SEBUAH SOSOK KENANGAN DI EUROPA

- BAPAK MUNTAIB
_____________________

Oleh:  Z. AFIF 


21 APRIL 2004, 06.10, saya menerima telefon dari Ron-
dang Erlina Marpaung di Stockholm. Katanya dia menda-
pat telefon dari Idris di Belanda. Idris orang Medan. 
Asal-usulnya etnis Banjar.  Aku baru berkenalan lang-
sung dengan Idris di Belanda. Penyair Chalik Hamid 
yang menyambungkan kami. Perasaan kemedanan membuat 
kami cepat akrab. Sudah beberapa kali dia menelefonku,  
mengabarkan tentang sesuatu yang penting. Karena aku 
sudah hampir setahun berada di luar Swedia, maka kali 
ini Rondanglah yang menerima telefon dari Idris. Dia 
belum berkenalan dengan Idris,  karena itu ketika ku-
lekatkan gagang telefon ke telingaku, yang pertama 
kuterima sebuah pertanyaan: 

"Kau kenal Idris ?" 
"Idris mana?" 
"Idris di Belanda," jawab Rondang. 
"O, ya, tentu kenal. Orang Medan. Ada apa rupanya?" 
"Dia mengabarkan  Pak Tainan telah meninggal." 
"Pak Tainan meninggal? Innalillahi wa inna 
ilaihirajiun! Kapan meninggalnya?" 
"Menurut Idris," kata Rondang, "pada 17 April, sakit 
kanker dan akan dikebumikan pada 27 April." 


KAMI sangat berterima kasih kepada Idris, atas inisia-
tifnya menyampaikan khabar duka itu. Sayang, bisik 
hatiku, kalau aku di Swedia pasti akan ke Belanda 
untuk menghadiri acara pemakaman orang tua itu. Ke-
pada Rondang  aku mengusulkan agar mengontak teman 
yang mengurus penguburan Pak Tai. Dia mengontak Rini 
di Utrecht, dan memperoleh informasi bahwa suami is-
teri Rachmat dan Farida Ishaya yang mengurus itu. 
Setahuku, keluarga ini sejak masa bersama-sama di 
Vietnam hingga di Belanda, sangat memperhatikan dan 
membantu Pak Tai. Aku minta pada Rondang agar mengi-
rimkan pernyataan belasungkawa dari kami bertiga se-
keluarga kepada Panitia Pemakaman di Belanda. Ron-
dang mengirimkan surat belasungkawa kami seperti ini: 

Bung Rachmat dan Farida yang baik, 

Kami menerima khabar dari Bung Idris bahwa Bapak Mun-
taib atau Tainan telah berpulang ke Rahmatullah dalam  
usia 88 tahun. Kami yang akrab dengan beliau semasa 
hayatnya, walaupun terpisah jauh tempat tinggal, me-
rasa sangat kehilangan. Banyak kenangan dengan beliau 
yang tak mungkin terlupakan. Beliau semasa hidupnya 
telah berbuat banyak hal yang positif bagi organsisasi 
dan perjuangan. Melalui surat ini kami sekeluarga me-
nyampaikan rasa duka cita yang mendalam dan mohon dite-
ruskan kepada keluarga Almarhum. 

Z. Afif, Rondang Erlina Marpaung dan Nyala Baceh - 
Sweden. 


NAMA  aslinya Muntaib. Tetapi panggilan sehari-
harinya Tainan. Menurut Farida Ishaya, beliau mening-
gal di klinik tempat perawatan orang tua di kompleks 
tempat tinggalnya di Amsterdam. Almarhum kena penya-
kit kanker, yang diketahui setelah mengalami operasi 
untuk mengangkat tumor usus tegak. Jenazah almarhum 
dimakamkan pada 27 April di Westgaarde, Amsterdam. 
Di sana juga dimakamkan sejumlah orang-orang Indone-
sia lainnya. Almarhum meninggalkan seorang isteri 
yang juga sudah tua di Indonesia dan sedang menang-
gung sakit parah. Selain itu, almarhum mempunyai 10 
anak, 50 cucu dan beberapa cicit di juga Indonesia . 


PUTERA Banyumas itu, berasal dari Cilacap, Jawa Te-
ngah, dan mencapai titik akhir perjalanan  hidupnya 
pada titian 88 (menurut surat Farida). Dengan per-
timbangan beda usia  20 tahun denganku, maka aku 
memanggilnya Bapak mulai sejak pertemuan pertama 
dengannya di Hanoi, Vietnam pada tahun 1976. Anak-
anak Indonesia di Vietnam memanggilnya Bac Ta, 
yang artinya bisa Uwak atau Pakde. Anakku memang-
gilnya Ompung, dari bahasa Batak, artinya kakek 
dan Pak Tainan menerimanya dengan senang hati. 


Hubungan pribadiku dengan beliau sangat erat. Kami 
pernah tinggal serumah di Hanoi dekat Bading, pusat 
kota Hanoi. Di depan rumah di luar tembak membujur 
jalan raya yang ramai ke arah Bading. Di Bading 
ada Musolium Ho Chi Minh, Istana Presiden dan Gedung 
Parlemen. 

Dulu, pada masa penjajahan Perancis,  rumah yang kami 
tempati itu dihuni oleh pendeta Katolik. Rumah gaya 
Perancis itu, masih terasa bersuasana gereja  di da-
lamnya. Pekarangannya ditumbuhi sebatang kenanga yang 
tinggi dan sudah tua dekat pintu gerbang yang terbuat 
dari besi. Namun bunganya tetap merebakkan harum. Se-
lain itu ada sebatang mangga juga sudah tua, pokok 
nangka, pohon serikaya, jeruk, sebatang kelapa. 
Semuanya berbuah lebat. Ada serumpun bambu gading 
dekat tembok pagar, bila bertiup angin meliuk-liuk 
indah bagaikan gadis-gadis Vietnam yang mungil lang-
sing sedang menari lembut gemulai. Pergesekan batang-
batangnya menimbulkan irama sedap. Di dalam pekara-
ngan itu juga digali terowongan untuk berlindung 
dari bahaya pemboman oleh pesawat agresor Amerika. 
Di depan rumah dibuat taman kecil dengan jalan kecil 
mengelilinginya. Di sana ditanami aneka bunga dan 
juga cabai. Kalau malam hari semerbak wangi bunga 
sedap malam, yang pokoknya tepat di depan jendela 
kamar Pak Tainan. Beliau menempati kamar di lantai 
bawah dekat pintu masuk. Aku sekeluarga menempati dua 
kamar di lantai atas. Tetapi Rondang hanya di rumah 
pada malam Minggu dan malam Senin, sebab dia mengam-
bil kuliah bahasa Perancis, bahasa Vietnam dan ting-
gal di asrama universitas. Sebuah kamar lagi untuk 
cadangan kalau ada yang datang menginap di sana. Di 
lantai bawah selain kamar Pak Tainan, juga ada kamar 
tamu dan kamar makan. Untuk penyimpanan bahan-bahan 
makanan ada gudang di bawah tanah, yang pintu masuk-
nya di bawah tangga. 

Beliau banyak sekali membantuku untuk menunaikan pe-
kerjaanku selama kami tinggal bersama di sana. Kare-
na itu serba sedikit kukenal sifat dan pembawaannya. 
Tubuhnya tinggi, ramping. Berjalan tegak dan tegap. 
Berkaca mata tebal. Pakaiannya dari bahan biasa, 
tidak mewah, tetapi cara berpakaian rapi dan necis. 
Orangnya keras, kalau sudah meyakini dirinya benar, 
sulit dilunakkan sikapnya. Tidak gampang menerima 
kalau ditunjukkan kekeliruan atau kekurangannya, 
kecuali dengan cara dan suasana santai. Menghadapi 
hal begitu, biasanya aku cari suasana yang segar, 
tidak buru-buru, melalui hal-hal remeh-temeh, lalu 
berangsur-angsur memasuki persoalannya secara hati-
hati dan akrab. Aku tidak pernah menggunakan kata-
kata "Bapak tadi keliru", "Bapak tadi salah", "Mes-
tinya begini/begitu". "Tidak begitu, tetapi begini". 
Almarhum menjelaskan padaku tentang masing-masing 
teman di Vietnam, ada kekurangan dan kelebihannya. 
Terus terang dikatakannya padaku hal yang tak disu-
kainya pada seseorang teman. Tetapi tidak dengan 
maksud menjelekjelekkannya dan bukan untuk mempenga-
ruhiku, melainkan agar aku tahu saja dan bisa meng-
hadapinya dengan cara yang benar. 

Beliau bukan saja rapi, melainkan juga sangat pem-
bersih. Sehingga sering mengomel, kalau ada teman 
yang datang kemudian pergi dengan meninggalkan abu 
rokok di luar asbak, toalet bernoda, surat kabar, 
majalah atau buku setelah dibaca tidak diletakkan 
kembali pada tempatnya semula dengan baik, tetapi 
asal diletakkan saja secara sembarangan, dan seba-
gainya. 

SEBELUM kami berkumpul dalam satu rumah, beliau be-
kerja di sebuah kapal keruk di Haiphong, sebuah ko-
ta pelabuhan di Vietnam bagian utara. Beliau menda-
pat pendidikan di sekolah pertukangan(ambachtsschool) 
di Cilacap. Maka beliau tahu juga hal ikhwal pertu-
kangan, sehingga mendapat pekerjaan di kapal itu. 
Mungkin karena memiliki pendidikan itu, maka sifat-
sifat ketukangannya menjadi kebiasaan hidupnya. 
Beliau selalu sibuk, ada-ada saja yang dilakukannya, 
dan mudah membantu orang. Paling tidak disukainya 
orang yang malas, tetapi banyak berceloteh. Dalam 
segi-segi kelebihannya itu, secara tidak sengaja 
dan tanpa disadarinya, muncul juga unsur keku-
rangannya. 

Aku mendengar, ada seorang anak muda datang berkun-
jung ke tempat tinggalnya di Amsterdam. Entah bagai-
mana, anak muda itu mengeluarkan sesuatu kata yang 
tidak berkenan di hati Pak Tainan. Anak muda itu 
tanpa ampun disemprotnya: "Babi kau!" Kalau sudah 
begini, maaf sudah tidak ada lagi darinya. Aku juga 
mempunyai satu pengalaman segi kekurangan Pak Tai 
yang akan kukemukakan di bagian lain. 

SETELAH  Amerika kalah dan Vietnam Selatan dibebas-
kan, kapal keruk tempat Pak Tainan bekerja berlayar 
ke Saigon yang telah berganti nama menjadi Kota Ho 
Chi Minh. Menurut ketentuan, beliau sebagai orang a-
sing, tidak boleh ikut serta ke sana tanpa seizin De-
partemen Luar Negeri Vietnam. Rupanya pemimpin di ka-
pal itu tidak mengetahui ada norma itu. Atau tidak 
mau tahu, karena mereka senang pada beliau. Jadi 
Deplu kecolongan. Pulang dari sana beliau dengan 
sangat riang gembira bercerita tentang pengalaman 
pelayaran dan keadaan yang dilihat dan dialaminya di 
Saigon. 

Tidak lama kemudian beliau dicabut dari pekerjaan 
itu dan harus tinggal di Hanoi bersamaku. Kehidupan 
tanpa kerja dan gratis makan tidur, merupakan siksa-
an bagi manusia yang tidak bisa diam itu. Beliau ke-
mudian meninggalkan Vietnam dan pergi ke Tiongkok. 
Kami bertemu kembali di Hotel Beijing, Tiongkok . 
Beliau bersiap-siap berangkat ke kota Nanchang, ibu 
kota Provinsi Jiangxi dan akan tinggal di sana. Ber-
hubung karena sesuatu keadaan, aku tidak dapat kemba-
li ke Hanoi, isteri dan anakku berangkat ke Tiongkok. 
Kami pun pindah ke Nanchang dan bertemu kembali dengan 
Pak Tainan. Belum lama kami di sana beliau memberi-
tahukan bahwa beliau akan berulang tahun dan minta 
tolong dibuatkan kue. Kami mencari di kota Nanchang, 
bisa ketemu dan kami beli sebagai hadiah untuk beliau. 
Dulu di Hanoi tidak pernah beliau kasih tahu hari 
ulang tahunnya, mungkin karena di sana soal bahan 
makanan sulit dan harus berhemat untuk perang mengu-
sir agresor AS. 


TIDAK lama di Nanchang, aku mendapat pekerjaan di 
Institut Bahasa-bahasa Asing Guangzhou (Kanton, seka-
rang Universitas Studi Luar Negeri Guangdong). Sete-
lah itu Pak Tainan juga hijrah ke Belanda. Hubungan 
kami terpenggal. Kemudian ketika aku sekeluarga 
pertama kali datang ke Belanda pada tahun 1985, kare-
na alamatnya belum kami peroleh, maka kami tidak men-
cari rumahnya. Tetapi beliau rupanya mendapat khabar 
bahwa kami ada di Belanda dan menginap di rumah se-
orang teman akrab dari Medan. Beliau mengancam: "Kalau 
Bung Afif dan keluarga tidak menginap di rumah saya, 
saya tidak akan menerima kedatangannya dan tidak akan 
saya buka pintu untuknya." Begitulah Harun Alrasyid, 
adik sepupu penyair Agam Wispi menyampaikan kepada 
kami ketika kami masih berada di rumah Almarhum Suhaimi, 
wartawan asal Medan. 

Aku tidak kaget akan kata-kata kerasnya, karena aku 
yakin bahwa hal itu tidak akan berlaku manakala aku 
mengunjunginya. Kemudian Harun dan kekasihnya Almar-
humah Lolita (pejuang anti diktatur militer dari Pa-
raguai), membawa kami menginap di rumahnya di bangu-
nan gedung yang masih terdapat nama-nama Labuhan, 
Deli Serdang, Medan, bekas kantor Maskapai Belanda, 
yang terletak di tepi kanal yang selalu dilintasi 
kapal-kapal. Pak Tainan tinggal dekat dari sana, 
hanya 10 atau 15 menit berjalan kaki dari rumah 
Harun. Harun menelefon Pak Tainan dan mengatakan 
bahwa kami sekeluarga ada di rumahnya. 

"Ini Afif mau bicara sama Bapak," ujar Harun. 
Aku sambar gagang telefon: "Hallo, apa khabar Pak? 
Nanti malam kami akan ke situ, ya!" 
Tegas dijawabnya: "Kalau tidak menginap di sini, 
tak usah datang. 
Tidak akan saya buka  pintu." 
"Baru masuk ke rumah Harun, Lolita minta kami 
menginap di rumahnya dulu, kemudian baru di rumah 
Bapak," jawabku 
"Ya, terserah Bung, pendeknya seperti saya katakan 
tadi!" balasnya tanpa mengendurkan pernya. 
"Jadi, beginilah, besok malam kami datang, makan 
di situ dan terus tidur juga di situ. Begitu, ya, 
Pak? Sampai ketemu besok," aku tak mau berpanjang 
kalam dan telefon kuletakkan. 

Janji pun kami kabulkan, semua berlangsung aman. 
Masakannya juga sedap. Hidangan ikan bawal goreng, 
ada sambal dan sup, salat. Besok malamnya malah pe-
nyair Agam Wispi minta dimasakkan tumis kangkung 
pada Pak Tainan. Kami makan bersama di sana. Harun 
dan Lolita juga turut. Hari berikutnya timbul satu 
soal tanpa kompromi dan tidak ada toleransi dari be-
liau. Seorang kawan tua,  mantan diplomat, pernah 
Rondang dan aku bekerja sama di bidang pers dengannya. 
Beliau ingin bertemu dengan kami. Kubilang sama Pak 
Tainan, boleh tidak bertemu di rumahnya. 

"Kalau dengan dia itu, rumah saya tidak boleh dipakai 
untuk pertemuan," tegasnya tanpa tedeng aling-aling. 
"Apa soalnya Pak?" aku berusaha dengan tenang. 
"Dia itu sudah rujuk dengan KBRI. Siapa yang memilih 
jalan seperti itu, putus hubungan dengan saya," nada 
tinggi berang. 

Akhirnya Harun menyediakan rumahnya untuk pertemuan 
itu. Itulah pertemuan kami terakhir dengan sahabat 
diplomat dan wartawan kawakan, yang secara pribadi 
kami punya hubungan baik termasuk dengan anggota ke-
luarganya. Dua tahun  kemudian beliau meninggal di 
Amsterdam, sayang, belum sempat ditulisnya pengala-
mannya sebagai wartawan Antara, wartawan istana Pre-
siden Sukarno, dan diplomat. Ketika kami berpisah di 
Tiongkok, aku sudah usul padanya agar ditulis hal itu. 


PAK TAINAN  tidak menyembunyikan kepada saya masalah 
pribadinya yang sangat peka, dikhianati oleh kawannya 
sendiri yang juga atasannya, kala beliau bertugas di 
Barnjarmasin. Kejadian itu berlaku kala beliau sedang 
mengikuti kursus politik di Jakarta. Lebih menyakitkan 
lagi baginya, karena orang itu tidak dikenakan sanksi 
disiplin sebagai hukuman oleh badan tertinggi organi-
sasi, melainkan ditarik ke pusat dan mendapat promosi 
yang lebih tinggi. Ketika terjadi teror militer 
1965-1966, orang itu menjadi tukang tunjuk dalam Ope-
rasi Kalong TNI untuk menangkap tokoh-tokoh penting 
masyarakat yang dituduh terlibat G30S. 

Almarhum pernah di tentara pada masa perang kemerde-
kaan. Dari segi pendidikannya, kalau terus di tentara 
bisa dicapainya pangkat perwira tinggi. Karena mudah 
bergaul, minatnya cukup tinggi  dalam belajar, gemar 
membaca, rajin mengikuti situasi, suka menambah ilmu 
pengetahuan serta memasuki diskusi dan berdebat, juga 
keterampilan di bidang tehnik. 


PERTEMUANku terakhir dengan Pak Tainan ketika aku 
dengan Rondang mengikuti upacara pemakaman Almarhum 
Suhaimi pada tahun 2002 di Amsterdam. Bersama Bung 
Sulardjo dan penyair Chalik Hamid kami mengunjunginya 
di rumah pengasuhan untuk orang-orang tua. Saya me-
rasakan ada suatu keanehan kala itu. Bilik tidurnya 
diatur begitu rupa, sehingga ada satu ruang kecil 
seluas tikar sembahyang antara dinding dan ujung ran-
jang. Di ujung ranjang itu ada rak dan di atasnya ada 
Quran. Suasana ruang itu agak magistis. Dijelaskan 
beliau bahwa di situlah dilakukan hubungan imajiner 
pribadi dengan Alkhaliknya. Dengan begitu dirasakan-
nya mendapatkan suatu ketenteraman jiwa. 

Kukatakan aneh, karena sebelumnya kukenal Pak Tainan 
sangat tidak berkenan terhadap hal-hal yang gaib dan 
mistik, malah dilecehkannya. Perubahan itu kupandang 
masalah perkembangan pribadi seseorang, mungkin karena 
kesepian dan usia tua. Namun, hubungan lama dengan 
teman-temannya baik muda maupun tua tetap dipelihara-
nya. Kini pun dalam upacara persemayamannya yang te-
rakhir diselenggarakan oleh teman-teman itu juga. 
Khususnya keluarga Rahmat yang sangat tekun memper-
hatikannya sejak di Vietnam.  Rahmatlah yang menema-
ninya kala mengunjungi keluarganya di Indonesia. 
Selain itu  Harun dan almarhum kekasihnya Lolita 
juga sangat erat dengannya. 

Beliau sempat menemui keluarganya di Indonesia lebih 
dari sekali. Juga sempat didatangi oleh anak-anaknya 
ke Belanda. Namun, sebelum meninggal, kata seorang 
teman, dilarangnya keluarganya datang untuk melayat 
kalau beliau meninggal, sebab ongkosnya mahal dan uang 
itu dapat digunakan untuk keperluan lain. 


BELIAU  sebenarnya menderita penyakit kronis di salu-
ran kencing sudah cukup lama sebelum ke Vietnam. Kemu-
dian dapat mempermudah pembuangan air seninya. Dokter 
menjadi terkejut karena agak lama beliau tidak ke rumah 
sakit. Kepada dokter dijelaskannya bahwa setiap hari 
memarut wortel dan wortel mentah itu menjadi lauk makan-
nya saban hari. Akibatnya tidak sulit lagi membuang air 
kecil. Ketika kami menginap di rumahnya, itu juga yang 
dihidangkannya kepada kami pada waktu makan. Ada teman, 
mengalami penyakit beser dan pada malam hari sering ter-
bangun sampai empat atau lima kali untuk kencing. Kemu-
dian setiap hari dia makan wortel mentah, akhirnya fre-
kuensi ke belakang berkurang hingga paling-paling dua 
kali. 

Kehidupan beliau tidak memanjakan diri dengan bermalas-
malas. Di rumahnya ada alat-alat olahraga berat dan ada 
satu kamar khusus untuk berolahraga dengan menggunakan 
alat-alat itu. Setiap hari pagi-pagi sekali berolahraga, 
jalan-jalan, juga joging. Beliau dapat mengendalikan 
diri dalam soal makan. Sebenarnya, aku selalu kuatir saat 
beliau berlari-lari atau bersepeda, sebab matanya tidak 
tajam lagi penglihatannya. Di Hanoi karena mata beliau 
tidak begitu jelas penglihatannya, pernah hampir terpi-
jak oleh beliau  kepala seorang pengurus rumah yang ti-
dur di lantai untuk menghindar dari cuaca panas dan 
sumpek. 



MENINGGALNYA beliau, kami sekeluarga merasa kehilangan 
seorang tua akrab yang selalu baik dengan kami dan mem-
berikan pengalaman berharga kepada kami. Kenangan kepa-
danya tak akan sirna. 



Baiyunshan, 21 April 2004. 




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke