** Milis Nasional Indonesia ppi-india **

Indonesia tidak bisa lepas dari dunia luar, apalgi karena hutangnya 
yang menumpuk itu. Jadi sebaikapapun SBY karena dia adalah produk 
militer, keberadaannya dipuncak pemerintahan NKRI akan membawa akibat 
yang kurang baik bagi RI sendiri. Dunia luar sudah punya penilaian 
yang kurang baik terhjapad TNI - karena track recordnya yang tidak 
baik. Memang jika SBY jadi nomer satu, kita kewatir akan tumbuh 
militarisme baru - sedang kita masih trauma kan kemiliteran. ngat 
peristiwa G30S PKI, Peristiwa Woyla, peristiwa tanjung priok, 
peristiwa Lampung serta Timor dan Aceh ....
Sebaiknya ya jangan orang militerlah yang jadi nomer satu.... Kasihan 
RI ini. Kalau nomer 2 bolehlah  - walau mungkin bisa saja SBY jadi 
think tank si nomer 1 ....


--- In [EMAIL PROTECTED], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html
> 
> SUARA PEMBARUAN DAILY 
> 
> --------------------------------------------------------------------
------------
> 
> SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
>  
> 
> Atmadji Sumarkidjo 
> 
> ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
yang dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma 
diperoleh dari bacaan di media, sementara media sendiri membentuk 
opini (yang belum tentu benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi. 
Jadi sering kedua belah pihak saling mengambil kesimpulan yang 
sumbernya kurang akurat. 
> 
> SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan 
Bersenjata RI) yang memasuki bidang non-militer berkat tersedianya 
doktrin serta jalur dwifungsi ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI 
(Purn) Prabowo Subianto yang juga masuk dalam daftar calon presiden 
(capres) memang juga adalah lulusan Akabri, tetapi sampai ia berhenti 
dari dinas aktif, belum pernah terekspos pada karir non-militer dan 
malah miskin pada tugas-tugas teritorial. Mantan Panglima Kostrad itu 
masuk politik jauh setelah pensiun. 
> 
> Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas 
aktif tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial. 
Bahkan ia termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi 
perwira teritorial. Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira 
yang lengkap bidang penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur, 
mempunyai jam terbang panjang di bidang pendidikan, cukup lama 
bekerja di staf serta akhirnya punya pengalaman di teritorial. 
> 
> Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu 
boleh dikata salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang 
dalam TNI tetapi sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan 
cemerlang karena orang-orang seperti almarhum Letjen Agus 
Wirahadikusumah, Jenderal Ryamizard Ryacudu (Kasad sekarang) , SBY 
serta juga Prabowo (menurut buku alumni Cadaka Dharma) adalah lulusan 
dari tahun itu yang mampu mendapat pangkat bintang pada usia 
produktif (umur 40-an) dan relatif cepat. 
> 
> Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain 
seperti Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono 
di TNI-AL atau Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir. 
> 
> 
> Banyak Faktor 
> 
> Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier 
yang cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang 
berprestasi sangat baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-
1969 baik dari Jakarta maupun daerah. Banyak di antara mereka melamar 
karena terpengaruh nama harum ABRI pada waktu itu. 
> 
> Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah 
kepemimpinan Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie 
Wibowo. Sarwo tidak hanya memberi perhatian pada para taruna darat 
tetapi juga membina para taruna matra laut, udara dan polisi. 
> 
> Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni 
yang aktif (Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY 
sendiri, praktis yang memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri 
hingga ia pensiun dari jabatan militer dengan pangkat Letjen TNI. 
> 
> Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan 
aktivitas memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-
kumpul reuni, mulai dari membahas situasi negara sampai me review 
buku-buku yang dianggap menarik. Dan semua mengakui, ini berkat 
kepemimpinan "ki lurah" SBY. 
> 
> Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan 
Seskoad (waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para 
perwira angkatan 1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad 
seperti Jenderal Edi Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga 
memanfaatkan otak mereka. Gerakan Back to Basic yang mula-mula 
dicanangkan oleh Edi dan diteruskan oleh Wismoyo, konsep dasarnya 
dikembangkan oleh orang-orang seperti Agus Wirahadikusuma dan SBY. 
> 
> Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang 
bersikap reformis atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk 
pada tarik-menarik politik yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional 
dan Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan, 1998) yang sebetulnya adalah 
produk intelektual sebagai peringatan 25 tahun pengabdian mereka 
tanpa disengaja mengekspos mereka menjadi para alumni yang high 
profile. Dan puncaknya adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru 
dan Tantangan TNI (PSH, 1999) yang terbit pada alam yang lebih 
demokratis. 
> 
> 
> Buku Kontroversi 
> 
> Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua, 
menimbulkan rasa kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi 
banyak tidak disukai oleh para jenderal konservatif dalam tubuh TNI 
sendiri. Buku yang pemikiran mainstream-nya adalah wacana ke depan 
(alternative future thinking) Agus Whk dan sejumlah perwira lain 
secara tegas menolak dwifungsi, Orde Baru dan semua produk masa 
sebelum itu; padahal kelompok konservatif-orthodoks masih banyak pada 
posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl Merdeka Utara. 
> 
> Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya 
memberikan kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir 
ketika buku sudah dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap 
diterbitkan tanpa ada jejak serta keterlibatan SBY. Padahal pada 
awalnya, SBY-lah yang mendorong penerbitan buku yang sering disebut 
kontroversi itu. 
> 
> Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan 
pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu, terang-
terangan memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang sifat-
sifat pribadinya lebih eksplosif dibanding SBY sudah menjadi sorotan 
media sejak ia menjadi Pangdam Wirabuana di Makasar. Promosinya 
menjadi Panglima Kostrad yang terang-terangan didorong oleh Gus Dur 
akhirnya menjadi bumerang bagi karirnya. 
> 
> Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan 
juga, yaitu Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah 
perwira teman dekat atau yang pemikirannya sejalan, juga terlempar 
dari jalur promosi. Di sini awal "kesialan" yang menimpa mereka dan 
itu baru terakhir satu tahun terakhir ini. 
> 
> Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan 
dan mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas 
belajar banyak bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang 
mertua, Letjen TNI Sarwo Edhie yang sangat high profile, dan tidak 
mau berkompromi, lurus dan cenderung tidak mengerti military politics 
yang terjadi pada eranya. Sarwo kemudian terlempar dari orbit, 
sementara yang memperoleh kepercayaan Soeharto adalah para perwira 
TNI-AD yang lain. 
> 
> Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-
rekan sekelas untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI 
menduduki posisi yang strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya 
cara untuk menjunjung kepercayaan rekan-rekannya itu sebagai pembawa 
bendera adalah mengambil sikap hati-hati dan harus pula menampilkan 
sosok yang sedikit "konservatif" mesk bumbu moderat masih ada di 
dalamnya. Ia harus menjalankan peran itu, karena Prabowo yang waktu 
itu justru sangat high profile karena adalah menantu Soeharto 
mempunyai kelompok pertemanan sendiri, dan tidak pernah 
mengidentikkan dirinya sebagai "anggota" kelompok 1973. 
> 
> 
> Sosok SBY 
> 
> Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan 
media mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang 
andal tetapi peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat 
dan tegas . Budayaan Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah 
talkshow di radio menyebut SBY sebagai sosok yang "kurang militer dan 
terlalu sipil". Tetapi profil demikian sebetulnya adalah yang mampu 
membawa SBY selamat dari kecurigaan berbagai kelompok pemikiran atau 
kepentingan dalam tubuh ABRI. Bahkan mampu lolos dari kecurigaan dari 
Soeharto yang tidak pernah menyenangi perwira yang punya kepribadian 
atau yang mandiri. 
> 
> Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir 
seorang perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang 
melesat cepat di jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir 
keduanya antara tahun 1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan 
pangkat mereka selalu hampir bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi 
menjadi Brigjen, SBY mendapat promosi di Bosnia dalam pasukan PBB. 
> 
> Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun diplot 
menjadi Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen 
Agus Widjojo yang harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar 
dari promosi secara menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung 
cepat menyelamatkan karier Agus Widjojo dan buru-buru menariknya ke 
Cilangkap. 
> 
> Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang 
tidak banyak berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI 
sementara Prabowo menjadi Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa 
SBY mampu lolos dari badai kedua dalam ABRI, ketika terjadi 
pergantian rezim, sementara Prabowo terpental dari posisinya yang 
kuat. 
> 
> Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu 
pada periode yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil 
kesimpulan bahwa SBY adalah seorang "peragu" atau "tidak decisive" 
atau "tidak berani mengambil keputusan" seperti apa yang digambarkan 
oleh media atau yang diungkap oleh para pengamat. 
> 
> Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya 
sejak tahun 1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan 
karirnya, ia harus menghindari adanya pandangan yang 
mengategorikannya sebagai perwira yang berada pada titik-titik 
ekstrem sebuah pendulum sikap. Akibatnya, memang SBY seolah-olah 
kurang cocok dengan almarhum Agus Whk; tetapi adakah sikap yang lebih 
tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia pada situasi 
demikian? 
> 
> Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban 
yang kita sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula 
seorang Menteri yang harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah 
pribadi sipil mandiri yang memperbolehkan nya untuk bicara apa saja. 
Pertanyaanya adalah, apakah tanpa beban di atas kita akan mendapatkan 
seorang SBY yang "asli" yang dikenal dan justru mulai digaumi banyak 
kalangan ketika masih berpangkat Kolonel? 
> 
> 
> Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini 
bekerja di RCTI. 
> 
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------
------------
> 
> Last modified: 29/3/04 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke