** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Sungguh satu cerita yang menyedhkan dan mengharukan. Kita tidak habis 
pikir mengapa itu harus terjadi. Tapi itulah kenyataan hidup waktu 
itu. waktu yang penuh gejolak. Ini juga memprihatinkan, tapi masih 
ringan dibanding kejadian yang menimpa para kiyai dan santri di 
daerah Mojokerto Jawa Timur yang pagi-pagi Subuh sedang melaksanakan 
sholat subuh dibantai habis oleh orang-orang lain, orang-orang yang 
diduga adalah antek-antek PKI - mereka sedang melakukan pembabatan 
atas orang yang beragama, terutama Islam....  Ini juga satu 
kesedihan, satu kejadian pada zaman edan itu... Kalau hanya dipukuli, 
masih ringan. Lha kalau dibunuh? Wah repot juga ya ...
Tapi sudahlah, itu sudah berlalu. Dan syukurlah bahwa sekarang anak-
anak para tokoh yang dulu berseberangan dan malah beradu kekuatan 
sudah pada damai - menunggu Indonesia baru -- anak-anak Kahar Muzakir 
dari Sulsel, anak anak Karto suwiryo yang mereka menderita oleh ulah 
PKI dan teman-temannya, anak-anak Aidit DKLK sert anak-anak Ahmad 
Yani - yang terakhir menjdi korban kebrutalan orang2 yang berhaluan 
kiri - semuanya semoga pada damai sekarang....
Ayohlah pada damai dan hidup sejahtera....    


--- In [EMAIL PROTECTED], "Budhisatwati KUSNI" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Pengantar:
> 
> "Aku Dipukuli Di Sekolahku" tulisan Arjo Pilang adalah pengalaman 
nyata dialaminya ketika ia masih di SMA Teladan Yogyakarta. Demikian 
pula cerita tentang May Hwa, Elanjaya dan Jelitheng.
> 
> 
> 
> Keterangan ini saya sampaikan untuk pertanyaan-pertanyaan yang 
diajukan melalui japri kepada saya sekaligus menyampaikan terimakasih 
atas perhatian.
> 
> 
> 
> JJ.Kusni
> 
> --------
> 
> Paris, Maret 2004.
> 
> 
> 
> 
> 
> Aku Dipukuli di Sekolahku
> 
>  
> 
> Hingga pertengahan Oktober 1965 setelah tragedi besar di tanah air 
itu terjadi 2 minggu sebelumnya, suasana kota Jogjakarta masih 
seperti biasa. Tak ada sesuatu yang sangat istimewa. Tetap tenang, 
kuno dan kalem tanpa gejolak. Suasana yang lekat dengan kehidupan 
kraton yang mewarnai masyarakatnya  yang berperi laku halus, hati-
hati serba penuh aturan hormat yang santun, masih tetap tak berubah. 
Waktu terasa berjalan lambat dan alon-alon. Aku mengenalnya dengan 
baik karena di kota aku dibesarkan dan telah tinggal di sana sejak 
kelas 3 SD dan kini aku telah menjadi terbiasa mengikuti denyut irama 
hidupnya, bahkan mungkin telah menjadi bagian hidupku pula. Paling 
tidak begitu lah yang aku rasakan waktu itu, masyarakat sekeliling 
masih belum nampak terpengaruh atau bereaksi oleh berita yang datang 
mengejutkan beberapa hari sebelumnya bahwa di Jakarta telah terjadi 
percobaan perebutan kekuasaan Presiden Soekarno oleh Dewan Jendral, 
yang disusul kemudian dengan pembunuhan terhadap beberapa Jendral 
Angkatan Darat. Menurut berita yang disiarkan RRI, gerakan tersebut 
telah berhasil ditumpas. Aku senang juga mendengar Presiden Soekarno 
selamat. Namun aku merasa berita tersebut masih belum jelas benar, 
masih simpang siur. Apalagi kemudian disebutkan oleh beberapa mass 
media bahwa gerakan G30S (Gerakan 30 September - yang lalu ditambah 
embel-embel PKI -, tapi Presiden Soekarno menyebutkan Gestok - 
Gerakan 1 Oktober, karena memang peristiwa pembunuhan para jendral 
itu terjadi pada dini hari 1 Oktober. Lawan politik lebih suka 
memanfaatkan permainan kata dengan istilah "Gestapu" karena 
menganalogikan pada kekejaman "Gestapo Nazi") itu didalangi oleh PKI. 
Mendengar kabar itu aku tak terlampau heboh menerimanya. Keningku 
hanya berkerenyit, apa iya PKI terlibat?  Logikaku merasakan beberapa 
kejanggalan sehingga aku tak cepat percaya dan perlu pembuktian lebih 
jauh lagi. Barangkali karena aku sudah terhanyut oleh situasi politik 
tanah air belakangan yang terasa makin memanas, sehingga aku lebih 
berat menduga inilah puncak dari ketegangan tersebut sehingga lawan-
lawan politik PKI memanfatkan untuk menyudutkan dan memukul PKI 
sebagai biang kerok. Setiap hari suasana politik gegap gempita dan 
riuh rendah meriah oleh pernyataan-pernyataan organisasi dan partai 
politik yang saling bersebrangan. Antara yang pro Soekarno dan anti 
Soekarno makin mengemuka. Antara yang dikatakan sebagai anti 
Pancasila berhadapan dengan yang pro Pancasila. Perimbangan kekuatan 
nampak seimbang sama kuat, baik gerakan nasionalis yang diwakili oleh 
PNI, lalu kaum progressive revolusioner yang diwakili PKI, dan di 
lain pihak adalah partai-partai agama Islam seperti NU, PSII dlsb. 
Setiap hari ada saja pergesekan-pergesekan yang tak jarang mengarah 
pada kekerasan dari masing-masing golongan itu satu sama lain. Setiap 
momentum yang menguntungkan sesuatu golongan, selalu ditampilkan 
dengan penuh gegap gempita,  heboh dan besar-besaran yang dinyatakan 
a.l. dengan rapat umum, apel siaga, pawai drumband, konvoi dengan 
segala atributnya yang mungkin sekaligus dimaksudkan untuk unjuk 
kekuatan kepada pihak lain.
> 
> Jogja kurasakan masih penuh santun dan kalem, tetapi entah ya yang 
terjadi sesungguhnya dalam hati orang-orangnya? Bisa jadi merupakan 
api dalam sekam. Ketika itu orang juga belum memperhitungkan militer 
akan menentukan kehidupan bangsa ini selanjutnya. 
> 
>  
> 
> Tentu saja, sesuai jalur yang aku pilih pada organisasi kepemudaan 
itu, aku pun terlibat dengan keriuhan itu. Di mata remajaku, aku 
senang-senang saja dan tak keberatan sama sekali. Malah aku menikmati 
dinamika yang rasanya cocok saja dengan suasana waktu itu. Mungkin 
juga bagian dari aktualisasi diriku sebagai remaja yang sedang 
tumbuh. Aku pun sudah menjatuhkan pilihan pada satu kelompok 
organisasi yaitu IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia). Bahkan aku 
dipercaya menjadi salah seorang yang ketua IPPI unit sekolahku SMA 
Teladan. Sadar bahwa SMA Teladan bukan basis yang kuat untuk  IPPI, 
karena di sana telah dominan PII (Pemuda Islam Indonesia) dan GSNI 
(Gerakan Siswa Nasional Indonesia), maka belum banyak program gerakan 
dan kegiatan di sekolah  yang berjalan atas nama IPPI. Kami hanya 
mencoba mengimbangi eksistensi kedua organisasi pelajar yang 
bersebrangan bahkan berlawanan pilihan politiknya itu yang telah 
lebih dulu ada. Dibanding mereka, anggota IPPI SMA Teladan tak 
terlalu banyak. Tak lebih dari 20 orang saja dari seluruh kelas yang 
ada.
> 
>  
> 
> SMA Teladan, yang dikenal juga sebagai SMA Negeri I, terletak di 
bagian barat kota Jogjakarta, kira-kira 4 km dari rumahku yang 
terletak di bagian timur, melewati daerah muslim yang kental yaitu 
daerah Kauman. Karena lokasinya yang berdekatan itu maka banyak 
temanku yang bertempat tinggal di situ  bersekolah di SMA Teladan. 
Kalau PII kuat di sekolahku  itu maka tak lah heran. Mereka lah anak-
anak santri  Kauman itu yang umumnya pengusaha batik dan perak. SMA 
Teladan memang termasuk salah satu sekolah elit di Jogja. Hanya 
golongan masyarakat kelas menengah saja yang mampu sekolah di situ, 
meski itu sekolah negeri. Mungkin hal itu yang membuat tidak populer 
bagi anak-anak dari golongan yang orangtuaku pilih jalur politik 
perjuangannya, yaitu rakyat jelata. SMA Teladan jelas bukan tempat 
bagi mereka.
> 
>  
> 
> Pagi itu seperti biasa aku ke luar rumah berangkat ke sekolah 
dengan perasaan yang ringan-ringan saja. Seharusnya aku punya feeling 
yang lebih tajam. Tapi sungguh mati, aku tak melihat suatu perubahan 
pada kenalan atau tetangga-tetangga yang kukenal sangat baik. 
Sapaannya  masih terasa hangat ketika bersua di jalan. Nenekku 
seperti biasa pula mengantar ke pintu pagar rumah setelah dengan 
penuh perhatian menemaniku sarapan. Tak sedikit pun aku punya firasat 
atau merasakan ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang besar 
menimpa saya. Seperti kebiasaan yang aku lakukan setiap hari pada 
waktu yang sama, di ujung jalan Gledegan sebelum ke luar ke jalan 
Taman Siswa, aku berhenti sesaat dengan masih duduk di atas sadel 
sepeda dengan menahan satu kaki di tanah. Aku menunggu pacarku lewat 
untuk berangkat bersama. Rumahnya tak terlalu jauh dari jalan 
Gledegan di mana aku berhenti sejenak untuk menunggunya. Dari situ 
aku biasanya bisa melihat pacarku sudah mulai siap juga ke luar rumah 
dengan sepedanya dengan saudara-saudaranya. Aku tinggal menunggu 
menyertai bersama-sama bersepeda saat ia mulai melewati diriku, yang 
biasanya diawali dengan sapaan saling tersenyum. Kami bersepeda 
berbareng hingga di persimpangan jalan yang memisahkan kami  menuju 
tujuan sekolah masing-masing. Ia  sekolah di SMAN III yang terletak 
di bagian tengah kota. Aku melanjutkan ke arah barat sambil 
melambaikan tanganku kepadanya, melirik saling melempar senyum.  
> 
>  
> 
> Aku masuk klas seperti biasa. Pada saat-saat itu kami murid kelas 
III langsung sibuk belajar dengan banyak latihan mengulang pelajaran-
pelajaran, menyiapkan diri untuk ujian akhir SMA yang tak lama lagi 
berlangsung. Aku sangat akrab dengan semua teman di kelas meski jelas 
kami telah dibedakan oleh beberapa aliran organisasi pelajar. Dalam 
kelas kami tak pernah mempersoalkannya benar bahwa kami berbeda 
aliran.  Kami tak membeda-bedakan atau mengelompok sendiri. Kami 
bergurau dan bercengkerama seperti biasa, bahkan terkadang terselip 
olok-olok tentang "warna"ku itu yang kutanggapi dengan gembira saja.
> 
>  
> 
> Ketika jam istirahat ke II tengah hari, sebagaimana biasanya aku ke 
luar  untuk mengisi perut di mBok Bon  di belakang sekolah. Selesai 
jajan saya berjalan pelan untuk kembali ke kelas. Masih di halaman 
itu, tiba-tiba tanpa kuketahui datangnya aku dicegat oleh beberapa 
teman yang aku kenal baik yang aku tahu pula mereka adalah anggota 
PII. Mungkin ada sekitar 10 orangan. Mereka berteriak-teriak ganas 
sambil menunjuk-nunjuk, "Gestapu..gestapu..PKI..PKI." Aku terpana 
sejenak. Lalu mereka mengeroyokku dengan tonjokan. Aku terjatuh dan 
dipukul ramai-ramai hingga kacamataku lepas. Pada awalnya aku kaget 
juga atas serangan tak terduga itu. Aku tak tinggal diam menerima 
begitu saja perlakuan tersebut. Herannya aku tak  merasa gentar. Aku 
pun  mencoba melawan tapi tak ada gunanya. Terjadilah pertarungan 
yang tak seimbang.  Mereka terlalu banyak. Aku terjatuh. Namun 
beruntung penganiayaan itu tak berlangsung lama dan aku tak mengalami 
luka sedikit pun. Hanya memar sedikit di wajah.  Bagai layaknya 
pesakitan yang baru ketahuan nyolong sepeda, aku ditarik berdiri, 
kedua tanganku lantas ditelikung ke belakang dan digiring ke dalam 
sekolah. Entah siapa, ada yang menyodorkan kacamataku yang segera 
kupakai kembali. Aku dibawa ke ruang guru di lantai II diiringi sorak 
sorai cemohan dari teman-temanku. Tapi aku tetap berjalan dengan 
tegak dan tetap melemparkan senyum pada teman-teman yang memandangku 
dengan pandang kasihan, barangkali. Sedikit pun aku tak merasa takut. 
Aku tak merasakan suatu kepahitan atau aku merasa bersalah maka aku 
tak ingin menunjukkan sebagai orang pesakitan karena aku telah 
melakukan tindakan hina bagai tindak kriminal seorang maling 
misalnya. Dan tak pula aku menunjukkan kebencianku kepada mereka yang 
menganiayaku tadi. Sekolah nampak gaduh. Namun aku tak melihat teman-
teman anggota IPPI lainnya. Ke mana mereka? Apakah mereka juga 
mendapat perlakuan seperti aku, tetapi aku tak melihatnya seorang 
pun. Berita peristiwa pemukulan itu cepat menyebar, kulihat aku 
menjadi pusat perhatian semua murid sekolahku itu, yang nampak 
melongok dari seluruh jendela bangunan sekolah yang bertingkat tiga 
itu. Ketika aku berjalan digiring ke dalam sekolah kudongakkan 
kepalaku ke atas dan kusebar pandangan kepada mereka. Aku tetap tegar 
dan selalu senyum, tak sedikit pun kutunjukkan kegetiranku. Aku pasti 
jadi sangat terkenal di sekolahku.
> 
>  
> 
> Dalam ruang itu aku duduk di kursi dilindungi para guru. Tak 
seorang pun murid boleh masuk. Di luar ruangan masih terdengar ramai 
teriakan, "Gestapu..Gestapu.. PKI..PKI..," suara teman-teman bernada 
garang dan marah yang ingin menghabisi aku. Disertai dengan teriakan 
cemohan seperti itu, tak lama kemudian menyusul masuk  satu persatu 
teman-teman anggota IPPI lain dari seluruh kelas yang juga mendapat 
penganiayaan sama seperti aku.  Di antaranya ada yang didorong kuat 
ke dalam ruangan hingga terjerembab. Rupanya aku yang pertama kali 
mereka keroyok lalu menyusul teman-teman anggota IPPI lainnya itu. 
Kami saling memandang sejenak, kecut. Tak banyak yang bisa kami 
lakukan. Semua duduk diam dengan pikiran masing-masing. Aku lihat 
beberapa wajah temanku pucat ketakutan, terutama yang perempuan, 
menangis pelan sesenggukan.  Sebagian menundukkan kepalanya dalam-
dalam, sebagian berangkulan sesamanya. Aku mencoba menghibur diri, 
kutegakkan kepalaku dan mencoba melempar senyum kepada mereka, 
memberi isyarat tak apa-apa. Tenang saja. Tak tahu bagaimana, saat 
itu aku punya kekuatan apa sehingga aku masih bisa bersikap begitu 
tenang. Tak pula terlintas di pikiranku rasa was-was atau jeri, 
sesudah itu kami mau diapakan? Bapak dan ibu guru yang berada di 
ruang itu pun tak melakukan apa-apa. Tak juga bicara sekali pun. Kami 
tetap duduk dengan diam satu sama lain. Kami tenggelam dalam pikiran 
masing-masing, sambil sesekali masih terdengar sesenggukan pelan dari 
temanku perempuan yang rupanya belum mampu berhenti menangis.
> 
>  
> 
> Tak lama kemudian kami semua diminta oleh seorang guru untuk 
mengikutinya ke luar. Kami beriringan berjalan. Tak tahu kami mau 
dibawa ke mana. Beberapa teman tak bisa menyembunyikan ketegangan 
wajahnya, nampak kecut, bertanya-tanya dan takut. Matanya masih basah 
oleh air mata yang mengalir di pipinya. Gang dalam sekolah telah 
sepi. Teman-temanku yang tadi riuh di luar ruangan telah kembali 
belajar dalam ruangan kelasnya masing-masing. Rupanya kami dibawa ke 
luar sekolah dan di halaman sekolah ternyata telah menunggu sebuah 
truk terbuka. Kami diminta naik ke atasnya. Tak ada yang kami bawa 
kecuali pakaian yang kami sandang. Truk berangkat, kami dibawa pergi 
diiringi ratusan mata teman-temanku murid SMA Teladan yang akhirnya 
berebut melongok ke luar di setiap jendela ruangan kelas gedung tiga 
tingkat itu. Ada pula yang melambai-lambai tangannya. Kami hanya bisa 
memandang kelu hingga gedung sekolahku hilang dari pandangan ketika 
truk membelok ke luar ke jalan besar. Baru tahu lama kemudian itulah 
hari terakhir kami bersekolah di SMA Teladan.
> 
>  
> 
> Tak lama berjalan truk masuk ke halaman bangunan tua dan berhenti. 
Ternyata kami diminta turun di situ,  di Kantor Polisi Ngupasan, di 
samping Istana Presiden. Kami dikumpulkan dalam suatu ruangan, satu 
persatu kami dipanggil dan duduk di depan seorang berpakaian seragam 
polisi. Kami ditanya nama, alamat, nama orangtua dan pertanyaan-
pertanyaan umum lain, termasuk di organisasi IPPI sebagai apa, 
kegiatannya selama ini dlsb. Anehnya tidak ditanya terjadinya 
peristiwa kami dipukuli itu.  Sesudah itu kami diminta ke ruangan 
agak luas seperti aula di sebelah tempat kami ditanya tadi. Kami 
bergerombol di sana mencari tempat masing-masing. Aula itu kosong tak 
ada kursi satu pun. Entah biasanya ruangan untuk apa. Kami duduk di 
lantai ubin yang dingin, menunggu dan masih dengan diam. Belum juga 
cair dari rasa ketegangan kami. Masing-masing masih lebih suka 
berdiam diri dan tak berbicara satu sama lain. Kami tak melakukan apa-
apa dan tak diminta apa-apa pula oleh Polisi. Kami didiamkan saja. 
Tak juga dijaga. Kami bebas ke luar masuk ruangan kalau mau. Hingga 
sore hari, ternyata kami tak diperbolehkan pulang. Malam itu kami 
menginap di atas lantai yang dingin itu. Tapi aku tahu semalaman di 
antara kami tak ada yang bisa tidur. Entah apa yang terpikirkan malam 
itu.
> 
>  
> 
> Esok harinya, masih ada teman yang menangis, matanya sembab karena 
air mata. Beberapa mencoba menghiburnya. Suasana telah mulai sedikit 
mencair. Kami sudah sempat bercanda satu sama lain dan saling 
menghibur. Apalagi aku cerita, tadi pagi ketika hari mulai terang aku 
ingin cuci muka di kamar mandi belakang, aku kaget air yang aku pakai 
tadi malam untuk cuci muka itu ternyata air kotor bekas ngepel 
lantai. Ya ampun, padahal buat kumur-kumur juga. Tadi malam karena 
gelap, tak kelihatan sih. Kami semua ketawa berderai. Mereka umumnya 
merisaukan keluarganya. Apakah masing-masing keluarga telah tahu 
keberadaan kami? Hari itu berlalu begitu saja. Kami tak diapa-apakan. 
Hanya luntang-lantung duduk, berdiri duduk lagi atau berbaring 
ngelamun. Aku tak berpikir apa-apa. Sesekali ingat keluarga tapi tak 
lama. Kadang aku malah merasa beruntung, keluargaku telah pindah dari 
Jogjakarta belum lama ini, sehingga aku tak terlalu risau 
memikirkannya. Jadinya aku malah lebih sering memikirkan pacarku. 
