artikel menarik, perlu dibongkar Heboh Skripsi Mahasiswa PTIK Soal KKN di Tubuh Polri
Semuanya Lulus, tapi Gagal karena Tak Mampu Bayar Jakarta,- Skripsi 147 mahasiswa PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) menggegerkan jagat kepolisian. Borok kolusi dan korupsi dibongkar. Koran ini mencoba menelusuri beberapa "korban" praktik KKN itu. Rizal Husen, Jakarta HARAPAN Andi (bukan nama sebenarnya) untuk menjadi polisi musnah. Gara-garanya, dia tidak lulus pantukir (panitia penentuan akhir) yang mengharuskan dirinya membayar Rp 25 juta. Andi tak mampu membayar jumlah yang menurut ukurannya "selangit" itu. Anak pertama di antara dua bersaudara tersebut akhirnya melepaskan cita-citanya untuk memakai seragam cokelat. "Nggak jadi polisi yo nggak pateken, Mas (tidak menjadi polisi juga tidak apa-apa)," ujarnya dalam bahasa Jawa medok. Pengalaman tak mengenakkan itu terjadi setahun lalu selepas dia tamat SMU (sekolah menengah umum). Andi adalah lulusan salah satu SMU negeri di Jakarta. Sejak kecil, pria berumur 20 tahun itu dibesarkan di Solo. Awalnya, dia ingin mendaftar di Akpol (Akademi Kepolisian) di Semarang, Jateng. Namun, karena mengetahui banyaknya titipan atau anak pejabat Polri yang juga ingin menjadi polisi, Andi mengurungkan niatnya. Lantas, dia mendaftar bintara di Polda Metro Jaya. Secara fisik, penampilan dia cukup oke. Tinggi badannya 170 cm dengan berat badan 65 kilogram. Karena itu, dia yakin bakal diterima sebagai polisi. "Waktu itu, saya berpikir bahwa saingan saya di bintara lebih kecil dibandingkan di Akpol," jelasnya seraya mengenang masa lalu. Ternyata, perkiraan Andi keliru. Semula, dia mulus menjalani semua tes. Mulai tes tertulis, wawancara, sampai fisik. Dia sangat percaya diri waktu itu. Semua tes dijalaninya secara baik. Akhirnya, Andi dan ratusan calon polisi lainnya dinyatakan lolos seleksi. Tinggal selangkah lagi, yaitu pantukir. Menurut Andi, tes pantukir tersebut meliputi pengecekan sikap, tampang, performance, kecakapan, dan bentuk tubuh. Saat bentuk tubuh dicek, semua calon polisi hanya mengenakan celana pendek, bertelanjang dada, dan tidak mengenakan alas kaki. "Sebenarnya, kalau sudah sampai pantukir, 90 persen lulus. Saat itu, saya sudah yakin akan lulus," ujarnya. Saat dites kecakapan, panitia mengajukan sejumlah pertanyaan ringan. Misalnya, soal cita-cita dan hobi. Untuk menjadi seorang polisi, diperlukan keberanian plus, bukan hanya berani berhadapan dengan masyarakat atau penjahat. Lebih dari itu, mereka harus berani jika sewaktu-waktu berhadapan dengan seorang jenderal. Sikapnya saat bertemu pimpinan juga dinilai. "Saya juga dites mengucapkan angka 10 sampai satu dalam bahasa Inggris dan lain-lain," ungkapnya. Setelah semuanya dilewati, ada salah seorang panitia yang mendekatinya. Siapa orang itu? Andi menyebut seorang polisi berpangkat AKP yang berinisial H. Dia mengatakan bahwa Andi sudah melakukan semua tes dengan baik. Hanya, ada satu poin yang nilainya kurang. "Itu bisa mempengaruhi kelulusan kamu," kata Andi menirukan ucapan H. Katanya, nilai Andi bisa didongkrak. Tapi, Andi harus menyerahkan Rp 25 juta. Tentu saja, Andi terkejut. Kok harus bayar? H mengatakan bahwa kalau ingin lulus, ya harus membayar. Sebab, nilainya kurang. Dia beralasan, keinginan Andi menjadi polisi tinggal selangkah lagi. "Kalau ada uang, saya bisa bantu kamu. Kalau nggak ada, lebih baik kamu pulang saja," jelas H, seperti dikutip Andi. Saat itu, Andi menyampaikan hal tersebut kepada orang tuanya yang hanya seorang pegawai negeri golongan III-A di Jakarta. Uang tersebut cukup banyak bagi keluarga Andi. Karena tak punya uang sebesar itu, Andi memutuskan tidak menjadi polisi. Sekarang Andi belum bekerja alias menganggur. "Nggak tahu sampai kapan saya begini," jelasnya dengan wajah memelas. Kalau Andi gagal, lain lagi kisah Budi (juga bukan nama sebenarnya). Dia berhasil masuk bintara Polri. Kini dia sudah berdinas di salah satu Polres Metro di Jakarta. Bagaimana dia bisa lolos? Laki-laki berumur 21 tahun itu mengaku, orang tuanya mengeluarkan Rp 38 juta. Itu terjadi dua tahun lalu. Uang itu diserahkan ke seorang polisi berpangkat kompol (setingkat mayor di TNI). Dialah yang mengurusi semuanya, sejak awal sampai lulus. Saat ditanya bagaimana menemukan orang yang bisa membantu mengurus, Budi mengaku tidak tahu secara pasti. Yang dia tahu, saat itu orang tuanya mendapatkan informasi adanya seorang polisi yang biasa membantu calon bintara. Lantas, orang tuanya menghubungi polisi itu. Setelah negosiasi harga tercapai, polisi itu menyanggupinya. Uang harus diserahkan begitu Budi mendaftar. Pakai kuitansi? "Saya tidak tahu pakai kuitansi atau tidak," tambahnya. Yang diketahui Budi, uang itu diserahkan saat dirinya mendaftar sebagai calon bintara Polri. Orang yang mengurus itu menjanjikan Budi akan diterima sebagai polisi. Dengan cacatan, selama pendidikan siswa tidak melakukan sesuatu yang bisa mengakibatkan dirinya dikeluarkan. "Dia hanya bilang taati semua peraturan selama pendidikan. Jangan buat macam-macam. Sebab, kalau dipecat, uang tidak bisa kembali," cerita Budi. Kini Budi sudah resmi menjadi polisi berpangkat brigadir polisi dua (bripda) dengan gaji sekitar Rp 1,2 juta per bulan. Karena itu, banyak bintara Polri yang sebenarnya tidak layak secara fisik maupun kesehatan. Namun, karena fulus tersebut, mau tidak mau, mereka yang sudah membayar harus diloloskan. Menurut salah seorang mahasiswa PTIK yang tak mau disebut namanya itu, masalah kebobrokan seperti itulah yang menjadi materi penelitian. "Kita menemukan berbagai hal seperti itu di lapangan," kata mahasiswa berpangkat AKP yang menjadi salah satu anggota angkatan 39-A. Kapolri Da'i Bachtiar sendiri mengakui, memang ada persoalan dalam penerimaan para bintara Polri. Namun, jenderal bintang empat itu membantah adanya praktik uang itu. "Praktik uang tidak ada. Yang ada hanyalah nota alias katabelece alias titipan," ujarnya. Orang nomor satu di jajaran Polri itu mengaku sudah membentuk tim guna menyelidiki kebenaran informasi tersebut. Bahkan, di hadapan Komisi II DPR beberapa waktu lalu, mantan Kapolda Jatim itu berjanji akan memberantas KKN di institusi yang dipimpinnya. (habis) ----------------- ----------------- NEW PANTHER GRAND TOURING NEW & MORE EXCLUSIVE SUV By ASTRA International Ask for more information : [EMAIL PROTECTED] Undian berhadiah BMW + discount langsung 5 juta TOYOTA, DAIHATSU, ISUZU, BMW, PEUGEOT, ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

