SRIWIJAYA POST
Rabu, 28 April 2004
http://www.indomedia.com/sripo/2004/04/28/2804hot1.htm
Pesantren, Madrasah, dan Terorisme
Oleh A Fatih Syuhud
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University,
India
JIHAD dan institusi pendidikan Islam tradisional, yang
di Indonesia dikenal dengan sebutan pesantren dan
madrasah untuk kawasan Asia Selatan (India, Pakistan,
Bangladesh, Afghanistan), merupakan isu kontroversial
beberapa tahun terakhir di seluruh dunia. Akan tetapi,
dihubungkan dengan agama Islam, konsep agama dan
sekolah semestinya dapat dibaca dan dilihat dengan
pemahaman lebih terbuka mengingat adanya berbagai
laporan di media tentang institusi ini.
Yang pertama berdasarkan atas pernyataan yang dibuat
oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Collin
Powell, bahwa anak-anak yang belajar di pesantren
hanyalah mereka yang orangtuanya tidak mampu membayar
biaya di sekolah-sekolah umum. Karena kemiskinan,
mereka dengan mudah terperangkap ke dalam jaringan
terorisme. Pesantren yang dimaksud Powell adalah
pesantren-pesantren yang berada di negara Pakistan dan
Afghanistan, di mana pusat-pusat terorisme
dikendalikan dan dikoordinir di dalam kamuflase
pesantren.
Sejumlah laporan media mengkhawatirkan seruan pemimpin
Al-Qaeda, Osama Bin Laden, yang mengajak segenap
muslim seluruh dunia untuk bersiap-siap melakukan
jihad. Tokoh yang mengklaim dirinya sebagai mentor
agama ini, dengan target utamanya adalah AS, juga
mengajak para ulama atau pemimpin agama, dan pemimpin
negara-negara muslim, untuk membentuk sebuah dewan
yang akan menyuplai senjata dan amunisi untuk jihad
melawan barat. Pesannya ini dimuat pada sebuah situs
Islam. Dijelaskan juga bahwa tujuan dari dewan
tersebut adalah untuk menyatukan muslim,
mempertahankan Islam, menyiapkan jihad dan memberikan
persenjataan bagi kalangan mujahid.
Dalam konteks Asia Selatan, pernyataan bahwa pesantren
itu identik dengan pendidikan anak-anak miskin dan
bahwa kalangan elite tidak tertarik menyekolahkan
anak-anaknya di sana, adalah benar belaka. Berbeda
dengan pesantren di Indonesia, semua pesantren di
kawasan Asia Selatan, tak terkecuali di India, tidak
dipungut biaya apa pun. Pesantren di kawasan ini
menanggung semua beban kebutuhan santri, mulai dari
buku, asrama sampai biaya makan dan minum.
Akan tetapi, tidak sedikit juga dari kalangan kelas
menengah muslim yang anak-anaknya belajar di
pesantren. Mereka berpikir bahwa kendati hidup
berkecukupan dan modern, adalah penting untuk
membekali anak-anak mereka dengan pendidikan agama
yang benar dan mumpuni. Karena itu, mereka mengirim
anak-anaknya ke pesantren atau madrasah.
Alasan mengapa kalangan muslim kaya tidak mengirim
anak-anaknya ke pesantren juga berdasarkan pada fakta
terlalu banyaknya penekanan pada pendidikan agama dan
sangat sedikit pendidikan ilmu-ilmu kontemporer.
Mayoritas karir anak-anak hasil didikan pesantren
sangat bergantung pada bidang yang berkaitan dengan
agama. Pada umumnya karir mereka berkisar mulai dari
membuat pesantren kecil-kecilan, dengan menganut
sistem pendidikan yang sama, atau bekerja sebagai
muadzin, imam masjid, mubaligh dan ustadz di pesantren
sejenis.
Pesantren juga terdapat di India dan Bangladesh. Dan
karena pesantren di Pakistan dan Afghanistan umumnya
berada di bawah kendali ulama ektremis semacam Masood
Azhar, Syed Salahuddin dan Mullah Omar, maka mereka
menciptakan bibit-bibit teroris muda. Akan tetapi
tuduhan ini tentu saja tidak dapat ditujukan pada
pesantren-pesantren di India dan Bangladesh karena
umumnya institusi pesantren di kawasan ini didirikan
dan dijalankan oleh orang-orang yang tidak dapat
dikatakan sebagai memiliki hubungan apapun dengan
jaringan teroris. Tuduhan Collin Powell juga hanya
diarahkan pada Pakistan dan Afghanistan, bukan India,
Bangladesh apalagi Indonesia. Statemen dari Menlu AS
itu patut mendapat perhatian dan muslim di seluruh
dunia hendaknya berpikir secara serius tentang
bagaimana menghilangkan noda tersebut dari institusi
pesantren seperti tuduhan dari Powell, bahwa pesantren
menanam bibit teroris dan terorisme.
Apabila kita melihat seruan Osama Bin Laden dan
ajakannya untuk melakukan jihad yang menarik perhatian
seluruh dunia Islam, jelaslah bahwa kata jihad itu
selalu dipakai tetapi tidak pernah dijelaskan
maknanya. Apa itu jihad? Dan tugas siapa untuk
melakukan jihad? Arti sebenarnya dari jihad dibiarkan
tanpa penjelasan bukan karena Osama Bin Laden tidak
memahami artinya. Akan tetapi justru karena apabila
makna sebenarnya dari jihad diungkap, maka tujuan dan
misi utama dari teroris fundamentalis akan
terkalahkan. Serangan teroris pada gedung World Trade
Center di New York, Bali dan Madrid disebut jihad oleh
Al Qaeda dan organisasi militan yang lain, yang
notabene merupakan penyimpangan makna yang besar
karena ia akan mengakibatkan menyebarnya
kesalahpahaman atas Islam.
Islam adalah sebuah agama humanisme. Islam tidak
pernah memaafkan ekstrimitas dan ketidakadilan
terhadap siapapun. Dalam konteks ini, makna dan misi
jihad adalah untuk membawa perdamaian dan keadilan
serta menunjukkan jalan yang benar pada umat manusia.
New Copyright @ Sriwijaya Post 2002
Powered by Indomedia
Designer by Bejo
__________________________________
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs
http://hotjobs.sweepstakes.yahoo.com/careermakeover
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/