http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/08/opini/1013001.htm
Sabtu, 08 Mei 2004
Dwitunggal Dalam Karung
Oleh Herry Tjahjono
PROSES pemilu presiden-wakil presiden terus bergulir mendekati hari H. Ada
dua kelemahan mencolok dari dinamika pencarian pasangan: (1) sifat
oportunistis-pendekatan yang digunakan hanya untuk mencari peluang terbesar
meraih kemenangan, (2) akibatnya, proses pencarian pasangan cenderung
mengesampingkan sinergi platform dan chemistry kerja dari masing-masing
pasangan. Konsekuensinya, kita hanya akan mendapat pemimpin nasional
(eksekutif) yang bersifat "dwi-pemimpin", bukan "dwitunggal".
Dwitunggal, tersimpan makna sinergi. Dua sosok pemimpin (presiden dan
wakilnya), namun secara fungsional, mereka "satu". Kesatuan, yang jika
meminjam dasar filosofi China, I-Ching, bersifat yin-yang. Sesuai yang
diutarakan Clare Gibson (dalam Signs & Symbols): harmony can only be
achieved when the two (yin and yang, presiden dan wakilnya) are perfectly
and complementaryly balanced. Satu, berarti keduanya membentuk harmoni, dan
dari sana lahir sinergi. Sedangkan dwi-pemimpin, mereka tetap beresensi
"dua", yang ada hanya disharmoni. Masing-masing memang tetap berfungsi
sesuai tugas dan kewajibannya, tetapi tidak membentuk sinergi.
Pada dwitunggal, presiden dan wakilnya berdiri dan berjalan berdampingan,
bergandeng tangan. Pada dwi-pemimpin, presiden dan wakilnya berdiri dan
berjalan bersama, namun tangan mereka tak bergandengan, melambai
sendiri-sendiri.
KITA hanya pernah punya satu "dwitunggal", Soekarno-Hatta (itu pun akhirnya
pecah), bersinergi dan akhirnya mampu menyelesaikan salah satu tugas sejarah
bangsa paling berat, kemerdekaan. Selanjutnya, dari zaman Soeharto dengan
semua wapres-nya, sampai Gus Dur-Megawati dan Megawati-Hamzah Haz, semua
bukan dwitunggal, hanya dwi-pimpinan. Di sana tidak ada sinergi. Karena itu,
out put kepemimpinan mereka hanya berupa urutan proses berbunyi: terpuruk,
lebih terpuruk, dan semakin terpuruk.
Penyebab utama mengapa mereka tidak bisa menjadi dwitunggal adalah (prinsip)
kepemimpinan. Mereka (sebagai dwi-pemimpin) memakai prinsip kepemimpinan
bersifat master leadership. Jadi, sebagai pemimpin, mereka (presiden atau
wakilnya) bersikap sebagai "tuan, pemilik" negeri. Konsekuensinya,
masing-masing minta dilayani kepentingan dirinya (juga kelompok, partainya,
dan seterusnya).
Paradigma kepemimpinannya, meminjam konsep Erich Fromm (To Have or To Be)
adalah "memiliki" (to have) sehingga kekuasaan menjadi tujuan. Jangankan
terhadap rakyat, yang sebenarnya "tuan" yang harus dilayani, antara presiden
dan wakilnya pun tak ada semangat dan prinsip pelayanan satu sama lain.
Padahal, prinsip kepemimpinan yang relevan di zaman ini, terutama di tengah
kondisi bangsa terpuruk seperti kita-jika mengambil konsep Larry Spears (CEO
Greenleaf Center)-adalah servant leadership, kepemimpinan yang melayani
(kepentingan orang yang dipimpin, rakyat). Menurut Robert K Geenleaf (mantan
Vice President AT&T, pelopor servant leadership): secara definitif, servant
leadership semacam filosofi praktis yang berhubungan dengan etika kekuasaan
dan otoritas. Singkatnya, bagaimana seorang pemimpin menggunakan kekuasaan
dan otoritas untuk menolong orang lain (baca: rakyat)
bertumbuh-berkembang-sejahtera lahir-batin. Tetapi, semua itu tidak
dilakukan dengan cara menguasai, mengeksploitasi, atau mengambil keuntungan
dari orang yang dipimpin. Paradigma kepemimpinan yang dipakai adalah
"menjadi" (to be) sehingga kekuasaan diperlakukan hanya sebagai sarana demi
mencapai nilai-nilai tertinggi kemanusiaan dan kepemimpinan.
Kesimpulan prosesnya: dwi-pemimpin (master leadership), disharmoni dan tanpa
sinergi, keterpurukan bangsa. Yang benar adalah: dwitunggal (servant
leadership), harmoni dan sinergi, kebangkitan bangsa. Dan, di hari-hari ini,
masing-masing pasangan sedang siap berlaga memenangkan "pertempuran". Maka,
kita mesti memotret, pasangan mana paling berpotensi menjadi dwitunggal.
ADA baiknya pasangan yang akan berlaga mengukur diri, sejauh mana mereka
sebagai pasangan berpotensi sebagai dwitunggal. Ukuran itu, menurut John E
Barbuto dan Daniel W Wheeler (University of Nebraska) dan sesuai konteks
tulisan ini, sejauh mana orang lain (rakyat) memberikan believe (rasa
percaya) terhadap tujuh parameter servant leadership.
Ketujuh parameter itu adalah: (1) Rasa percaya rakyat tentang semangat
altruisme "mereka" (pasangan capres-cawapres), semangat mengorbankan interes
pribadi untuk kemaslahatan rakyat banyak. Contoh, jika ada penderitaan
rakyat seperti di kampus UMI, atau korban ruilslag SLTPN 56 Melawai, sejauh
mana "mereka" untuk "sejenak" mengorbankan kepentingan diri mengurusi tetek
bengek menjadi presiden-wapres, dengan muncul dan hadir di tengah para
penderita.
(2) Rasa percaya rakyat, "mereka" mempunyai ketulusan hati untuk mendengar
suara rakyat sekaligus menghargainya. Contoh, jika masyarakat (bisnis
khususnya) berteriak menderita akibat kebijakan three in one, sejauh mana
"mereka" mendengarkannya lalu mencarikan alternatif solusinya secara
proporsional.
(3) Rasa percaya rakyat. "Mereka" mengerti jika sesuatu yang spesifik
menimpa rakyat dan bagaimana kejadian itu mempengaruhi kehidupan. Contoh,
jika ada korban penggusuran dan mereka menangis "darah" sebagai rakyat (yang
juga "pemilik" Bumi Pertiwi), adakah "mereka" (akan) mengotori kakinya
dengan lumpur penggusuran dengan empatetik memberi bantuan nyata dan jalan
keluar.
(4) Sejauh mana rakyat datang, mengadu, dan menggantungkan harapan kepada
"mereka" jika sebuah peristiwa traumatis menimpa rakyat. Contoh, jika korban
pelanggaran HAM datang dengan tangis tanpa air mata karena telah kering,
sejauh mana "mereka" (tidak bersifat retorika, kosmetik, dan verbalisme)
melakukan sesuatu yang nyata dan penuh keberanian (meski tidak populis)
memecahkan masalah traumatis yang ada.
(5) Sejauh mana rasa percaya rakyat akan kemampuan "mereka" mengantisipasi
masa depan dengan segenap konsekuensinya. Contoh, mengingat kondisi
perekonomian yang terpuruk, sehebat apa "mereka" menciptakan terobosan ide
brilian, tetapi realistis mengingat ke depan, kemiskinan dan pengangguran
akan kian meledak dan bertebaran di mana-mana.
(6) Sejauh mana rakyat yakin soal kesiapan dan keterampilan organisatoris
"mereka" mampu memberi perubahan positif bagi bangsa dan negara di tengah
dinamika global dunia. Contoh, jika sampai hari ini kita dinobatkan sebagai
kampiun kleptokrasi di dunia, sehebat apa "mereka" memimpin (organisasi)
Indonesia sehingga berubah menjadi negara yang bersih dari korupsi dan
maling-maling secepat dan seefektif mungkin.
(7) Sejauh mana rakyat percaya bahwa "mereka" memiliki good will dan
komitmen untuk mengembangkan dan memberdayakan rakyat melalui jalur dunia
pendidikan atau yang lainnya.
Ketujuh parameter itu sekaligus menjadi nilai-nilai kepemimpinan yang
melayani-the values of servant leadership. Parameter dan nilai-nilai itu
berlaku pada semua pasangan capres-cawapres yang akan berlaga tanpa
terkecuali, jadi bukan hanya bagi Megawati yang sedang atau pernah menjadi
presiden. Semuanya itu juga bisa dikemas menjadi "bekal" bagi masing-masing
pasangan, misalnya, dalam bentuk "visi-misi-rencana kerja".
Dan, akhirnya, bagaimana "bekal" itu disosialisasikan secara terbuka dan
luas, atau kalau perlu didiskusikan dalam sebuah forum debat terbuka
capres-cawapres. Dari sanalah rakyat paling tidak juga mempunyai "bekal"
untuk memotret dan memilih.
Seminim apa pun, ketujuh parameter itu akan berguna bagi rakyat agar
berkesempatan memilih pasangan yang paling mempunyai kompetensi menjadi
"servant leaders", yang paling berpotensi menjadi dwitunggal. Jika tidak,
rakyat lagi-lagi akan memilih kucing dalam karung.
Herry Tjahjono Konsultan Manajemen & Corp HR Director di Jakarta
Search :
Berita Lainnya :
�TAJUK RENCANA
�REDAKSI YTH
�Pemerintahan yang Kuat
�Otoritarianisme Baru dan Desain Institusi
�Dwitunggal Dalam Karung
�POJOK
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/