http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/17/utama/1028901.htm
Senin, 17 Mei 2004

Demokrasi di Indonesia Alami Aristokrasi

Yogyakarta, Kompas - Demokrasi di Indonesia mengalami proses aristokrasi
atau pembangsawanan yang ditandai dengan upaya para elite politik untuk
mengaitkan dirinya dengan silsilah atau kekerabatan para bangsawan di
beberapa keraton. Upaya itu sengaja dilakukan untuk merebut pangsa pasar
dari masyarakat pemilih tradisional yang orientasi politiknya masih
berkiblat pada keraton. Jika proses itu berlanjut, demokrasi yang sedang
diperjuangkan akan tersendat.
Demikian wacana yang mengemuka dalam Bedah Buku Bangsawan dan Kuasa:
Kembalinya Para Ningrat di Dua Kota karya AAGN Ari Dwipayana SIP MSI yang
diselenggarakan Komite Persiapan Pergerakan Indonesia (KPPI), Yogyakarta, di
ruang seminar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (15/5). Hadir
sebagai pembahas, dosen antropologi UGM Dr Aris Arief Mundayat, Dr Nico L
Kana (LSM Percik Salatiga), dan pengamat politik dari Fisipol UGM Dr Mochtar
Mas'oed.
Menurut mereka, proses aristokrasi itu sangat mengkhawatirkan karena akan
menghambat transisi menuju demokrasi yang tengah berjalan.
Aristokrasi cenderung memupuk budaya feodalisme lama yang menekankan
sentralisasi kepemimpinan. Aristokrasi juga memperkuat tradisi lama yang
menyerahkan otoritas kekuasaan hanya kepada para bangsawan karena dianggap
sebagai makhluk istimewa.
Ari Dwipayana mengatakan, proses aristokrasi dilakukan oleh hampir semua
elite politik di Indonesia. Taufik Kiemas perlu membuat silsilah yang
menghubungkan dirinya dengan penguasa adat Minang. Tim kampanye Amien Rais
mempertemukannya dengan silsilah Prabu Brawijaya dari Majapahit, dan
Megawati terus mengusung keterkaitannya dengan penguasa Bali melalui
neneknya. Dalam waktu hampir bersamaan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),
Akbar Tandjung, dan Wiranto menerima anugerah gelar pangeran dari Keraton
Surakarta.
"Dengan mengikat diri pada tradisi keraton, para elite itu hendak merebut
pangsa pasar suara dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden tahun 2004
ini. Keraton jadi rujukan politik nasional. Harapannya, masyarakat
tradisional akan memilih elite dan partainya karena punya kaitan dengan
budaya keraton yang dijunjungnya," kata Ari Dwipayana.
Hal itu diperparah dengan penafsiran kebijakan otonomi daerah yang
dimanfaatkan untuk kembali membangkitkan tradisi dan jargon-jargon budaya
keraton lokal yang feodalistis.
Desentralisasi, lanjut Ari Dwipayana, justru digunakan untuk mengukuhkan
budaya lokal, seperti budaya ajeg di Bali, konsep istimewa di Yogyakarta,
kekuasaan nagari di Minang (Sumatera Barat), dan kekuasaan temanggungan di
Kalimantan.
Demokrasi prosedural
Menurut Mochtar Mas'oed, aristokrasi tersebut akan menggiring politik
nasional dalam budaya demokrasi prosedural dengan menerjemahkan konsep
demokrasi pada prosedurnya saja. Sedangkan substansinya justru tercecer.
Baginya, aristokrasi menekankan perlunya etika prosedur dan keistimewaan
para bangsawan dalam berkuasa. Hal itu bertolak belakang dengan substansi
demokrasi yang justru memperjuangkan hak setiap warga negara untuk
memperoleh kekuasaan. "Dalam demokrasi, siapa pun yang tercatat sebagai
warga negara boleh ikut berkompetisi untuk memperoleh kekuasaan. Demokrasi
juga memberikan kedaulatan kepada rakyat yang diperintah, bukan yang
memerintah," katanya.
Feodalisme yang dijunjung para bangsawan hanya mempersubur perilaku
tradisional masyarakat yang memilih pemimpinnya berdasarkan sentimen
asal-usul. Padahal, demokrasi berusaha mengikis perilaku itu dan mendorong
masyarakat untuk memilih secara rasional dan legal. "Aristokrasi hanya
dimanfaatkan para elite politik untuk mengooptasi masyarakat," papar
Mochtar.
Aris Arief Mundayat dan Nico L Kana menegaskan, kondisi tersebut harus
diantisipasi dengan melakukan pendidikan politik bagi masyarakat agar mereka
terlatih untuk berpikir rasional dan kritis. Dengan begitu, masyarakat tidak
akan mudah untuk terus dibodohi para elite. "Pendidikan politik harus
menekankan hak warga untuk memperjuangkan aspirasi dan agenda-agenda
masing-masing," kata Nico. (K07)
Search :








Berita Lainnya :
�Biar Rakyat yang Menilai Abdurrahman Wahid
�Ferry Santoro Dibebaskan GAM
�China Kawinkan Piala Uber dan Thomas
�Koalisi Partai Kongres Resmi Dukung Sonia
�Usai UAN, Tawuran Pelajar Merebak
�Demokrasi di Indonesia Alami Aristokrasi
�Sejuta Cahaya untuk Perdamaian



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke