Kawans di forum ppiindia,

Buku David Ray Griffin --[The New Pearl Harbor: Disturbing Questions about the Bush 
Administration and 9/11]-- seharga Rs. 500 (India) atau lebih kurang Rp 100.000 yang 
sudah dirilis sejak pertengahan Maret lalu itu memang layak dibaca oleh siapapun yang 
ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang prilaku busuk yang selama ini ditutup-tutupi 
oleh Pemerintahan Bush khususnya dan Amerika umumnya terutama kepada mereka yang 
selama ini memang "menyembah" Amerika.

Bagi anda yang ingin berdiskusi lebih jauh dg Mr. Griffin ini, silakan menghubunginya 
di emailnya: [EMAIL PROTECTED]

Demikian,

Yan_   

--- In [EMAIL PROTECTED], Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> "Misteri 911" dan Jemaah Islamiyah
> 
> Farid Gaban | Pena Indonesia News Service
> 
> Dua tahun lalu penulis Prancis bernama Thierry Meyssan 
> menerbitkan "The Big Lie". Buku itu mempertanyakan
> detil dan 
> keanehan seputar Tragedi 11 September. Meyssan
> menyimpulkan 
> Pemerintah Amerika telah berbohong besar dan bahkan
> terlibat dalam 
> pembantaian hampir 3.000 orang tersebut.
> 
> Meyssan dituduh menyebarkan "teori konspirasi".
> Tuduhan itu tidak 
> hanya datang dari intelektual dan media Amerika, tapi
> juga dari 
> media di Eropa sendiri yang dikenal kritis terhadap
> Pemerintah 
> George W. Bush, seperti The Guardian dan Le Monde
> misalnya. Dan 
> ketika buku itu ternyata laris-manis di beberapa
> negara Eropa, orang 
> mengatakan itu sebagai cermin kebencian laten Eropa
> terhadap 
> Amerika, bukan karena buku itu mengandung sejumlah
> pertanyaan sahih 
> yang disetujui para pembacanya. Mudah dipahami. Bahkan
> orang yang 
> membenci Bush pun tidak akan percaya pemerintah
> Amerika bisa tega 
> membunuh rakyatnya sendiri, atau membiarkan rakyatnya
> terbunuh.
> 
> Tapi kini buku dengan nada sama terbit di Amerika
> sendiri. 
> Judulnya "The New Pearl Harbor: Disturbing Questions
> about the Bush 
> Administration and 9/11" (Olive Branch Press, 2004).
> Buku ini 
> ditulis oleh David Ray Griffin, seorang profesor
> filsafat agama dan 
> teologi dari Claremont School of Theology, California.
> Buku ini 
> diperkirakan akan membawa diskusi serupa yang telah
> banyak 
> berkembang di situs-situs Internet "pinggiran" ke
> perdebatan di 
> media "mainstream".
> 
> Judul "The New Pearl Harbor" punya makna yang khusus.
> Tapi, sebelum 
> itu, kita bisa melihat betapa pertanyaan Griffin mirip
> dengan 
> Meyssan: Bagaimana bisa empat pesawat dibajak di siang
> bolong tanpa 
> angkatan udara Amerika bisa mencegahnya? Pesawat
> pertama mungkin 
> tidak bisa dihadang, tapi bagaimana dengan pesawat
> ketiga dan 
> keempat? Benarkah pesawat yang menabrak Pentagon itu
> American 
> Airlines Flight 77? Bagaimana cara pesawat keempat
> (United Airlines 
> Flight 93) jatuh, meledak sendiri atau ditembak? Dan
> tidakkah banyak 
> bukti menunjukkan runtuhnya gedung kembar World Trade
> Center 
> disebabkan oleh ledakan dari dalam, bukannya dari dua
> pesawat yang 
> menabraknya?
> 
> Ketiadaan jawaban memadai terhadap pertanyaan penting
> tadi membuat 
> orang mengajukan pertanyaan forensik yang lebih
> sederhana, seperti 
> ketika polisi tidak berhasil menemukan bukti penting
> di lokasi 
> pembunuhan: siapa paling diuntungkan oleh peristiwa
> itu? Siapa yang 
> memiliki motif?
> 
> Meski tidak sekeras Meyssan, Griffin menuduh
> keterlibatan Pemerintah 
> Bush. Setidaknya dia mengatakan Pemerintah Bush sudah
> tahu lebih 
> awal tentang rencana serangan itu dan membiarkannya
> terjadi. Griffin 
> mangatakan, bahwa ancaman besar dari luar negeri,
> dalam skala "Pearl 
> Harbor", memang dibutuhkan Pemerintah Bush untuk
> menjalankan politik 
> luar negeri yang agresif.
> 
> Pada Perang Dunia II, menurut sejumlah sejarawan,
> Amerika mengetahui 
> rencana serangan Jepang ke Pearl Harbor tapi
> membiarkannya terjadi 
> agar Amerika punya dalih dan otoritas moral untuk
> menjatuhkan bom 
> atom di Nagasaki dan Hiroshima.
> 
> Kini sudah menjadi jelas, bahwa Pemerintah Bush
> memanfaatkan tragedi 
> kolosal 11 September untuk banyak hal yang di masa
> normal sulit 
> dilakukan: menyerbu dan menguasai Afghanistan,
> menjatuhkan Saddam 
> Hussein dan mengangkangi Irak, menerapkan
> undang-undang mengerikan 
> Patriot Act dan Homeland Security Act di dalam negeri,
> memilih 
> negeri-negeri di berbagai belahan dunia atas dasar
> "kawan atau 
> lawan", serta meningkatkan anggaran militer
> besar-besaran untuk 
> antara lain meneruskan program Missile Defense System
> atau "Perang 
> Bintang" ala Ronald Reagan yang telah menuai kritik di
> masa lalu.
> 
> Apa yang dilakukan Pemerintah Bush itu selaras dengan
> anjuran kaum 
> neokonservatif yang dipelopori intelektual pro-Israel
> seperti 
> Richard Perle, Douglas Feith dan Paul Wolfowitz, agar
> Amerika 
> memperkuat hegemoni globalnya, terutama di Timur
> Tengah. Mereka 
> khawatir, lelehnya Perang Dingin dan hancurnya
> komunisme membuat 
> Amerika terlena. Mereka memerlukan musuh baru dalam
> skala yang sama 
> besarnya dengan "Imperium Setan" Uni Soviet dulu. Dan
> istilah "new 
> Pearl Harbor" pada kenyataannya memang muncul dalam
> dokumen kaum 
> neokonservatif "The Project for a New American
> Century" yang terbit 
> setahun sebelum tragedi 11 September.
> 
> Tapi, analogi "Pearl Harbor" sebenarnya tidak tepat
> benar. Jika 
> motif seperti itu sudah dirancang lama sebelumnya,
> tidakkah 11 
> September lebih mirip "Operation Northwoods"? Pada
> 1992 seorang 
> jenderal Pentagon mengusulkan pada Presiden John F.
> Kennedy untuk 
> menembak pesawat Amerika sendiri dan membuatnya
> seolah-olah Kuba 
> yang melakukan sehingga Amerika punya dalih untuk
> menyerbu negeri 
> itu. Operasi itu urung dilakukan karena Kennedy
> menolaknya dan, 
> seperti kita tahu, Kennedy terbunuh beberapa bulan
> kemudian.
> 
> Analogi "Pearl Harbor" juga kurang tepat karena Al
> Qaedah bukanlah 
> Jepang. Sejauh yang bisa kita baca dari berita media
> massa tiga 
> tahun terakhir, Al Qaedah disebut-sebut sebagai
> kekuatan "omni-
> potent" (digdaya dan ada di mana-mana), namun pada
> saat yang 
> sama "invisible" (tidak kelihatan). Itu memberi dalih
> yang nyaman 
> bagi Pemerintah Bush untuk "berperang tanpa harus
> membasminya". 
> Sebuah dalih yang bisa dipakai untuk tujuan apa saja
> dan terus-
> menerus. Pada kenyataannya, ancaman Al Qaedah lebih
> mudah dijadikan 
> alat propaganda ketimbang ancaman kekuatan militer
> yang nyata 
> seperti Jepang pada Perang Dunia II atau Kuba pada
> 1960-an. 
> 
> Untuk menggambarkan betapa besar dan luas kekuatannya,
> Al Qaedah 
> juga disebut-sebut memiliki cabang di seluruh dunia.
> Di Irak, Al 
> Qaedah punya onderbow bernama Ansar Al-Islam, yang
> telah berjasa 
> meyakinkan publik Amerika bahwa seolah-olah Saddam
> Hussein memang 
> terlibat teror 11 September. Di Filipina, Al Qaedah
> disebut 
> bergandengan tangan dengan Kelompok Abu Sayyaf, dan
> memberi dalih 
> nyaman bagi militer Amerika untuk hadir lagi di situ
> setelah 
> terpental dari Pangkalan Subic dan Clark menyusul
> jatuhnya Diktator 
> Marcos.
> 
> Juga di Indonesia. Dalam kaitan inilah relevan pula
> untuk melihat 
> isu teror Jemaah Islamiyah di Indonesia dalam kacamata
> Tragedi 11 
> September. Para pejabat Amerika yang dikutip media
> internasional 
> hampir selalu menyebut Jemaah Islamiyah dalam satu
> nafas dengan Al 
> Qaedah.
> 
> Asosiasi Jemaah Islamiyah dan Al Qaedah tak berhenti
> di situ. 
> Setelah 11 September 2001, badan intelejen Amerika dan
> Pemerintah 
> Singapura mengatakan Al Qaedah menyusup ke tubuh
> Jemaah Islamiyah 
> untuk melakukan teror serupa di Asia Tenggara.
> Indonesia, kata 
> mereka, adalah tempat tujuan yang paling mungkin bagi
> Al Qaedah: 
> sistem keimigrasiannya rawan, tentara dan polisinya
> terlalu lemah 
> untuk bisa mengawasi wilayah perairan yang luas, dan
> banyak muslim 
> Indonesia pernah ikut berjuang bersama Al Qaedah
> melawan pendudukan 
> Soviet di Afghanistan. Setelah Tragedi Bom Bali, CNN
> memberitakan 
> tentang adanya situs Internet Al Qaedah yang mengklaim
> 
> bertanggungjawab atas teror itu. Dan Kepala Badan
> Intelejen Nasional 
> Hendropriyono mengkonfirmasi pernyataan Paul Wolfowitz
> bahwa Al 
> Qaedah memang menyusup ke Poso dan melakukan laihan
> militer di situ.
> 
> Semua asosiasi itu nampak masuk akal. Dan nampak masuk
> akal pula 
> jika Al Faruq dan Hambali--dua orang yang
> disebut-sebut sebagai 
> pentolan Jemaah Islamiyah bin Al Qaedah di
> Indonesia--kini ditahan 
> militer Amerika, tanpa Pemerintah Indonesia bisa
> mengaksesnya.
> 
> Tapi, apa yang kita sebut masuk akal itu pada dasarnya
> hanya ekor 
> dari sebuah peristiwa besar yang belum dijelaskan
> kepada publik 
> secara memuaskan: yakni Tragedi 11 September 2001 di
> Amerika. Buku 
> baru David Ray Griffin itu mengajak publik Amerika dan
> kita semua 
> untuk bertanya hal yang sama dan mencoba mencari
> jawaban. Sebab, 
> hanya dengan itulah ungkapan simpati dan belasungkawa
> terhadap 3.000 
> yang tewas di WTC/Pentagon, serta puluhan ribu lain
> yang tewas di 
> Afghanistan dan Irak, bisa memiliki makna yang
> sebenarnya.***
> 
> Hak Cipta 2004 � Pena Indonesia News Service


Yahoo! India Matrimony: Find your partner online.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke