SURAT DARI PARIS:

TONI MORRISON, SASTRAWAN PEJUANG AFRO-AMERIKA [ 3--SELESAI]

Seperti halnya dengan penulis-penulis Afro-Amerika lainnya seperti Richard Wright, 
John Edgar Wideman, Langston Hughes, dan lain-lain.... Toni Morrison juga sangat 
memperhatikan masalah-masalah yang hidup di kalangan komunitas Afro-Amerika. 
Karya-karya mereka pun banyak mengangkat tema-tema dari komunitas di mana mereka lahir 
dan berasal. Mereka menyatu dengan komunitas asalnya yang menjadi akar diri mereka 
sebagai orang Amerika. Toni agaknya tidak mempertentangkan identitas Afro-Amerika 
dengan identitas Amerika Serikat. Afro-Amerika adalah Amerika dan dalam Amerika 
terdapat Afro-Amerika. Pandangan inipun digaungkan oleh penyair Langston Hughes dalam 
sebuah sanjaknya berjudul "Akupun Amerika". 

Mengenai persoalan akar budaya ini kepada Joignot dari Harian Le Monde, Paris, Toni 
antara lain berkata: "Untuk mencintai diri, kita memerlukan memiliki kembali masa lalu 
kita, akar kita". Dihubungkan dengan konteks Indonesia sebagai bangsa dan negeri yang 
"menjadi"  atau sedang berproses, saya kira apa yang dikatakan oleh Toni menjadi 
sangat relevan. Saya tidak melihat pertentangan antara menjadi Indonesia dan menjadi 
seorang Dayak Kekinian, Jawa Kekinian, Batak Kekinian, Acheh Kekinian, Tionghoa 
Indonesia Kekinian, dan lain-lain... Berbicara tentang budaya daerah, budaya etnik, 
bagi saya justru membantu proses menjadi Indonesia, demikian pula apa yang 
diperjuangkan oleh Halim HD dan kawan-kawan dengan membangun "sastra-seni pulau". 
Sebaliknya berbicara tentang masalah etnik dan daerah, "sastra-seni pulau" termasuk 
usaha nyata dalam mengejawantahkan konsep "bhnineka tunggal ika" bagi Indonesia. Dalam 
hal ini, saya ingin mendengar penjelasan orang yang mengkritik saya sebagai "kurang 
ngindo" ketika berbicara masalah Dayak dan kebudayaan serta 
permasalahan-permasalahannya. Sementara di Tanah Dayak , terutama di Kalimantan Tengah 
sendiri, di tengah-tengah adanya pada suatu saat penyingkiran sistematik orang Dayak 
dari berbagai bidang, terutama politik, pendapat yang dominan adalah "Dayak itu 
Indonesia, dan Indonesia tidak ada tanpa Dayak". Apakah pendapat ini kurang "ngindo"? 
Atau barangkali si pengkritik tidak kenal keadaan lapangan?Dalam hal ini saya kira  
pengkritik perlu menguraikan pendapatnya lebih jauh apa yang disebut "ngindo" dan 
"tidak ngindo" itu.  Sedangkan saya sendiri memandang bahkan ide mendirikan Republik 
Federal Indonesia pun,  termasuk salah satu usul untuk membela Indonesia yang 
"bhinneka tunggal ika". Tentu saja agar otonomi luas atau pun Republik Federal 
Indonesia ini bisa tidak jatuh ke tangan "rajaperang-rajaperang" daerah, kiranya perlu 
kekuatan sipil diperkuat. Barangkali di sinilah peranan dan arti penting revitalisasi 
Masyarakat  Adat yang pada zaman kolonialisme Belanda justru diakui sedang pada zaman 
Orde Baru Soeharto dihancurkan atau dicoba untuk dihancurkan secara sistematik. 

Soal ini secara khusus dibahas oleh oleh Toni melalui roman ketiganya "Nyanyian 
Salomon". Dalam roman ini, Toni  berkisah tentang riwayat Macon Mort, seorang Hitam 
berasal dari kelas menengah yang tinggal di Amerika Utara. Macon Mort adalah  
seseorang yang mengabaikan masa silamnya di Selatan tempat Salomon nenek-moyangnya 
hidup sebagai seorang budak. 

Sebuah lagu lama yang kebetulan mencatat riwayat jejak ini, termasuk tanda-tanda 
asal-usulnya dari Afrika. Macon Mort yang bangga akan kedudukannya sebagai orang di 
kelas menengah menjadi manusia tanpa ingatan, menjadi  lupa akan sejarah. Lupa dan 
ingat yang sampai sekarang tetap merupakan permasalahan relevan dalam masyarakat 
negeri dan bangsa manapun, termasuk Indonesia. Macon Mort mempelajari lirik asli lagu 
ini dan kemudian menemukan adanya warisan budaya dan spiritual di dalamnya. Lagu ini 
adalah lagu para budak asal Afrika yang dijual ke Amerika, jenis-jenis lagu yang 
kemudian melahirkan lagu-lagu Blues. Pada lagu-laguy para budak asal Afrika ini, 
sering dilukiskan adanya tukang sihir yang kuasa menerbangkan pulang para budak 
kembali ke Afrika. Sedangkan ketgika Kristenisme menyusup ke kalangan para budak, 
tukang sihir digantikan oleh para malaikat dan Tuhan seperti misalnya  yang 
dilukiskankan dalam lagu-lagu "Spritual Songs". Misalnya pada lagu "Swing Low  
SweetCharriot". Tukang sihir dan kedatangan malaikat sesungguhnya melambangkan hasrat 
untuk lepas dari beban perbudakan yang tak tertanggungkan lagi. Inipun adalah pendapat 
Toni. 

 Dalam hal ini kembali saya melihat adanya paralelisme antara lagu-lagu Blues, 
"spiritual songs" dengan sansana kayau orang Dayak dan lagu-lagu rokhani yang sekarang 
disenandungkan dalam upacara agama Kristen di Tanah Dayak. Kalau mau jujur pada diri 
sendiri, berapa banyak manusia Dayak yang tidak hirau akan akar budaya dan masa silam 
sejarahnya? Berapa banyak orang Dayak yang tidak mengerti apa artinya menjadi manusia 
Dayak Kekinian dan keindonesiaan? Yang terpenting adalah gelar dan duit, serta 
individualisme, hidup asal hidup, tanpa tahu untuk apa hidup dan bagaimana hidup 
sebagai Dayak Kekinian, tidak mencengkam dan tidak paham arah besar zaman yang 
menantang! Ketidakmampuan mencengkam arah besar sering membuat seseorang sibuk dan 
tekun mengurus pribadi orang lain dan bergunjing. Padahal apa gerangan yang dihasilkan 
oleh gunjing? Gunjing adalah tanda kekerdilan jiwa, kecupetan pikir dan ketiadaan 
wawasan! Malangnya justru kekerdilan ini merupakan tempat di mana banyak orang suka 
bermain. Barangkali bagi para antropolog, terutama bagi para antropolog Dayak,  tema 
perkembangan dan keadaan mentalitas ini bisa menjadi tema penelitian yang menarik. 

Kembali kepada tokoh Macon Mort. Setelah menelaah lirik asli lagu para budak tersebut, 
ia menemukan kembali akar Afrika dirinya dan kisah para leluhurnya. Melalaui roman 
ketiganya, Nyanyian Salomon, Toni menyampaikan pesan tentang arti pentingnya akar dan 
berangkat dari akar budaya diri untuk bisa menjadi warganegara sebua repulbik dan anak 
manusia. Toni Morrison meraih Hadiah Nobel sastra justru "karena melalui 
karya-karyanya ia mengangkat masalah nyata dan mimpi manusia Afro-Amerika". Apakah 
dengan mengangkat soal Afro-Amerika, Tonni bisa disebut "kurang Amerika" jika 
mengikuti alur pikir pengkritik yang menduuh bahwa jika bicara soal etnik dan daerah 
lalu kurang "ngindo"? Benar, yang "bicara tidak berdosa yang mendengar patut waspada" 
tapi dari "yang bicara" dituntut data, sedangkan jika tanpa kemampuan mengetengahkan 
data lebih baik tahu diri dalam berucap dan berkata! Karya dan kata akhirnya lukisan 
yang membeberkan apa-siapa diri kita. Apakah dengan memberikan hadiah Nobel Sastra 
kepada Tonni yang mengangkat permasalahan Afro-Amerika, pihak Akademi mendorong 
komunitarisme, merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara? Sementara kritisi 
mensejajarkan karya Toni "Nyanyian Salomon" ini dengan karya-karya Racine atau Alex 
Haley, suatu cara para kritisi memperlihatkan penghargaan mereka. 

Menyusul "Nanyian Salomon", Tonni menulis roman baru dengan mengambil lokasi kawasan 
kepulauan Antilen [Antille] dengan tokoh indo Hitam-Putih yang kaya raya. Lalu karya 
lainnya berbentuk drama "Dreaming Emmet", berdasarkan kisah nyata remaja Hitam, Emmet 
Till, yang dibunuh  pada tahun 1955 oleh hakim rasis semata-mata karena Till menyiuli 
seorang perempuan putih di jalan. Yang dianggap sebagai karya "master-piece" Toni oleh 
banyak kritisi adalah romannya "The Belove" yang terbit pada tahun 1987. Lagi-lagi 
kita melihat bahwa masalah komunitas Hitam Afro-Amerika merupakan tema utama yang 
diolah oleh Toni Morrison, bukti bahwa penulis sejati tidak bisa terlepas dari akar di 
mana ia tumbuh. Dengan tema ini pula , nampak Toni telah menggunakan media sastra 
sebagai alat memanusiawikan komunisnya. Toni tidak menempatkan sastra sebagai daerah 
steril kepentingan dan politik. Ketika orang-orang Afro-Amerika dipandang seperti kera 
oleh nilai dominan di Amerika Serikat, justru tema inilah yang diangkat oleh Toni dan 
dijadikan topik pertarungannya melalui sastra bahwa manusia dan kemanusiaan tidak 
mengenal warna kulit dan perbatasan politik. Tema komunitas Afro-Amerika kembali 
dicuatkan oleh Toni dalam karyanya berjudul Jazz , sebuah roman detektif model 
Shakespearian , yang terbit pada 1992. Jazz! Apakah jazz bagi Toni? Jazz adalah "musik 
setan" ujar Toni."Tapi justru jazz la yang mengajarkan saya tentang komposisi dan 
improvisasi serta kerjasama", lanjutnya. Kita kemudian tahu bagaimana musik jazz , 
musik para budak melakukan pengembaan pengaruh ke seantero bumi kita. Bandingkan 
bagaimana sastra-seni Jawa kemudian dimanipulasi dan dimiliki oleh kalangan istana 
Jawa demi melanggengkan kekuasaan feodalisme. Menelusuri sejarah jazz, kita akan 
melihat bagaimana penindasan, perlawanan dan pembunuhan berdarah juga mewarnai 
perkembangannya. Keadaan inipun mengingatkan saya akan pembunuhan seorang antropolog 
Papua [Drs.Aap?] yang dibunuh oleh Orba dengan tuduhan sebagai pengikut OPM 
[Organisasi Papua Merdeka] dan pengusiran sebuah grup musik pop Papua hingga terpaksa 
lari ke Australia, semata karena mengangkat dan meregistrasi musik lokal. Orba dan 
Indonesia Orba agaknya memandang budaya lokal bertentangan dengan keindonesiaan serta 
tidak memandangnya sebagai suatu kekayaan bangsa dan modal Republik. Salman Rushdie, 
ketika ditanyai pendapatnya tentang Toni Morrison, dengan kekaguman mengatakan:"Ia 
telah membawa Afrika ke dalam sastra Amerika". Ketika Toni "membawa Afrika ke dalam 
sastra Amerika" apakah Toni mengingkari Amerika dan ketika kita bicara soal etnik dan 
daerah di Indonesia, apakah kita anti Indonesia dan melawan keindonesiaan? Inipun 
perlu dijawab oleh para pengkritik ketika kita membicarakan soal ini! Kalau tidak, 
saya khawatir, si pengkritik berbicara tanpa konsep dan tanpa tahu apa arti etnik, 
daerah dan Indonesia serta keindonesiaan! 

Karya terbaru Toni berjudul "Love" di mana Toni memulainya dengan kalimat yang 
menggelitik penulis-penulis roman anti perempuan [misogyne] Perancis: "Kedua kaki 
perempuan itu lebar terbuka, sedangkan aku bersenandung". Dalam roman ini Toni 
bertutur tentangmacam-macam cinta: tentang pemerkosaan di kota, tentang seorang 
pengusaha kaya merayu seorang gadis usia 13 tahun , tentang cinta segi tiga, 
kenikmatan seorang remaja dan kanak-kanak yang tak terlupakan, dan rupa-rupa 
pengalaman lainnya dalam masyarakat yang disebut modern. "Cinta warna mawar, cinta 
naif, cinta yang membosankan",  ujar Toni Morrison sambil tersenyum. Cinta yang 
dibimbing birahi dan bukan cinta yang tidak produktif, kreatif serta membebaskan, 
tidakkah cinta yang "membosankan"? Pernahkah kita berpikir dan mentrapkan cinta yang 
produktif, kreatif dan membebaskan yang berbeda  dari cinta didominasi birahi egois?

Tema demi tema yang diangkat oleh Toni memperlihatkan bahwa sebagai sastrawan ia 
adalah pengamat total kehidupan. Melalui karya-karyanya ia ingin memanusiawikan 
manusia dan kehidupan yang digumulinya serta menjadi bagian dari dirinya. Toni adalah 
pejuang untuk memanusiawikan manusia dan kehidupan yang sadar dan tetap menjaga 
kebebasannya sebagai warga republik berdaulat sastra-seni. Barangkali inilah tanda 
sastrawan sebenarnya.Ketika sampai pada kadar ini, sang sastrawan akan bisa membedakan 
soal pribadi, remeh-temeh dan soal-soal besar dalam berkarya! Sekaligus sang sastrawan 
memperlihatkan kematangannya!

Catatan:

Karikatur terlampir adalah karikatur yang diciptakan oleh karikaturis terkemuka 
Perancis, Plantu dari Harian Le Monde, Paris [e Monde, 11 Mei 2004].. Karikatur ini 
difoto-ulang oleh Jelitheng dalam  hubungannya dengan pandangan Toni Morrison tentang 
pemerintah Bush. 

[Selesai]

Paris, Mei 2004.
----------------------
JJ.KUSNI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke