuti diriku.
Ternyata begitu besar perhatian teman-temanku. Aku mulai sadar,
mereka lah teman-temanku sesungguhnya. Perbedaan warna aliran tak
membuat kami mengurangi perhatian satu sama lain. Kenapa kita mesti
bermusuhan, saling membenci dan saling melakukan kekerasan? Buatku
memang tak ada alasan. Kita hanya berbeda pendapat dan beda
pandangan. Aku tak berhenti membaca, surat-surat itu kubaca berulang-
ulang. Semuanya menghibur diriku. Ketulusan itu yang mampu membuatku
meneteskan air mata, mereka mencoba membesarkan hatiku untuk
menerima "cobaan" dengan tabah dan tawakal. Lucunya mereka juga
bercerita, ketika melihat kami dibawa naik truk, semua sekelas
bersama-sama menangisi kepergianku. Mereka terus mengikuti hingga
truk hilang dari pandangan. Katanya beberapa hari ini di sekolah dan
di kelas menjadi tak enak suasananya. Semua masih sering membicarakan
peristiwa pemukulan kami itu. Mereka berdoa, agar kami segera bisa
pulang dan kembali sekolah untuk berkumpul kembali dengan mereka.
Tapi harapan itu tak pernah terwujud lagi.
>
>
>
> Hampir 2 minggu kami di kantor Polisi itu. Kami tak diapa-apakan.
Mungkin Polisi juga tak tahu harus melakukan apa. Sekarang berada di
Kantor Polisi kami bukan karena berbuat kesalahan. Malah kami adalah
korban penganiayaan. Maka istilah "diamankan" buat kami memang lebih
tepat. Barangkali karena tak jelas situasinya itu pula kemudian kami
dilepas. Tetapi setiap hari sejak itu harus datang melapor. Masing-
masing kami memperoleh selembar surat Lapor Diri. Dan ternyata di
kemudian hari selembar kertas itulah yang sangat "sakti" banyak
menyelamatkan saya ketika melalui masa-masa yang makin mencekam dan
berbahaya.
>
>
>
> Jakarta, Maret 2004
>
> -------------------
>
> Arjo Pilang
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/