http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/14/opini/1024944.htm

      Jumat, 14 Mei 2004  
     
     
     

      Siklus Otoritarianisme Dunia Ketiga 


      Oleh A Eby Hara

      NEGARA-negara demokrasi baru di Eropa Timur dan Asia selalu mengalami gejolak 
sebelum mencapai tingkat kematangan demokrasi. Selain krisis pemerintahan karena 
aturan kelembagaan yang belum dihargai bersama, muncul fenomena menguatnya kembali 
kekuatan lama yang telah berganti warna dalam politik negara-negara itu.

      Meski demikian, naiknya Partai Komunis atau mantan tokoh komunis seperti di 
Rusia (Presiden Vladimir Putin), Hongaria (PM Peter Medgyessy), Slowakia (Presiden 
Rudolph Schuster), dan Serbia ke pucuk pemerintahan tak mengubah sistem demokrasi yang 
belum lama berjalan. Tampaknya sistem demokrasi telah diterima luas, termasuk Partai 
Komunis yang sebelumnya menerapkan sistem totaliter dalam pemerintahan.

      FENOMENA ini sedikit berbeda di negara dengan tradisi rezim militer. Di 
Pakistan, rezim militer yang dianggap sudah anakronis ternyata kembali berkuasa 
melalui kudeta terhadap pemerintahan sipil. Di Myanmar, rezim militer tetap bertahan 
hingga kini meski diisolasi negara-negara Barat. Di Thailand, baru beberapa tahun ini 
rezim pemerintahan sipil berkuasa cukup lama. Sebelumnya, Thailand terkenal dengan 
jatuh bangunnya pemerintahan karena kudeta. Godaan bagi militer untuk kembali ke 
pemerintahan mungkin masih besar di Thailand, tetapi sejalan dengan menguatnya 
pemerintahan sipil, kemungkinan kudeta militer makin kecil. Korea Selatan juga pernah 
dipegang penguasa militer, namun transisi ke pemerintahan sipil berjalan lancar.

      Mengikuti fenomena di Eropa Timur, Indonesia juga tidak memerlukan waktu cukup 
lama bagi kembalinya kekuatan-kekuatan lama ke pemerintahan. Reformasi tidak mengubah 
secara mendasar komposisi kekuatan partai politik maupun struktur dan hierarki sosial 
di masyarakat. Maka, tidak mengherankan bila kekuatan lama yang punya jaringan kuat 
tinggal menunggu waktu untuk kembali berkuasa.

      Namun, berbeda dengan fenomena rezim-rezim militer yang merebut kembali 
kekuasaan lewat kudeta seperti di Pakistan, Myanmar, atau Thailand sepuluh tahun lalu, 
konsolidasi kekuasaan militer meski lewat para purnawirawan, di Indonesia dilakukan 
dengan melebur pada sistem dan mekanisme politik baru.

      Fenomena masuknya militer ke politik seperti di Indonesia, meski bukan 
satu-satunya di dunia, kurang kondusif bagi perkembangan demokrasi. Seperti di Eropa 
Timur, diharapkan lembaga demokrasi akan tetap dipertahankan siapa pun yang berkuasa. 
Namun, masyarakat tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran tentang munculnya kembali 
otoritarianisme, yang kalau tidak dimotivasi oleh faktor internal pada diri militer, 
bisa dipercepat oleh faktor eksternal yang mendorong peran militer lebih besar.

      SIKLUS otoritarianisme demikian sudah diingatkan Samuel Huntington dan Joan 
Nelson lebih dari tiga puluh tahun lalu. Mereka menyebutkan, masalah utama demokrasi 
di dunia ketiga terletak pada pelembagaan dan partisipasi politik. Dalam hal 
partisipasi, negara- negara yang menutup keran partisipasi politik akan mencapai titik 
jenuh yang menimbulkan apa yang disebutnya "ledakan sosial". Tuntutan bagi partisipasi 
yang besar ini akan melahirkan pemerintahan yang terbuka, populis, dan pro-pemerataan 
ekonomi. Namun, suasana ini tidak akan bertahan lama karena melemahnya kemampuan 
ekonomi negara. Stagnasi ekonomi ini akan kembali melahirkan protes, ketidakstabilan 
politik yang mengancam negara itu. Huntington dan Nelson menyebutkan akan munculnya 
represi politik dan otoritarianisme baru untuk mengatasi kesulitan ekonomi dan 
kesemrawutan politik akibat keterbukaan.

      Siklus itu akan terus berputar menuju kembali ke ledakan sosial, kecuali ada 
kebijakan-kebijakan tambahan yang diambil rezim otoriter untuk menghentikan lingkaran 
itu. Rezim-rezim otoriter pembangunan menjadi harapan bagi perubahan bila berhasil 
memperbaiki ekonomi dan mengambil kebijakan yang bisa menanggulangi kesenjangan 
ekonomi di masyarakat. Rezim otoriter pembangunan di Korea Selatan dan Taiwan dianggap 
berhasil dalam hal ini sehingga social explosion bisa dicegah. Kestabilan politik 
terpelihara dan perubahan ke arah sistem demokratis bisa berjalan lebih lancar tanpa 
korban berarti.

      Pandangan Huntington dan Nelson memang berlaku untuk rezim otoriter pembangunan 
beberapa dekade lalu saat rezim-rezim itu masih menjadi model di Amerika Latin dan 
Asia. Namun, kondisi-kondisi yang bisa melahirkan siklus itu agaknya tetap sama. 
Ledakan sosial dan tuntutan perubahan, terutama, terjadi bila kesenjangan ekonomi kian 
besar meski pertumbuhan ekonomi baik.

      Sebaliknya, otoritarianisme dan represi politik akan muncul bila ekonomi stagnan 
yang menyebabkan lahirnya berbagai tuntutan masyarakat yang berujung ketidakstabilan 
politik dan kerusuhan.

      DALAM konteks siklus ini, kekhawatiran atas munculnya kembali otoritarianisme di 
Indonesia cukup beralasan. Tentu saja otoritarianisme itu belum tentu kembali dalam 
bentuk model pemerintahan otoriter pembangunan, tetapi lebih kepada mentalitas yang 
sebagian kini berkembang di masyarakat dan kalangan elite. Siklus demikian tercermin 
dari asumsi umum bahwa bilamana terlalu banyak partisipasi dan kebebasan, pemerintahan 
tidak akan stabil, tidak efisien, dan ekonomi stagnan. Karena itu, kita memerlukan 
orang atau pemerintahan yang kuat.

      Rezim-rezim otoriter pembangunan, atau sering disebut semi-demokrasi atau 
soft-authoritarian, dalam beberapa hal mendapat simpati meski memberangus media, 
membatasi perdebatan politik, mengatur aturan pemilu untuk kepentingan partai 
berkuasa, dan membatasi oposisi. Salah satu alasannya karena rezim-rezim itu memberi 
rasa aman, kepastian berusaha, dan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

      Rezim Orde Baru di bawah Soeharto adalah rezim otoriter pembangunan, kecuali 
dalam hal manipulasi kekuasaan yang ditopang kekuatan militer yang nyata dan ketiadaan 
pemerintahan yang bersih. Pemerintahan semi-demokrasi lain umumnya dikuasai sipil 
dengan tradisi pemisahan kekuasaan antara sipil dan militer, seperti di Malaysia dan 
Singapura. Semua keputusan pemerintahan diambil pemerintah sipil. Strategi politik dan 
keamanan dirancang oleh tokoh-tokoh sipil yang siap dilaksanakan oleh militer yang 
profesional.

      DI negara-negara semi-demokrasi sipil itu, pemerintahan dianggap kuat bukan 
terutama dalam pengertian kemampuan menghancurkan lawan-lawan politik, tetapi bersih 
dan mampu melaksanakan program- program pembangunan dan ekonomi dengan baik. Di 
negara-negara itu, para pendukung pemerintahan mengatakan, bagi mereka demokrasi 
sekadar alat, bukan tujuan utama. Proses demokrasi digunakan untuk memperoleh 
kekuasaan dan menciptakan pemerintahan yang kuat dalam pengertian di atas.

      Di Indonesia, politik dan proses demokrasi juga dipahami sebagai alat. Kini para 
elite politik dalam parpol yang suaranya agak besar, meski jauh dari mencapai 
mayoritas, merasa bahwa rakyat sudah kembali menginginkan mereka untuk berkuasa dan 
berhak memimpin.

      Kita belum tahu pasti, seperti apa dan ke arah mana sebetulnya kerinduan 
masyarakat terhadap pemimpin yang kuat dan pemerintahan yang stabil itu. Yang lebih 
pasti sebenarnya bukan kerinduan masyarakat, tetapi kerinduan kekuatan lama untuk 
berkuasa kembali. Mereka mewarisi gaya, model kepemimpinan, dan terdidik dalam suasana 
politik Orde Baru.

      Pemerintahan yang kuat saat itu berarti pemerintahan yang mampu menertibkan 
lawan-lawan politik. Kembalinya otoritarianisme seperti itu tentu saja sangat 
merisaukan.

      A Eby Hara Bekerja di International Center for Islam and Pluralism, Jakarta
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke