TENTANG KOPLA
[Cerita untuk El Camino]
Di atas senar-senar gitar, empat baris yang keluar langsung dari lubukhati, rakyat
Spanyol, termasuk Andalusia, menyenandungkan duka-lara mereka. Gitar dan puisi.
Federico Garcia Lorca pernah mengatakan bahwa Spanyol akan sepi tanpa gitar. Sebuah
jendelapun lalu lebar terbuka dari mana kita bisa memandang wajah jiwa seorang anak
manusia yang sedang berlagu. Dan itulah copla, El Camino,yang di sini kuindonesiakan
menjadi "kopla". Jarang ada penyair dari negeri manapun yang mempunyai daya ungkap
begitu intens dengan kata-kata demikian ekonomis ketika berbicara tentang bunga,
gelora cinta dan kesedihan yang mendekati keputusasaan. Para penyanyi kopla pun
mengungkapkan diri tanpa pretensi untuk disebut dan menjadi penyair atau menciptakan
suatu karya seni karena yang terpenting bagi para penyanyi kopla adalah membuka pintu
dan jendela hati mereka agar burung-burung hitam duka bisa terbang leluasa keluar
mengarung angkasa luas di atas perbukitan atau dataran terhampar Andalusia. Yang
mereka perlukan adalah menyanyi menendangkan kegembiraan, bersenandung untuk melagukan
dukalara mereka. Ketika berbicara tentang cinta, mereka sering menghubungkannya dengan
kematian. Mereka jarang sekali menyambungkan cinta dengan kegembiraan. Kopla tidak
ditulis, ia dinyanyikan. Para penyanyi membiarkan perasaan mereka terbang menyatu
dengan angin dan mengelanai penjuru demi penjuru. Setiap kopla adalah ungkapan lugas
tentang hidup dan perasaan yang merasuk, motif-motif abadi, kebersamaan ataupun yang
khusus bersifat perseorangan, tentang perempuan dan lelaki, cinta, benci, kemiskinan,
kesedihan dan kematian. Daya kopla, oleh orang-orang Andalusia sering disebut
mendekati kekuatan mantra dalam masyarakat berbagai etnik di Indonesia. Melalui kopla
kita menyaksikan gambaran menyeluruh kehidupan sebagai sebuah drama.Kita mendengar
tetapi lebih-lebih lagi kita menyaksikannya. Malangnya, tapi ini adalah juga
kenyataan, yang ditampilkan lebih banyak kesedihan sebagaimana halnya dengan keadaan
kehidupan itu sendiri. Kopla menuturkan segalanya ini dengan kesederhanaan ironis
menusuk, terkadang mendekati suara jeritan.Isi kopla lebih dekat kepada kepercayaan
yang jauh dari Tuhan [pa�en].
Di Andalusia kopla hidup sangat subur, merupakan pengungkap diri utama yang digunakan
dalam Kantata Flamenco atau Kantata Jondo. Ia banyak ditemukan di lingkungan para
gitana [jipsi. Jadinya, kopla bisa disebut sebagai Andalusia dan gitana itu sendiri.
Andalusia termasuk salah satu daerah yang langka di mana puisi abadi demikian menyatu
dengan nyanyian, menyuarakan segala pahit-manis yang dikecap dalam kehidupan
sehari-hari, memancar dari setiap bintang malamnya, menyenandungkan kepahlawanan dan
kekalahan. Kopla adalah tempat di mana raga dan jiwa bertemu. Dan inilah, El Camino,
Romansero Spanyol, inilah Cancionero dan Kantata Jondo. Kopla mengingatkan aku akan
sansana kayau, khususnya Sansana Kayau Pulang di Katingan, sungai kelahiranku di
Kalimantan Tengah, yang tentunya juga kau kenal. Selanjutnya akan kusertakan contoh
menyusul apa yang sudah kusampaikan terdahulu.
Paris, Mei 2004.
---------------
JJ.KUSNI
KOPLA CINTA ANDALUSIA:
hari kau dilahirkan
matahari tentu akan berduka
oleh munculnya tandingan
dari dirinya lebih bercahaya
kembang mawar kembang anyelir
demikian pun cengkeh yang wangi,
menyertai bibirmu
ketika kau tersenyum
matamu, wahai si kulit sawomatangku
demikian bijak bestari
pembunuhmu pun merunduk
memberikan salut
wajahmu bernama
Sierra Morena
dan matamu, para pencuri
yang melintasinya
- dengan gerangan apa
wajah kau basuh maka warna kencana?
- kubasuh dia dengan air jernih
selebihnya tuhanlah yang lakukan
nafasmu, nafasmu bunga
nafas limau, mungil:
di dadamu ada
sebuah limau semarak bunga
aku tak tahu gimana dan pabila
ia datang ke kalbu
cercah api pelan menyala
tapi tak nampak lidah cahayanya
sebuah derita lembut kecil
di sini kupunyai bernama cinta
dari mana gerangan ia masuk tiba
maka sampai tak terasa?
bukan salahku tentu saja
kalau mawar jadi milikmu
sedangkan wanginya berasal dari diriku
kau menatapku dan kau kupandang
kepalamu merunduk, demikianpun aku:
tak tahu apa yang kau harapkan
akupun tak tahu apa yang kutunggu
para pastur padaku berkata
agar aku jangan mencintaimu
kepadanya kukatakan: "ah, pasturku
andaikan kau melihatnya...!"
andaikan cinta yang kukandung ini
menjelma jadi gandum
di sevilla tak kan ada
lumbung tak menyimpannya
kalau kau berangkat perang
gantungkan fotoku di dada
ketika peluru melanda abang
kita terbunuh bersama-sama
kau memandangku dan kau kupandang
sedang apa yang ingin kau bilang
melalui pandang
kudengar dengan terang
kau adalah cinta pertamaku
kaulah yang mengajarku cinta
tapi jangan ajarkan aku lupa
yang tak ingin kutahu
kalau kau ingin melupakan aku
lebih baik kau membunuhku
yang kuminta adalah kematian
samasekali bukan melupakan
Catatan:
* Kopla, adalah salah satu bentuk sanjak-sanjak pandak Spanyol.
[Dari: "Coplas. Poemes de l'Amour Andalou", Edition Allia, Paris,1998].
Alihbahasa: JJ.KUSNI
[Bersambung...]
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/