Kecuali itu tak ada lagi yang bisa kami lakukan.  Sesekali ada salah 
seorang yang dipanggil. Ketika teman itu kembali ke ruangan, kami 
berebut ingin tahu apa yang terjadi. Tapi umumnya cuma bilang hanya 
ditanya-tanya saja, yang kemarin datanya belum lengkap. Siang hari 
itu beberapa orang tua atau keluarga telah datang untuk menjenguk 
kami. Menyenangkan sekali. Mereka bertangisan. Kami gembira, paling 
tidak pertanyaan yang menggantung tadi malam terjawab sudah bahwa 
pasti keluarga masing-masing telah diberitahu tentang keberadaan 
kami. Mungkin sekolah yang memberitahu, atau pihak polisi? Atau 
temanku sekolah yang bertetangga? Tak terlalu penting siapa pun yang 
melakukan. Mereka juga membawa makanan dan pakaian. Sejak kemarin 
kami tidak berganti pakaian. Satu persatu keluarga teman-teman 
bergiliran datang. Tapi aku, siapa yang akan menjenguk? Di rumah 
hanya ada seorang nenekku yang telah tua renta yang sendirian. Tak 
mungkin beliau akan datang. Keluargaku telah berada di Jakarta semua. 
Mungkin aku satu-satunya yang tak punya keluarga atau saudara di 
Jogja yang akan datang menjengukku. Tapi agak sore hari, tak kusangka 
Ibu pacarku yang datang. Ternyata beliau pula lah yang mengurusku 
penuh perhatian,  termasuk barang-barangku di sekolah yang 
kutinggalkan dengan terpaksa kemarin.
> 
>  
> 
> Hari-hari berikutnya kami jalani tanpa juga melakukan apa-apa. 
Membosankan juga.  Menunggu sesuatu yang tak kami tahu apa yang kami 
tunggu. Pada hari kedua secara mengejutkan, ada polisi yang masuk ke 
ruangan kami. Dia memanggilku lalu menyerahkan bungkusan. Isinya 
makanan macam-macam disertai segepok surat. Aku heran, darimana? 
Ternyata datang dari teman-teman sekelasku dan beberapa kelas lain. 
Sesaat aku tercenung, aku tak pernah menyangka. Tak terasa air  
mataku menggenang di pelupuk mata, perasaan haru menyelimuti diriku. 
Ternyata begitu besar perhatian teman-temanku. Aku mulai sadar,  
mereka lah teman-temanku sesungguhnya. Perbedaan warna aliran tak 
membuat kami mengurangi perhatian satu sama lain. Kenapa kita mesti 
bermusuhan, saling membenci dan saling melakukan kekerasan? Buatku 
memang tak ada alasan. Kita hanya berbeda pendapat dan beda 
pandangan.  Aku tak berhenti membaca, surat-surat itu kubaca berulang-
ulang. Semuanya menghibur diriku. Ketulusan itu  yang mampu membuatku 
meneteskan air mata, mereka mencoba membesarkan hatiku untuk 
menerima "cobaan" dengan tabah dan tawakal.  Lucunya mereka juga 
bercerita, ketika melihat kami dibawa naik truk, semua sekelas 
bersama-sama menangisi kepergianku. Mereka terus mengikuti hingga 
truk hilang dari pandangan. Katanya beberapa hari ini di sekolah dan 
di kelas menjadi tak enak suasananya. Semua masih sering membicarakan 
peristiwa pemukulan kami itu. Mereka berdoa, agar kami segera bisa 
pulang dan kembali sekolah untuk berkumpul kembali dengan mereka.  
Tapi harapan itu tak pernah terwujud lagi.   
> 
>  
> 
> Hampir 2 minggu kami di kantor Polisi itu. Kami tak diapa-apakan. 
Mungkin Polisi juga tak tahu harus melakukan apa. Sekarang berada di 
Kantor Polisi kami bukan karena berbuat kesalahan. Malah kami adalah 
korban penganiayaan. Maka istilah "diamankan" buat kami  memang lebih 
tepat. Barangkali karena tak jelas situasinya itu pula kemudian kami 
dilepas. Tetapi setiap hari sejak itu harus datang melapor. Masing-
masing kami memperoleh selembar surat Lapor Diri. Dan ternyata di 
kemudian hari selembar kertas itulah yang sangat "sakti" banyak 
menyelamatkan saya ketika melalui masa-masa yang makin mencekam dan 
berbahaya.
> 
>  
> 
> Jakarta, Maret 2004
> 
> -------------------
> 
> Arjo Pilang
> 
> 
>  
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke