Republika
Kamis, 13 Mei 2004
Mendengarkan Kembali Suara Tragedi Mei
Laporan : c01/uba
Beberapa menit lewat tengah malam, pada Rabu (12/5) dini hari itu terlihat puluhan
mahasiswa sedang berkumpul di sudut halaman depan Universitas Trisakti, Jakarta.
Mereka berdiri di pinggir sebuah monumen yang menjadi simbol empat mahasiswa yang
tewas enam tahun silam. Monumen dengan bentuk empat tiang dan bekas lubang peluru itu
disebut monumen 12 Mei.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, malam itu mereka hendak membacakan pernyataan
sikap mengenai Tragedi Trisakti yang belum terselelaikan hingga kini. Hadir di antara
mereka, Usman Hamid dari Kontras dan Alvien Lie dari Fraksi Reformasi DPR.
Pada 12 mei 1998, aparat keamanan mengerahkan kekuatan besar menghadapi mahasiswa
Trisakti yang menggelar aksi damai di halaman kampus. Empat mahasiswa meninggal
tertembak aparat. Pada 13 Mei, kerusuhan pun mulai meledak di Jakarta. Muncul
aksi-aksi pembakaran. Anehnya, pada 14 Mei, Jakarta seperti ditinggalkan aparat
keamanan. Pada 14 Mei ini, Jakarta mengalami puncak huru-hara. Banyak aksi pembakaran
dan penjarahan. Data aparat menyebut ada 288 korban tewas terbakar, 101 korban
luka-luka. Kerugian fisik dilaporkan mencapai Rp 2,5 triliun akibat hancurnya ribuan
gedung.
Kemudian muncul spekulasi di kalangan masyarakat bahwa aparat keamanan sengaja
membiarkan adanya huru-hara ini. Wiranto, yang saat itu menjabat Panglima TNI,
menampik tudingan ini lewat bukunya Bersaksi di Tengah Badai.
Tapi, enam tahun berlalu, masyarakat rupanya belum yakin jika militer tak terlibat
dalam kasus huru-hara Mei 1998 itu. Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Andika
Rizki, misalnya, lantas menyorot tampilnya Wiranto dan SBY sebagai capres. Menurutnya,
mereka berdua tak layak tampil sebagai capres lantaran ikut bertanggung jawab dalam
kasus yang ia katakan sebagai kekerasan militer.
Dalam aksi demonstrasi Rabu siang, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta
juga mempersoalkan hal senada. Dalam aksi di depan Gedung KPU dan Plaza Bundaran HI
itu, para mahasiswa menuntut diajukannya penanggung jawab keamanan pada saat terjadi
huru-hara Mei 1998 ke meja pengadilan.
Mereka juga menolak bangkitnya militerisme. Munculnya capres dari militer, mereka
nilai sebagai bagian dari skenario membangkitkan militerisme. ''Militerisme adalah
mimpi buruk rakyat selama puluhan tahun kekuasaan Orde Baru. Militerisme adalah sumber
kekerasan terorisme negara,'' kata para mahasiswa dalam orasinya. Mereka malah
menyerukan agar rakyat tidak memilih calon presiden yang datang dari mantan anggota
TNI.
Anggota Badan Pengurus Perhimpun Bantuan Hukum dan Hak Asasi Indonesia (PBHI), Jhonson
Panjaitan, menyatakan tewasnya empat orang mahasiswa Universitas Trisakti itu sampai
sekarang masih terus meninggalkan sisi kelam bagi banyak orang. Bahkan, sampai
sekarang keluarga korban tetap tidak tahu dengan pasti siapa sebenarnya pihak yang
membunuh anaknya itu.
''Hak korban untuk mengetahui atas kebenaran kasus yang menimpa anggota keluarganya
malahan semakin dilupakan. Pengungkapan kebenaran dan keadilan yang dilakukan,
ternyata masih dikuasai penafsiran sempit versi penguasa dan hanya menjadi konsumsi
politik,'' kata Jhonson.
Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Andika Rizki, menyatakan tuntutan mahasiswa
kepada pemerintah dan DPR agar memenuhi tiga poin permintaan mereka. Di antaranya
adalah penuntasan kasus Trisakti, Semanggi I-II, dan kerusuhan Mei.
Di sisa masa pemerintahannya, Megawati diminta membentuk Peradilan HAM ad hoc atas
kasus Tri Sakti. ''Pemerintahan Presiden Megawati harus segera mengeluarkan keppres
untuk membentuk peradilan HAM ad hoc atas terjadinya kasus penembakan empat rekan
kami. Dalam hal ini Megawati harus memerintahkan Jaksa Agung untuk segera melakukan
penyidikan atas kasus ini,'' kata Andika.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/