Harian Komentar 17 May 2004 Giliran Mayjen (Purn) Sjamsu Djalal bicara ''Wiranto Tolak Berlakukan Jam Malam''
MISTERI meluasnya keusuhan Mei 1998 terus diungkap. Menarik-nya, makin banyak kalangan jen-deral yang angkat bicara. Setelah Mayjen (Purn) Alvin Zein dan Jen-deral (Purn) Fachrul Rozi, kini giliran mantan Komandan Puspom ABRI, Mayjen (Purn) Sjamsu Djalal angkat suara. Djalal mengatakan, saat keru-suhan terjadi, pihaknya pernah me-nyarankan kepada Menhankam/Pa-ngab Jenderal Wiranto agar mem-berlakukan jam malam di Jakarta. Ini untuk mencegah meluasnya ke-rusuhan Mei 1998, namun usul itu tidak ditanggapi. "Saat itu ketegangan sudah semakin jelas, maka selaku polisi militer yang ingin melihat keru-suhan bisa teredam dengan cepat, perlu memberlakukan jam ma-lam," kata Sjamsu Djalal di Ja-karta, akhir pekan lalu. Sjamsu mengemukakan hal itu berkaitan dengan masih adanya misteri dalam pengungkapan peristiwa kerusuhan Mei 1998, yang tidak saja merenggut korban tewasnya empat mahasiswa Tri-saksi, tetapi juga terbakarnya se-bagian Kota Jakarta. Namun Sjamsu mengaku cukup kaget ke-tika Jenderal Wiranto tidak mem-berikan respon yang tegas dan cepat, bahkan mengambil langkah lain. Dalam pandangannya, pember-lakuan jam malam yang kemudian diikuti perintah tembak mati di tempat, akan mampu memadam-kan kerusuhan dalam tempo yang singkat. "Tapi, saya terkejut, apa-lagi alasan ketidaksetujuan Wi-ranto karena Jakarta adalah ibukota negara dan akan men-dapat reaksi internasional," kata-nya. Mantan Jaksa Agung Muda bidang Intelijen itu pun (waktu itu) segera mengatakan bahwa ini masalah dalam negeri Indonesia, jadi tidak perlu memikirkan komentar komunitas internasio-nal. Saat ini sejumlah kampus di Jakarta dan Jawa mengadakan berbagai aksi unjukrasa memperi-ngati tragedi 12 Mei 1998. Keru-suhan Mei sendiri diyakini se-bagian masyarakat sebagai permainan politik para jenderal untuk melakukan perubahan kekuasaan dari rezim Soeharto. Tudingan permainan para jen-deral, diungkapkan oleh mantan Kasum ABRI dan mantan Sekjen Dephankam Letjen (Purn) Soe-yono dalam bukunya 'Bukan Puntung Rokok'. Soeyono yang saat itu menjabat Sekjen Dephankam pada saat kejadian melihat sejumlah mobil dan panzer berhenti di kantor Dephankan Jalan Medan Merdeka Utara, seperti hendak 'show of force' terhadap Menhankam Pangab Jenderal Wiranto.(ant/*) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

