http://www.suarapembaruan.com/News/2004/04/28/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY


Diplomasi
Pemilihan Presiden, Jenderal, dan Pengurangan Kemiskinan
Josef P Widyatmadja

PADA masa berkuasanya, Soeharto pernah memerintahkan 14 menterinya untuk
bersama-sama menanggulangi masalah kemiskinan dan mengangkat Mubyarto
sebagai Menteri Muda Urusan Kemiskinan. Pemerintah mengaku, masih ada 27
juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah
menyediakan paket Inpres untuk daerah miskin di seluruh Indonesia, tapi
sayang paket Inpres bukan obat mujarab untuk mengurangi kemiskinan di
Indonesia.
Kemiskinan yang melanda suatu desa bukanlah hanya karena kekurangan modal,
teknologi atau akibat tanah yang gersang, tetapi sering menyangkut soal
ideologi pembangunan, kebijakan, dan institusi (aparat pemerintah). Sebagai
contoh petani di Kedungombo Jawa Tengah makin menjadi miskin ketika
pemerintah hanya memberi ganti rugi sekitar 250 rupiah per meter untuk tanah
yang dibebaskannya. Mereka menjadi miskin karena ideologi pembangunan yang
berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keamanan.
Kebijaksanaan yang menjadikan rakyat sebagai tumbal pembangunan, bukan
sebagai subjek (pemeran) pembangunan, menjadi akar dari pemiskinan. Tambahan
pula, institusi pemerintah sering lebih memihak pada kaum berduit dan
mementingkan kantong sendiri. Hal itu menyebabkan rakyat tidak berdaya
melawan monster pembangunan. Dengan tepat Bannett menyimpulkan sebagai
berikut "If human poverty and hunger as so persistent, their causes must be
found in the institutions, policies and ideologies which serve to wider the
gap between rich and poor" (Bannet, 1987: 13).
Mengurangi kemiskinan merupakan masalah kemauan politik (political will).
Dibutuhkan banting stir dari ideologi yang berorientasi ke keserakahan ke
arah ideologi yang bertumpu pada kerakyatan dan keadilan. Kebijaksanaan dan
institusi yang memihak kelompok elite perlu diganti dengan kebijaksanaan
yang memihak rakyat kecil.
Pemilihan Jenderal?
Memasuki abad ke-21, dunia demam dengan isu demokratisasi, hak asasi dan
lingkungan hidup. Banyak pihak berpendapat bahwa demokratisasi, hak asasi
manusia dan lingkungan hidup merupakan tolok ukur kemajuan pembangunan.
Manusia tidak sekadar perlu roti, tetapi juga kebebasan sebagai manusia. Di
tengah kemakmuran yang dialami suatu bangsa, sering kali ada tuntutan untuk
memperoleh kebebasan politik, lingkungan yang bersih dan sehat.
Di era reformasi, di satu pihak bangsa Indonesia mulai memperoleh kebebasan
politik tapi di pihak laain, bangsa Indonesia mengalami keterpurukan
ekonomi. korupsi yang meraja lela dan ancaman disintegrasi. Hal itu
mengakibatkan sebagian rakyat rindu untuk dipimpin kembali oleh seorang
mantan jenderal dari pada dipimpin oleh sipil.
Tampilnya Bambang Susilo Yudhoyono dan Wiranto menjadi kandidat presiden
merupakan fenomena yang menarik dalam dunia politik di Indonesia. Di bawah
Jenderal Soeharto ketika pemilu berlangsung, rakyat Indonesia selalu memilih
jenderal sebagai presiden dan perwira militer sebagai wakil rakyat.
Sampai-sampai ada seloroh bahwa pemilu (general election ) selama Orde Baru
diartikan sebagai "pemilihan jenderal" (General election) bukan pemilihan
umum.
Sucipto Sekjen PDI-P dalam pernyataannya baru-baru ini berkata bahwa PDI-P
akan ditertawai oleh media (dan rakyat juga) kalau Megawati mencari
pendamping calon wakil presiden dari kalangan militer. Dengan bekas jenderal
berkuasa, rakyat bermimpi bahwa Indonesia akan memiliki pemimpin yang kuat
untuk mengatur negara yang sedang amburadul.
Dalam konstelasi pemilihan Presiden tahun 2004, kader dari TNI dalam diri
Susilo Bambang Yudhoyono dan Wiranto kembali dicalonkan sebagai calon
presiden oleh pendukung masing-masing. Dengan Golkar mencalonkan Wiranto
sebagai calon Presiden, maka pola lama terulang kembali, yaitu saling
berbulan madu dan saling membutuhkan antarkader TNI dan kader Golkar.
SBY menggandeng Kalla dari Golkar sebagai calon wapres, sedangkan Wiranto
menggunakan mekanisme konvensi Partai Golkar untuk bisa tampil sebagai calon
presiden. Dalam sejarah, walaupun Partai Golkar bisa dipimpin oleh pemimpin
dari sipil, namun setiap kali penetapan calon presiden Partai Golkar selalu
mengusulkan calon Presiden dari kalangan mantan jenderal. Kebiasaan itu
rupanya belum bisa berubah. Para kader Partai GOLKAR masih berkeyakinan
bahwa Republik Indonesia harus dipimpin oleh mantan jenderal.
Pemberdayaan Rakyat
Isu Pemilu 2004 hampir tak menyentuh isu tentang keberpihakan kontestan
terhadap pengurangan kemiskinan, penegakan HAM dan pelestarian lingkungan
hidup. Pidato dan janji para pemimpin politik selama kampanye pemilu sering
bersifat asal bunyi dan klise. Banyak pemimpin politik yang hanya
memperhatikan kepentingan pribadi jangka pendek bukan kepentingan jangka
panjang dari bangsa Indonesia.
Emosi rakyat berupa sentimen agama, kesukuan dan pengalaman masa lalu mudah
dimanipulasi untuk memenangkan suara. Konsep dan visi untuk membangun
ekonomi Indonesia yang adil sejahtera dengan memberdayakan rakyat dan
melestarikan lingkungan hidup hampir diabaikan dalam wacana pemilihan
presiden.
Dalam bukunya berjudul Future Wealth, A New Economics for the 21st Century
(1990), James Robertson menyebut dua hal yang saling berkaitan. Pertama,
Enabling - Empowering the People. Rakyat perlu dimampukan dan dikuatkan
dalam suatu new economic order. Kebijaksanaan ekonomi yang berorientasi pada
pertumbuhan ekonomi menyebabkan rakyat makin tergantung dan terisolasi dalam
sistem ekonomi nasional/internasional. Rakyat tidak mengonsumsi apa yang
mereka hasilkan.
Ekonomi yang berorientasi pada pemberdayaan rakyat, berarti [a] rakyat lokal
diberi kebebasan untuk berperan dalam proses pembangunan yang menyangkut
nasib mereka (Hal yang sama juga ditekankan oleh "WHO Charter" pada tahun
1986); [b] rakyat setempat makin mendapat hak politik dan hak menikmati
kebutuhan material dan spiritual mereka; [c] campur tangan dari pusat perlu
dikurangi.
Kedua, Conserving the Nature. Orde ekonomi baru perlu memperhatikan
kelestarian alam. Sumber daya alam tidak boleh untuk mencukupi keserakahan
seseorang dan kelompok elite. Itu berarti, harus ada pembatasan dan
pengendalian diri dari kaum elite dan kaya dalam mengkonsumsi sumber alam.
Teknologi yang diciptakan dan dipakai manusia dalam kegiatan ekonomi harus
menunjang kelestarian alam dan keadilan sosial
Kegagalan komunisme di bekas Uni Soviet tidak berarti bahwa jalan
kapitalisme dapat menjadi resep untuk mengatasi kemiskinan di negara
berkembang. Bahkan George Soros seorang kapitalis global sudah memberikan
peringatan akan datangnya krisis kapitalis global. Fakta menunjukkan, baik
komunisme maupun kapitalisme tidak mampu mengurangi kemiskinan dan
pencemaran lingkungan di dunia. Diperlukan ekonomi alternatif untuk
menanggulangi kemiskinan dan lingkungan hidup. Ini tugas para intelektual
untuk mencari alternatif di tengah jalan buntu krisis kapitalisme global.
Penullis adalah pengamat masalah diplomasi.


Last modified: 28/4/04



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke