http://www.sinarharapan.co.id/berita/0404/28/opi01.html

Elite Sipil Tidak Siap, Tokoh TNI Muncul
Oleh Kustigar Nadeak

Kekhawatiran sejumlah kalangan bahwa otoritarianisme bisa muncul kembali
dengan tampilnya dua calon presiden (capres) dari kalangan TNI bisa
dipahami. Namun dalam menyikapi fenomena kehadiran purnawirawan TNI, Wiranto
dan Soesilo Bambang Yudoyono (SBY) diperlukan perenungan yang mendalam dan
menoleh jauh ke belakang panggung sejarah perpolitikkan di Indonesia sejak
Maklumat Wakil Presiden 11 November 1945.
Maklumat tersebut menegaskan, pemerintah menyukai timbulnya partai-partai
politik, karena dengan adanya partai-partai politik itulah dapat dipimpin ke
jalan yang teratur segala aliran paham yang ada dalam masyarakat. Ternyata
setelah partai-partai politik tumbuh seperti jamur di musim hujan, yang
timbul justru konflik aliran ideologi.
Dalam pemilihan umum pertama di Indonesia 1955, tidak kurang dari 28 parpol
yang berhasil meraih kursi di DPR.Tetapi hanya empat parpol aliran yang
muncul sebagai peraih suara terbesar. Partai tersebut adalah Partai Nasional
Indonesia (PNI) meraih 57 kursi, Masyumi 57 kursi, Nahdlatul Ulama 45 kursi
dan Partai Komunis Indonesia (PKI) di urutan keempat dengan meraih 39 kursi.
Komposisi ini memberi petunjuk, bahwa aliran ideologi terbesar di Indoneia
adalah islamisme, nasionalisme dan komunis.
Kendati pada awalnya Pemilu 1955 diselenggarakan sebagai perwujudan
demokrasi sebagai bagian dari proses politik untuk membentuk pemerintahan
yang mampu membawa kesejahteraan dan keadilan masyarakat, namun Pemilu
tersebut tidak mampu meredam konflik ideologi politik seperti dikehendaki
Maklumat 11 November1945. Pemerintahan sipil yang dimulai sejak kabinet
presidensial pertama (1945) sampai kabinet parlementer yang dibentuk sebagai
hasil Pemilu 1955, tidak pernah berhasil menciptakan stabilitas politik.
Bahkan negara yang dipimpin oleh politisi sipil ditandai dengan
pergolakan-pergolakan di daerah dan pembangkangan terang-terangan terhadap
pemerintah pusat yang sah.

TNI Masuk Politik
Konflik-konlik inilah yang menjadi awal masuknya TNI ke dalam
politik.Tentara di bawah pimpinan Jenderal AH Nasution, semakin bersikap
lebih tegas dalam memainkan peran dalam politik. Sejak akhir 1956 Markas
Besar Angkatan Darat (MBAD) mulai memperdengarkan suaranya mengenai politik.
Untuk menumpas segala pembangkangan sipil dan militer diberlakukan (14 Maret
1957) keadaan darurat perang di seluruh nusantara. Kebebasan pers dikekang,
beberapa koran dibreidel. Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI)
dibubarkan.
Konstituante dianggap gagal merumuskan UUD yang baru pengganti UUD Sementara
1950. Presiden Soekarno dengan dukungan militer di bawah pimpinan Jenderal
Nasution akhirnya mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945.
Sejarah tersebut harusnya mengingatkan politisi sipil di era reformasi ini,
bahwa stabilitas politik dengan sistem banyak partai tidak dapat diciptakan.
Kelompok Islam menginginkan masuknya syariat Islam dalam pembukaan UUD 1945,
sementara kelompok nasionalis menolak.
Menyusul dekrit presiden, parpol dianggap sebagai biang keladi perpecahan
politik, diciutkan dari 28 menjadi 10. Dari semuanya itu PKI yang selalu
dikucilkan dari pemerintahan menjadi kekuatan yang mengkhawatirkan. Dibela
oleh Bung Karno, kekuatan ini menciutkan nyali partai-partai lain. TNI
menjadi satu-satunya kekuatan anti-komunis yang bisa mengimbangi. Setelah
pemberontakan PKI ditumpas, TNI menjadi kekuatan yang determinan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan sipil makin termarginalkan.
Soeharto membangun kekuatan politiknya melalui Golkar dan ABRI.
Sejarah masuknya TNI ke dalam politik menjadi relevan disimak kembali oleh
para elite sipil pada saat sistem politik sejak 1998 kebablasan, sehingga
proses demokratisasi terhambat. Mungkin konfigurasi konflik politik pada
periode rezim Soekarno dan Soeharto berbeda dengan format konflik politik
terutama setelah Pemilu legislatif 5 April (2004). Tetapi secara substantif,
persoalan yang dihadapi bangsa sama. Tidak lain, adalah ketidaksiapan elite
sipil dalam membawa proses politik ke arah sistem politik yang demokratis
(stabilitas politik, penegakan hukum dan keteladanan yang bernilai moral)
yang mampu membawa kesejahteraan yang berkeadilan. Pilihan konvensi Golkar
atas Wiranto untuk menjadi capres merupakan salah satu bukti kegagalan
sipil.

Menghadapi ujian rakyat
Namun demikian, para pengamat politik diharapkan tidak terlalu terburu-buru
mengambil kesimpulan bahwa tampilnya tokoh militer otomatis akan menciptakan
rezim otoriter. Pertama tokoh TNI tidak membawa-bawa markas dan jajaran TNI.
Kedua, kemampuan kedua tokoh TNI itu masih akan diuji melalui perolehan
mandat dari rakyat melalui pemilihan presiden (pilpres) langsung.
Oleh karena itu, meskipun berbaju militer, tapi mereka akan dipilih langsung
oleh rakyat. Berbeda dengan Soeharto yang dipilih sidang MPR yang
anggota-anggotanya direkrut oleh Jenderal Soeharto sendiri. Oleh karena itu,
kesempatan tokoh sipil untuk memperbaiki diri untuk bisa menampilkan capres
yang marketable masih terbuka.
UUD telah memberikan kebebasan yang sangat luar biasa menggunakan hak
demokrasi dan kebebasan pers. Tinggal sekarang bagaimana masyarakat elite
sipil (civil society) memanfaatkan peluang tersebut. Sampai sekarang
kebebasan pers belum dimanfaatkan untuk menjadi alat komunikasi politik yang
tangguh untuk memberikan pendidikan politik secara sistematis kepada
masyarakat dan terutama kepada kaum elite.
Konflik ideologi sudah mereda, tetapi tampaknya egoisme kaum elite
mempersulit perkembangan demokrasi. Kebebasan mendirikan parpol terlalu
ditekankan pada prinsip demokrasi agree to disagree. Namun tidak dipahami
bahwa dalam demokrasi disagree itu harus dapat dipecahkan dengan konsensus
untuk secara dewasa menampilkan tokoh yang terbaik.
PKB misalnya harus berani mengatakan Hasyim Muzadi seorang tokoh terbaik
untuk jadi capres. Sebaliknya Amien Rais dengan PAN-nya, yang hanya meraih
6,47 persen suara tidak perlu didorong-dorong menjadi capres. Akbar Tanjung
jelas sudah gagal. Siswono Yudhohusodo yang partainya hanya meraih 0,50
persen kursi tampaknya masih ikut kasak-kusuk untuk jadi capres atau
cawapres. Tokoh-tokoh sipil yang memang siap dan kompeten meski tidak di
dalam partai kalau perlu dimunculkan jadi capres.

Penulis adalah wartawan
senior




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke