http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/06/opini/1008750.htm
Kamis, 06 Mei 2004

Memanfaatkan Peluang, Keluar dari Kegagalan
Oleh E Ernawan

BEBERAPA waktu terakhir ini kita banyak mengikuti diskusi tentang fenomena
deindustrialisasi yang indikasinya tampak di sana-sini. Dari diskusi itu,
tampak keinginan banyak pihak untuk membalikkan pendulum, yaitu bagaimana
menjaga agar proses deindustrialisasi berbalik kembali.
Diskusi semacam ini mengingatkan kita pada kejadian yang mirip di awal abad
ke-20, saat Tanah Air kita masih dalam cengkeraman Belanda.

Industrialisasi, pengalaman Hindia Belanda
Diperkenalkannya teknologi mesin uap tahun 1850-an membawa banyak perubahan
ekonomi di Hindia Belanda. Salah satu perubahan signifikan adalah munculnya
industri manufaktur yang mengolah hasil komoditas, terutama memproduksi
makanan, minuman, gula, dan tembakau. Sampai tahun 1871, misalnya, di Hindia
Belanda ada 362 pabrik pengolah makanan, minuman, dan tembakau dan 342
pabrik gula.
Dibukanya Terusan Suez tahun 1870 dan dikeluarkannya Undang-Undang (UU)
Agraria pada tahun yang sama menambah pesat pertumbuhan industri itu. Di
satu sisi, dibukanya Terusan Suez yang memudahkan transportasi dan ekspor
impor barang dari Hindia Belanda sebagai negara koloni dengan Belanda
sebagai koloninya. Kemudahan ekspor impor ini mengakibatkan tumbuhnya
pedagang-pedagang swasta yang kaya dan kuat di Belanda.
Di sisi lain, UU Agraria memungkinkan terbukanya sektor perkebunan dan
pertanian oleh sektor swasta. Akibatnya, dipacu terbukanya peluang itu,
membuka peluang percepatan pengembangan industri. Dalam waktu empat tahun,
1871-1875, misalnya, industri pengolahan makanan, minuman, dan tembakau
tumbuh menjadi 845 buah. Sementara itu, industri gula menjadi 808 buah.
Pertumbuhan terus berkembang. Di tahun 1930, di Hindia Belanda ada 1.920
industri makanan, minuman, dan tembakau; 1.389 industri gula; 391 industri
pengolahan hasil tambang, karet, dan kimia; 101 industri pengolahan kayu; 91
industri metal dan mesin; 50 pabrik tekstil dan garmen.
Meski demikian, perkembangan menarik itu mengalami perubahan drastis setelah
terjadi krisis ekonomi dunia tahun 1929, yang dikenal sebagai the great
depression. Dampak krisis ini amat besar. Ekonom Australia, HW Dick, dalam
analisisnya tentang ekonomi industri kolonial di abad 19 mengatakan, setelah
krisis 1929, Hindia Belanda kehilangan kesempatan keluar dari krisis dan
membangun industri pengganti andalan ekspor komoditinya.
Salah satu penyebab hilangnya kesempatan itu adalah tidak teridentifikasinya
perubahan tren perdagangan di Asia, terutama sejak berakhirnya Perang Dunia
I tahun 1918. Sejak berakhirnya Perang Dunia I tahun 1918, tren perdagangan,
terutama di kawasan Asia Pasifik, menyangkut jenis dan asal barang di luar
sektor komoditas, sebenarnya sudah mulai mengalami perubahan.
Hal ini terjadi karena harga-harga barang produk Eropa mulai tidak
kompetitif akibat perang yang mengganggu produksi barang di Eropa. Di Hindia
Belanda sendiri, misalnya, penetrasi impor barang-barang konsumsi dari
Jepang meningkat pesat sejak Perang Dunia I. JS Furnivall, dalam buku klasik
Netherlands India: A Study of Plural Economy, mencatat, penetrasi barang
konsumsi Jepang di Hindia Belanda meningkat dari 1,6 persen tahun 1913
menjadi 8,1 persen di tahun 1923.
Selain itu, kebijakan laisser-faire yang dijalankan pemerintah kolonial,
selain menguntungkan pemerintahan kolonial, juga menghasilkan aliansi yang
kuat antara pedagang-pedagang Belanda dan pemilik perkebunan yang mengambil
keuntungan dari UU Agraria tahun 1870, yang memungkinkan kepemilikan swasta
atas lahan-lahan perkebunan.
Aliansi ini, yang pada masa itu dikenal sebagai Kolonial Lobby, ternyata
amat mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial. Jadi, tidak terlalu
mengherankan jika pengembangan sektor industri hanya dikonsentrasikan di
sektor pengolahan hasil komoditas. Sementara itu, sektor manufaktur lain,
seperti tekstil, justru dibangun di Negeri Belanda.
Akibatnya, saat terjadi krisis ekonomi dan akibatnya Belanda harus mengganti
kebijakan laisse-faire-nya untuk keluar dari krisis, prosesnya menjadi
sangat lamban. Kebijakan Crisis Ordonantie, yang merupakan dasar kebijakan
pemerintah kolonial untuk keluar dari krisis, misalnya, baru ada di tahun
1933. Reaksi awal sejak krisis 1929 sampai 1933 untuk meningkatkan output
komoditas agar harga komoditas bisa bersaing di pasar internasional bisa
dijadikan cermin, kepentingan yang semula diuntungkan ikut bermain dalam
penentuan kebijakan kolonial.
Akan tetapi, bila melihat faktor tren perubahan perdagangan dan penetrasi
produk impor sejak berakhirnya Perang Dunia I, terlihat bahwa pemerintah
kolonial tidak cepat tanggap. Padahal, di masa itu, Hindia Belanda memiliki
potensi keunggulan lain, yakni murahnya tenaga kerja. Dengan demikian, saat
terjadi krisis, Hindia Belanda tidak dengan segera bisa memunculkan andalan
lain dari produksi hasil industrinya.
Proses industri awal yang telah terbentuk malah mengalami kemunduran. Tahun
1935, misalnya, di Hindia Belanda hanya ada 709 pabrik yang memproduksi
makanan, minuman, dan tembakau, 266 pabrik gula, 67 pabrik pengolah kayu,
dan 25 pabrik metal dan mesin.
Padahal, pada tahun 1930, di Hindia Belanda ada 1.920 pabrik yang
memproduksi makanan, minuman, dan tembakau; 1.389 pabrik gula; 101 pabrik
pengolah kayu; 91 pabrik metal dan mesin.
Proses deindustrialisasi
Dari apa yang terjadi di Hindia Belanda itu, ternyata dilema yang dihadapi
Indonesia tidak jauh berbeda. Bahkan, ada wacana ekstrem, Indonesia sejak
krisis mengarah ke proses deindustrialisasi. Pertanyaannya kini, apakah kita
akan mengulang sejarah masa lalu zaman Hindia Belanda yang kehilangan
kesempatan keluar dari krisis dan tumbuh menjadi negara industri maju?
Banyak contoh negara yang juga dilanda krisis, tetapi telah dapat keluar dan
berhasil. Bila kita melihat Korea Selatan, misalnya, mereka juga mengalami
krisis yang sama. Namun, Korea Selatan telah bangkit, dan produk-produk
manufakturnya diperhitungkan di pasar dunia.
Negara kecil Kosta Rika di Amerika Latin, misalnya, lewat pengembangan
produk digitalnya mulai di segani di kawasan Amerika Tengah. Belum lagi bila
melihat China yang telah tumbuh menjadi raksasa ekonomi dan produk-produk
murahnya membanjiri Indonesia sejak masa krisis.
Memang, bila melihat kondisi ekonomi makro, kondisi Indonesia sudah mengarah
pada sebuah perubahan. Namun, di era globalisasi yang ditentukan kekuatan
pasar dan modal seperti sekarang, tampaknya Indonesia membutuhkan kekuatan
yang tidak hanya tekad dan kemauan. Kita membutuhkan kekuatan yang sanggup
mengubah pola pikir, meninggalkan pola pikir lama yang hanya mementingkan
kepentingan sesaat. Selain itu, kita membutuhkan kekuatan kebersamaan yang
menyadari, sebenarnya kita memiliki potensi besar untuk maju dan berkembang.
Kekuatan yang secara jernih dapat mengidentifikasi potensi ekonomi yang
dapat dijadikan tumpuan untuk maju. Kekuatan yang dapat mendorong perubahan
pola pikir yang mengubah tantangan menjadi peluang. Dengan demikian,
akhirnya Indonesia dapat memiliki tidak hanya program ekonomi yang terarah
dan terencana, tetapi juga dapat dilaksanakan serta memberi keuntungan bagi
orang banyak. Orang banyak yang sebenarnya adalah pemegang saham negeri ini.
Sejarah sebenarnya telah mengajarkan banyak hal agar kita tidak kembali
terperosok ke lubang yang sama.
E Ernawan Direktur PT Arthakarana Capital
Search :








Berita Lainnya :
�TAJUK RENCANA
�REDAKSI YTH
�Militer, Sipil, dan Politik Indonesia
�Presiden Versus Parlemen
�Projenderal atau Petinggi Partai?
�Memanfaatkan Peluang, Keluar dari Kegagalan
�POJOK












Design By KCM
Copyright � 2002 Harian KOMPAS





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. <br> Now with
Pop-Up Blocker. Get it for free! <br> http://companion.yahoo.com
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke