http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/10/opini/1013417.htm
Senin, 10 Mei 2004

Militerisme, Aksi atau Opini
Graito Usodo

SELAIN unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang menjadi problem
bangsa, secara sistematis tampak nyata timbul upaya sementara kalangan
masyarakat untuk menambahkan lagi bahaya baru, yaitu militerisme sebagai
ancaman laten.
M>small 2small 0
Melihat pengalaman, isu militerisme akan berkembang bersamaan dengan
menghangatnya suasana perpolitikan. Tetapi setelah para elite politik
menduduki kursi di berbagai institusi negara, isu itu pun dengan sendirinya
akan mereda. Lihatlah, kini masalah militerisme menghangat lagi sejalan
dengan maraknya perebutan kursi kepresidenan oleh beberapa partai politik
(parpol).
Setelah Wiranto resmi terpilih jadi calon presiden RI melalui Konvensi
Partai Golkar, sejak saat itulah merebak lagi isu militerisme dalam berbagai
media. Isu yang sama juga merembet kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),
padahal beberapa minggu sebelumnya secara gemilang mengangkat perolehan
suara Partai Demokrat ke peringkat lima besar Pemilu 2004. Sebagai seorang
warga negara, saya ngeri menyaksikan perkembangan isu militerisme itu di
tengah-tengah masyarakat.
Pertikaian mahasiswa Universitas Muslim Indonesia Makassar dengan aparat
kepolisian, Sabtu pekan lalu, yang membawa korban kalangan mahasiswa, juga
dipicu demo antimiliterisme. Sangat disesalkan peristiwa itu harus
menimbulkan malapetaka.
Singkatnya, isu militerisme menjadi mirip balon saja; suatu ketika (bila
perlu) dikempiskan dan di waktu lain (bila menguntungkan) dibesar-besarkan
dan diterbangkan tinggi-tinggi. Dalam kaitan itu, masuk akal apabila ada
pendapat yang menyebut bahwa masalah militerisme sengaja dipelihara agar
suatu saat dapat dihidup-hidupkan untuk menakut-nakuti masyarakat.
Di masa kampanye pemilu anggota legislatif Maret-April lalu, calon presiden
yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional Amien Rais bahkan sempat melirik
calon wakil presiden dari kalangan militer. Namun, Amien yang intelektual
dan salah satu motor reformasi tahun 1998 itu akhirnya akan mengubah
pasangannya terutama karena Wiranto memenangi Konvensi Calon Presiden Partai
Golkar (Kompas, 26 April 2004).
Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Abdurrahman Wahid malah
terlihat bareng-bareng dengan Wiranto di Hotel Le Meredien dan dengan SBY di
kesempatan yang berbeda, serta terkesan memberi dukungan kepada kedua
purnawirawan militer itu. Namun, tokoh demokrasi yang akrab dipanggil Gus
Dur itu belakangan menolak menggandeng SBY, bukan karena soal militerisme,
tetapi karena soal ketidakcocokan lain (Kompas, 22 April 2004)
SEBENARNYA, apa yang terjadi dengan para politisi kita? Tidaklah terlalu
salah kalau penulis mengatakan bahwa rasa-rasanya sebagian elite bangsa ini
belum melakukan perpolitikan secara dewasa, sebagaimana dewasanya rakyat
menentukan pilihan-pilihan politiknya. Padahal, pada pemilu 5 April lalu,
rakyat sudah sangat jelas memberi bukti bahwa mereka sangat tahu mana partai
yang harus dicoblos dan mana calon legislatif yang tidak perlu didukung.
Mengamati data rekapitulasi perhitungan surat suara pemilu lalu, seharusnya
dapat dipakai sebagai alat penyadaran diri bagi para politisi bahwa
kepiawaian rakyat dalam memahami dunia politik relatif tinggi. Mereka tidak
mudah dirayu dan diberi janji-janji. Komposisi peringkat perolehan suara dan
kursi parpol peserta pemilu kali ini menunjukkan hal itu dengan jelas. Ini
juga salah satu bukti bahwa kedaulatan itu berada di tangan rakyat.
Dalam konteks ini, isu militerisme yang marak berkembang beberapa minggu
terakhir ini saya nilai tidak akan banyak memengaruhi calon pemilih presiden
pada 5 Juli mendatang. Sejak pemilu legislatif 5 April lalu, kita harus
sadar sesadar-sadarnya bahwa tidak mudah membelokkan hati rakyat untuk tidak
memilih calon presiden "A", atau memilih calon presiden "B".
Karena ini, langkah yang paling mungkin dan sikap bijaksana yang harus
dilakukan politisi adalah membuka peluang sebesar-besarnya kepada rakyat
untuk bebas memilih calon pemimpin bangsanya pada pemilu presiden dan wakil
presiden mendatang. Rakyat Indonesia melalui pemilu legislatif 5 April lalu
telah membuktikan bahwa dirinya bukan lagi seperti rakyat semasa rezim Orde
Baru dulu, yang mudah dikerahkan dan ditakut-takuti.
Semua parpol peserta pemilu presiden pada 5 Juli mendatang juga tidak perlu
menyesal kalau yang terpilih bukan wakil partainya. Presiden yang menjuarai
pemilihan nanti pastilah bukan karena ia seorang sipil-mantan militer atau
tokoh reformis-nasionalis, tetapi karena dia dicintai rakyat. Tidak ada yang
mampu membantah suara rakyat juga suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei)
SAYA termasuk salah seorang purnawirawan yang antimiliterisme, apalagi bila
militerisme itu sudah menjadi aksi, sebuah gerakan dan suatu strategi. Saya
juga meyakini bahwa setiap purnawirawan militer sama seperti sikap penulis,
karena sistem militer hanya cocok di lingkungan militer saja. Namun, saya
tidak dapat memberi takaran apakah sosok purnawirawan militer lebih
demokratis dari sosok seorang sipil. Sebab, ketika Menteri Penerangan
ditangani oleh seorang tokoh sipil tulen, pers Indonesia malah terkekang dan
layu serta tercabik-cabik tak punya harga diri. Lalu, saat departemen itu
dipimpin Jenderal (Purn) Yunus Yosfiah, pers Indonesia justru berkembang
pesat dan menjadi salah satu pers paling bebas di seluruh dunia.
Dengan contoh tersebut, apakah dapat kita katakan bahwa Yunus yang jenderal
militer itu lebih menghargai demokrasi dibandingkan dengan sipil tulen itu?
Satu hal dapat kita katakan, ternyata bukan lembaga yang membuat sosok
seorang pemimpin menjadi demokratis, mencintai rakyat, dan pembasmi KKN.
Tetapi karakter, jati diri, dan lingkunganlah yang lebih dominan membuat
seseorang dapat membuat pemimpin bangsa berhasil menjalankan amanat rakyat.
Militerisme itu sendiri kuat ditolak masyarakat setelah Soeharto lengser
keprabon pada Mei 1998. Di zamannya, melalui rezim Orde Baru, Soeharto
kelihatannya menjadikan militerisme sebagai bagian kebudayaan nasional.
Artinya, dalam budaya ini, serdadulah ujung tombak pelaksana kekuasaan Orde
Baru.
Seluruh rakyat, terutama pemerintah, haruslah membumihanguskan gerakan
militerisme di Indonesia dan jangan membiarkannya mengambang dan
terkatung-katung. Komitmen bangsa ini sudah jelas, tidak mau kembali ke era
Orde Baru yang otoritarian itu. Itu sebabnya seluruh bangsa bertekad harus
memilih presiden sebagai pemimpin yang dapat membebaskan kehidupan bangsa
dan negara dari berbagai macam keterbelakangan.
Sayangnya sampai kini tidak jelas apa batasan militerisme yang dimaksud oleh
opini yang berkembang pesat itu. Apakah maksudnya agar seluruh purnawirawan
militer tidak diperbolehkan menjabat di pemerintahan serta jabatan-jabatan
publik semacam menteri, gubernur, dan pimpinan partai politik seperti kita
bahas di muka?
Sikap rasialis seperti itukah yang kita pilih? Harus diingat, yang
menempatkan para purnawirawan menduduki jabatan-jabatan publik itu justru
adalah para pemimpin partai politik.
Graito Usodo Marsekal Muda TNI (Purn), Mantan Kepala Puspen ABRI, Kini
Pemerhati Masalah Kepemimpinan



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke