SURAT DARI PARIS:

WALIKOTA SEDUNIA BERTEMU DI PARIS


Lama sudah! Lama sekali. Tahunnya pun aku sudah lupa. Yang masih jelas teringat adalah 
kejadiannya, seperti ia baru saja terjadi seminggu lalu. Terjadi ketika aku masih 
berancang-ancang untuk bekerja di Indonesia.  Hari itu masih musim dingin , matahari 
pun lambat muncul di langit Paris. Jam delapan pagi tiba-tiba jendelaku yang terletak 
di lantai dasar diketok dengan bersemangat tanpa keraguan sedikitpun. Ketokan yang 
seakan-akan memberitahukan bahwa si pengetok mengenal baik diriku dan membuatnya tidak 
mempunyai keraguan sedikitpun untuk datang tanpa menelpon dan memberitahu sebelumnya 
.Mendengar ketokan demikian, akupun meninggalkan meja kerjaku, lalu keluar membuka 
pintu gedung yang hanya bisa dibuka oleh mereka yang mengetahui kode rahasia pintu. 
Dengan penuh tandatanya pada diri, aku menoleh ke kanan ke kiri mencari siapa gerangan 
yang datang. Di hadapanku berdiri dua orang lelaki berkulit kuning dibalut oleh mantel 
musim dingin. Satu di antara mereka tinggi tegap dan seorang lagi berukuran sedang. 
Sejenak kami bertatapan dan kemudian berpelukan erat dengan penuh kegembiraan. Dua 
orang lelaki itu adalah Nahson Taway, walikota Palangka Raya dan yang seorang lagi 
Lukas Tingkes pejabat penting dari kota yang sama. Antara kami bertiga memang terdapat 
hubungan keluarga yang cukup dekat. Lukas Tingkes, menurut keterangannya,waktu Sekolah 
Dasar, bahkan pernah tinggal di rumah ayahku di Kasongan [sekarang ibukota kabupaten 
Katingan] selama bertahun-tahun .Hal biasa di kalangan keluarga orang Dayak. Sedangkan 
dengan Nahson, jalinan keluarga itu terjadi melalui perkawinan. 

Nahson dan Lukas sengaja datang ke Paris untuk menjengukku sejenak selagi mereka di 
Eropa. Waktu itu mereka berdua menghadiri kongres walikota sedunia yang berlangsung di 
Amsterdam. Sadar bahwa jarak Amsterdam dan Paris tidak terlalu jauh, maka mereka 
manfaatkan waktu, walaupun hanya untuk beberapa jam  menemuiku di Paris. Yang ingin 
kuceritakan di sini tentulah bukan tentang pertemuan keluarga yang di luar dugaan, 
karena kuanggap masalah keluarga adalah masalah diri-sendiri, masalah pribadi yang 
tidak perlu dikisahkan kepada orang banyak, apalagi dari segi kegunaanpun tidak memuat 
apa-apa yang berarti bagi umum.  Nama kedua anggota keluarga ini  kusinggung hanya 
sebagai ilustrasi tentang kongres walikota sedunia  yang agaknya berlangsung saban 
tahun di berbagai kota berbeda di dunia secara bergantian. Bulan Mei , bulan musim 
bunga yang indah tahun ini, Kongres demikian sedang berlangsung di Paris sejak tanggal 
2 sampai 5 Mei . 

Dua ribu walikota dan wakil rakyat dari seluruh penjuru dunia hadir disambut dengan 
upacara pembukaan yang merah oleh Presiden Jacques Chirac  dan Walokota Paris Betrand 
Delano�. Chirac dan  Delano� nampak sangat bangga menjadi tuanrumah kongres yang 
disebut Congr�s Fondateur Cit� et Gouvernement Locaux Unis, CGLU [Kongres Pendiri Kota 
Dan Pemerintah Lokal Bersatu]. 

Kongres CGLU yang berlangsung saban tahun ini bertujuan "mendorong peranan kota dalam 
membantu  pembangunan, merekonstruksi apa-apa yang dihancurkan oleh perang atau yang 
diporak-porandakan oleh hal-hal tak terduga seperti bencana alam" [Harian Le 20 
Minutes, Paris, 3 Mei 2004]. Ia merupakan salah satu sarana untuk tukar-menukar 
pengalaman dalam mengelola kota, dan juga peluang membuka kerjasama bilateral ataupun 
multilateral dalam usaha pengembangan kota. Dalam hal kerjasama ini, Paris misalnya 
sejak tiga tahun terakhir saja telah hadir di puluhan negeri di dunia dalam berbagai 
bidang di mana ibukota Perancis menyumbangkan bantuan keuangan dan tekhnik. Di bidang 
urbanisme misalnya, sejak Januari 2003,  l'Agence  Parisienne d'Urbanisme, APUR [Biro 
Urbanisme Paris]  memberikan bantuan kepada Alger, ibukota Aljazair dalam 
memperbaharui daerah pemukiman, dan memberikan kesempatan kepada orang-orang Aljazair 
dalam belajar pengalaman membangun jaringan trem . 

Ketika pada bulan Juni 2001, Peru dilanda oleh gempa bumi dahsyat, Paris telah 
menyumbangkan lebih dari E.76.000 kepada kotapraja Arequipa, kota terbesar kedua di 
Peru guna membangun kembali monumen-monumen sejara yang rusak. Untuk Kamboja, dalam 
tahun 2005 nanti penduduk Phnom Penh yang berjumlah 1,2 juta itu diharapkan  akan 
menikmati air leding bermutu  yang dibangun dengan bantuan Kota Paris. Demikian pula 
di jantung kota Amman, Jordania, dengan bantuan Kota Paris pula dibangun sebuah 
fontaine Wallace, bangku-bangku publik dan daerah hijau yang dinamai "Square de 
Paris".  

Berlangsungnya kerjasama antar kotapraja ini tidak bisa dilepaskan dari dorongan 
Kongres CGLU yang berlangsung saban tahun. Kalau diperhatikan kotapraja-kotapraja yang 
sudah atau sedang dan mengembangkan kerjasama, maka nampak bahwa kerjasama ini lebih 
berkembang antara negeri-negeri yang mempunyai tautan sejarah. Kamboja dan Aljazair 
adalah bekas jajahan Perancis, sedangkan Peru menjadi  dikenal melalui kegiatan Madame 
Danielle Mitterrand yang sebelum Fran�ois Mitterrand menjadi Presiden Perancis adalah 
aktivis LSM, yang bekerja terutama untuk kawasan Amerika Latin. Madame Mitterrand 
sangat dekat misalnya dengan Komandan Marcos, pimpinan Zapatis dari Chiapas, Meksiko 
dan tokoh-tokoh berbagai bidang   Amerika Latin. Pusat Studi Amerika Latin di Paris 
pun sangat kuat, sehingga mempunyai pengaruh di dunia ilmu-ilmu sosial. Gabriel Garcia 
Marquez mengembangkan karir kepengarangannya juga dari Paris. C.Furtado pernah 
mengajar di universitas-universitas di Paris. Pablo Neruda merupakan nama akrab di 
sini. Kedekatan inipun bisa dipahami jika dilihat dari kebudayaan di mana kebudayaan 
Latin melalui penjajahan mempunyai pengaruh kuat di Amerika Latin.    Demikian juga 
dengan Jordania, Perancis sejak lama mempunyai hubungan dekat. Di samping 
latarbelakang sejarah ini, tentu faktor prakarsa dan lobbie turut memainkan peranan 
dalam pengembangan  kerjasama antar kotapraja ini. Selain memang mempunyai tujuan 
kemanusiaan, kiranya akan sangat naif jika kerjasama ini dilepaskan dari usaha 
mengembangkan pengaruh budaya dan politik serta merebut pasar. Tapi soal-soal inipun 
terletak dalam lingkup kewajaran pergaulan internasional, apalagi kerjasama begini 
hasilnya ternyata bisa dinikmat oleh masyarakat luas dan membuka peluang untuk 
pengembangan di bidang-bidang lain seperti pendidikan dan kebudayaan. Aku tidak tahu, 
dan  tidak sempat kutanyakan kepada Nahson dan Lukas, apakah Kongres CGLU ini telah 
digunakan secara maksimal oleh para walikota dari Indonesia untuk mengembangkan 
kerjasama. 

Hal lain yang menarik dan mungkin bisa dijadikan renungan adalah permasalahan yang 
dikemukakan sebagai salah satu tujuan Kongres CGLU, yaitu "mendorong peranan kota" 
yang tentunya bukan hanya dalam pembangunan dan rekonstruksi, tapi dalam arti lebih 
luas lagi: perkembangan sebuah bangsa. Dalam sejarah umat manusia nampaknya kota 
memainkan peranan menentukan wajah sebuah bangsa. Apa yang terjadi dan di kota-kota 
mempunyai pengaruh langsung pada daerah-daerah lain yang jauh seperti daerah 
pedalaman. Kota dijadikan patokan nilai idaman. Kota sering juga dijadikan harapan. 
Apalagi jika memperhatikan angka-angka yang diberikan oleh  PBB bahwa 50 sampai 60 
persen penduduk di dunia adalah tinggal di kota [Harian Le 20 Minutes, Paris, 03 Mei 
2004] maka pengaruh dari 50 sampai 60 persen ini akan nampak lebih kuat lagi terhadap 
40 sampai 50 persen selebihnya. Kota merupakan pusat politik, ekonomi, budaya, 
kesehatan dan pendidikan. Ia mempunyai kemudahan lebih dari desa. Dari kenyataan ini 
kiranya sangat beralasan kuat jika Kongres CGLU sangat memperhatikan pengelolaan kota, 
karena kota menentukan keadaaan bangsa secara kesuluhan. 

Menghilangkan perbedaan kota dan desa memang suatu keinginan atau cita-cita yang indah 
tapi untuk bisa mewujudkannya memerlukan waktu bertakaran abad. Mao Zhedong, dalam 
Revolusi Besar Kebudayaan Proletar [RBKP] pada 1966an pernah mencoba memecahkan 
masalah ini dengan mengirimkan brigade-brigade orang-orang bersekolah ke pedesaan, 
membangun barisan dokter kaki telanjang, mengembangkan industri di pedesaan melalui 
Komune-komune Rakyat. Tapi  ide baik ini nampaknya tak mulus dalam pelaksanaan, 
mungkin oleh belum matangya syarat-syarat untuk mewujudkannya. Yang lebih radikal lagi 
adalah usaha Khmer Merah dengan mengosongkan kota-kota dan mengajak seluruh penduduk 
Kamboja ke pedesaan. Hasilnya sejak awal bisa diduga: Kegagalan. 

Daerah pedesaan adalah daerah luas yang :menunggu penanganan tapi hanya yang penuh 
dedikasi dan idealisme sajalah yang sanggup terjun dan bekerja di daerah yang penuh 
kesulitan menantang demikian. Sampai sekarang, berapa banyak LSM-LSM yang benar-benar  
berbasis dan bergerak di pedesaan. Sangat jarang ada LSM seperti Jerami di daerah  
Wonogiri dipimpin oleh grup Yahya TP, berangkat dari kemauan dan dengan modal nol dari 
segi finansil. Tapi apa yang dilakukan oleh grup yang sekarang sangat berkembang ini, 
barangkali merupakan sebuah contoh yang patut dipertimbangkan karena mereka 
menunjukkan pemberdayaan dalam arti menyeluruh itu mungkin. Dari apa yang dilakukan 
oleh Grup Jerami ini, terlintas di kepalaku, apakah tidak sebaiknya kita memberdayakan 
bangsa dengan berdiri di "dua kaki" yaitu melakukan pekerjaan di kota dan di desa 
sekaligus. Melancarkan komunikasi antara kota dan desa sehingga sekalipun impian 
menghilangkan perbedaan kota dan desa masih jauh dari terwujud,  tapi paling tidak 
dengan cara ini kita sudah mulai menyentuh secara nyata daerah pedesaan. Dengan metode 
"dua kaki" ini kita menempatkan perkembangan pedesaan sebagai alat penakar berhasil 
tidaknya kita membangun negeri dan bangsa. Akan lebih baik lagi jika memang ada 
pilihan politik baru untuk betul-betul melakukan "pemberdayaan dari pinggir". 

Sejalan dengan ide "pemberdayaan dari pinggir" ini pula maka kukira sudah pada 
tempatnya jika kita lebih memperhatikan  pemberdayaan pulau-pulau luar Jawa sehingga 
kesenjangan antar pulau bisa dikurangi. Dalam bidang sastra-seni, ide ini tertuang 
dalam konsep "sastra-seni kepulauan" di mana budayawan Halim HD banyak memberikan 
waktu, tenaga dan pikirannya . Dengan cara ini kita mencoba memencarkan pusat-pusat 
kebudayaan ke seluruh pulau. Perkembangan tekhnologi, terutama komunikasi dewasa ini, 
nampak membantu pekerjaan mereka yang penuh dedikasi dan idealisme untuk mengembangkan 
pemberdayaan di daerah-daerah terpencil dan pulau-pulau lain daripada Jawa. Sedangkan 
adanya Kongres seperti Kongres CGLU hanya salah satu peluang yang membantu kita dalam 
pekerjaan ini jika walikota-walikota yang hadir  aktif mengembangkan lobbie dan 
prakarsa. Mimpi? Ya, aku memang selalu memimpikan adanya pemerataan kemajuan di negeri 
kita karena Indonesia bukan hanya Jawa dan kota-kota.*** 

Paris, Mei 2004.
----------------
JJ.KUSNI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke