Mengapa ada semua ini, Karena para politikus berebut kekuasaan.
Jangan hanya salahin militer, salahin ketidakbecusan para politikus yang memaksa rakyat untuk memilih pemimpin yang kuat, atau yang dianggap kuat oleh rakyat. Menyalahkan pihak lain memang paling gampang, kayak si Munir itu, lha dia sendiri kan memang tukang bikin komentar tapi never kasih solusi. Justru para komentator itulah yang bikin kaco negara ini. Orang-orang yang sok tahu dan sok pahlawan ditambah sok bisa. Rakyat tidak butuh komentar. Rakyat butuh kedamaian, kesejahteraan. Bukan omong kosong militer dan non militer. Salahin komentar atau aktivitas yang cenderung mengadu domba dan memperkeruh suasana. Baik itu mahasiswa maupun politikus maupun komentator selebritis. Orang sukanya buat analisa ini itu yang bukan menyelesaikan masalah tapi memperumit masalah. Ayo kalo memang gentle berikan yang buat bangsa, terserah mau militer atau non militer atau bahkan si Munir kalo memang dia bisa tunjukan dong, pasti rakyat akan pilih. Karena rakyat sudah gerah dan muak dengan orang yang banyak omong. Makanya rakyat jadi terpaksa milih orang yang kalem dan wibawa dan bikin adem, bukan politikus yang berkoar sana sini kayak penyiar Indonesia Idol. Kebiasaan Kompeni dari dulu emang suka Adu Domba ampe sekarang. Apa orag Indo tak sadar itu? Orang kompeni kok dipercaya! Udang mbongoin 350 tahun sampai sekarang masih aja ngubek-ubek Indo dengan memperalat orang Indo sendiri. Kapan bisa sadar bangsaku. Rakyat butuh kedamaian bukan komisi-komisi, bukan militer atau non militer, bukan politikus gendehen, apalagi orang kayak si Munir. Rakyat harus menang!! > Mengapa ada kerusuhan, > karena militer tak mampu jaga keamanan; > mengapa ada pembantaian, > karena militer tidak mampu bersikap profesional; > mengapa ada pembunuhan rakyat, > karena militer tidak mampu melindungi rakyat. > > Mengapa rakyat dianggap musuh militer? > Karena militer tidak pernah berkawan dengan rakyat. > Oh, jangan membuat dikotomi militer dan rakyat, > tentara adalah rakyat juga. > Memang begitu indoktrinasi babe di Monjali > yang diputar ulang-ulang: "ABRI DAN RAKYAT SELALU > MANUNGGAL" > dan anak-anak sekolah dikibuli dicekoki, > NKRI katanya milik TNI, > rakyat manunggal sejauh tunduk di bawah senapan, > sekali berteriak-teriak, > akan dianggap musuh yang akan dijebak dan ditembak. > Yang membela dan memperjuangkan hak-hak sipil rakyat, > akan dianggap musuh negara. > > Maka, melanggengkan militerisme di Indonesia, > cukup dengan menghembuskan kebutuhan pemerintahan > kuat, > di tangan seorang yang didukung pendukung senapan > yang siap menembaki mahasiswa lagi. > > Oleh karena itu, mitos pemimpin kuat dari kalangan > militer adalah gerbang tiran orde baru ronde kedua. > > Tangkisan Letug > ------------------------------ > Mitos Militer Penjamin Keamanan > (Radio Nederland, 14 Mei 2004: Gema Warta) > > Tegap, gagah dan serba teratur. Penampilan macam > begini dianggap mencerminkan kewibawaan dan kemudian > dianggap sebagai simbol kemampuan memimpin. Anggapan > begini konon mendorong orang memilih sosok Susilo > Bambang Yudhoyono dan Wiranto, dua calon presiden yang > berlatar belakang militer. Begitu paling sedikit hasil > survey belakangan. Keduanya tampil sebagai figur > pilihan yang diharapkan dapat memimpin negara. > > Tapi opini yang dibentuk survey-survey ini bukanlah > fakta sesungguhnya. Kenyataan justru sebaliknya, dan > itu membantah semua anggapan itu. Menurut pengamat > hak-hak asasi manusia Munir hampir semua pertarungan > politik sejak Indonesia merdeka selalu merupakan > akibat perpecahan dalam tubuh militer. > > Munir: Muncul PRRI/permesta juga militer pecah. DI TII > juga militer yang pecah. Dan waktu itu upaya untuk > menertibkan laskar-laskar kemiliteran di dalam > masyarakat menimbulkan reaksi. Kemudian '65 pembunuhan > enam jenderal juga bukan dilakukan oleh orang-orang > sipil. Tapi pertarungan di dalam militer sendiri lepas > dari faksi mana secara politik. Yang terakhir sekitar > Mei juga pertarungan antar jenderal yang korbannya > sangat banyak. Fakta politiknya sepanjang militer itu > besar interesnya terhadap poilitik maka stabilitas > politik di Indonesia tidak akan pernah selesai. > > Dengan kata lain, kekerasan justru terjadi karena > militer tidak selalu berhasil memberi rasa aman. Dan > memang menurut Komnas HAM, di balik peristiwa > kerusuhan Mei 1998, penembakan mahasiwa dalam tragedi > Trisakti, Semanggi I dan II, sejumlah pejabat militer > telah gagal menjaga keamanan. Padahal itu justru > tanggung jawab mereka. Tak pelak lagi, menggunakan > bedil jutru menyebabkan korban jiwa. > > Komnas HAM juga merekomendasikan sejumlah pejabat > militer sebagai pihak yang semestinya > bertanggungjawab. Tapi hukum hanya mampu menyentuh > tingkat terbawah yaitu prajurit yang disangka > menembak. Sementara petinggi militer yang semestinya > memegang tanggungjawab komando justru tidak tersentuh. > Menurut Fadli Zon, pengarang buku Politik Huru-Hara > Mei 1998, salah seorang yang bertanggungjawab adalah > calon presiden partai Golkar Wiranto yang saat itu > menjabat Panglima ABRI. > > Fadli Zon: Kasus insiden Trisakti dia tidak mau > bertanggungjawab. Kasus kerusuhan Mei dia tidak mau > bertangungjawab. Kasus Timor Timur dia tidak mau > bertangungjawab. Ya ini menurut saya sudah menjadi > habit dia. Bahwa dia ini orang yang bermental tidak > mau bertangungjawab. Mungkin karena bawaannya dulu > sebagai ajudan yang menurut saya kurang bisa diterima > kalau dia menjadi presiden. > > Beberapa peristiwa kerusuhan lain seperti di > Ambon-Maluku, Karawang-Jawa Barat, > Banjarmasin-Kalimantan Selatan, dan Banyuwangi Jawa > Timur, juga menunjukkan pola serupa. Gaya militerisme > untuk menyelesaikan kerusuhan tidak selalu berhasil. > Di Aceh praktek militerisme hingga kini tak berhasil > meredam hasrat merdeka GAM. > > SBY: Pemerintah telah mengeluarkan instruksi kepada > TNI untuk memelihara situasi keamanan di seluruh Aceh. > Untuk tidak makin memburuk... > > Demikian pengumuman pemerintah tentang darurat militer > di Aceh yang disampaikan oleh Menteri koordinator > Politik dan Keamanan waktu itu Susilo Bambang > Yudhoyono. Tapi korban jiwa justru berjatuhan, > sementara keamanan tidak kunjung tiba. > > Pada konflik Ambon tahun 1999 hingga 2002, sejumlah > nama petinggi militer dituding sebagai penyulut. > Sementara di Papua, propinsi di mana para purnawirawan > banyak memegang jabatan pemerintahan, menurut Aloysius > Renwarin, aktivis ELSHAM Papua, tidak pernah sepi dari > kekerasan senjata. > > Aloysius Renwarin: Mereka lebih banyak melegalkan dan > mengizinkan operasi militer tanpa melihat pengorbanan > di tingkat rakyat dan tidak menyelesaikan persoalan > pelanggaran HAM selama ini. > > Purnawirawan militer juga sulit melepas gaya > militerisme. Sepertri disebut Munir, struktur komando > yang ketat, tanpa pertanyaan dan sentralisme > pengambilan keputusan tanpa pernah ada konsultasi > adalah salah satu gaya kepemimpinan militer. Gaya > inilah yang dipraktekkan oleh Gubernur DKI Jakarta > Letnan Jendral Purnawirawan Sutiyoso. Tanpa diskusi > dan konsultasi, Sutiyoso menggusur ribuan warga > Jakarta dan membuat mereka kehilangan tempat tinggal. > > Suasana penggusuran tangisan anak korban penggusuran > > Tentara yang purnawirawan memang berarti sudah menjadi > sipil. Purnawirawan Indonesia ternyata belum bisa > melepas tabiat militernya ketika masuk politik. > Menurut Munir belum ada syarat formal politik > Indonesia yang bisa memisahkan antara purnawirawan > dengan institusi militer. Karena itu Munir berpendapat > untuk saat ini militer Indonesia belum bisa dipilih > sebagai pemimpin. Katanya ada lima alasan. Pertama, > reformasi sektor pertahanan tidak berhasil, karena > belum terwujud kontrol sipil atas militer. Kedua, > penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran hukum masa > lalu belum pernah terungkap dan akan menjadi beban > politik masa depan. Ketiga, kalangan sipil kehilangan > agenda. Dan terakhir belum ada syarat politik bagi > pemisahan purnawirawan militer dengan lembaga tentara. > Aneh jadinya kalau para pemilih menganggap pensiunan > tentara akan bisa membereskan semuanya. > > Tim liputan 68H Jakarta melaporkan untuk Radio > Nederland di Hilversum > > > > > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > SBC Yahoo! - Internet access at a great low price. > http://promo.yahoo.com/sbc/ > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor -------------- -------~--> > Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. > Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! > http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM > ------------------------------------------------------------- --------~-> > > *************************************************************** ************ > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru > *************************************************************** ************ > _______________________________________________________________ ___________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > -------------------------------------- Message sent from the Unlimited Mail Free Services Platform. http://www.unlimitedmail.net -------------------------------------- *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

