** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Pengantar:

"Aku Dipukuli Di Sekolahku" tulisan Arjo Pilang adalah pengalaman nyata dialaminya 
ketika ia masih di SMA Teladan Yogyakarta. Demikian pula cerita tentang May Hwa, 
Elanjaya dan Jelitheng.



Keterangan ini saya sampaikan untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan melalui japri 
kepada saya sekaligus menyampaikan terimakasih atas perhatian.



JJ.Kusni

--------

Paris, Maret 2004.





Aku Dipukuli di Sekolahku

 

Hingga pertengahan Oktober 1965 setelah tragedi besar di tanah air itu terjadi 2 
minggu sebelumnya, suasana kota Jogjakarta masih seperti biasa. Tak ada sesuatu yang 
sangat istimewa. Tetap tenang, kuno dan kalem tanpa gejolak. Suasana yang lekat dengan 
kehidupan kraton yang mewarnai masyarakatnya  yang berperi laku halus, hati-hati serba 
penuh aturan hormat yang santun, masih tetap tak berubah. Waktu terasa berjalan lambat 
dan alon-alon. Aku mengenalnya dengan baik karena di kota aku dibesarkan dan telah 
tinggal di sana sejak kelas 3 SD dan kini aku telah menjadi terbiasa mengikuti denyut 
irama hidupnya, bahkan mungkin telah menjadi bagian hidupku pula. Paling tidak begitu 
lah yang aku rasakan waktu itu, masyarakat sekeliling masih belum nampak terpengaruh 
atau bereaksi oleh berita yang datang mengejutkan beberapa hari sebelumnya bahwa di 
Jakarta telah terjadi percobaan perebutan kekuasaan Presiden Soekarno oleh Dewan 
Jendral, yang disusul kemudian dengan pembunuhan terhadap 
 beberapa Jendral Angkatan Darat. Menurut berita yang disiarkan RRI, gerakan tersebut 
telah berhasil ditumpas. Aku senang juga mendengar Presiden Soekarno selamat. Namun 
aku merasa berita tersebut masih belum jelas benar, masih simpang siur. Apalagi 
kemudian disebutkan oleh beberapa mass media bahwa gerakan G30S (Gerakan 30 September 
- yang lalu ditambah embel-embel PKI -, tapi Presiden Soekarno menyebutkan Gestok - 
Gerakan 1 Oktober, karena memang peristiwa pembunuhan para jendral itu terjadi pada 
dini hari 1 Oktober. Lawan politik lebih suka memanfaatkan permainan kata dengan 
istilah "Gestapu" karena menganalogikan pada kekejaman "Gestapo Nazi") itu didalangi 
oleh PKI. Mendengar kabar itu aku tak terlampau heboh menerimanya. Keningku hanya 
berkerenyit, apa iya PKI terlibat?  Logikaku merasakan beberapa kejanggalan sehingga 
aku tak cepat percaya dan perlu pembuktian lebih jauh lagi. Barangkali karena aku 
sudah terhanyut oleh situasi politik tanah air belakangan yang terasa m
 akin memanas, sehingga aku lebih berat menduga inilah puncak dari ketegangan tersebut 
sehingga lawan-lawan politik PKI memanfatkan untuk menyudutkan dan memukul PKI sebagai 
biang kerok. Setiap hari suasana politik gegap gempita dan riuh rendah meriah oleh 
pernyataan-pernyataan organisasi dan partai politik yang saling bersebrangan. Antara 
yang pro Soekarno dan anti Soekarno makin mengemuka. Antara yang dikatakan sebagai 
anti Pancasila berhadapan dengan yang pro Pancasila. Perimbangan kekuatan nampak 
seimbang sama kuat, baik gerakan nasionalis yang diwakili oleh PNI, lalu kaum 
progressive revolusioner yang diwakili PKI, dan di lain pihak adalah partai-partai 
agama Islam seperti NU, PSII dlsb. Setiap hari ada saja pergesekan-pergesekan yang tak 
jarang mengarah pada kekerasan dari masing-masing golongan itu satu sama lain. Setiap 
momentum yang menguntungkan sesuatu golongan, selalu ditampilkan dengan penuh gegap 
gempita,  heboh dan besar-besaran yang dinyatakan a.l. dengan rapa
 t umum, apel siaga, pawai drumband, konvoi dengan segala atributnya yang mungkin 
sekaligus dimaksudkan untuk unjuk kekuatan kepada pihak lain.

