http://www.suaramerdeka.com/harian/0405/17/opi03.htm
Senin, 17 Mei 2004WACANA Mengusung Pendidikan Humanistik Oleh: H Gunarto POLEMIK tentang Ujian Akhir Nasional (UAN) seperti yang dipublikasikan di media massa belakangan ini melengkapi sejumlah kritik terhadap sistem dan model pendidikan nasional. UAN hanyalah problem teknis-metodis yang terkait dengan cara evaluasi dan standarisasi. Lebih dari itu, pendidikan nasional menyimpan masalah paradigmatik yang sangat serius. Seperti yang banyak diluapkan oleh pakar pendidikan, bahwa sekolah tidak mampu mengantarkan anak didik menjadi manusia yang merdeka dan berpikir bebas. Karena itu, seorang Ivan Illich dalam "De Schooling Society", menyarankan agar sekolah-sekolah di dunia ketiga, termasuk Indonesia dibubarkan saja. Saran Illich seolah menghentakkan kita semua di saat kita berpikir bahwa pendidikan harus diperjuangkan sebagai sarana pembangunan bangsa. Apa pasalnya? Illich menyinyalir lembaga-lembaga pendidikan (sekolah) di dunia ketiga hanya menjadi agen-agen resmi bagi langgengnya sistem hegemonik yang mengabdi pada status quo. Kurikulum yang disajikan tidak mampu mendorong upaya pencerdasan sosial. Menyambung kegelisahan Illich, penulis juga menyajikan sebuah formula pendidikan humanistik yang ditawarkan oleh Paulo Freire, seorang praktisi sekaligus teoritisi pendidikan dari Brasilia. Menurut Freire, cita-cita pendidikan paling luhur adalah bagaimana menjadikan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya. Manusia sesungguhnya adalah mereka yang menyadari dirinya sebagai aktor yang aktif, penentu dan bertanggung jawab terhadap segala peristiwa diri dalam keseluruhan peristiwa jagad raya. Dengan demikian, pendidikan adalah proyek humanisasi terhadap nasib kemanusiaan. Paradigma Freire berseberangan dengan formula konservatif pendidikan yang menempatkan manusia sebagai objek. Disebut objek dengan asumsi ketidakmerdekaan, dan hilangnya kebebasan. Sebagaimana pernah dilontarkan dalam karyanya yang monumental "Pendidikan Kaum Tertindas (PKT)", Freire mengritik pendidikan konvensional yang dinilainya hanya mengajarkan simbol-simbol ilmiah, tanpa diikuti dengan sikap kritis. Model pendidikan semacam ini, oleh Freire disebut dengan banking education system. Seperti halnya tabungan bank, pendidikan konvensional menganggap anak didik sebagai tabung-tabung kosong yang harus diisi sebanyak mungkin. Asumsinya, makin banyak diisi, makin banyak pula jumlah pengetahuan yang dimilikinya. Bahayanya, anak didik tenggelam dalam logika investasi ilmiah yang membenarkan seluruh pengetahuan yang diterimanya secara absolut. Padahal, pengetahuan itu sendiri bukan sesuatu yang bebas nilai. Di dalamnya juga terkandung sejumlah paradoksi humanitas yang membahayakan. Pengetahuan tidak saja menyuguhkan obsesi vertikal yang dapat menaikkan derajat kemanusiaan, tetapi juga diselingi oleh hasrat membunuh terhadap kemanusiaan itu sendiri. Perkembangan ilmu fisika misalnya, mampu menguak misteri nuklir yang dapat mengancam keselamatan kemanusiaan sejagad. Begitu juga dengan kecanggihan teknologi, telah membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan kosmos yang kita huni. Masalahnya adalah, kita telanjur percaya bahwa formula-formula ilmiah pengetahuan benar dan absolut; objektif, empirik, netral dan rasional. Artinya sarat dengan nuansa positif. Karena itu, segala sesuatu yang bertentangan dengannya menjadi tidak benar dan jauh dari kategori ilmiah. Kita menjadi bertanya, apakah formula pengetahuan itu untuk pengetahuan itu sendiri atau diproyeksikan untuk kemaslahatan kemanusiaan sejagad? Inilah yang menjadi kunci paradigma pendidikan humanistik Freire. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mengantarkan manusia pada hakikat diri, tetapi juga membuat piranti bagi keselamatan kemanusiaan. Dengan paradigma semacam ini, pengetahuan, ilmu ekonomi, misalnya, tidak hanya bertugas menjelaskan gejala-gejala ekonomi, seperti fluktuasi mata uang, menaikkan dan menurunkan suku bunga, atau menganalisa inflasi dan deflasi, tetapi juga membangun formula bagi pengentasan kemiskinan, sehingga lebih bermakna bagi kemanusiaan. Sayangnya, sebagaimana kritik Illich, pendidikan di dunia ketiga justru terjebak pada hasrat modernisme yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pendidikan hanya dianggap sebagai sarana eksperimen bagi dunia industri, di mana anak didik diposisikan sebagai bagian dari sistem itu. Akibatnya, anak menjadi robot-robot pengetahuan yang menghamba pada hasrat-hasrat industri. Lihatlah ribuan sarjana keluar-masuk kantor dan pabrik untuk mencari lowongan kerja, bukan sebagai inisiator yang menciptakan dunia pekerjaan. Sebab, mereka tidak pernah diajari bagaimana membedah dan menaklukkan realitas. Sebaliknya, mereka dipersiapkan untuk mengisi pos-pos kerja dengan sikap pasif. Ketika pendidikan terikat pada kepentingan industrial, maka yang menjadi prioritas adalah terbangunnya kecerdasan kognitif intelektual belaka, terlepas dari afeksi sosial. Karena itu, produk pendidikan tidak memiliki kepekaan dan solidaritas sosial, di samping juga tidak memiliki basis moral dan religi yang kuat. Makin tinggi pendidikan yang dienyamnya, makin tidak peka pula terhadap lingkungan di sekitarnya. Korupsi, pelanggaran dan sejumlah tindakan asusila lainnya akan mudah dilakukan. Jika sistem seperti ini dipertahankan, maka hakikat kemanusiaan menjadi tereduksi pada derajat yang paling rendah. Paradigma Humanistik Sebagaimana saran Freire, kita perlu merenungkan hakikat kemanusiaan sebagai tumpuan dan tujuan dari seluruh proses pendidikan. Sebab, pendidikan hakikatnya adalah bagaimana mengantarkan manusia pada inti kemanusiaan itu sendiri. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia adalah pelaku sejarah yang menentukan seluruh tatanan dalam kosmos ini. Dia bertanggung jawab terhadap masa depan peradaban di muka bumi. Makanya, dalam Islam, misalnya, manusia diberi gelar sebagai khalifatullah, makhluk yang harus memerankan segala sifat Tuhan di muka bumi sehingga tatanan kosmos tetap berjalan seimbang. Pengandaian manusia sebagai wakil Tuhan (khalifah) mengharuskan terbangunnya sikap transendental yang melampaui seluruh kepentingan sejarah. Dia bertindak atas nama diri dan lingkungannya. Karena itu, salah besar jika pendidikan modern hanya mengisi ruang kognitifnya, tanpa diimbuhi dengan dimensi afeksi sebagai tuntutan kepekaan manusia pada segala yang berada di luar dirinya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alamnya. Kecerdasan kognitif dan afektif harus dipadukan agar menjadi pacuan bagi kemampuan gerak dan laku manusia (psikomotorik). Jika masing-masing dimensi itu dipisahkan, maka eksistensi kemanusiaan akan terpotong-potong, tak ubahnya makhluk lainnya di muka bumi. Akibatnya, dia menjadi monster bagi kehidupan: merusak, dan menodai sejarah. (29) - H Gunarto SH SE Akt MHum, Dekan Fakultas Hukum Unissula, mahasiswa S3 (doktor) Ilmu Hukum Undip. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

