http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/10/opini/1011365.htm
Senin, 10 Mei 2004

Separatisme, Belajar dari Konflik di Asia
Robert Bala

SEPARATISME kembali mencakar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kali ini terjadi (lagi) di Ambon, Maluku. Peringatan Hari Ulang Tahun RMS
oleh Front Kedaulatan Maluku/Republik Maluku Selatan (FKM/RMS), yang
notabene sudah diketahui, berakhir dengan korban jiwa. Belum lagi menghitung
terbukanya kembali luka lama akibat konflik etnis-religius yang barusan
berkurang rasa sakitnya.
Terlepas apakah dibonceng atau tidaknya Tragedi 25 April, aksi separatisme
kembali mengusik kebersamaan kita. Ia menambahkan barisan aksi serupa di
Papua dan Nanggroe Aceh Darussalam. Karena itu beralasan apabila Presiden
Megawati Soekarnoputri mengajak "saudara-saudara yang masih lebih senang
meneruskan cita-cita pemisahan diri untuk kembali hidup sebagai satu
keluarga sebangsa dan setanah air" (Kompas, 2/5).
Sambutan Presiden pada Maulid Nabi Muhammad sekaligus mengingatkan, "jika
Indonesia terpecah belah akibat gerakan separatis, akan timbul negara-negara
kecil, lemah, sehingga tidak mampu bertahan dalam percaturan kehidupan
antarbangsa."
Bukan maksud tulisan ini membenarkan pelbagai kepincangan yang bersembunyi
di balik upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Lebih tidak lagi sekadar menerima pelbagai "trik" hasil permainan di
belakang layar oleh mereka yang bakal "mengail di air keruh". Sebaliknya,
tulisan ini ingin meneropong aksi separatisme dalam konteks Asia Tengah yang
dapat digunakan sebagai cermin untuk melihat tampang wajah Indonesia apabila
ia membiarkan diri dipermainkan pelbagai aksi separatisme.
ASIA Tengah merupakan sebuah sebutan untuk lima negara eks Uni Soviet, yang
terletak antara Rusia dan Asia Timur. Mereka adalah Kazakstan, Uzbekistan,
Tajikistan, Kirgistan, dan Turkmenistan. Berpijak pada iming-iming menjadi
negara yang bebas merdeka, mereka memproklamasikan kemerdekaan pada awal
dekade sembilan puluhan.
Namun, apa yang terjadi pascakemerdekaan? Membangun sebuah negara tidak
sekadar idealisme. Dibutuhkan pelbagai sarana sambil memperhitungkan krisis
yang bakal terjadi. Selama pendudukan Uni Soviet, misalnya, tidak pernah
terjadi pergunjingan tentang batas antardaerah.
Kini menjadi sebuah problem. Batas negara bukan saja menjadi ajang konflik
bilateral, tetapi bahkan menjadi momok yang melumpuhkan perekonomian, oleh
pelbagai aksi korupsi di perbatasan, mengeruk siapa pun yang sempat lewat.
Roda perekonomian menjadi "kempis" dan pengangguran pun menjadi-jadi, yang
menjadi momok pelbagai konflik sosial.
Ada konflik lain lagi tentang kekayaan alam. Negara-negara seperti
Uzbekistan, Kazakstan, dan Turkmenistan dianugerahi kelimpahan minyak dan
gas. Diperkirakan di sekitar Laut Kaspian terkandung tidak kurang dari
240.000 juta barrel minyak bumi.
Uzbekistan masih dilimpahi kemujuran oleh melimpahnya sumber gas. Hal
tersebut bakal menjadikan negara-negara itu bangkit dari keterpurukan
ekonomi.
Kemujuran itu tidak dialami Kirgistan dan Tajikistan. Karena itu, keduanya
nyaris "dilirik" negara lain. Meski ada konflik, hal itu dapat diatasi.
Pendapatan per kapita kedua negara itu relatif rendah dibandingkan dengan
pendapatan per kapita negara tetangganya, Uzbekistan, Kazakstan, dan
Turkmenistan. Meskipun demikian, keduanya dianugerahi kelimpahan air: yang
menyatu dalam dua sungai besar, yakni Amu Darya dan Syr Darya, darinya
berharap hidup negara-negara lain.
Menyadari kenyataan itu, Kirgistan dan Tajikistan menjadikan air sebagai
"senjata". Di satu pihak, mereka mengharapkan negara-negara yang kelimpahan
sumber migas berbagi rezeki atau "menukarnya" dengan air. Sebuah harapan
yang tidak mudah dipenuhi.
Lantas mereka membelokkan aliran sungai. Selain untuk kegiatan pertanian,
juga untuk membangun sumber tenaga listrik. Hal inilah yang menimbulkan
protes dan konflik bilateral: antara Kirgistan dan Kazakstan oleh
mengeringnya Laut Aral; Kirgistan dan Uzbekistan oleh konflik di lembah
Fergana; antara Tajikistan dan Kirgistan oleh pembagian aliran Sungai Syr
Darya; dan antara Turkmenistan dan Uzbekistan dalam mengatur aliran Sungai
Amu Darya.
NEGARA-negara Asia Tengah masih memiliki problem lain yang tak kalah runyam.
Melimpahnya kekayaan alam telah mendorong Amerika Serikat (AS)-dan
negara-negara Eropa lain-untuk "membantu" menjaga keamanan di kawasan itu.
Sebuah basis militer langsung dibangun pasca-11 September di Uzbekistan,
dengan maksud (katanya) "melindungi" negara-negara dari serangan kelompok Al
Qaeda yang datang dari Afganistan.
Selain itu, kelompok fundamentalis, Hizbut-Tahrir di negara itu,
dikategorikan sebagai antek Osama bin Laden. Lengkaplah sudah alasan untuk
menerima kehadiran Amerika Serikat di negara itu.
Kehadiran basis militer itu, meski di satu pihak memberikan jaminan keamanan
(secara fisik), pada saat yang sama memunculkan kecemasan. Selain membantu
kepentingan AS, juga untuk mendukung Presiden Islam Karimov yang terkenal
sangat otoriter.
Protes-protes terhadap pelbagai kepincangan sosial digolongkan sebagai
kegiatan yang mengganggu keamanan. Penyelewengan hak asasi manusia seakan
tidak dihiraukan AS sejauh kepentingannya tidak terganggu. Tak pelak,
idealisme kemerdekaan sebagaimana didengung-dengungkan pascapendudukan Uni
Soviet tidak terwujud. Kini negara itu bukan saja berada di bawah
"pengawasan" AS, tetapi juga "dijajah" oleh putra mereka sendiri.
PENGALAMAN pahit negara-negara eks Uni Soviet menjadi cermin dalam menatap
wajah NKRI apabila akhirnya terjerumus dalam pelbagai godaan separatisme.
Pertama, negara bukan saja menjadi lemah oleh keterpecahannya dalam
negara-negara kecil, tetapi juga akan memunculkan konflik-konflik baru yang
berkaitan dengan perbatasan. Laut dan selat yang selama ini menjadi
"jembatan" penghubung antara sesama sebangsa dan setanah air bakal menjadi
jurang pemisah.
Pengalaman negara-negara di Asia Tengah menunjukkan bahwa idealisme tentang
kemerdekaan bukanlah satu-satunya jalan keluar. Malah, kemerdekaan yang
terlampau diagung-agungkan dalam kenyataan hanya berganti kulit luar.
Kini bangsa itu bukan saja jauh dari idamannya, malah membawa mereka kepada
sebuah model penjajahan baru. Indonesia karena itu perlu menjadikan
pengalaman keterpecahan Uni Soviet sebagai guru dalam meretas sebuah
kehidupan yang lebih kekeluargaan dan harmonis.
Kedua, mempertahankan NKRI, sebagai tujuan, hendaknya tidak hanya bertumpu
pada alasan historis. Bagaimanapun kita tidak sekadar mengulang sejarah.
Yang perlu dilakukan adalah mengaktualisasikan sejarah agar dapat
diaplikasikan bagi kita yang hidup di awal milenium ketiga ini.
Sejarah, misalnya, menceritakan bahwa bangsa ini lahir berkat kebesaran
tokoh-tokohnya, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan kawan-kawan. Bagi
mereka, bangsa adalah sebuah keluarga besar.
Pelbagai tendensi yang bernuansa SARA disingkirkan demi memberi tempat
kepada persaudaraan sejati. Kita berbeda-beda tetapi tetap satu: Bhinneka
Tunggal Ika. Di atas perjuangan mereka terukirlah sejarah yang kita
banggakan sampai kini.
Akan tetapi, kini, mengapa gerakan separatisme begitu mudah merebak?
Jawabannya tentu sangat beragam. Tetapi bukan tidak mungkin kalau hal itu
muncul sebagai reaksi akibat ketiadaan figur pemimpin yang mengayom, yang
patriotis, berdiri di atas semua golongan.
Pemimpin yang tidak mengorbankan rakyat demi tujuan politis terselubung.
Sebaliknya, pemimpin yang karena cinta akan bangsa dan Tanah Air bahkan
mengorbankan dirinya. Bung Karno harus menerima kenyataan pahit ketika harus
"dibuang" ke Ende dan Bengkulu. Pada saat yang sama Bung Hatta dan Sjahrir
diasingkan ke Boven Digul dan Bandaneira.
Pengorbanan dan amanat cinta mereka yang memungkinkan bangsa menulis dengan
tinta emas, sejarahnya, menjadi sebuah bangsa yang juga adalah keluarga
besar. Rumah bangsa melindungi semuanya. Karena itu, maraknya gerakan
separatisme, seperti dari Papua, Nanggroe Aceh Darussalam, dan kini Ambon,
bukan tidak mungkin menjadi indikasi jauhnya bangsa ini dari ideal pemimpin
bangsa yang nasionalis dan patriotis.
Lebih disayangkan lagi kalau tragedi yang mengorbankan tidak sedikit jiwa
tidak berdosa adalah hasil "permainan" kelas tinggi.
Robert Bala, SVD Diploma tentang Situasi Perdamaian dan Konflik di Asia
Pasifik Universidad Complutense de Madrid
Search :








Berita Lainnya :
�TAJUK RENCANA
�REDAKSI YTH
�Kesenjangan Kekuasaan dan Tanggung Jawab
�Politik Kita dan Perubahan Sosial
�Penggusuran Sekolah dan Kriminalisasi Guru
�Separatisme, Belajar dari Konflik di Asia
�Pembalakan Liar dan Tindakan Hukum
�Tentara Nasional Indonesia, antara Pengamat dan Pemilih
�Militerisme, Aksi atau Opini
�POJOK



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke