http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1107
Hidayatullah.com, Minggu, 25 April 2004

Indonesia Menunggu "Napoleon"?

Napoleon mengembalikan Perancis menjadi tercerahkan. Bisakah Presiden baru
menjadikan Indonesia negara kuat, adil, dan makmur, yang dicita-citakan
rakyat? Baca CAP ke-51Adian Husaini, MA

Mengapa Golkar menang dalam pemilu 2004? Mengapa Jenderal TNI (Purn) Wiranto
memenangkan konvensi Golkar untuk pemilihan Presiden? Mengapa Susilo
Jenderal TNI (Purn) Bambang Yudhoyono menjadi populer dan partai yang
mencalonkannya pun mendapatkan suara besar dalam pemilu 2004?

Harian Utusan Melayu, (Kamis, 22 April 2004) menurunkan beberapa tulisan,
berita dan artikel, tentang Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono, menjelang
pemilihan Presiden Indonesia pada 5 Juli 2004. Kedua calon Presiden dari
Partai Golkar dan Partai Demokrat ini banyak menimbulkan spekulasi, apakah
sebagian besar rakyat Indonesia mengharapkan tampilnya pemimpin yang kuat,
setelah selama 6 tahun lebih mereka hidup di alam reformasi. Mengapa partai
PAN pimpinan "Bapak Reformasi" Amien Rais justru jeblok suaranya, dan kalan
jauh dengan suara Golkar, partai warisan Orde Baru?

Apa yang sebenarnya sedang dan akan terjadi dalam aspek
sosial-ekonomi-politik di Indonesia? Adalah menarik untuk membandingkan
keadaan Indonesia sekarang dengan kondisi Perancis pada saat-saat negara itu
mengalami Revolusi tahun 1789. Menjelang Revolusi, Perancis adalah negara
autokrasi di bawah kekuasaan Raja Louis ke-14 yang berpenduduk sekitar 26
juta jiwa.

Kekuasaan terpusat di tangan raja dan kaum elite negara. Ada dua kelompok
yang sangat diistimewakan ketika itu. Pertama, kaum agamawan (clergy), yang
diwakili oleh Geraja Katolik, dan kaum bangsawan (nobility). Gereja
mendapatkan berbagai keistimewaan, seperti memungut pajak hasil bumi,
mencatat kelahiran, perkawinan, dan kematian, melakukan penyensoran terhadap
buku-buku yang dinilai melawan ajaran Gereja, mengoperasikan
sekolah-sekolah. Walaupun tanah-tanah Gereja banyak menghasilkan keuntungan,
namun mereka tidak membayar pajak apa pun. Karena itu, banyak dijumpai,
tokoh-tokoh agama yang hidup dalam kemewahan. Kelompok bangsawan yang
jumlahnya hanya sekitar 350 ribu juga mendapatkan berbagai keistimewaan.
Mereka dikecualikan dari hampir semua jenis pajak. Mereka menguasai sekitar
� sampai 1/3 tanah Perancis.

Krisis ekonomi menjelang tahun 1789, dimanfaatkan dengan baik oleh kalangan
liberal dan kelompok bourgeoisie (borsua) Perancis untuk melakukan revolusi
dan meruntuhkan monarkhi. Dan itu terjadi pada 14 Juli 1789, saat masyarakat
Perancis berhasil meruntuhkan penjara Bastile, yang menjadi simbol dari
kekuasaan Rejim Lama. Revolusi Perancis mengusung jargon yang sangat
terkenal: "liberty, egality, dan fraternity" (kebebasan, persamaan, dan
persaudaraan). Namun, revolusi itu selama beberapa tahun tidak melahirkan
stabilitas dan kebaikan bagi rakyat Perancis.

Masa-masa teror sempat terjadi selama beberapa tahun yang memakan korban
sekitar 40 ribu orang. Saling bunuh dan teror terjadi antar rezim yang
berganti-ganti kekuasaan. Rezim Thermidorean, misalnya, pada 1795, melakukan
aksi "kontra-revolusi" yang membantai pengikut rezim sebelumnya. Di
saat-saat berkembangnya anarkhi dan ketidakpastian itulah, muncul seorang
Jenderal militer, bernama Napoleon Bonaparte, yang mengambil alih kekuasaan
di Perancis pada tahun 1799.

Napoleon lahir tanggal 15 Agustus 1769 di Pulau Corsica. Ia masih termasuk
keluarga bangsawan kecil. Tahun 1796, ia memimpin pasukan Perancis di Itali.
Di sinilah ia meraih reputasi yang hebat dalam kemiliteran. Tahun 1799, ia
menjadi jenderal terkemuka di Perancis. Ia bergabung dalam satu konspirasi
untuk menumbangkan penguasa lama, dan mendirikan sistem pemerintahan baru
dengan kekuasaan dipegang oleh tiga konsul. Sebagai konsul pertama, Napoleon
memonopoli kekuasaan. Tahun 1802, ia menjadi konsul pertama seumur hidup,
yang berhak menentukan penggantinya. Dan pada 2 Desember 1804, dalam satu
seremoni agung di Katedral Notre Dame di Paris, Napoleon menobatkan dirinya
sebagai Kaisar Perancis (emperor of the French). Napoleon memang cinta pada
kekuasaan, yang ia ibaratkan, seperti seorang musisi mencintai biolanya.

Napoleon melakukan perombakan sistem pemerintahan di Perancis. Ia
mengembalikan Perancis ke dalam sistem pemerintahan yang disebut sebagai
enlightened despotism (despotisme yang tercerahkan). Ia menjadikan
pemerintahan berjalan lebih efektif, dengan melakukan berbagai kebijakan,
seperti: efisiensi dan penyeragaman administrasi pemerintahan, menolak
feodalisme, menentang persekusi keagamaan, dan menghilangkan diskriminasi
warga negara. Juga, ia memilih kebijakan yang menjadikan negara mengontrol
perdagangan dan industri. Menurut Napoleon, sistem enlightened despotisme
merupakan alat untuk menjamin stabilitas politik dan memperkuat negara.
Napoleon juga memelihara dan melaksanakan sejumlah hasil yang dicapai dalam
revolusi Perancis, seperti: persamaan di depan hukum, jenjang karir
berdasarkan kemampuan dan prestasi (meritokrasi), penekanan pada pendidikan
sekular, dan pengurangan kekuasaan Gereja (clerical power). Namun, Napoleon
menekan kebebasan politik. (Bandingkan konsep Napoleon ini dengan konsep
Trilogi Pembangunan Orde Baru, yaitu Stabilitas Nasional, Pertumbuhan
Ekonomi, dan Pemerataan).

Berbagai cara dilakukan Napoleon untuk mengkonsentrasikan kekuasaan,
sehingga menjadi efektif. Untuk meraih dukungan kaum Katolik, ia melakukan
negosiasi dengan Paus, yang hasilnya adalah pengesahan Concordat 1801,
berupa pengakuan Katolik sebagai agama mayoritas rakyat Perancis. Napoleon
menolak permintaan Paus untuk menjadikan Katolik sebagai agama negara. Ia
pun melakukan berbagai cara untuk membungkam penentangnya, dari kalangan
bekas keluarga kerajaan maupun pendukung republik. Namun, ia pun melakukan
berbagai perbaikan di bidang hukum, ekonomi, dan pendidikan. Ia mendirikan
University of France. Untuk menekan laju inflasi, misalnya, ia mendirikan
Bank of France. Ia juga membiarkan para petani menguasai lahan para tuan
tanah, yang mereka peroleh di masa Revolusi.

Di tangan Napoleon, Perancis kemudian menjadi kekuatan besar di Eropa.
Antara tahun 1805-1807, Perancis mampu menaklukkan Austria, Russia, dan
Prussia (cikal bakal Jerman). Tahun 1810, Napoleon mendominasi Eropa
Daratan, kecuali Semenanjung Balkan. Napoleon berhasil membawa Perancis
menjadi negara besar yang sayangnya kemudian dimanfaatkan untuk aktivitas
imperialisme.

Ekspansi yang berlebihan akhirnya mengantarkan kehancuran tentara Perancis,
terutama setelah kekalahan besar di Rusia pada tahun 1812 yang membawa
kematian ratusan ribu tentara Napoleon. Akhirnya, tahun 1814 Paris diduduki
Tentara Sekutu Austria, Russia, Prussia, dan Swedia, dan Napoleon berhasil
ditangkap dan diasingkan ke Pulau Elba. Namun, setahun kemudian, sang
jenderal kembali ke Paris sebagai 'hero' dan bertempur kembali melawan
pasukan Sekutu, sebelum akhirnya dikalahkan kembali.

Akankah "Napoleon" baru muncul di Indonesia? Sejak kemerdekaan, Indonesia
memang telah mengalami berbagai sistem politik. Pemilu pertama dalam sistem
parlementer menghasilkan pemerintahan yang sering dikatakan tidak stabil.
Ujung-ujungnya, Soekarno mengeluarkan dekrit pada 1959 yang mengembalikan
Indonesia ke UUD 1945, sekaligus memberikan kekuasaan besar kepada Presiden
Soekano. Orde Baru muncul menggantikan Orde Lama, yang kemudian bertahan
selama 32 tahun. Tahun 1998, muncul Orde Reformasi, yang diharapkan mampu
membawa perbaikan kepada masyarakat dalam berbagai bidang.

Namun, apa yang terjadi? Selama Orde Reformasi Indonesia masih mengalami
berbagai keterpurukan. Kebebasan di berbagai bidang memang dinikmati
masyarakat. Termasuk kebebasan melakukan dan menyebarkan berbagai
kemaksiatan melalui media massa. Utang Indonesia pun bukannya mengecil,
masih sekitar Rp 1300 trilyun. Pemberantasan korupsi masih menjadi
perbincangan ideal, dan bahkan semakin menyebar, merata, ke pelosok-pelosok,
sejalan dengan program otonomi daerah. Pengangguran masih melangit. Angka
kemiskinan masih cukup tinggi.

Konon, menurut Departemen Sosial, sebanyak 15,8 juta penduduk Indonesia
tergolong fakir miskin pada tahun 2003. Jumlah tersebut sekitar 42,4 persen
dari seluruh populasi penduduk miskin 37,3 juta jiwa tahun 2003.

Presentase tersebut menunjukan secara rata-rata dari setiap 100 orang
penduduk miskin, 42 orang diantaranya, masih tergolong fakir miskin. Ia
menjelaskan fakir miskin adalah mereka yang pendapatannya masih dibawah
normal, yaitu kurang dari 1 USD perhari. Sedangkan, pendapatan antara 1-2
USD perhari tergolong sebagai penduduk miskin. Sedangkan yang dikatakan
sejahtera, bila mereka sudah berpenghasilan diatas 2 USD tiap harinya.

Angka-angka ini tentu masih perlu dipertanyakan, mengingat standar
kemiskinan yang diterapkan. Jika seorang berpenghasilan 2 USD (sekitar Rp
17,000) perhari dikatakan sejahtera, maka angka ini tentu sangat rendah
untuk dearah Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Bagaimana jika ia
mempunyai tanggungan keluarga, dan sebagainya. Kenyataannya, masih begitu
banyak penduduk yang merasakan berbagai kesulitan memenenuhi kebutuhan
pokoknya, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan.

Reformasi juga menunjukkan betapa banyaknya OKB (Orang Kaya Baru) dari
kalangan politisi yang kemudian menimbulkan kesenjangan sosial baru dengan
masyarakatnya. Berbagai kasus korupsi dan penghamburan uang negara serta
gaya hidup mewah kalangan pejabat dan politisi juga terus-menerus menjadi
sorotan masyarakat di berbagai daerah.

Kebebasan (liberalisme) telah dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian
kalangan untuk menyebarkan maksiat. Dibubarkannya Departemen Penerangan,
pada satu sisi membawa berkah kepada pers. Namun, pada sisi lain, media
massa, terutama televisi pun semakin leluasa mengumbar acara yang
mempertontonkan pornografi dan kebejatan moral lainnya. Nyaris tidak ada
kontrol.

Masyarakat pun dibuat tidak berdaya, karena media massa memiliki kekuatan
lebih besar ketimbang mereka. Maka muncullah di sana-sini gugatan untuk
melakukan pembatasan tayangan-tayangan amoral.

Liberalisasi di bidang ekonomi, dengan alasan privatisasi, ternyata
dimanfaatkan dengan baik untuk melakukan penjualan aset-aset strategis milik
negara, seperti BCA, Indosat, dan sebagainya. Program liberalisasi ekonomi
ala IMF, menurut pememang hadiah Nobel, Joseph Stiglitz, dikenal dengan
Four-Step Program. Pertama, privatisasi aset-aset negara; kedua,
liberalisasi pasar modal; ketiga, penerapan harga berdasarkan pasar; dan
keempat, adalah penetapan perdagangan bebas. Program-program itulah yang
dikritiknya habis-habisan. Untuk Indonesia, ujung-ujungnya adalah begitu
banyak aset-aset strategis milik negara dijual, angka kemiskinan bertambah,
dan juga semakin banyak kebanjiran barang impor.

Kondisi kebebasan nyaris tanpa batas (anarkhi) dalam negara
demokrasi --menurut Socrates (469-399 SM)-- akhirnya memunculkan bentuk
tirani (tyranny). Socrates, seperti diceritakan muridnya, Plato (427-347
SM), dalam karyanya The Republic, memandang demokrasi merupakan bentuk
pemerintahan yang tidak ideal; lebih rendah nilainya dibandingkan
aristokrasi (negara dipimpin para pecinta hikmah/kebenaran), 'timokrasi'
(negara dipimpin para ksatria pecinta kehormatan), dan oligarchi (negara
dipimpin oleh sedikit orang). Di negara demokrasi (pemerintahan oleh
rakyat - the rule of the people), kata Socrates, semua orang ingin berbuat
menurut kehendaknya sendiri, yang akhirnya menghancurkan negara mereka
sendiri. Kebebasan menjadi sempurna.

Ketika rakyat lelah dengan kebebasan tanpa aturan, maka mereka akan
mengangkat seorang tiran untuk memulihkan aturan. (. when men tire of the
lawlessness of a liberty. they appoint a strong man to restore order).

Tentu, pertanyaanya, dengan kondisi hasil pemilu 2004 yang begitu menyebar
perolehan suaranya, akankah Presiden dan pemerintahan baru mendatang mampu
menjadikan Indonesia negara kuat, adil, dan makmur, seperti dicita-citakan
semua rakyat? Akankah "politik dagang sapi" antar tokoh dan partai terus
dijalankan untuk mengejar ambisi meraih kekuasaan demi kepuasan hawa nafsu?
Jika para elite politik hasil pemilu 2004 sama saja kualitas dan perilakunya
dengan rezim-rezim sebelumnya, maka bukan tidak mungkin rakyat tidak percaya
lagi dengan reformasi, dan semakin mengharapkan munculnya "Sang Napoleon".
Konon, "Jenderal Napoleon" itu tidak terlalu tinggi postur tubuhnya. Ini
analisis. Bisa terjadi, bisa tidak.

Tentu, kita berharap, akan ada perubahan ke arah yang lebih baik, dalam
standar nilai dan parameter Islam. Wallahu a'lam. (KL, 23 April 2004).



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke