SURAT DARI PARIS:
PEMBAHARUAN ISLAM ADALAH MUNGKIN!
Bersamaan dengan munculnya persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dunia Islam, maka
masalah-masalah ini kian menjadi topik penelitian dan pembicaraan hangat di Perancis.
Apalagi di negeri ini, Islam merupakan agama kedua terbesar penganutnya setelah agama
Katolik. Perhatian ini bukan hanya muncul dalam debat-debat tivi, radio dan media
massa cetak, tapi juga dalam bentuk penerbitan buku-buku, baik asli ataupun
terjemahan. Debat ide bahkan sudah mencapai taraf perdebatan melalui buku-buku.
Penulisnya pun bukan hanya terdiri dari Islamolog Perancis, tetapi juga dari
negeri-negeri Barat lainnya dan lebih-lebih lagi para Islamolog dari negeri-negeri
Arab, terutama dari negeri-negeri Maghrebien: Tunisia, Maroko dan Aljazair.
Pada akhir tahun lalu dan awal tahun ini saja karya-karya bertemakan masalah Islam
telah bermunculan di antaranya karya-karya: Rachid Benzine, "Nuveau Penseurs de
l'Islam"-- Pemikir-pemikir Baru Islam -- [Albin Michel, Paris,2003, 304 hlm];Malek
Chebel, "Manifest Pour Un Islam Des Lumi�res" -- Manifesto Untuk Islam Pencerahan" --
[Hachette Litt�rature, Paris, 224 hlm]; Gabriel Martinez et Kucette Valensi, "L'Islam
En Dissidence.Gen�se d'un Affrontement" -- Islam Dalam Pembangkangan. Genesis Suatu
Pertikaian --[Seuil, Paris, 336 hlm.]; Aziz Al-Azmeh, "L'Obscurantisme Postmoderne Et
Question Musulmane" -- Obskurantisme Postmodern Dan Permasalahan Islam -- Actes Sud,
Paris, 60 hlm] dan Farhard Khosrokhavar, "L'Islam Dans Les Prisons" -- Islam Dalam
Penjara -- [Balland, Paris, 286 hlm]; Malek Chebel,"L'Anthologie du Vin Et de
l'Ivresse En Islam" -- Antologi Tentang Anggur Dan Mabuk Dalam Islam --[Seuil, Paris,
384 hlm].
Di sini saya membatasi diri untuk membicarakan tiga buku pertama.
Henri Tincq, Islamolog dari Harian Le Monde, Paris, menyebut tiga buku pertama
"Pemikir-pemikir Baru Islam" karya Rachid Benzine, "Manifesto Untuk Islam Pencerahan"
karya Malek Chebel dan karya Gabriel Martinez & Kuecette Valensi "Islam Dalam
Pembangkangan. Genesis Suatu Pertikaian" sebagai "tiga karya penyelamat" [Harian Le
Monde, Paris, 30 April 2004]. Tiga karya ini oleh Hendri Tincq dinilai telah
menunjukkan dengan kesederhanaan gamblang bahwa "Islam tetap mungkin diperbaharui".
Bukti-bukti yang ditunjukkan oleh ketiga ilmuwan sosial itu telah "membantah kemacetan
Islam di semua sisi dalam bidang pemikiran".
Ketiga penulis ini membahas topik mereka dari segi-segi yang berbeda sesuai dengan
spesialisasi masing-masing.Malek Chebel yang seorang antropolog mendekati permasalahan
dari segi antropologi dan menggunakan bentuk "Manifesto". Rachide Benzine yang seorang
peneliti, menelusuri obyeknya dengan menyidik tapak-tapak "para reformator baru".
Sedangkan Gabriel Martinez-Gross dan Lucette Valensi dari l'Ecole des Hautes Etudes En
Sciences Sociales,l'EHESS [Sekolah Tinggi Kajian Ilmu-ilmu Sosial, Paris -- dari mana
banyak peneliti Indonesia lulusan Paris berasal, mengikuti perkembangan "Islam
Perlawanan" sejak munculnya baik dengan kemampuan menghidupkan kembali Islam ataupun
menghancurkannya.
Melalui pendekatan antropologis, Malek Chebel sampai pada perumusan yang disebutnya
"Islam Pencerahan" [islam de lumi�res]. Dengan perumusan ini, Malek Chebel sadar benar
bahwa ia sedang memprovokasi orang-orang Islam yang anti Barat oleh keterlambatan
mereka mencernakan ide mereka dibandingkan dengan para filosof Perancis dan Jerman
pada abad ke-18. Dengan ini yang mau dikatakan oleh Chebel tidak lain bahwa
"kegusaran, baik Islam maupun dunia Arab bukannya tidak terobati dalam menghadapi
ide-ide kemajuan".
Sejalan dengan pandangan Chebel ini, di pihaknya Benzine membuktikan bahwa usaha-usaha
pembaharuan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Baik Chebel ataupun Benzine
membatasi uraian mereka pada penerus para pembaharu angkatan Nahda [Kebangkitan],
seperti reofrmator Mesir, Muhammad Abduh, pembaharu Iran, Afgani, pembaharu Siria,
Rashid Rida, yang pada zamannya mencoba membebaskan islam dari
"arkaisme"[ketertinggalan]nya. Di abad-abad selanjutnya, para reformator menempuh
jalan sendiri-sendiri: di satu pihak , aliran Islamis, dimulai dari Mesir oleh Hassan
Al-Banna yang mendirikan Fr�res Musulmans [Persaudaraan Musliman], di Pakistan oleh
Mawdudi.Di pihak lain , Islam Kritis dengan tokoh seperti Ali Adelrraziq, filosof
Mesir yang berjuang melawan restorasi kalifah,califat, [otoritas pusat Islam] yang
diklaim oleh oleh orang-orang Arab setelah dipegang oleh Ottoman.
IDE-IDE BARU:
"Para reformator masih selalu diharapkan oleh dunia sampai hari ini", tulis Rachid
Benzine. Tanpa berkelebihan, tapi secara persis, peneliti ulung ini menelusuri jejak
para reformator, meringkaskan karya-karya mereka , mengisahkan jaringan intelektual
mereka. Sebagai contoh adalah Abdul Karim Soroush, lahir pada tahun1945 di Taheran. Ia
merupakan salah seorang pengilham Revolusi Iran tahun 1979. Abdul Karim dikenal
sebagai ilmuwan sosial terkemuka yang berpengetahuan luas. Ia akhirnya berkeputusan
untuk berpisah dengan rezim para ayatollah sambil menyerukan agar Islam Shi'it keluar
dari kungkungan yuridisnya. Kalau wahyu adalah abadi, ujar Abdul Karim, sistem agama
yang diterapkan di sekitar wahyu itu selayaknya bisa direformasi.
Bagi Mohamed Arkoun, islamolog Perancis asal Aljazair, juga demikian. Menurut Arkoun,
"kanon teologis Islam harus ditataulang agar tanggap pada dimensi sejarah". Nama-nama
lain dari para reformator adalah Fazlur Rahman dari Pakistan atau Nasr Hamed Abou-Zeid
dari Mesir yang menganjur pembaruan kritis dalam sejarah penafsiran dengan
mempertimbangkan unsur-unsur sosiologis, linguistik dan hermeneutika dalam menelaah
teks-teks sakral.
Henri Tincq mempertanyakan: "Akankah lahir Luther dan atau Calvin dalam Islam?" Tincq
menjawab sendiri pertanyaannya secara skeptik jika dilihat dalam takaran waktu yang
singkat.Pemikir-pemikir Musliman ini terjalin bagaikan sebuah mata rantai dengan
kekuasaan setempat. Soorousha misalnya baru mengungsi ke Amerika Serikat setelah
bertahun-tahun bertahan menghadapi segala tekanan di negerinya.
Jasa karya Benzine ini, terletak pada berhasilnya Benzine memperlihatkan bahwa
sekalipun para pengarang/pemikirnya diisolasi , tapi mereka tetap bisa menampilkan
ide-ide baru melalui penerbitan-penerbitan. Sekalipun para pembaharu ini tidak bisa
meredakan kelompok islamis bersenjata, tidak menggetarkan para ulama, tidak juga
membuat ragu mereka yang memandang pikiran-pikiran Nabi tidak bisa terlampaui, tetapi
kita tidak bisa meremehkan adanya ide modern dan post-modern yang muncul dari kalangan
Islam sendiri dalam melawan semua bentuk totaliterisme agama hari ini.
Sedangkan hal-hal pertama yang diajukan oleh Malek Chebel dalam "dua puluh tujuh usul"
[vingt-sept propositions]-nya untuk Islam Pencerahan [un Islam des Lumi�res"] adalah
hak untuk menafsirkan secara bebas teks-teks dan usulan untuk menempatkan superioritas
akal.Kita sedang berada di tengah-tengah skolastik [scolastique] Musliman, tulis
Chebel yang selanjutnya berharap bahwa ia bisa melihat adanya dekrit yang menyatakan
bahwa "perang suci" [jihad] sebagai sesuatu tanpa manfaat, dikeluarkannya fatwa mati
ditiadakan. Bersamaan dengan itu, Chebel juga menginginkan agar dalam hubungannya
dengan komunitas, individu diletakkan pada tempat utama, agar mengutamakan politik
dalam mengelola "kota" [Cit�] atau negara,supaya hukum sipil dipermodern, demikian
juga hal-hal yang menyangkut masalah individual manusia, dan lain-lain....
Gampang dibayangkan jika kalangan radikal akan berang terhadap usulan-usulan
"pembaratan" pikiran Islam begini. Dan justru berangkat dari permasalahan inilah maka
pendekatan yang diterapkan oleh Gabriel Martinez-Gros dan Lucette Valensi jadi sangat
mengena. Bertolak dari pendekatan yang berbeda dengan kedua penulis terdahulu, Gabriel
Martinez dan Valensi akhirnya juga sampai ke kesimpulan serupa yaitu perlunya Islam
diperbaharui dengan mengambil acuan-acuan dari Barat. Sebagai contoh Martinez-Gros dan
Valensi mengambil soal jilbab dihadapkan dengan feminisme, agama dihadapkan dengan
sekularisme atau laisitas[laicit�], hukum rajam dihadapkan dengan kemerosotan
moral,jihad dihadapkan dengan pasifisme. Persoalan-persoalan ini dilihat oleh kedua
peneliti sebagai "polarisasi antagonis dari diskursus yang sama" [polarisations
antagonistes d'un m�me discours].
Membaca tiga karya para peneliti tentang Islam ini, nampak bahwa di kalangan Islam,
seperti yang juga kelihatan di Perancis, secara garis besar ada dua kubu utama, yaitu
kubu Islamis yang menentang Barat, dan di kubu lainnya di mana terdapat kaum
reformator. Kedua-duanya berada di medan yang satu. Kaum reformator memandang bahwa
Barat merupakan "khazanah jalan keluar [r�servoir des ressource], gelanggang
saling-tukar ide "pada saat perdebatan terlarang di negeri-negeri mereka"
[baca:negeri-negeri para penulis -- JJK]. Dengan kata lain menurut kaum reformator,
entah untuk meradikalisasi atau pun mereformasi Islam, kedua usaha ini tidak mungkin
terujud jika mengira bahwa "pikiran" [pens�e] Islam berada di luar Barat. Keinginan
akan adanya "Islam murni" [un Islam pur] yang bebas pengaruh dan kontaminasi asing
atau luar, tulis Martinez-Gros dan Valensi, hanyalah sebuah "slogan kaum Islamis]"
yang sama gerohongnya dengan yang disebut dengan "perang kebudayaan", karena suatu
perang memerlukan gelanggang pertempuran bersama. Sebuah perang biasanya melibatkan
"pertarungan hadap-hadapan tapi berangkat dari satu kesamaan yaitu nilai-nilai bersama
hanya berbalikan", tulis Martinez-Gros dan Valensi. Maka kalau ada dua kubu maka yang
memisahkan dua kubu itu tidak lain adalah peradaban yang serupa juga adanya.
Barangkali inilah yang sedang terjadi antara kubu "Islamis radikal" dan kaum
reformator. Perjalanan waktu akan memperlihatkan kepada kita siapa yang menjadi
pemenangan pertarungan ini di mana bermain banyak faktor. Yang jelas, semua kita
terkena "getah" pergulatan ini.
Masing-masing bisa setuju dan tidak setuju dengan pendapat serta hasil penelitian para
penulis karya-karya di atas, tapi paling tidak ketiga karya ini telah mengajak kita
untuk secara sungguh-sungguh merenung permasalahan-permasalahan yang diajukan demi
memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Bumi, bulan dan matahari
sesungguhnya adalah milik semua anak manusia!
Paris, Mei 2004.
---------------
JJ.KUSNI
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/