----- Original Message ----- From: Budhisatwati KUSNI To: MAJALAH MEDIUM Sent: Friday, May 07, 2004 7:00 AM Subject: SURAT DARI PARIS:SALMAN RUSDHIE BEBAS [2] --SELESAI!
SURAT DARI PARIS: SALMAN RUSDHIE BEBAS! Pernyataan terbuka Menteri luar Negeri Republik Islam Iran di depan PBB dinilai oleh Salman Rusdhie ditafsirkan oleh sang sastrawan sebagai "pembebasan dirinya' dari fatwa mati Ayatollah Khomeiny. Atas dasar tafsiran ini kemudian Salman meninggalkan London untuk menetap di New York bersama istrinya Padma Lakshmi. Sekalipun demikian, Salman tetap waspada terhadap serangan-serangan kalap dari kaum fanatik fundamentalis. Tapi yang menggembirakan sang pengarang bahwa ia sekarang bisa ke mana-mana tanpa diikuti oleh pengawal seperti yang dialaminya selama di London. Ia juga tidak harus berpindah-pindah tempat saban bulan. Menyimpulkan pengalamannya sebelum pernyataan terbuka Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran di PBB, Salman menyatakan bahwa dalam menghadapi terorisme yang terpenting kita "jangan merasa diteror". Demikian Salman menulis di Harian The New York Times [20 Oktober 2003] tentang "Bagaimana mengalahkan terorisme". "Jangan biarkan ketakutan mendominasi hidupmu sekalipun senyatanya kau memang takut juga", lanjutnya. "Jangan biarkan ketakutan mendominaasi hidupmu sekalipun senyatanya kau memang takut"! Sikap dan pandangan ini kembali mengingatkan saya akan ketakutan yang oleh banyak penulis dikatakan pernah, [mungkin masih!] menguasai warga Republik Indonesia [RI] terutama pada masa Orde Baru yang menterapkan pendekatan "kemananan dan stabilitas nasional" dalam usaha melanggengkan kekuasaannya. Saya katakan "masih" karena sekalipun Soeharto sudah tidak lagi menjadi presiden RI, tapi tidak berarti pendekatan itu sudah tidak lagi dipraktekkan. Oleh ketakutan inilah maka anak negeri dan anak bangsa menjadi manusia yang tak acuh akan prinsip asal nyawanya tidak terancam. Ketakutan ini jugalah yang membuat kita menjadi manusia "peminta restu pada atasan", "meminta petunjuk", hilang prakarsa dan hanya bisa mengucapkan "ya" tidak berani mengucapkan "tidak". Kritik dianggap sebagai hujatan dan hinaan. Ketakutan telah menjadikan kebenaran kehilangan tempat utama di Indonesia. Terutama di bawah Orde Baru Soeharto, anakbangsa dan negeri tidak lain dari "alat jinak" kekuasaan, menindas ke bawah menjilat ke atas. Tidak segan membunuh sanak keluarga, apalagi kawan sendiri. Sedangkan bagi Orde Baru, dan praktek sampai sekarang nyawa manusia sama sekali tidak ada dipandang sebelah mata di negeri kita. Di sisi lain, saya melihat sikap Salman ada kemiripannya dengan sikap Pramoedya A.Toer yang berani terang-terangan menentang militerisme dan kekuasaan. Pram menolak untuk melapor dan bahkan menggugat tegas sikap tidak adil yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan dan aparatnya. Barangkali di sinilah arti penting sanjak Wiji Thukul -- penyair yang sampai sekarang hilang tanpa tentu rimbanya -- yang berseru "Hanya ada satu kata: Lawan!". Kata-kata sederhana ini merupakan ujud dari sebuah pola pikir dan mentalitas yang menentang arus pada waktu itu. Sekarang, setelah Orba Soeharto tidak berkuasa, bisa saja kita mendengar riuhnya angkasa oleh suara orang-orang menepuk dada mengaku sebagai pembangkang Orba sejak dahulu. Keadaan inipun tidak perlu digugat dan dituding, tidak perlu juga disenyumi karena takut memang menyertai manusia sejak lahir. Bedanya ada yang mencoba dan bisa mengalahkan ketakutan, ada yang menyerah dan dikuasai oleh ketakutan. Kemiripan lain antara Salman dan Pram, bahwa kedua-duanya terus menulis dan menulis dalam syarat seburuk apapun membela prinsip dan nilai-nilai manusiawi, mempertahankan status mereka sebagai warga Republik Berdaulat Sastra-Seni. Prinsip dan nilai-nilai manusiawi ini mereka tuangkan secara artitistik dalam bentuk sastra. Nilai-nilai dan prinsip inilah yang menjelujuri is karya-karya mereka. Sedangkan bagi Friederich Hebbel "Isi merupakan hal yang sine qua non untuk segala sesuatu [dikutip dari Eric Bentley [ed.] , "The Theory of the Modern Stage. An Introduction to Modern Theatre and Drama", New York, 1968, hlm.19]. Nilai-nilai inilah pula yang membuka cakrawala luas, sangat luas bagi sastrawan. Agaknya bagi Salman, sastra adalah hidupnya. Adalah nilai-nilai manusiawi dan keindahan. Keindahan tidak terpisahkan dari nilai-nilai manusiawi .Dan sastra pulalah yang membawa Salman pindah ke New York. Mengapa New York? Salman menjelaskan pilihannya: "Mengapa saya hidup di sini ? Karena pilihan sastra. Saya adalah penulis kota-kota besar. Pertama kali saya datang ke New York pada tahun 1970. Sayapun segera menulis tentang kota ini pada tahun 1970.Antara New York dan Bombay , saya melihat adanya kesamaan. Keduanya memiliki enerji, udara yang penuh listrik, massa yang berjubel. Di sini terdapat 17 belas macam kebudayaan berbeda-beda, lebih dari tiga perempat penduduknya berasal dari berbagai penjuru dunia.Sedangkan mengenai sejarah perorangan, ia bermula dari kebebasan-kebebasan lain. New York adalah kota dunia... Sebuah tempat luar biasa padannya untuk seorang penulis roman [romansier]. Ketika hidup di London, dan fatwa mati dari Komeiny masih berlaku, Rushdie 24/24 jam berada dalam pengawalan. Kehidupan yang sangat tidak disukai oleh Rushdie. Tapi sementara tabloid London yang senang dengan pergunjingan menulis dan menggugat bahwa yang membayar para pengawal itu adala para pembayar pajak Inggris. Karena itu penulis-penulis tabloid London mengharap agar sebaiknya Rushdie menyembunyikan diri saja. Menjawab gunjingan ini, dengan bercanda menjawab dalam sebuah artikel di The New York Times: "Kaum fundamentalis mengira kita tidak punya keyakinan apapun. Untuk membuktikan bahwa mereka itu keliru, pertama-tama harus tahu bahwa mereka [kaum fundamentalis] itu keliru. Juga sebelumnya kita perlu sepakat tentang apa yang patut dihitung: berciuman di tempat-tempat publik, sandwich babi, perbedaan pendapat, mode pembidas [avant-garde], sastra, kemurahan hati, pemerataan pendapatan di bumi, bioskop, musik, kebebasan berpikir, keindahan, cinta.... Dari kesepakatan itu kita tahu bagaimana semestinya hidup tanpa ketakutan sesuai pilihan dan yang kemudian akan mengantarkan kita pada kemenangan" . Di New York Rushdie yang lahir di Bombay pada tahun 1947, tidak lagi diganggu oleh gunjingan tabloid-tabloid seperti yang dialaminya di London. Di New York Rusdhie merasa lebih bebas dari pada di London dan tidak lama kemudian dari tangannya muncul sebuah karya roman berjudul "Amok" [Furie] yang oleh Fr�d�rick Joignot, wartawan sastra-seni Harian Le Monde, Paris, disebut sebagai "roman firasat" [roman pr�monitoire]. Rushdie mengatakan bahwa roman ini lahir "dengan perasaan yang tidak terelakkan". Karya ini sudah beredar di tokobuku-tokobuku beberapa bulan sebelum peristiwa September 2001. Di sampulnya tergambar gumpalan awan tebal mengancam The Empire State Building. Pada mulanya para kritikus tidak terlalu menyoroti karya ini. Tapi sekarang "Amok" dipandang sebagai sebuah "roman firasat"tentang drama "nine-eleven"' dan kebencian bisu yang muncul di kalangan raksasa Amerika Selatan. "Amok" menceritakan Malik Solanka, seorang profesor Inggris-India berusia 50an tahun yang meninggalkan keluarganya untuk hidup di New York. Sejarawan kaya ini melukiskan New York sebagai Roma Kekinian, kota luarbiasa setara dengaan Roma pada zaman imperium Romawi yang sekarang makmur tapi kemudian akirnya runtuh. Di sini jugalah berkeliaran kaum teroris Musliman yang menyerukan perang suci .Rusdie sendiri memandang roman "Amok"nya "pada suatu waktu akan merupakan sebuah roman sejarah". "New York adalah Babel Baru , Babel zaman kita", demikian menurut penglihatan Salman Rusdhie berkenaan dengan lukisan New York di dalam romannya itu. Menambah analisa dan lukisannya tentang New York, Rushdie kemudian menambahkan bahwa "Sudah saatnya bagi Amerika untuk menciptakan musuh di mana-mana dan mulai menciptakan persahabatan". Rushdie juga menganjurkan kepada Amerika Serikat agar memprioritaskan dengan segala cara agar tercipta adanya perdamaian antara Israel dan Palestina, mengakhiri perang terhadap "rakyat miskin" Sudan, Irak dan Afganistan atas nama "melenyapkan para tiran". Tanpa ini, ujar Rushdie, kaum fundamentalis akan gampang merekrut para pengikut dan dengan gampang melanjutkan "tindakan barbar mereka". Dari pendapat-pendapat di atas nampak bahwa Salman Rushdie sebagai sastrawan adalah seorang seorang sastrawan yang berpandangan luas, sastrawan yang tidak mengucilkan diri hanya di dunia sastra tapi melihat kaitan bidang sastra dengan bidang-bidang lain seperti politik, agama, filsafat, dan bidang-bidang lainnya. "Buku-buku , para filosof memang merupakan kecintaan saya. Melalui buku dan karya-karya filsafat kita menembus tonggak-tonggak perbatasan geografis dan spiritual" ujarnya.Atas dasar pandangan ini Rushdie mengembarai semua karya penulis berbagai bangsa dan negeri, mulai dari Boulgakov, Garca Marquez, melalui Ton Morrison ,sampai kepada Italo Calvino. Dengan mengambil perbandingan musik jazz, musik pop dan rock, Salman Rushdie mengatakan "sastra adalah sebuah hibrida" "di mana terjadi pertemuan antara tekhnologi dan musik-musik etnik". Sastra adalah sebuah hibrida di mana nilai-nilai kemanusiaan dan keunggulan manusia bertemu untuk memanusiawikan diri sendiri dan manusia itu sendiri. Hidup Salman Rushdie adalah kehidupan seorang sastrawan yang sadar dan setia akan misi kesastrawanannya. Pengalamannya kembali memperlihatkan menjadi sastrawan yang benar bukanlah sesuatu usaha sederhana. [Selesai] Catatan: Foto-foto terlampir memperlihatkan Salman Rushdie dan istrinya, Padma Lakshmi sedang berjalan-jalan di tengah kota New York. Sedangkan foto yang lain adalah foto Salman di ruang kerjanya. Kedua foto ini diambil oleh Jelitheng. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

