[Tajuk Rencana] Daya Tawar Rakyat Makin Tinggi          

Riau Pos, Jumat, 14 Mei 2004

Ini benar-benar buah demokrasi yang dilahirkan reformasi politik 
1998. Meskipun masih cenderung kacau, tanpa aturan baku, dan tidak 
memiliki tertib politik, banyaknya tokoh yang maju sebagai calon 
pasangan presiden-wakil presiden menunjukkan bahwa demokrasi di 
negeri ini telah membuahkan kompetisi politik yang bebas.

Saat ini siapa pun boleh menjadi capres-cawapres. Tidak ada hambatan 
politik sistematik untuk, misalnya, mendepak atau menghancurkan lawan 
politik yang diperkirakan akan menjadi pesaing kuat.

Asal ada dukungan. Sepanjang ada parpol yang mau mencalonkan, siapa 
pun bisa maju dan bersaing menjadi capres dan cawapres. Mau yang 
murni pasangan tokoh sipil ada. Suka yang mantan militer ada. Mau 
pasangan yang berbau ideologis, misalnya pasangan nasionalis-
religius, juga ada. Bahkan, masih bisa dirinci lagi. Yakni, pasangan 
tokoh Islam modernis dengan nasionalis juga ada.

Kini tugas selanjutnya ialah rakyat calon pemilih harus mengintai. 
Rakyat bebas menimang-nimang calon presiden-wakil presiden yang 
disukai. Bebas menentukan pilihan sesuka hati.

Para pemilih yang berjumlah kurang lebih 120 juta �berdasar data 
pemilih pada pemilu legislatif 5 April dan kalau mereka semua 
mencoblos 5 Juli nanti� memiliki kewenangan dan kemandirian untuk 
menentukan pilihan calon pasangan presiden-wakil presiden.

Mereka harus memiliki �jika perlu harus belajar� nilai tawar yang 
tinggi terhadap ajakan calon pasangan presiden-wakil presiden itu. 
Silakan datang dan dengar kampanye mereka nanti. Silakan cerna dan 
renungkan. 

Setelah itu, para pemilih bebas mempertimbangkan calon pasangan mana 
dan pasangan tokoh siapa yang layak Anda percaya. Akan lebih baik 
lagi jika para pemilih sejak sekarang mulai berani menentukan sikap. 

Misalnya, hanya akan memilih calon pasangan presiden-wakil presiden 
yang punya program jelas, tepercaya, kredibel, dan yakin dapat 
mewujudkan program dan janji-janji politik.

Sebaliknya juga, pemilih bebas menampik atau menolak alias tidak 
memilih calon pasangan yang meragukan. Pasangan mana pun dan pasangan 
siapa pun jika pemilih tidak yakin bahwa mereka akan bisa mewujudkan 
program dan janji politiknya selama lima tahun ke depan silakan 
ditinggalkan.

Kini era bebas. Era kemandirian individu. Era otonomi sikap dan 
pilihan politik. Jangan mau dimobilisasi. Jangan mau diiming-iming 
janji-janji politik, hadiah, uang, dan segala jenis imbalan materi 
yang tendensinya menyogok atau merayu Anda sebagai pemilih.

Jika ada calon pasangan presiden-wakil presiden seperti itu, mereka 
layak segera dihindari. Tidak usah diperhatikan. Apalagi harus 
mencoblosnya. Saatnya kini para pemilih bisa angkuh untuk 
mempertahankan nilai tawar politiknya. Yakni, hanya mau memilih calon 
pasangan presiden-wakil presiden yang memang patut, layak, memiliki 
kapabilitas, dan kapasitas yang bisa dipercaya bangsa ini. 

Hak pemilih jangan dapat dibeli oleh janji-janji yang tak pernah 
realistis atau hanya sekadar uang untuk makan satu hari, sementara 
kondisi negara tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Daya tawar atau harga pemilih itu memang harus tinggi. Daya tawar 
yang tinggi bukan berarti demi sejumlah iming-iming, tetapi demi hak 
yang harus dimiliki setiap warga negera Indonesia.

Kebebesan memilih adalah hak yang sangat tinggi dimiliki warga 
negara. Jika sebelumnya, pemilihan presiden melalui DPR/MPR, maka 
sekarang suara seorang rakyat jelata pun sama artinya dengan suara 
seorang presiden atau konglomerat. 

Untuk itu, wajar saja jika daya tawar rakyat saat ini harus tinggi 
pula. Suara rakyat harus sesuai dengan apa yang akan diberikan calon 
presiden dan wakil presiden pada rakyat yang memilih. Jika tidak 
sesuai, maka rakyat berhak memilih pasangan calon presiden dan wakil 
presiden yang dianggapnya lebih baik.*** 
 


--- In [EMAIL PROTECTED], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jawa Pos
> Sabtu, 15 Mei 2004,
> 
> Akar Kekerasan Religius
> Oleh Amir Mu'allim *
> 
> Pertikaian antarkelompok masyarakat di Maluku hampir tidak pernah 
jenuh. Konflik horizontal yang dimulai pada awal 1999 tersebut telah 
meluas ke hampir semua wilayah Kepulauan Maluku. Konflik Maluku (1999-
2000) telah menimbulkan trauma masal masyarakat Maluku. Pembakaran-
pembakaran rumah, tempat ibadah, penganiayaan, pembunuhan, pemaksaan 
agama, dan kekerasan lainnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari 
konflik tersebut. 
> 
> Menurut data Komnas HAM, akar permasalahan dan faktor pemicu 
terjadinya konflik itu adalah faktor kecemburuan sosial masyarakat, 
dugaan adanya upaya provokasi dari luar, peristiwa Ketapang, 
kenetralan pihak aparat keamanan dan pemerintah daerah, sentimen 
agama, rasa dendam, pertentangan elite politik, serta peristiwa-
peristiwa yang bersifat individual.
> 
> Kini, sejak 25 April lalu, konflik Maluku, khususnya di Ambon, 
meruncing kembali. Dan, sekali lagi, puluhan korban nyawa, korban 
materi, maupun nonmateri masih merupakan bagian dari konflik 
tersebut. 
> 
> Dua pekan lalu, para pimpinan agama yang tergabung dalam Komite 
Indonesia untuk Agama dan Perdamaian (ICRP) menyatakan 
keprihatinannya atas meletusnya kembali konflik di Ambon. Dan, selain 
mengancam NKRI, tentu saja hal itu dikhawatirkan kembali mengarah 
pada konflik antaragama. Sebab, ada indikator yang mengarah pada 
konflik agama tersebut. Di antaranya, pembakaran tempat-tempat 
ibadah, sekolah, serta perguruan tinggi yang berbasis agama.
> 
> Sebagaimana pendapat Monseigneur Mandagi, dalam konflik dua tahun 
lalu, isu agama digunakan sebagai media konflik. Sedangkan yang 
ditonjolkan kini adalah isu separatisme. Dan, isu separatisme 
tersebut perlahan-lahan mulai dikaitkan juga dengan agama. 
> 
> 
> Konflik Berlanjutan
> 
> Terjadinya konflik dikhawatirkan kembali melahirkan sentimen agama. 
Sebab, ia sangat mudah menimbulkan konflik. Bahkan, seseorang berani 
mati untuk mempertahankan agama yang dianutnya. Sebagaimana yang 
diungkapkan Azyumardi Azra, agama merupakan isu yang sensitif di 
tanah air. Menurut dia, Indonesia terdiri atas masyarakat yang plural 
dari segala sisi, termasuk agama yang sangat berpotensi menjadi 
sumber konflik.
> 
> Setidaknya, ada dua hal yang menyebabkan konflik tumbuh subur dan 
berlangsung terus-menerus di suatu daerah konflik. Pertama, 
sebagaimana pendapat Budhy Munawar Rachman, konflik akan menyuburkan 
fanatisme. Sebab, secara umum, klaim-klaim mengenai kebenaran muncul 
dalam situasi konflik. 
> 
> Penelitian sosiologis agama yang dilakukan banyak kalangan, 
termasuk Thamrin Tamagola atau Imam Prasodjo, menjelaskan bahwa segi-
segi sosial ekonomi yang terlibat dalam satu areal konflik sering 
membuat suatu perbedaan yang jelas antara satu kelompok dan kelompok 
lain. 
> 
> Kedua, konflik akan meninggalkan dendam. Masyarakat yang terlibat 
dalam daerah konflik akan menciptakan dendam-dendam yang terus 
berkelanjutan dan terus berpotensi untuk berkobar kembali. Ketiga, 
menguatnya solidaritas. Konflik yang terjadi terus-menerus akan 
menciptakan solidaritas kelompok lain atau daerah lain yang memiliki 
keyakinan agama yang sama. Sehingga, daerah konflik akan meluas dan 
melibatkan orang-orang luar untuk terjun dalam konflik.
> 
> 
> Daerah Sensitif Agama
> 
> Ada tiga faktor yang menjadikan agama menjadi sensitif terhadap 
konflik horizontal. Pertama, claim of truth. Dalam agama ada klaim-
klaim mengenai kebenaran. Agama, bagi pemeluknya, diyakini sebagai 
seperangkat nilai abstrak yang mempunyai kebenaran absolut (absolute 
truth) secara teologis. Sehingga, agama lain dianggap tidak benar. 
Akibatnya, ketika agama digunakan sebagai sumber konflik, konflik 
tersebut menjadi konflik mengenai kebenaran.
> 
> Kedua, mission. Ada ajaran yang menganjurkan untuk menyebarkan 
ajaran agama yang dianutnya kepada setiap manusia. Pada sisi ini, 
orang yang beragama lain juga merupakan objek penyebaran agama. Di 
situlah bentrok kepentingan yang sama sering terjadi.
> 
> Ketiga, beragama dengan emosional. Keterikatan mayoritas umat 
beragama di tanah air cenderung didasari pemahaman agama yang 
emosional daripada ikatan keimanan. Pada sisi tersebut, umat akan 
kehilangan kekuatan serta akses agama sebagai penuntun dan control of 
life. Sehingga, hal itu cenderung menjerumuskan pada cara-cara 
pandang yang serba subjektif, egois, emosional, bahkan anarkis. 
> 
> Dalam perspektif seperti itulah agama sebagai the way of life akan 
jatuh pada posisi terendahnya. Ia hanya menjadi simbol yang mati, 
statis, serta hampa terhadap muatan nilai-nilai luhur. Dan, di 
situlah agama sekadar menjadi identitas diri yang sangat rawan. Dan, 
bila disentuh, agama menjadi amat sensitif serta rawan pertikaian.
> 
> 
> Alternatif Solusi
> 
> Beberapa problem yang bisa menjadi akar kekerasan religius tersebut 
dicoba ditelusuri dan dipetakan oleh Kimball. Sehingga, semua sumber 
konflik itu bisa dijelaskan secara runtut sekaligus dicarikan 
beberapa jalan keluarnya yang agak cerdas. Khusus pada solusi konflik 
kepentingan politis yang menyeret-nyeret sentimen keagamaan, pakar 
sejarah dan perbandingan agama semit (Islam, Yahudi, dan Kristen) 
tersebut menyarankan agar dunia belajar kepada sosok Mahatma Gandhi. 
> 
> Gandhi mempunyai tujuan jelas, sesuai ajaran agamanya. Namun, dalam 
merealisasikan tujuannya itu, dia tidak pernah mengecualikan kelompok 
mana pun. Dia malah mengajak kelompok dalam mewujudkan tujuannya. 
Lebih dari itu, Gandhi tidak pernah mengubah tujuan menjadi sarana 
dan memutlakkan sarana menjadi tujuan. 
> 
> Dalam kaitannya dengan konflik agama yang sering terjadi di tanah 
air, ada dua hal yang mungkin bisa dilakukan. Pertama, claim of truth 
sangat penting untuk meyakini suatu agama karena akan melahirkan 
sosok pribadi yang religius. Namun, saat berhadapan dengan agama lain 
(penganut agama lain), klaim kebenaran tersebut harus dilokalisasi 
menjadi personal claim. Dengan demikian, akan terwujud masyarakat 
yang damai, walau berbeda-beda keyakinan. 
> 
> Kedua, mengubah cara pandang umat terhadap agama dari citra yang 
impersonal menuju citra yang personal. Dari sesuatu yang simbolistis 
menjadi sesuatu yang substantif. Sebab, hal yang paling esensial dari 
keberadaan suatu agama memang bukanlah penyelenggaraan ritus-ritus 
serta upacara praksis keagamaan lainnya. Melainkan, nilai-nilai 
keluhuran, keadilan, kemanusiaan, rahmat, dan kedamaian -yang 
notebene merupakan pesan pokok turunnya agama itu- bisa teraplikasi 
dalam keseharian para pemeluknya.
> 
> Tidak ada yang diuntungkan sama sekali atas adanya konflik-konflik 
antaragama. Yang ada hanya akan meninggalkan kepedihan, kesengsaraan, 
serta penderitaan. Semua konflik, bila timbul dari sentimen agama, 
seperti tidak pernah berakhir. Kita berharap semua konflik yang 
melibatkan sentimen keagamaan di tanah air tidak sampai belarut-larut 
seperti halnya konflik di Palestina, Kasmir, atau Irlandia.
> * Dr H Amir Mu'allim MIS, dosen FIAI dan ketua Program Magister 
Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke