http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004051000374010
      Senin, 10 Mei 2004

      OPINI

      Ketika makin Sulit Menemukan Guru Bangsa

      Mudji Sutrisno SJ, Budayawan
     
      ADA tiga sumber yang meretakkan perekat solidaritas sebangsa Indonesia. Sumber 
pertama, ketidaksediaan lagi untuk mau menerima, menghormati, dan hidup ikhlas bersama 
dengan saudara-saudari beda agama, beda suku, beda golongan dalam keragaman perbedaan 
dengan kekayaan kemajemukan dan kekayaan keberlainannya. Fenomena ini muncul manakala 
atas nama pretensi memperbaiki orang lain, atau pretensi memperbaiki krisis sosial 
dipaksakanlah cita-cita kebaikan yang hanya sepihak artinya baik menurut eksklusivitas 
golongannya, agamanya, atau sukunya.

      Komunalisme per sektor agamais atau golongan atau kelompok kepentingan menjadi 
jawaban untuk mencari tempat teduh rasa aman emosional dan tempat bertopang pegang 
tiang kemah ekslusif ketika krisis perubahan nilai dan krisis acuan hidup menerpa 
secara kultural akibat gempuran materialisasi global; virtualisasi citraan yang 
diproduksi penguasa dunia citra yang memorak-porandakan 'rasa aman' merajut di 
rumah-rumah lama kebudayaan tradisi maupun komunal-komunal setempat.

      Ungkapan gejalanya adalah disintegrasi yang mengarah menuju kotak-kotak hidup 
bersama hanya berdasar eksklusivitas sesama keyakinan, sesama putra-putri daerah, atau 
sesama suku golongan termasuk segolongan kepentingan.

      Sumber kedua, yang membuat retak perekatan kebangsaan adalah jurang lebar 
menganga antara kelompok masyarakat yang kaya semakin kaya sementara jutaan besar 
masyarakat yang miskin semakin miskin malang. Jurang kemiskinan ini di satu pihak 
disebabkan oleh politik pembangunan ekonomi berpijak pertumbuhan dengan biaya utang 
yang berporos tidak pada penyejahteraan petani di pertanian dan nelayan di maritim, 
tetapi pada kapitalisme global modal lintas yang memakinkayakan para kapitalis lintas 
negara dalam liberalisme ekonomi pasar dan menaruh masyarakat rakyat sebagai tenaga 
kerja dan perasan keringat neoliberalisme.

      Ditambah salah urus dan kultur korupsi yang tidak mampu menanggungjawabi mana 
milik bersama yang publik atau milik umum dari rakyat dan mana yang milik privat atau 
keluarga kecil, serta struktur hukum pembiaraan dan politis tanpa pemerintahan bersih 
bisa dikontrol maka menyatulah kerusakan akibat korupsi ini pada proses membangsa 
(mengakibatkan tidak percaya lagi pada retorika clean government) dan proses bernegara 
(tidak percaya lagi pada pemerintah yang bertekad memberantas korupsi) sehingga 
apatisme dan distrust terjadi di mana-mana.

      Bagaimana bisa memercayai lagi orang-orang pusat dengan jejaring pengusaha dan 
hubungan kapital global menyedot sampai habis tambang-tambang di pedalaman tanpa 
memberikan lagi pada masyarakat Papua dalam soal Freeport tambang emas itu? Bagaimana 
bisa memercayai lagi bila kepercayaan memilih dalam Pemilu 1999 untuk wakil suaranya 
rakyat ternyata memperlakukan rakyat sebagai anak-anak tangga yang setelah dinaiki 
lalu tangga itu ditendang keluar?

      ***

      Distrust atau ketidakpercayaan ini membeku dalam anomali struktural lantaran 
misalnya janji memberantas KKN tidak satu pun ditunjukkan dengan bukti pelaksanaan. 
Bertitik tolak dari fenomena ini, kita menuju ke sebab ketiga yang meretakkan perekat 
rasa peduli akan nasib sesama sebangsa.

      Sebab ketiga ini adalah riuh rendahnya keramaian kita di wacana, ritual retorika 
nilai-nilai yang terekspresi dalam slogan, janji, khotbah-khotbah renung normatif 
ajakan bersuci-suci diri di wilayah ruang panggung keagamaan kita namun wujud 
kepedulian sosial dalam aksi kemanusiaan lintas agama, lintas identitas golongan, atau 
lintas parpol nyaris sepi-sepi saja. Penelitian beberapa rekan ahli kebudayaan politik 
menyebut, kita ramai bersorak-sorai di pidato formal normatif nilai-nilai namun sepi 
senyap dalam aksi nyata peduli nasib sesama anak bangsa. Mengapa? Lantaran di ruang 
politik riil yang bicara dan bersaing saling bergesek adalah dunia kepentingan.

      Sebabnya lagi, dalam dunia kepentingan yang menjadi acuan adalah kepentingan 
sektoral, kelompok, dan tidak pernah kepentingan bersama atau kepentingan bangsa. 
Secara sederhana dunia politik dengan logika kepentingan kekuasaan telah memecah 
sentimen rasa bersama sebangsa manakala acuannya adalah aliran; identitas sektoral 
atau identitas ego kelompok. Buktinya, masing-masing merasa harus memiliki 
satgas-satgas paramiliter untuk tampil unjuk kekuatan pisik bila perlu di-back-up 
dengan premanisme politik. Buktinya lagi, uang dan politik uang menjadi acuan 
pemenangan dipilihnya pejabat daerah mulai gubernur, bupati. Memang yang hanya 
menguatkan saja hipotesis, yaitu: berubahnya fungsi pelayanan publik dan nilai 
pengabdian pada kesejahteraan masyarakat dalam diri pejabat publik seperti bupati 
menjadi perpanjangan kepentingan politik partainya yang berkuasa atau partai lain yang 
ingin mendudukkannya sebagai pengaman kepentingan sektoral parpol. Di mana ditaruh 
kepentingan sosial dan publik dalam kondisi seperti ini? Tidak ada!

      Konsekuensinya, anomali dan acuh tak acuh menyemarak di tingkat masyarakat luas 
yang pada gilirannya lalu sulit diajak peduli pada yang lain karena mereka sendiri 
merasa tidak dipedulikan oleh pemimpin-pemimpinnya. Yang terjadi akhirnya 
masing-masing hanya peduli ke egonya sendiri; hanya mikir kepentingannya sendiri lalu 
retaklah rekat-rekat kepentingan bersama. Gejala ini makin menajam dengan anarki 
kekerasan sebagai reaksi atas dikalahkannya kepentingan bersama dalam aturan main 
hukum yang selalu memenangkan si empunya kuasa atau yang bisa membeli kuasa untuk 
kepentingannya.

      ***

      Menaruh tiga penyebab keretakan solidaritas membangsa ini dalam bingkai proses 
tiga matra kultural perubahan, yaitu agency (baca subjek pelaku) lalu struktur (baca 
sistem yang dibuat subjek sebagai pengorganisasian atau mengurus sesuatu dengan 
rasionalitas agar di mana hidup berjalan) serta 'dunia mentalitas atau kultur'; maka 
fokus jalan pemecahannya secara proses mengerucut pada jawaban kita atas pertanyaan 
siapa guru-guru kehidupan kultural kita selama ini? Dari penyadaran rendah hati 
mengakui siapa dan nilai mana yang kita ambil dari guru-guru inilah kita bisa mencoba 
mencari perbaikan pemecahannya.

      Mencermati sebab-sebab akar retaknya perekat membangsa dalam refleksi bingkai 
bercermin secara kebudayaan, mau tidak mau, menggugat kerendahan hati kita untuk 
menyadari lebih dahulu siapakah guru-guru kita selama ini. Hanya dengan memproses 
kesadaran akar sebab menjadi proses menyadari bersama sebagai bangsa inilah lupa dan 
ingatan kolektif bangsa yang pernah dititiktolakkan oleh Hatta dan teman-teman pendiri 
bangsa untuk mengambil serius pencerdasan bangsa sebagai satu-satunya perekat yang 
mampu menjadi jembatan jurang-jurang kaya-miskin; pintar-bodoh; menguasai dan dikuasai 
akan terwujud asalkan diprogram dalam perencanaan aksi. ***
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke