Jawa Pos Sabtu, 15 Mei 2004, Akar Kekerasan Religius Oleh Amir Mu'allim *
Pertikaian antarkelompok masyarakat di Maluku hampir tidak pernah jenuh. Konflik horizontal yang dimulai pada awal 1999 tersebut telah meluas ke hampir semua wilayah Kepulauan Maluku. Konflik Maluku (1999-2000) telah menimbulkan trauma masal masyarakat Maluku. Pembakaran-pembakaran rumah, tempat ibadah, penganiayaan, pembunuhan, pemaksaan agama, dan kekerasan lainnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari konflik tersebut. Menurut data Komnas HAM, akar permasalahan dan faktor pemicu terjadinya konflik itu adalah faktor kecemburuan sosial masyarakat, dugaan adanya upaya provokasi dari luar, peristiwa Ketapang, kenetralan pihak aparat keamanan dan pemerintah daerah, sentimen agama, rasa dendam, pertentangan elite politik, serta peristiwa-peristiwa yang bersifat individual. Kini, sejak 25 April lalu, konflik Maluku, khususnya di Ambon, meruncing kembali. Dan, sekali lagi, puluhan korban nyawa, korban materi, maupun nonmateri masih merupakan bagian dari konflik tersebut. Dua pekan lalu, para pimpinan agama yang tergabung dalam Komite Indonesia untuk Agama dan Perdamaian (ICRP) menyatakan keprihatinannya atas meletusnya kembali konflik di Ambon. Dan, selain mengancam NKRI, tentu saja hal itu dikhawatirkan kembali mengarah pada konflik antaragama. Sebab, ada indikator yang mengarah pada konflik agama tersebut. Di antaranya, pembakaran tempat-tempat ibadah, sekolah, serta perguruan tinggi yang berbasis agama. Sebagaimana pendapat Monseigneur Mandagi, dalam konflik dua tahun lalu, isu agama digunakan sebagai media konflik. Sedangkan yang ditonjolkan kini adalah isu separatisme. Dan, isu separatisme tersebut perlahan-lahan mulai dikaitkan juga dengan agama. Konflik Berlanjutan Terjadinya konflik dikhawatirkan kembali melahirkan sentimen agama. Sebab, ia sangat mudah menimbulkan konflik. Bahkan, seseorang berani mati untuk mempertahankan agama yang dianutnya. Sebagaimana yang diungkapkan Azyumardi Azra, agama merupakan isu yang sensitif di tanah air. Menurut dia, Indonesia terdiri atas masyarakat yang plural dari segala sisi, termasuk agama yang sangat berpotensi menjadi sumber konflik. Setidaknya, ada dua hal yang menyebabkan konflik tumbuh subur dan berlangsung terus-menerus di suatu daerah konflik. Pertama, sebagaimana pendapat Budhy Munawar Rachman, konflik akan menyuburkan fanatisme. Sebab, secara umum, klaim-klaim mengenai kebenaran muncul dalam situasi konflik. Penelitian sosiologis agama yang dilakukan banyak kalangan, termasuk Thamrin Tamagola atau Imam Prasodjo, menjelaskan bahwa segi-segi sosial ekonomi yang terlibat dalam satu areal konflik sering membuat suatu perbedaan yang jelas antara satu kelompok dan kelompok lain. Kedua, konflik akan meninggalkan dendam. Masyarakat yang terlibat dalam daerah konflik akan menciptakan dendam-dendam yang terus berkelanjutan dan terus berpotensi untuk berkobar kembali. Ketiga, menguatnya solidaritas. Konflik yang terjadi terus-menerus akan menciptakan solidaritas kelompok lain atau daerah lain yang memiliki keyakinan agama yang sama. Sehingga, daerah konflik akan meluas dan melibatkan orang-orang luar untuk terjun dalam konflik. Daerah Sensitif Agama Ada tiga faktor yang menjadikan agama menjadi sensitif terhadap konflik horizontal. Pertama, claim of truth. Dalam agama ada klaim-klaim mengenai kebenaran. Agama, bagi pemeluknya, diyakini sebagai seperangkat nilai abstrak yang mempunyai kebenaran absolut (absolute truth) secara teologis. Sehingga, agama lain dianggap tidak benar. Akibatnya, ketika agama digunakan sebagai sumber konflik, konflik tersebut menjadi konflik mengenai kebenaran. Kedua, mission. Ada ajaran yang menganjurkan untuk menyebarkan ajaran agama yang dianutnya kepada setiap manusia. Pada sisi ini, orang yang beragama lain juga merupakan objek penyebaran agama. Di situlah bentrok kepentingan yang sama sering terjadi. Ketiga, beragama dengan emosional. Keterikatan mayoritas umat beragama di tanah air cenderung didasari pemahaman agama yang emosional daripada ikatan keimanan. Pada sisi tersebut, umat akan kehilangan kekuatan serta akses agama sebagai penuntun dan control of life. Sehingga, hal itu cenderung menjerumuskan pada cara-cara pandang yang serba subjektif, egois, emosional, bahkan anarkis. Dalam perspektif seperti itulah agama sebagai the way of life akan jatuh pada posisi terendahnya. Ia hanya menjadi simbol yang mati, statis, serta hampa terhadap muatan nilai-nilai luhur. Dan, di situlah agama sekadar menjadi identitas diri yang sangat rawan. Dan, bila disentuh, agama menjadi amat sensitif serta rawan pertikaian. Alternatif Solusi Beberapa problem yang bisa menjadi akar kekerasan religius tersebut dicoba ditelusuri dan dipetakan oleh Kimball. Sehingga, semua sumber konflik itu bisa dijelaskan secara runtut sekaligus dicarikan beberapa jalan keluarnya yang agak cerdas. Khusus pada solusi konflik kepentingan politis yang menyeret-nyeret sentimen keagamaan, pakar sejarah dan perbandingan agama semit (Islam, Yahudi, dan Kristen) tersebut menyarankan agar dunia belajar kepada sosok Mahatma Gandhi. Gandhi mempunyai tujuan jelas, sesuai ajaran agamanya. Namun, dalam merealisasikan tujuannya itu, dia tidak pernah mengecualikan kelompok mana pun. Dia malah mengajak kelompok dalam mewujudkan tujuannya. Lebih dari itu, Gandhi tidak pernah mengubah tujuan menjadi sarana dan memutlakkan sarana menjadi tujuan. Dalam kaitannya dengan konflik agama yang sering terjadi di tanah air, ada dua hal yang mungkin bisa dilakukan. Pertama, claim of truth sangat penting untuk meyakini suatu agama karena akan melahirkan sosok pribadi yang religius. Namun, saat berhadapan dengan agama lain (penganut agama lain), klaim kebenaran tersebut harus dilokalisasi menjadi personal claim. Dengan demikian, akan terwujud masyarakat yang damai, walau berbeda-beda keyakinan. Kedua, mengubah cara pandang umat terhadap agama dari citra yang impersonal menuju citra yang personal. Dari sesuatu yang simbolistis menjadi sesuatu yang substantif. Sebab, hal yang paling esensial dari keberadaan suatu agama memang bukanlah penyelenggaraan ritus-ritus serta upacara praksis keagamaan lainnya. Melainkan, nilai-nilai keluhuran, keadilan, kemanusiaan, rahmat, dan kedamaian -yang notebene merupakan pesan pokok turunnya agama itu- bisa teraplikasi dalam keseharian para pemeluknya. Tidak ada yang diuntungkan sama sekali atas adanya konflik-konflik antaragama. Yang ada hanya akan meninggalkan kepedihan, kesengsaraan, serta penderitaan. Semua konflik, bila timbul dari sentimen agama, seperti tidak pernah berakhir. Kita berharap semua konflik yang melibatkan sentimen keagamaan di tanah air tidak sampai belarut-larut seperti halnya konflik di Palestina, Kasmir, atau Irlandia. * Dr H Amir Mu'allim MIS, dosen FIAI dan ketua Program Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