Jogja kurasakan masih penuh santun dan kalem, tetapi entah ya yang terjadi 
sesungguhnya dalam hati orang-orangnya? Bisa jadi merupakan api dalam sekam. Ketika 
itu orang juga belum memperhitungkan militer akan menentukan kehidupan bangsa ini 
selanjutnya. 

 

Tentu saja, sesuai jalur yang aku pilih pada organisasi kepemudaan itu, aku pun 
terlibat dengan keriuhan itu. Di mata remajaku, aku senang-senang saja dan tak 
keberatan sama sekali. Malah aku menikmati dinamika yang rasanya cocok saja dengan 
suasana waktu itu. Mungkin juga bagian dari aktualisasi diriku sebagai remaja yang 
sedang tumbuh. Aku pun sudah menjatuhkan pilihan pada satu kelompok organisasi yaitu 
IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia). Bahkan aku dipercaya menjadi salah seorang 
yang ketua IPPI unit sekolahku SMA Teladan. Sadar bahwa SMA Teladan bukan basis yang 
kuat untuk  IPPI, karena di sana telah dominan PII (Pemuda Islam Indonesia) dan GSNI 
(Gerakan Siswa Nasional Indonesia), maka belum banyak program gerakan dan kegiatan di 
sekolah  yang berjalan atas nama IPPI. Kami hanya mencoba mengimbangi eksistensi kedua 
organisasi pelajar yang bersebrangan bahkan berlawanan pilihan politiknya itu yang 
telah lebih dulu ada. Dibanding mereka, anggota IPPI SMA Teladan tak te
 rlalu banyak. Tak lebih dari 20 orang saja dari seluruh kelas yang ada.

 

SMA Teladan, yang dikenal juga sebagai SMA Negeri I, terletak di bagian barat kota 
Jogjakarta, kira-kira 4 km dari rumahku yang terletak di bagian timur, melewati daerah 
muslim yang kental yaitu daerah Kauman. Karena lokasinya yang berdekatan itu maka 
banyak temanku yang bertempat tinggal di situ  bersekolah di SMA Teladan. Kalau PII 
kuat di sekolahku  itu maka tak lah heran. Mereka lah anak-anak santri  Kauman itu 
yang umumnya pengusaha batik dan perak. SMA Teladan memang termasuk salah satu sekolah 
elit di Jogja. Hanya golongan masyarakat kelas menengah saja yang mampu sekolah di 
situ, meski itu sekolah negeri. Mungkin hal itu yang membuat tidak populer bagi 
anak-anak dari golongan yang orangtuaku pilih jalur politik perjuangannya, yaitu 
rakyat jelata. SMA Teladan jelas bukan tempat bagi mereka.

 

Pagi itu seperti biasa aku ke luar rumah berangkat ke sekolah dengan perasaan yang 
ringan-ringan saja. Seharusnya aku punya feeling yang lebih tajam. Tapi sungguh mati, 
aku tak melihat suatu perubahan pada kenalan atau tetangga-tetangga yang kukenal 
sangat baik. Sapaannya  masih terasa hangat ketika bersua di jalan. Nenekku seperti 
biasa pula mengantar ke pintu pagar rumah setelah dengan penuh perhatian menemaniku 
sarapan. Tak sedikit pun aku punya firasat atau merasakan ada tanda-tanda akan terjadi 
sesuatu yang besar menimpa saya. Seperti kebiasaan yang aku lakukan setiap hari pada 
waktu yang sama, di ujung jalan Gledegan sebelum ke luar ke jalan Taman Siswa, aku 
berhenti sesaat dengan masih duduk di atas sadel sepeda dengan menahan satu kaki di 
tanah. Aku menunggu pacarku lewat untuk berangkat bersama. Rumahnya tak terlalu jauh 
dari jalan Gledegan di mana aku berhenti sejenak untuk menunggunya. Dari situ aku 
biasanya bisa melihat pacarku sudah mulai siap juga ke luar rumah 
 dengan sepedanya dengan saudara-saudaranya. Aku tinggal menunggu menyertai 
bersama-sama bersepeda saat ia mulai melewati diriku, yang biasanya diawali dengan 
sapaan saling tersenyum. Kami bersepeda berbareng hingga di persimpangan jalan yang 
memisahkan kami  menuju tujuan sekolah masing-masing. Ia  sekolah di SMAN III yang 
terletak di bagian tengah kota. Aku melanjutkan ke arah barat sambil melambaikan 
tanganku kepadanya, melirik saling melempar senyum.  

 

Aku masuk klas seperti biasa. Pada saat-saat itu kami murid kelas III langsung sibuk 
belajar dengan banyak latihan mengulang pelajaran-pelajaran, menyiapkan diri untuk 
ujian akhir SMA yang tak lama lagi berlangsung. Aku sangat akrab dengan semua teman di 
kelas meski jelas kami telah dibedakan oleh beberapa aliran organisasi pelajar. Dalam 
kelas kami tak pernah mempersoalkannya benar bahwa kami berbeda aliran.  Kami tak 
membeda-bedakan atau mengelompok sendiri. Kami bergurau dan bercengkerama seperti 
biasa, bahkan terkadang terselip olok-olok tentang "warna"ku itu yang kutanggapi 
dengan gembira saja.

 

Ketika jam istirahat ke II tengah hari, sebagaimana biasanya aku ke luar  untuk 
mengisi perut di mBok Bon  di belakang sekolah. Selesai jajan saya berjalan pelan 
untuk kembali ke kelas. Masih di halaman itu, tiba-tiba tanpa kuketahui datangnya aku 
dicegat oleh beberapa teman yang aku kenal baik yang aku tahu pula mereka adalah 
anggota PII. Mungkin ada sekitar 10 orangan. Mereka berteriak-teriak ganas sambil 
menunjuk-nunjuk, "Gestapu..gestapu..PKI..PKI." Aku terpana sejenak. Lalu mereka 
mengeroyokku dengan tonjokan. Aku terjatuh dan dipukul ramai-ramai hingga kacamataku 
lepas. Pada awalnya aku kaget juga atas serangan tak terduga itu. Aku tak tinggal diam 
menerima begitu saja perlakuan tersebut. Herannya aku tak  merasa gentar. Aku pun  
mencoba melawan tapi tak ada gunanya. Terjadilah pertarungan yang tak seimbang.  
Mereka terlalu banyak. Aku terjatuh. Namun beruntung penganiayaan itu tak berlangsung 
lama dan aku tak mengalami luka sedikit pun. Hanya memar sedikit di wajah.  B
 agai layaknya pesakitan yang baru ketahuan nyolong sepeda, aku ditarik berdiri, kedua 
tanganku lantas ditelikung ke belakang dan digiring ke dalam sekolah. Entah siapa, ada 
yang menyodorkan kacamataku yang segera kupakai kembali. Aku dibawa ke ruang guru di 
lantai II diiringi sorak sorai cemohan dari teman-temanku. Tapi aku tetap berjalan 
dengan tegak dan tetap melemparkan senyum pada teman-teman yang memandangku dengan 
pandang kasihan, barangkali. Sedikit pun aku tak merasa takut. Aku tak merasakan suatu 
kepahitan atau aku merasa bersalah maka aku tak ingin menunjukkan sebagai orang 
pesakitan karena aku telah melakukan tindakan hina bagai tindak kriminal seorang 
maling misalnya. Dan tak pula aku menunjukkan kebencianku kepada mereka yang 
menganiayaku tadi. Sekolah nampak gaduh. Namun aku tak melihat teman-teman anggota 
IPPI lainnya. Ke mana mereka? Apakah mereka juga mendapat perlakuan seperti aku, 
tetapi aku tak melihatnya seorang pun. Berita peristiwa pemukulan itu cepat 
 menyebar, kulihat aku menjadi pusat perhatian semua murid sekolahku itu, yang nampak 
melongok dari seluruh jendela bangunan sekolah yang bertingkat tiga itu. Ketika aku 
berjalan digiring ke dalam sekolah kudongakkan kepalaku ke atas dan kusebar pandangan 
kepada mereka. Aku tetap tegar dan selalu senyum, tak sedikit pun kutunjukkan 
kegetiranku. Aku pasti jadi sangat terkenal di sekolahku.

 

Dalam ruang itu aku duduk di kursi dilindungi para guru. Tak seorang pun murid boleh 
masuk. Di luar ruangan masih terdengar ramai teriakan, "Gestapu..Gestapu.. 
PKI..PKI..," suara teman-teman bernada garang dan marah yang ingin menghabisi aku. 
Disertai dengan teriakan cemohan seperti itu, tak lama kemudian menyusul masuk  satu 
persatu teman-teman anggota IPPI lain dari seluruh kelas yang juga mendapat 
penganiayaan sama seperti aku.  Di antaranya ada yang didorong kuat ke dalam ruangan 
hingga terjerembab. Rupanya aku yang pertama kali mereka keroyok lalu menyusul 
teman-teman anggota IPPI lainnya itu. Kami saling memandang sejenak, kecut. Tak banyak 
yang bisa kami lakukan. Semua duduk diam dengan pikiran masing-masing. Aku lihat 
beberapa wajah temanku pucat ketakutan, terutama yang perempuan, menangis pelan 
sesenggukan.  Sebagian menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebagian berangkulan 
sesamanya. Aku mencoba menghibur diri, kutegakkan kepalaku dan mencoba melempar senyum 
kepada m
 ereka, memberi isyarat tak apa-apa. Tenang saja. Tak tahu bagaimana, saat itu aku 
punya kekuatan apa sehingga aku masih bisa bersikap begitu tenang. Tak pula terlintas 
di pikiranku rasa was-was atau jeri, sesudah itu kami mau diapakan? Bapak dan ibu guru 
yang berada di ruang itu pun tak melakukan apa-apa. Tak juga bicara sekali pun. Kami 
tetap duduk dengan diam satu sama lain. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, 
sambil sesekali masih terdengar sesenggukan pelan dari temanku perempuan yang rupanya 
belum mampu berhenti menangis.

 

Tak lama kemudian kami semua diminta oleh seorang guru untuk mengikutinya ke luar. 
Kami beriringan berjalan. Tak tahu kami mau dibawa ke mana. Beberapa teman tak bisa 
menyembunyikan ketegangan wajahnya, nampak kecut, bertanya-tanya dan takut. Matanya 
masih basah oleh air mata yang mengalir di pipinya. Gang dalam sekolah telah sepi. 
Teman-temanku yang tadi riuh di luar ruangan telah kembali belajar dalam ruangan 
kelasnya masing-masing. Rupanya kami dibawa ke luar sekolah dan di halaman sekolah 
ternyata telah menunggu sebuah truk terbuka. Kami diminta naik ke atasnya. Tak ada 
yang kami bawa kecuali pakaian yang kami sandang. Truk berangkat, kami dibawa pergi 
diiringi ratusan mata teman-temanku murid SMA Teladan yang akhirnya berebut melongok 
ke luar di setiap jendela ruangan kelas gedung tiga tingkat itu. Ada pula yang 
melambai-lambai tangannya. Kami hanya bisa memandang kelu hingga gedung sekolahku 
hilang dari pandangan ketika truk membelok ke luar ke jalan besar. Baru tahu la
 ma kemudian itulah hari terakhir kami bersekolah di SMA Teladan.

 

Tak lama berjalan truk masuk ke halaman bangunan tua dan berhenti. Ternyata kami 
diminta turun di situ,  di Kantor Polisi Ngupasan, di samping Istana Presiden. Kami 
dikumpulkan dalam suatu ruangan, satu persatu kami dipanggil dan duduk di depan 
seorang berpakaian seragam polisi. Kami ditanya nama, alamat, nama orangtua dan 
pertanyaan-pertanyaan umum lain, termasuk di organisasi IPPI sebagai apa, kegiatannya 
selama ini dlsb. Anehnya tidak ditanya terjadinya peristiwa kami dipukuli itu.  
Sesudah itu kami diminta ke ruangan agak luas seperti aula di sebelah tempat kami 
ditanya tadi. Kami bergerombol di sana mencari tempat masing-masing. Aula itu kosong 
tak ada kursi satu pun. Entah biasanya ruangan untuk apa. Kami duduk di lantai ubin 
yang dingin, menunggu dan masih dengan diam. Belum juga cair dari rasa ketegangan 
kami. Masing-masing masih lebih suka berdiam diri dan tak berbicara satu sama lain. 
Kami tak melakukan apa-apa dan tak diminta apa-apa pula oleh Polisi. Kami didiamka
 n saja. Tak juga dijaga. Kami bebas ke luar masuk ruangan kalau mau. Hingga sore 
hari, ternyata kami tak diperbolehkan pulang. Malam itu kami menginap di atas lantai 
yang dingin itu. Tapi aku tahu semalaman di antara kami tak ada yang bisa tidur. Entah 
apa yang terpikirkan malam itu.

 

Esok harinya, masih ada teman yang menangis, matanya sembab karena air mata. Beberapa 
mencoba menghiburnya. Suasana telah mulai sedikit mencair. Kami sudah sempat bercanda 
satu sama lain dan saling menghibur. Apalagi aku cerita, tadi pagi ketika hari mulai 
terang aku ingin cuci muka di kamar mandi belakang, aku kaget air yang aku pakai tadi 
malam untuk cuci muka itu ternyata air kotor bekas ngepel lantai. Ya ampun, padahal 
buat kumur-kumur juga. Tadi malam karena gelap, tak kelihatan sih. Kami semua ketawa 
berderai. Mereka umumnya merisaukan keluarganya. Apakah masing-masing keluarga telah 
tahu keberadaan kami? Hari itu berlalu begitu saja. Kami tak diapa-apakan. Hanya 
luntang-lantung duduk, berdiri duduk lagi atau berbaring ngelamun. Aku tak berpikir 
apa-apa. Sesekali ingat keluarga tapi tak lama. Kadang aku malah merasa beruntung, 
keluargaku telah pindah dari Jogjakarta belum lama ini, sehingga aku tak terlalu risau 
memikirkannya. Jadinya aku malah lebih sering memikirkan p
 acarku. Kecuali itu tak ada lagi yang bisa kami lakukan.  Sesekali ada salah seorang 
yang dipanggil. Ketika teman itu kembali ke ruangan, kami berebut ingin tahu apa yang 
terjadi. Tapi umumnya cuma bilang hanya ditanya-tanya saja, yang kemarin datanya belum 
lengkap. Siang hari itu beberapa orang tua atau keluarga telah datang untuk menjenguk 
kami. Menyenangkan sekali. Mereka bertangisan. Kami gembira, paling tidak pertanyaan 
yang menggantung tadi malam terjawab sudah bahwa pasti keluarga masing-masing telah 
diberitahu tentang keberadaan kami. Mungkin sekolah yang memberitahu, atau pihak 
polisi? Atau temanku sekolah yang bertetangga? Tak terlalu penting siapa pun yang 
melakukan. Mereka juga membawa makanan dan pakaian. Sejak kemarin kami tidak berganti 
pakaian. Satu persatu keluarga teman-teman bergiliran datang. Tapi aku, siapa yang 
akan menjenguk? Di rumah hanya ada seorang nenekku yang telah tua renta yang 
sendirian. Tak mungkin beliau akan datang. Keluargaku telah berada 
 di Jakarta semua. Mungkin aku satu-satunya yang tak punya keluarga atau saudara di 
Jogja yang akan datang menjengukku. Tapi agak sore hari, tak kusangka Ibu pacarku yang 
datang. Ternyata beliau pula lah yang mengurusku penuh perhatian,  termasuk 
barang-barangku di sekolah yang kutinggalkan dengan terpaksa kemarin.

 

Hari-hari berikutnya kami jalani tanpa juga melakukan apa-apa. Membosankan juga.  
Menunggu sesuatu yang tak kami tahu apa yang kami tunggu. Pada hari kedua secara 
mengejutkan, ada polisi yang masuk ke ruangan kami. Dia memanggilku lalu menyerahkan 
bungkusan. Isinya makanan macam-macam disertai segepok surat. Aku heran, darimana? 
Ternyata datang dari teman-teman sekelasku dan beberapa kelas lain. Sesaat aku 
tercenung, aku tak pernah menyangka. Tak terasa air  mataku menggenang di pelupuk 
mata, perasaan haru menyelimuti diriku. Ternyata begitu besar perhatian teman-temanku. 
Aku mulai sadar,  mereka lah teman-temanku sesungguhnya. Perbedaan warna aliran tak 
membuat kami mengurangi perhatian satu sama lain. Kenapa kita mesti bermusuhan, saling 
membenci dan saling melakukan kekerasan? Buatku memang tak ada alasan. Kita hanya 
berbeda pendapat dan beda pandangan.  Aku tak berhenti membaca, surat-surat itu kubaca 
berulang-ulang. Semuanya menghibur diriku. Ketulusan itu  yang mampu me
 mbuatku meneteskan air mata, mereka mencoba membesarkan hatiku untuk menerima 
"cobaan" dengan tabah dan tawakal.  Lucunya mereka juga bercerita, ketika melihat kami 
dibawa naik truk, semua sekelas bersama-sama menangisi kepergianku. Mereka terus 
mengikuti hingga truk hilang dari pandangan. Katanya beberapa hari ini di sekolah dan 
di kelas menjadi tak enak suasananya. Semua masih sering membicarakan peristiwa 
pemukulan kami itu. Mereka berdoa, agar kami segera bisa pulang dan kembali sekolah 
untuk berkumpul kembali dengan mereka.  Tapi harapan itu tak pernah terwujud lagi.   

 

Hampir 2 minggu kami di kantor Polisi itu. Kami tak diapa-apakan. Mungkin Polisi juga 
tak tahu harus melakukan apa. Sekarang berada di Kantor Polisi kami bukan karena 
berbuat kesalahan. Malah kami adalah korban penganiayaan. Maka istilah "diamankan" 
buat kami  memang lebih tepat. Barangkali karena tak jelas situasinya itu pula 
kemudian kami dilepas. Tetapi setiap hari sejak itu harus datang melapor. 
Masing-masing kami memperoleh selembar surat Lapor Diri. Dan ternyata di kemudian hari 
selembar kertas itulah yang sangat "sakti" banyak menyelamatkan saya ketika melalui 
masa-masa yang makin mencekam dan berbahaya.

 

Jakarta, Maret 2004

-------------------

Arjo Pilang


 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke