http://www.suaramerdeka.com/harian/0405/17/opi04.htm
Senin, 17 Mei 2004WACANA

Minat Baca Rendah, Siapa Salah?
Menyambut Hari Buku Nasional
Oleh: Agus M Irkham

MINAT terhadap bacaan mampu "mencerdaskan bangsa". Apa iya? Katakanlah tesis
ini benar. Artinya, Mbok Sri penjual nasi pecel, Pak Ridwan petani
penggarap, Mas Karyo penjual batik keliling adalah manusia-manusia yang
tidak cerdas--untuk tidak mengatakan bodoh. Sebab, mereka jarang bahkan
tidak pernah membaca buku.
Pertama, hal itu karena memang langkanya buku. Kedua, pekerjaan yang membuat
mereka tidak punya waktu untuk membaca buku. Beberapa temuan riset
kualitatif tentang minat baca oleh Primanto Nugroho (2000) menunjuk pada
sebuah kesimpulan bahwa duduk perkara minat baca ternyata bukan soal
kalkulasi tinggi atau rendah. Minat baca lebih merupakan keadaan yang
bervariasi sesuai dengan lokalitas di setiap elemen penyusun gerak
masyarakat. Kepekaan dan variasi kebutuhan informasi di masyarakat itulah
yang akan banyak menentukan keberhasilan suatu bacaan.
Kurang relevan jika kita membandingkan minat baca/budaya baca antara
Indonesia dan Jepang misalnya-yang sering membuat kita menunduk minder.
Namun, bukan berarti kita harus tetap berbangga diri dengan rendahnya minat
baca tersebut atau berdiam diri tanpa upaya meningkatkan minat baca
masyarakat. Toh, tiap-tiap bangsa berbeda. Mengapa harus meniru Jepang atau
negara lain?.
Salah satu common sense yang temukan Primanto dalam penelitian kualitatifnya
tentang minat baca yaitu membaca adalah kegiatan orang yang punya waktu.
Kalau common sense ini akan dibawa pada sebuah kondisi minat baca masyarakat
kita yang rendah maka akan muncul dua kemungkinan pengertian. Pertama, minat
baca masyarakat kita rendah karena skill membaca atau "daya mamah" kertas
masyarakat memang rendah. Ini disebabkan oleh pekerjaan sebagian masyarakat
yang menghabiskan sebagian besar waktu, sehingga mereka tidak punya waktu
lagi untuk membaca.
Kemungkinan pengertian kedua, secara implisit buku-buku yang ada selama ini
memang disediakan untuk mereka yang secara khusus menyediakan waktu untuk
membaca. Mengapa? Sebab, performance buku itu sendiri yang mengharuskan
dibaca dengan serius dan membutuhkan waktu lama (tema serius, tebal, bahasa,
dan kaidah penulisan yang ketat). Apalagi didukung dengan cetakan dan
tampilan fisik yang bagus. Karena itu, orang enggan membeli Iantaran harga
buku yang relatif mahal dan bagi mereka membaca buku bukan menyenangkan
melainkan justru membebani, bikin mumet.
Bagian mana dari masyarakat kita yang mempunyai kontribusi besar terhadap
rendahnya rating membaca tersebut? Golongan "mapan" dan terpelajarkah? Atau
mereka yang sebagian besar dari waktunya habis di tempat kerja? Apakah
mereka layak dimasukkan, yakni pekerja-pekerja teknis yang memang tidak
punya waktu lagi untuk membaca buku sebagai biang keladi jebloknya minat
baca masyarakat kita?
Tanpa maksud berapologi, barangkali yang lebih punya tanggung jawab untuk
menaikkan rating membaca adalah mereka yang tergolong educated, yaitu
pelajar, mahasiswa, dosen, guru, dan golongan mapan. Mengapa? Sebab,
golongan ini relatif mampu membeli buku dan punya waktu untuk membaca.
Sebab, pekerjaan mereka tidak melulu teknis dan menghabiskan sebagian besar
waktu.
Memahami kondisi tersebut, ada dua pilihan buat kita, yakni akan menyesali
kondisi yang ada tanpa upaya melakukan perubahan apa pun, menyesal, atau
kita akan segera menyadari dan berikhtiar bagaimana agar masyarakat kenal,
tertarik, dan selanjutnya gemar membaca (buku).
1001 Buku
Kini kita boleh lega. Beberapa aktivitas perbukuan independen mulai marak.
Salah satunya adalah Komunitas Pasar Buku Indonesia. Komunitas itu memiliki
Program Kampanye Indonesia Membaca. Lalu, Core yang beraktivitas membuka
perpustakaan komunitas, klub baca tulis SMU, dan toko buku independen.
Terakhir yaitu Jaringan Relawan 1001 Buku (Seribu Satu Buku) yang khusus
berkegiatan mengumpulkan buku-buku bekas untuk didistribusikan ke
perpustakaan-perpustakaan anak.
Relawan 1001 Buku melakukan berbagai kegiatan nyata, seperti mengelola book
drop box, mendistribusikan buku yang tekumpul (sortir, package &
distribution), menyelenggarakan pertemuan regular antar pelatihan-pelatihan
kecil untuk peningkatan kapasitas anggota.
Hingga kini paling tidak ada sekitar 30 perpustakaan anak yang masuk daftar
1001 buku (sumbangan buku bekas). Semula hanya di Jakarta, kini mulai
berkembang ke kota-kota Iain seperti Semarang, Salatiga, Kendal, Yogyakarta,
dan lain-lain.
Semua itu berkelindan dengan upaya memasyarakatkan budaya baca dengan
mempermudah akses masyarakat terhadap bacaan. Tidak hanya lewat media off
line. Website buku pun bermunculan. Misalnya, www.pasarbuku.com,
www.pembaca.com, www.penerbit.net, www.ikapi.or.id, www.bumimanusia.com,
www.ekuator. com dan lain-lain.
Dari sisi kuantitas pun, buku-buku sekarang boleh dibilang cukup rnemberikan
harapan. Penerbit-penerbit buku alternatif rnulai bermunculan. Kalau angka
resmi jumlah penerbit di Indonesia pada 1997 hanya 518 buah, kini tentu
sudah jauh di atas angka tersebut. Di Yogya saja paling sedikit ada 114
penerbit, 4.230 judul buku baru terbit dengan oplah tak kurang dari
6.480.000 buah sepanjang setahun terakhir. Bandingkan dengan rata-rata judul
buku nasional yang terbit pada 1996: cuma 8.299 (Darmanto, 2001).
Dari sisi keberagaman tema buku juga menunjukkan tanda positif. Misalnya,
inovasi buku dalam bentuk komik. Kalau berjalan-jalan di toko buku tentu
kita akan mendapati buku-buku macam Einstein for Beginner (Mizan), Das
Capital untuk Pemula (Insist), Filsafat untuk Pemula (Kanisius), Berani
Gagal-Hikmah Kegagalan (Delapratasa Publishing), dan masih banyak lagi.
Ada garis lurus yang bisa penulis temukan antara komik sebagai jenis bacaan
di satu sisi dan alat komunikasi di bagian lain. Komik adalah bacaan dengan
bahasa yang cair, tampilannya relaks, bikin tertawa, ringan tapi
mencerdaskan
Dijamin setelah membaca komik, adrenalin Anda tidak akan naik, tapi
sebaliknya jantung Anda akan bekerja optimal. Hal itu lantaran kebahagiaan
dan tawa yang Anda keluarkan. Karena itu, penulis melihat maraknya komikasi
buku-buku serius merupakan solusi cerdas atas dua masalah, yakni minat baca
yang rendah dan tuntutan profit yang proporsional.
Komikasi buku serius rnenjadikan motivasi sosiologis dan ekonomis bertemu
dalam satu titik. Dengan tampilan layaknya komik, pembaca dapat memanfaatkan
waktu yang pendek untuk membaca buku serius tanpa kehilangan substansi
sekaligus bisa refreshing. Kepentingan penerbit yaitu buku terjual dan
tanggung jawab mencerdaskan masyarakat pun dapat dicapai bersama (Irkham,
2003). Selain itu, ada satu-dua penerbit yang juga mengernas buku dalam
bentuk suara (audiobook).
Variasi orientasi juga tidak hanya terjadi pada output (penerbit buku) tapi
juga pada toko buku. Kini mulai ada perubahan orientasi toko buku tidak
sekadar berjualan buku, tapi ada arah menuju toko buku sebagai tempat
pertemuan penulis buku, pembaca, jurnalis, masyarakat perbukuan, dan
seniman. Dengan begitu, akan terjalin komunikasi lisan yang hangat, akrab,
dan mernbahagiakan antar-stakeholders perbukuan. Bentuk variasi orientasi
itu misalnya dengan diadakannya acara jumpa pengarang, book signing, bedah
buku dan lain-lain.
Masyarakat Pembelajar
Budayawan Jawa Tengah Prof Abu Suud dalam sebuah diskusi dengan penulis
tentang budaya baca di radio mengatakan, kita janganlah menjadikan buku dan
kebiasaan mernbaca sebagai mitos rnencerdaskan rnasyarakat. Yang jauh lebih
penting adalah bagaimana menumbuhkan masyarakat pembelajar (learner
society). Ini tidak harus dilakukan dengan membaca buku.
Supardi Djoko Damono dalarn "Keterampilan Bahasa dan Menulis" yang terkumpul
dalarn buku Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa Indonesia dan
Sastra-Struktur, Humanistik, Komunikatif dan Pragmatik, (Editor Muljanto
Sumardi, 1996:186) menegaskan, mernbaca tidak Iagi berarti sekadar bisa
membedakan antara huruf m dan n, dan menulis tidak lagi berarti sekadar bisa
rnembubuhkan titik (.) pada huruf i.
Membaca hendaknya mencakup kemampuan yang semakin tinggi untuk memahami dan
menghargai berbagai macam karangan. Lalu, menulis mencakup kemampuan yang
semakin lama semakin unggul untuk menuangkan pikiran dan perasaan secara
tertulis.
Meminjam epilog yang diberikan Primanto (ibid) anggapan seperti minat baca
masyarakat Jepang layak dijadikan model bagi Indonesia sudah saatnya dilihat
ulang dan dicari duduk perkaranya agar kita tidak mencampuradukkan antara
sikap realistis dan meneruskan khayal kolektif yang terbina luas selama
1968-1998.
Membaca saja tidak cukup. Harus ada upaya melakukan perenungan-perenungan
sekaligus jalan-jalan melihat realitas, sehingga pemahaman kita terhadap
sesuatu akan utuh, tidak parsial. Sebab, tidak jarang yang tertulis dalam
buku berbeda dari yang terjadi (das sien). Membaca menjadi sarana awal
seseorang mengenal kenyataan hidup. Tidak sekadar melejitkan ide tapi juga
menambah nilai meski sekecil biji zarah.
Sebagai penutup tulisan ini, berikut ini penulis kutip tulisan Frans M
Parera (2002), salah satu anggota Dewan Buku Nasional. "Kebanyakan kita
hanya terbiasa dengan pengetahuan operasional, teknis, artistik, dan
finansial hasil pertanyaan "bagaimana". Perbukuan rnenantang kita memasuki
horizon pengetahuan "mengapa" .... Kemampuan refleksi menjadi bekal untuk
rnengembangkan pertanyaan "mengapa" dan perbukuan menjadi sarana untuk
kemampuan refleksi itu." (18e)
-Agus M Irkham, aktivis Oase BACA Semarang, Komunitas Pasar Buku Indonesia.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke